Benarkah kita bersahabat? 28 Oktober 2009
Posted by nurdiyanti in Coretan Hati.add a comment
Benarkah kita bersahabat?
Jika sebuah batu mampu memisahkan kita?
Benarkah kita bersahabat?
Jika tak ada kata maaf?
Benarkah kita bersahabat?
Jika bertahan dengan ego?
Harusnya tak ada penyesalan dan marah
Tak ada..
Kalaupun ada
Harusnya sebuah maaf dan senyum tulus
Mampu menukarnya?
Ataukah terlalu banyak salah
Hingga tak berarti bagimu
Semua usahaku?
Lelahkah dirimu
Dengan semua yang ada?
Kita telah berjalan jauh…
Hampir ke hilir…
Bersama berjalan setia tanpa pisah
Susah..
Itu yang kurasa
Ketika harus kehilangan sahabat..
Perih..
Mengingat semua kenangan yang tercipta..
Adakah waktu mampu
Mengurai salahku?
Sahabat..
Tak adakah kata maaf?
Benarkah kita bersahabat?
Atau hanya sekedar mimpi
Ketika hari kemarin
Kita bersahabat?
Dunia seakan mengejekku..
Terasa beban semakin payah ku bawa
Menggegoroti ceriaku
Ceriamu
Semuanya terbawa pergi
Lenyap
Tak tersisa
Resah..
Jika kunanti maafmu..
Lelah..
Merasa bodoh..
Satu yang pasti..
Aku tak berharap kamu menjadi malaikat..
Jadilah sahabatku..
Itu pintaku..
Yang pernah salah dan marah
Yang pernah tersenyum dan bahagia
Yang pernah diam tapi tak meninggalkanku
Yang sayangi aku apa adanya
Yang terima aku tanpa keluh
Jadilah sahabatku
Sekali lagi..
Meski lelah dan marah
Karena kamulah sahabat yang dicptakan Tuhan
Kawan dalam jalan…
Yang penuh kejutan..
Aku menyanyangimu teman
Tanpa ada kata pisah yang ingin kuucap..
Selamanya menjadi sahabatku..
Seperti ketika Gandhi yang berucap
“ That we may ever life as friend. You are my best friend”
Ever life as friend…
Janji setia yang terucap hingga mati..
Adakah yang lebih membahagiakan
Selain sahabat pembawa nyala jiwaku?
Adakah yang mampu mengganti?
Tak ada sakit hati tercipta
Jika kita mau mencoba
Dalam ragu dan kekecewaan
Cobalah selangkah dan menyapa
Cobalah bertanya pada hatimu
Inikah yang kau inginkan?
Dalam diam
Kunanti jawabnya
Kunanti tanpa lelah..
Ataukah harus berakhir
Selama yang kau pinta?
Kuharap tidak
Karena kau sahabat terbaikku..
Dan ingin kusampaikan
“That we may ever life as friend. You are my best friend”
Without any describe true or false
You are my best friend..
Jogja, 28 oktober 2009
3:44 PM
Only for my best friend
Forgive me please sit…
“Maybe one day our life can change. It’s hurts us.. But we can also change our friendship to be better than yesterday, right?”
Bukan 26 Oktober 2009
Posted by nurdiyanti in Coretan Hati.add a comment
Bukan putih
Jika hanya bersih
Bukan hitam
Jika hanya kelam
Rapi, berderet
Tersusun dalam deret
Semuanya tentang sebuah kata
Yang punya juta makna
4/5 huruf
Apa bedanya?
Terlalu tulus untuk disempitkan maknanya
Suka atau benci?
Kupikir 26 Oktober 2009
Posted by nurdiyanti in Coretan Hati.add a comment
Susunan kata logis
Bukan alibi atau defends
Bayangan jelas tak teraih
Palagi yang kaucari?
Temu
Pisah
Janji
Sedih
Semuanya tersibak
Semuanya tergulung
Kubilang paranoid
Terlalu posesif
Jika ada dalam jalan yang sama
Tak ada kata temu
Dalam beda
Tak ada
Dan
Tak kan pernah ada
Kecuali takdir beri suratan lain
Ever After 26 Oktober 2009
Posted by nurdiyanti in Coretan Hati.add a comment
Bukan sekedar kata
Bukan sekedar rupa
Bukan sekedar rasa
Bukan sekedar suka
Bukan sekedar janji
Bukan sekedar empati
Bukan sekedar duka
Bukan sekedar lara
Bukan sekedar menanti
Bukan sekedar tepati
Bukan sekedar angan
Bukan sekedar harapan
Lebih dari itu semua
Ever after
Untuk sebuah jiwa
Tak peduli waktu
Tak peduli rintangan
Tak peduli cela
Tak peduli beda
Ever after
Pertama dan terakhir
Only about…
Wkwk…
Note : cepat sembuh nur^-^
Bitung, 14 juni 2009
Mau Sukses Dapat Pekerjaan Ideal? Ini Panduannya! 26 Oktober 2009
Posted by nurdiyanti in Resensi.Tags: karier idaman, panduan, pekerjaan
add a comment
Setiap orang tentunya ingin mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan harapan mereka. Tak jarang, hal ini menjadikan persaingan di dunia kerja semakin kompeititif. Setiap orang berusaha menjadi yang terbaik. Berbagai cara pun ditempuh guna mendapatkan pekerjaan. Bagi kalangan yang berada, kuliah di perguruan tinggi ternama, menjadi lulusan terbaik, punya segudang prestasi dengan harapan mudah mendapatkan pekerjaan. Mempunyai pekerjaan sebelum lulus kuliah tentunya menjadi harapan setiap mahasiswa.
Pertanyaannya, bagaimana dengan mahasiswa yang setelah wisuda belum mendapatkan pekerjaan? Persaingan menjadi semakin berat, mengingat fresh graduate belum mempunyai pengalaman terjun di dunia kerja. Terkecuali mahasiswa telah magang di perusahaan tertentu, yang tentunya mempermudah aplikasi ilmu mereka ke dalam dunia kerja.
Kurangnya pengalaman kerja sering kali membuat mahasiswa mengalami disorientasi akan masa depan mereka. Merasa gamang karena belum mendapatkan gambaran dunia kerja yang akan mereka jalani. Hal ini semakin mempersulit ruang gerak bagi mereka yang belum mempunyai rencana. Alhasil, para fresh graduate cenderung sembarangan dan kurang spesifik dalam melamar pekerjaan. Lamaran pun akhirnya tidak diterima karena tidak sesuai dengan syarat yang dibutuhkan. Sehingga, muncullah anggapan bahwa mendapatkan pekerjaan itu sulit.
Di buku ini, Awan Santosa menjabarkan rahasia dan tip-tip ampuh supaya lamaran kerja kita diterima. Apalagi sang penulis merupakan “orang dalam” (baca: HRD), yang jelas mempunyai pengalaman di bidangnya. Buku ini berisi 12 bab yang mengulas seputar dunia kerja, terutama cara melamar pekerjaan dan seleksi kerja.
Pada Bab 1, penulis memberikan pandangan yang bertolak belakang dengan opini masa sekarang, “Kalau masih bisa kerja, ngapain wirausaha?” Judul babnya cukup mengena dan membuat kita ingin tahu lebih lanjut mengenai argumen si penulis. Memang, saat ini banyak terdengar anjuran untuk berwirausaha daripada bekerja pada orang lain. Di sini pembaca akan diberikan analisis rasional mengenai pentingnya bekerja pada orang lain sebelum mendirikan wirausaha. Pengalaman kerja, relasi, dan modal akan membantu dalam berwirausaha.
Selain itu, diberikan pula kiat-kiat supaya kita mendapatkan tawaran kerja dengan cepat, yaitu dengan membuat daftar relasi. Sebuah hal yang mungkin belum kita sadari, betapa besarnya potensi dari sebuah relasi yang kita bangun selama ini. sekali lagi, relasi merupakan modal utama, sebagai rahasia dalam mendapatkan pekerjaan.
Setelah bekerja pun, bukan berarti usaha kita berhenti begitu saja. Kita perlu mencari pengalaman lain dengan pindah perusahaan. Pindah bekerja pun harus dilakukan dengan syarat, saat karier kita berada di puncak. Artinya, kita bisa meninggalkan jejak yang baik bagi perusahaan. Pindah kerja saat dipromosikan memang hal yang aneh bagi sebagian orang. Tetapi jika kita sudah punya mindset tentang tujuan akhir kita, maka hal itu tak menjadi masalah. Karena kita tahu, apa yang ingin dan akan kita raih selanjutnya melampui apa yang kita raih sekarang.
Kelebihan dari buku ini adalah pembaca diberi rahasia dan kunci sukses untuk mempersiapkan lamaran hingga proses seleksi yang terakhir. Semuanya diceritakan dengan bahasa yang sederhana dan jelas. Proses wawancara yang selama ini menjadi momok bagi pelamar kerja juga dikupas dengan tuntas. Sehingga, kita mempunyai gambaran lengkap mengenai proses seleksi kerja dan cara menyiasatinya.
Kelemahan dari buku ini menurut saya hampir tidak ada. Hanya saja, judul yang diberikan kurang sesuai dengan isi buku itu sendiri. Secara umum, buku ini tidak mewakili bagaimana cara mendapatkan karier idaman dalam sepekan. Dalam bab terakhir, memang berjudul, “Sepekan menuju karier idaman”. Namun, tetap saja tidak dijelaskan, langkah praktis yang harus dilakukan dalam sepekan. Selain itu, setiap bab terdapat beberapa subbab yang kurang tergarap dengan baik sehingga memunculkan kesan kurang tertata rapi dan terkesan terpisah dari bab utama.
Terlepas dari kelemahan yang ada, buku ini tetap layak dibaca semua orang. Terutama calon pekerja supaya tidak mengalami disorientasi dan beranggapan bahwa mencari pekerjaan itu sulit. Karena sesungguhnya, lapangan pekerjaan itu banyak dan tinggal kita sendiri, apakah mampu memenuhi kualifikasi kerja tersebut atau tidak. Baca dan praktikkan kiat-kiatnya supaya Anda mendapatkan karier idaman Anda. Good luck!![sn]
* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.
DATA BUKU
Judul : Mendapatkan Karir Idaman Dalam Sepekan
Oleh : Awan Santosa
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN : 978-979-22-4640-7
Tebal : 144 + xxii halaman
Tak Sekadar Memaafkan 26 Oktober 2009
Posted by nurdiyanti in artikel.Tags: kesalahan, konflik, memaafkan
add a comment
Mungkin ada di antara kita yang mendengar, “Duh, sulitnya memaafkan orang lain….” Memaafkan orang lain memang penting, tetapi itu belum cukup. Mengapa begitu? Simak ulasan berikut ini.
Suatu ketika, tiba-tiba handphone saya bergetar. Ada pesan singkat yang masuk, tertera nama seorang teman SMA. Langsung saya baca sebuah pesan yang membuat saya berhenti sejenak dari kegiatan saya membaca buku terbaru milik kakak saya. Isi pesan tersebut sebagai berikut, “Mungkin di dunia ini enggak ada orang yang masuk neraka jika setelah seseorang melakukan kesalahan dia langsung minta maaf. Tetapi menurutku, kita berhak enggak memaafkan kesalahan seseorang karena mungkin kesalahan itu enggak termaafkan. Kamu setuju, enggak?”
Langsung saja saya balas dengan jawaban, “Enggak!”
Lalu, teman saya pun bertanya, “Kenapa? Kasih alasan, dong!”
Sejenak saya berpikir dan berusaha menuliskan jawaban yang pas untuk pertanyaannya. Lalu saya balas, “Karena aku bukan Allah yang tahu segalanya. Aku enggak boleh sombong dengan bilang kesalahannya enggak termaafkan, karena bisa jadi dia melakukan itu karena terpaksa. Enggak sadar sudah menyakiti orang lain. Kita bukan nabi yang bersifat maksum (bersih dari dosa). Tetapi, kita diberi akal oleh Allah buat berpikir dan bisa memaafkan orang lain. Bisa jadi suatu saat kita membuat kesalahan fatal di mata orang lain dan menyesal. Dan, satu-satunya cara mengurangi rasa bersalah adalah diberi maaf.”
Pesan itu pun saya kirim, lega rasanya setelah memikirkan jawaban untuk teman saya.
Sejenak saya berpikir, “Wuih… panjang juga ya, balesanku hehehe….” Saya baca lagi pesan itu, berulang kali sehingga memunculkan pertanyaan yang cukup menyentak dan menuntut kejujuran diri sendiri: “Apa benar aku sudah melakukan hal itu?”
Memberi nasihat pada seorang teman tentang memaafkan memanglah mudah. Tetapi, melakukan apa yang kita nasihatkan itulah bagian pentingnya. Sudah dilakukan belum? “Ayo jawab jujur!” suara hati saya ikut berdemo hehehe….
Saya pun melakukan refleksi terhadap diri sendiri. Saya termasuk orang yang tidak suka berkonflik dengan orang lain. Saya berusaha menghindari konflik dengan menjaga sikap saya terhadap orang lain. Hal itu saya lakukan dengan berusaha mengalah pada orang lain. Marah atau dimarahi orang lain menurut saya bukanlah hal yang menyenangkan hehehe…. Walaupun begitu, tetap saja saya bersinggungan dengan konflik, baik dengan keluarga atau teman. Jelas saja, hidup di dunia ini memang tidak lepas dari masalah. Jika tidak diselesaikan dengan hati-hati bisa menimbulkan konflik dengan orang lain. Akibatnya, hubungan kita dengan mereka pun menjadi renggang, apalagi jika kata maaf sulit dikatakan.
Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita tidak lepas dari masalah. Masalah-masalah yang tak terselesaikan tak jarang berujung pada konflik. Konflik yang ada jelas membuat kita tak nyaman dan mengganjal di hati. Sebenarnya, jalan penyelesaian konflik tersebut akan lebih mudah jika kita mau memaafkan orang lain. Tetapi, memaafkan orang lain pun tidak cukup. Paling penting yang harus kita lakukan terlebih dahulu adalah memaafkan diri sendiri.
Ya, memaafkan diri sendirilah yang harus kita lakukan. Sesungguhnya, akar permasalahan yang membelit diri kita adalah karena kita tidak mau mengakui kesalahan diri sendiri. Dengan memaafkan diri sendiri, kita akan mudah menerima kenyataan dan tidak terus-menerus menyesali keadaan yang ada. Menyesal memang perlu supaya kita sadar dan bisa mengoreksi kesalahan kita. Hanya saja, itu akan menjadi sia-sia jika penyesalan kita tak berkesudahan. Cukup sekali saja sebagai peringatan. Semakin kita menyesali keadaan yang ada, semakin bertambah berat pula masalah yang kita hadapi. Segera berbenah untuk mencari solusi atas permasalahan yang ada.
Jika sudah bisa memaafkan diri sendiri, langkah kedua yang perlu kita tempuh adalah memaafkan orang lain. Memaafkan orang lain mungkin sulit dilakukan. Perlu kebesaran hati dan kemauan yang kuat untuk melakukannya. Mungkin sulit pada awalnya, namun jika dibiasakan akan terasa mudah dan membuat hati menjadi lebih nyaman tentunya.
Saya sendiri pada awalnya juga sulit memaafkan orang lain. Jika marah pun saya diam dan menyimpan amarah tersebut dalam hati. Namun, dampaknya ternyata buruk bagi jiwa saya. Tindakan me-repress masalah yang tak terselesaikan itu ternyata tidak tepat. Ketika bermasalah dengan salah seorang saudara saya, amarah saya meledak dan menjadi konflik berkenpanjangan. Sungguh tidak mengenakkan dan membuat pikiran saya tidak fokus pada setiap apa yang saya kerjakan, termasuk kuliah.
Lalu, saya pun mencoba mempraktikkan nasihat seorang dosen yang menyarankan agar para mahasiswanya membiasakan diri “membersihkan sampah” yang ada dalam hati. Membersihkan sampah di sini artinya membuang emosi-emosi negatif dalam diri kita. Lalu, penuhilah diri kita ini dengan energi positif, sehingga kita akan jauh lebih nyaman dan bahagia. Misalnya, saat kita mendengarkan orang lain curhat dan kemudian kita berempati atas apa yang terjadi padanya. Hendaknya kita membuang perasaan-perasaan dan emosi negatif yang tadinya ada di hati kita. Karena dengan begitu, kita tidak akan terpengaruh oleh suasana hati yang tidak mengenakkan tersebut.
Aktivitas “membersihkan sampah” ini akan sangat membantu kita dalam menganalisis permasalahan yang ada. Kita dapat berpikir lebih jernih dan objektif. Dan pastinya, kita akan dapat mudah memaafkan orang lain.
Sejak mengenal nasihat dosen saya itu, saya berusaha menyelesaikan konflik dengan cara belajar memaafkan orang lain. Lama-kelamaan, saya pun menikmati aktivitas “membuang sampah” itu dengan memaafkan orang lain, dan kemudian membuat sebuah prinsip seperti yang saya tulis di awal artikel ini.
Jadi, jika suara hati saya berdemo dan menuntut jawaban, “Sudahkan aku memaafkan orang lain?” Saya dengan bangga menjawab, “Sudah dong hehehe….” Ya, walaupun terkadang hati masih bandel jika disuruh minta maaf dan memaafkan orang lain, tetapi saya berusaha sebisa mungkin untuk menyelesaikan masalah dengan “membuang sampah”.
Saya kira, apabila ada orang yang berbuat salah dan meminta maaf kepada kita, maka sudah selayaknya diberi maaf. Karena, satu-satunya cara mengurangi rasa bersalah pada diri sendiri atau orang lain adalah dengan diberi maaf. Ketika kita menerima maaf dari orang lain, tentunya akan sangat membahagiakan kita. Hubungan kita dengan orang lain pun dapat djalin kembali. Dan, kita belajar satu hal, yaitu lebih berhati-hati dalam bersikap pada orang lain. Jangan sampai menimbulkan konflik baru. Karena, jika hal itu terjadi lagi dan kita tidak diberi maaf, tentu akan sangat menyusahkan kita, bukan?
Memaafkan orang lain adalah suatu bentuk kebaikan yang sudah selayaknya kita lakukan. Mari ber-fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) dalam meraih cinta Allah dan makhluknya. Jika kita sudah berusaha mencintai Allah dan makhluknya dengan langkah yang sederhana—memberi maaf—saya rasa kita pun pantas mendapat cinta Allah dan makhluknya. Ayo, siapa mau berlomba dalam kebaikan dengan memberi maaf? Andakah orangnya?[sn]
* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.
VN:F [1.6.9_936]