jump to navigation

Menulis Buku Bestseller? Anda Juga Bisa! 11 September 2009

Posted by nurdiyanti in Resensi.
2 comments

Pernahkah terpikirkan oleh Anda untuk menulis sebuah buku bestseller? Saya rasa setiap orang yang berminat dan menekuni dunia penulisan buku tentulah menginginkan membuat sebuah buku yang bestseller!!! Tetapi, bagaimana caranya? Selama ini ada pandangan, buku bestseller seakan menjadi ‘hak milik’ penulis terkenal saja. Karena, para penulis terkenal tersebut sudah mempunyai ilmu yang mumpuni dalam meracik sebuah buku. Yang menjadi pertanyaan ialah bagaimana dengan penulis pemula yang ingin menghasilkan karya perdana yang bestseller?

Buku Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller Edisi Revisi (Fivestar, 2008) yang ditulis oleh Edy Zaqeus benar-benar mengungkapkan cara membuat sebuah buku yang bestseller, secara gamblang dan mudah dicerna bagi siapa saja yang membacanya. Dengan membaca buku ini, Anda akan terstimulus untuk melahirkan sebuah buku masterpiece yang bestseller.

Buku yang berkaitan dengan menulis sudah banyak diterbitkan. Banyak sekali ragamnya, mulai dari cara menulis buku yang baik, mengarang yang mudah, menulis buku fiksi, menulis skenario, editing, menyusun paragraf yang baik, dan sebagainya. Namun, buku yang mengungkap cara menullis buku bestseller saya rasa, baru Edy Zaqeus yang menulisnya. Penulis delapan buku dan empat di antaranya bestseller ini dengan cerdas mengungkap dan merangkumnya dalam buku Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller ini (selanjutnya disingkat RCMBB).

Buku RCMBB Edisi Perdana (format pocket book) saja mampu menggerakkan hati banyak orang untuk membuat buku, dan terbukti buku mereka pun sebagian di antaranya menjadi bestseller. Beberapa testimoni yang terpilih sebagai pemenang dalam lomba memberikan testimoni atas buku RCMBB perdana memberikan bukti dari keampuhan buku ini. Dan ternyata, kebanyakan dari mereka ini adalah penulis yang lahir atau berhasil menerbitkan buku perdananya setelah membaca buku RCMBB edisi murah meriah tersebut.

Untuk edisi revisi kali ini, penulisnya menambahkan sebelas bab baru, di antaranya Bersiasat dengan Tema Bestseller; Menghindari Kelemahan Buku Kumpulan Tulisan; Melengkapi dan Merapikan Naskah; Bagaimana Mendapatkan Endorsement; Bagaimana Menembus Penerbit; Delapan Langkah Membuat Penerbitan Mandiri; Dari Fast Book Menjadi Masterpiece; Menjadi Penulis Buku Ber-Mindset Penjual; Strategi Promosi Buku Bestseller; Mem-branding Diri dengan Buku; dan Lima Kebiasaan Produktif Penulis Bestseller. Bab-bab terbaru ini semakin melengkapi edisi perdana dan tampaknya akan semakin memudahkan kita dalam mencerna maupun mewujudkan sebuah buku bestseller.

Memang, ada anggapan bahwa menulis sebuah buku saja sudah merupakan sebuah kesuksesan bagi seseorang. Jarang ada sebuah pemikiran bagaimana menjadikan sebuah karya tersebut bestseller dengan terencana. Setiap kesuksesan mempunyai kunci sukses, demikian juga dengan pembuatan buku bestseller. Kunci sukses membuat buku bestseller dapat dipelajari oleh setiap orang, karena tidak ada kesulitan dalam mengaplikasikan semua kiat yang sudah terangkum dalam RCMBB ini.

Edy Zaqeus menyatakan demikian, “Melahirkan buku tak ubahnya melahirkan seorang ‘anak’. Sukses kita diawali oleh keberhasilan kita dalam melahirkan anak tersebut. Selanjutnya, supaya masa depannya sukses, berikan dia makanan yang bergizi serta pakaian, perawatan, perhatian, pendidikan, dan lingkungan terbaik. Jadi, jangan sia-siakan dia. Jangan biarkan dia tumbuh liar dan tanpa masa depan yang pasti.” Dengan melahirkan sebuah karya bestseller maka segala usaha yang telah dikeluarkan untuk membuat sebuah buku itu rasanya tidak akan terbuang percuma.

Membuat buku menjadi bestseller merupakan ide yang tampaknya jarang dipikirkan oleh sebagian penulis. Bestseller atau tidaknya sebuah buku biasanya diserahkan pada pasar yang menilai. Jika buku tersebut bagus, biasanya publiklah yang membaca, membeli, dan menentukan apakah buku tersebut menjadi buku bestseller atau tidak. Padahal, buku apa pun sebenarnya bisa dipersiapkan sebaik mungkin agar menjadi bestseller.

Itu sebabnya, kadang membuat buku menjadi bestseller seakan-akan jadi rahasia ‘mahal’ yang jarang diketahui oleh para penulis kebanyakan, bahkan yang terkenal sekalipun. Namun, dalam buku RCMBB ini Edy Zaqeus memberikan berbagai ide menarik atau pencerahan. Dan, mungkin ide-ide atau pencerahan itu tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya. Dari RCMBB ini kita akan diyakinkan bahwa bestseller-nya sebuah buku itu semata tidak tergantung pada pasar (pembaca), tetapi juga bisa kita ciptakan, rencanakan, dan rancang sedemikian rupa sepanjang proses penulisan buku kita.

Membaca buku RCMBB akan membuat kita merasa seperti dituntun oleh penulis secara langsung. Step by step pembuatan buku dijelaskan secara gamblang dengan penuturan yang mengalir dan tidak membosankan. Dalam RCMBB ini juga disertakan data-data penjualan buku bestseller lainnya, contohnya buku ESQ-nya Ary Ginanjar yang terjual lebih dari 455.000 eksemplar hingga tahun 2007 lalu. Sebuah angka yang fantastis, yang selain memberikan keuntungan finansial tentunya rasa bangga dan nilai aktualisasi diri yang pastinya terpenuhi. Dengan membaca berbagai kisah sukses penulis bestseller di bidang nonfiksi di sini, mungkin kita bisa mengetahui potensi sebuah buku bestseller. Dari kasus buku ESQ ini juga kita seperti disadarkan akan potensi atau kekuatan buku sebagai penopang kesuksesan kiprah seorang trainer atau public speaker.

RCMBB mengupas secara detail unsur-unsur yang diperlukan oleh seorang penulis supaya dapat melahirkan buku bestseller. Buku ini disusun berdasarkan pengalaman penulisnya sendiri dalam menerbitkan beberapa buku bestseller serta pengalaman para narasumber yang pernha diwawancarai. Bab-babnya pun disusun dalam rangkaian yang runut dan tidak meloncat-loncat idenya, antara satu pemikiran dengan yang lainnya. Memang, seperti dikatakan oleh penulisnya dalam Pendahuluan, buku ini memang lebih menonjolkan kiat-kiat praktis ketimbang uraian-uraian teoritis. Buku ini juga lebih ditujukan untuk memotivasi, menguatkan, dan menggerakkan agar setiap orang segera berani menulis buku.

Kelemahan buku ini menurut saya—kalau bisa dibilang sebagai kelemahan—terletak pada contoh-contoh pemaparan penjelasan setiap bab. Sebagai contoh, pada bab Menggali dengan Teknik Wawancara hanya dipaparkan sejumlah teknik wawancara yang menurut penulisnya bagus untuk digunakan. Namun, penulisnya tidak diberi contoh hasil dari teknik wawancaranya tersebut dalam bentuk lampiran atau kutipan wawancara dengan seorang narasumber. Padahal, salah satu basis penyusunan buku ini adalah wawancara dengan sekian banyak penulis sukses. Namun, karena dijelaskan di awal oleh penulisnya bahwa buku ini tidak bersifat teoritis dan lebih memotivasi sifatnya, kelemahan ini relatif masih dapat dimaklumi.

Bagi saya, akan lebih baik kalau buku ini memberikan penambahan contoh dan teori-teori penulisan pada bab-babnya sehingga pembaca bisa belajar lebih banyak mengenai teori menulis. Dengan demikian, kita bisa membuat gambaran secara utuh, baik dari segi kiat praktisnya maupun teorinya. Dengan begitu kita akan lebih lancar dalam membuat sebuah buku dan tidak kesulitan dalam mencari referensi teori menulis. Walau dugaan saya, posisi tidak memasukkan banyak teori itu mungkin sengaja diambil oleh penulis buku ini mengingat di pasaran telah beredar banyak buku yang mengupas berbagai teori dalam menulis, namun kurang dalam memberikan contoh-contoh praktis berbasis pengalaman.

Buat penulis ataupun pecinta buku yang mempunyai hobi membaca, buku ini sebaiknya kita baca. Kita akan semakin paham dan terdorong untuk meningkatkan kualitas buku kita, sekaligus memperbesar peluang menjadikannya bestseller. Sedangkan bagi para pecinta buku yang hobi membaca, mari kita bebaskan ide kita dengan mulai menulis dan tidak sekadar membaca buku saja. Karena, menurut Edy Zaqeus ternyata membuat buku bestseller itu tidaklah sulit. Yang jelas, setelah membaca buku ini, saya tersadar bahwa menulis buku bestseller dapat dilakukan oleh semua orang. Menulis buku bestseller? Rasanya Anda dan saya juga bisa![sn]

DATA BUKU

Judul: Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller  Edisi Revisi

Penulis: Edy Zaqeus

Penerbit: Fivestar Publishing, 2008

Tebal: xxvi + 230 halaman

ISBN: 978-979-15887-1-3

Harga: Rp 50.000,00

Ctt: Pesan langsung dengan tandatangan dan ucapan khusus dari penulisnya hubungi 021-59400515/08159912074, atau pos-el: penerbitfivestar[at]gmail[dot]com atau edzaqeus[at]gmail[dot]com.

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

Menulis Itu Vitamin Buat Otak 11 September 2009

Posted by nurdiyanti in artikel.
3 comments

“Menulis itu vitamin buat otak? Enggak salah, nih?”

“Yap!!! Betul banget…!”

Menulis akan membantu kita me-refresh otak, seperti halnya tubuh yang membutuhkan vitamin agar dapat bekerja dengan optimal dan tidak mudah terkena penyakit. Bagaikan sebuah komponen, tubuh terdiri dari berbagai jaringan dan organ yang membutuhkan berbagai nutrisi, vitamin, dan zat-zat lain yang diperlukan tubuh supaya dapat berfungsi secara optimal. Begitu pun dengan otak, otak memerlukan beberapa aktivitas memory yang dapat menunjang kinerjanya agar dapat berfungsi dengan baik.

Tidak dapat dimungkiri, memory yang sudah kita simpan akan terpendam jauh di dasar ingatan. Dan, ketika tidak mempergunakannya dengan baik, bisa jadi informasi-informasi yang ada akan terlupakan. Padahal, informasi-informasi yang kita simpan itu menandakan bahwa informasi tersebut penting bagi kita, dan perlu proses me-refresh yang sesuai dengan kebutuhan otak tersebut.

Jika informasi itu tidak penting, informasi tersebut cenderung akan tereliminasi pada saat proses seleksi informasi akan disimpan. Bisa juga informasi penting sekalipun tidak akan tersimpan jika kita tidak melakukan proses retrieval atau pemanggilan kembali informasi yang tadinya berguna dan penting bagi kita.

Jika otak selalu dipergunakan untuk menulis, itu berarti kita melakukan aktivitas memory. Aktivitas memory ini meliputi tiga tahap: penyandian (encoding; pemasukan pesan ke dalam ingatan), penyimpanan (storage), dan pengambilan (retrieval; mengingat kembali apa yang sudah disimpan). Aktivitas menulis berkaitan erat dengan ketiga proses tadi. Menulis melibatkan proses penyandian, penyimpanan, dan mengingat kembali apa yang sudah kita simpan untuk dituangkan dalam sebuah artikel, cerita, novel, buku, dsb.

Mengapa perlu menyegarkan memory dengan menulis? Menulis adalah salah satu cara karena menulis—selain melibatkan proses memory—juga melibatkan kita dalam aktivitas visual. Visual yang dimaksudkan di sini adalah dengan membaca dan meninjau kembali isi tulisan kita. Menurut saya, dengan melibatkan aktivitas secara visual, kita dapat lebih mudah mengingat sesuatu. Sebagai contoh, ketika kita mendengarkan dosen mengajar kemudian mencatatnya, kita akan lebih dapat mengingatnya daripada menyalin catatan orang lain.

Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Ketika kita menulis apa yang dijelaskan oleh dosen, kita akan melakukan proses penyandian dan melakukan proses seleksi terhadap informasi yang kita terima. Sehingga, kita akan lebih memahami catatan yang kita buat sendiri, karena kita yang menentukan kode-kode tertentu dan urutan materi yang ingin kita tulis.

Berbeda jika kita melakukan retrieval dengan cara menghafal informasi tertentu saja, tanpa berusaha mengombinasikannya dengan informasi lainnya. Metode hafalan akan lebih rentan mengalami kelupaan daripada menulis. Menghafal sama berarti kita hanya mengulang kembali informasi yang kita terima, tanpa melakukan suatu usaha yang dapat meningkatkan pemahaman kita.

Sementara, menulis merupakan buah dari mencerna kembali informasi yang telah kita terima dan menuliskannya sesuai dengan pemahaman kita. Hal ini berarti, kita melakukan sebuah usaha baru dan terlibat secara aktif dalam memilih informasi mana yang akan kita gunakan nantinya.

Seiring meningkatnya kuantitas kita dalam menulis, secara otomatis kita akan semakin sering menggunakan otak dalam proses berpikir. Hal ini tentu saja mempercepat proses pemanggilan kembali memory maupun proses penyeleksian memory, serta data-data yang diperlukan terkait dengan bahan yang akan kita tulis. Menulis tidak hanya berbentuk sebuah artikel, namun juga sebuah catatan tentang kejadian singkat yang telah dilalui dalam sebuah diary.

Berbagai hambatan yang sering kali muncul ketika kita menulis ialah proses pemanggilan kembali ingatan yang sudah tersimpan, dan memilih informasi mana yang akan kita pergunakan dalam menulis. Jika kita mau meninjau lebih lanjut, kita akan merasakan banyak manfaat dari proses menulis itu sendiri. Kita akan terlatih untuk dapat mengingat berbagai memory yang sudah kita simpan, karena memamng kita sering mempergunakannya.

Selain itu, kita dapat melakukan proses penyeleksian dan penyandian lebih lanjut atas informasi yang telah kita simpan. Seiring bertambahnya waktu, informasi yang kita simpan akan semakin kompleks dan membutuhkan proses penyimpanan baru, sehingga itu lebih memudahkan kita dalam mempergunakannya.

Secara sederhana, menulis akan semakin membantu kita dalam berinteraksi dengan berbagai jenis aktivitas memory, yang mana aktivitas tersebut akan semakin memudahkan dalam pemrosesan informasi. Aktivitas-aktivitas memory inilah yang nantinya akan membuat vitamin-vitamin alami yang diperlukan oleh tubuh kita, terutama bagi otak kita. Selamat memberi vitamin otak Anda dengan menulis![sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa semester lima Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis wadah jurnalistik Fakultas Psikologi, Sanata Dharma. Ia juga tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

Wajah Cinta 11 September 2009

Posted by nurdiyanti in Coretan Hati.
4 comments

Wajah cinta mana yang kau kenal?
Yang mengiringi harimu?
Yang membuatmu bersikap?
Ada emosi yang tertuang dalam raga
Jika kau kenal wajah cinta
Wajah cinta mana yang kau jadikan teman?
Angan
Berhenti meratap dalam waktu
Mungkin
Terlepas dari semua teman
Wajah cinta akan abadi
Dalam denyut nadi
Hingga akhir nanti
Teman..
Bukalah hatimu
Lihatlah wajah cinta
Dengan wajah yang berbeda
Bisa jadi ia berubah
Menjadi marah,
Hukuman,
Cobaan,
Perintah,
Saran,
Hadiah,
Atau
Kesedihan
Terima saja
Undanglah
Dan jamu dengan baik
Karena biarpun beda
Wajah cinta akan beri cinta yang sesungguhnya

Note :
Aku mulai melihatnya dengan wajah yang berbeda..
Baru kusadari setelah sekian lama..
Terimakasih semuanya!!!
I lupppppphhhhhhhhhhhhh u all, my friend.