Padamulah Kami Meminta.. 26 November 2009
Posted by nurdiyanti in Uncategorized.add a comment
Seandainya telah Engkau catatkan
dia akan mejadi teman menapaki hidup
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi
Dan ya Allah… ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ke tepian yang sejahtera dan abadi
Tetapi ya Allah…
Seandainya telah Engkau takdirkan…
…Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku
Dan peliharalah aku dari kekecewaan
Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti…
Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit
Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya
Dan ya Allah yang tercinta…
Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
Walaupun tidak sama dengan dirinya….
Ya Allah ya Tuhanku…
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik buatku
Karena Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hambaMu ini
Ya Allah…
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
Di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang daif ini
Jangan Engkau biarkan aku sendirian
Di dunia ini maupun di akhirat
Menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran
Maka kurniakanlah aku al awwaju shalihah, seorang pasangan yang beriman
Supaya aku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup
Ke jalan yang Engkau ridhai
Dan kurniakanlah padaku al baitu sholihah, keturunan yang soleh
Amin… Ya Rabbal ‘Alamin
Note: ne doanya mas Hendi Prayogo..
hmm.. Pas baca terharu banget, jadi ngerasa bersalah kalau selama ini dah egois dengan keinginan yang sulit dilenyapkan.. Pelajaran yang sangat mahal…
Ayo ukhti, belajar lagi.. biar jadi sholehah.. Amin
Bicara Itu Berlian 13 November 2009
Posted by nurdiyanti in artikel.3 comments
“Selesaikan konflik yang ada dengan mulai bicara. Diam saat marah baik, tetapi diam setelahnya dan tak menyelesaikan masalah, justru semakin memperburuk keadaan.”
Selama ini, orang tentu akrab pada peribahasa “Diam itu emas”. Tetapi menurut saya bicara itu berlian, terutama setelah Anda marah.
Diam akan jadi emas apabila pembicaraan yang kita lakukan tidak tepat, tidak diperlukan, dan bersifat bohong. Maka, diam adalah pilihan yang tepat. Namun, ada kalanya bicara merupakan langkah konkret yang harus kita lakukan. Istilah kerennya yang sering kita dengar adalah take action. Take action untuk mulai bergerak dan melakukan tindakan.
Bicara itu bukan hanya perlu, tetapi wajib apabila dilakukan di saat yang tepat. Apalagi saat kita berkonflik dan perlu menyelesaikan sebuah masalah, terlebih berhubungan dengan diri kita. Jika kita diam saja, masalah tidak akan selesai dengan sendirinya. Kita perlu mengungkapkan apa yang menjadi permasalahan kita dengan orang lain. Dengan begitu orang lain akan tahu dan tergerak juga untuk menyelesaikannya secara bersama dengan kita.
Ada sebuah pengalaman pribadi yang tidak mengenakkan saat seseorang mengambil sikap diam. Suatu saat saya sedang mengalami masalah dengan sahabat saya, tepatnya saya membuatnya marah. Namun, ia tak pernah mengatakan sesuatu, hanya diam. Dan, tentu saja ini tidak mengenakkan. Semuanya jadi serba salah. Saat saya mencoba bicara dan meminta maaf serta berusaha menyelesaikan masalah pun tak mendapatkan respon. Tabiatnya memang tidak banyak berubah. Jika kami berkonflik pun, dia akan cenderung diam dan membiarkan masalah kami berlarut-larut.
Bagi saya, menyelesaikan masalah merupakan hal yang penting. Jika tidak, saya tidak bisa berfokus pada yang lain. Namun, hal ini menjadi pelik jika kita berhadapan dengan seseorang yang merasa tidak mempunyai masalah, terlebih memilih diam. Jengkel sekali jika mengingat hal itu hehehe…. Tiap orang memang mempunyai cara tersendiri dalam bersikap. Dan, kita tidak bisa menggugat mereka jika kita tidak merasa nyaman. Kitalah yang harus belajar menyeimbangkan ritme dengan mereka, kalau tidak bisa rugi kita hehehe.…
Ritme dalam arti cara lain untuk mengatasi masalah dari diri kita, jika kita tidak bisa mengharapkan perubahan sikap dari orang lain. Hal ini dilakukan sebagai salah satu bentuk penyesuaian perilaku dalam lingkungan yang berbeda dengan diri kita. Seseorang idealnya mempunyai ketahanan diri yang baik. Contohnya, seseorang mampu menyeimbangkan idealisme atau harapannya dengan kenyataan. Jika seseorang tidak mempunyai sikap mental yang bagus, maka ketika harapannya tak tercapai, ia akan jadi pribadi yang rapuh dan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Hal inilah yang sering kali menyebabkan seseorang menjadi stres.
Entah kenapa beberapa orang yang saya kenal punya sikap yang sama, memilih diam dan menganggap tidak ada masalah. Bagi mereka, hal itu merupakan langkah yang tepat. Terlebih melihat saya yang mempunyai sikap yang perasa. Ada yang pernah bilang diam lebih baik daripada mereka menyakiti saya saat bicara. Tetapi, saya justru punya pendapat lain. Bagi saya diam adalah hukuman yang paling menyakitkan daripada ungkapan kasar secara verbal. Ini tidak berarti saya suka dimaki atau mendengar perkataan kasar, tidak sama sekali. Justru sebaliknya, saya suka orang yang berkata lembut, ramah, dan memotivasi orang lain. Namun, jika ada masalah, lebih baik dibicarakan daripada didiamkan.
Saya rasa, membicarakan masalah walaupun itu menyakitkan jauh lebih baik daripada diam. Diam tak kan menghasilkan apa pun. Kita tidak akan pernah bisa mengetahui kesalahan kita secara pasti dan belajar memperbaikinya. Mungkin saja pihak lain merasa ada sesuatu yang tidak beres dan semakin bingung jika kita mengambil sikap diam. Sebaliknya, jika orang lain berbicara tentang kesalahan saya, mungkin saya akan merasa tidak enak sesaat, malu sekaligus merasa bersalah. Tetapi setelahnya, saya akan lebih berhati-hati dan menjaga sikap. Karena, saya sudah diberitahu bahwa saya telah melakukan kesalahan.
Mungkin, ada orang yang berpendapat bahwa diam merupakan langkah yang tepat saat marah, saya pun setuju. Tetapi, diam setelah kemarahan mereda dan tidak menyelesaikan permasalahan kita, saya tidak setuju! Kenapa?
Ada banyak hal yang perlu kita pertimbangkan:
1. Diam tak mengubah keadaan. Saat kita memutuskan untuk diam, saat emosi sudah stabil, barangkali tidak berguna. Kenapa? Karena masalah tetap ada, tak beranjak pergi dari kita. Mungkin saja masalah kita tak kan pernah diketahui oleh pihak yang bersangkutan. Kita mungkin berpikir, diam lebih baik dan bersikap mengalah merupakan tindakan terpuji. Namun, hal ini hanya akan menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak, jika kita tak pandai-pandai menyalurkan kemarahan yang terpendam tadi.
2. Belajar dari kesalahan. Dengan memberitahu apa yang menjadi permasalahan kita, maka kedua belah pihak dapat belajar bersama. Hal ini meminimalisir kita untuk melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari. Dengan begitu, hubungan kedua belah pihak diharapkan dapat berjalan dengan harmonis. Hal ini berbeda jika kita mengambil sikap diam, mungkin saja pihak yang lain tidak menyadari kesalahannya. Dan, hubungan pun akan terasa hambar Karena salah satu pihak merasa dirugikan.
3. Win-win solution. Kedua belah pihak dapat kesepakatan yang saling menguntungkan bagi keduanya. Tentunya, masing-masing pihak harus berbesar hati untuk sedikit mengalah agar tercapai kesepakatan bagi kedua belah pihak. Kesepakatan ini tentunya lebih dihargai dan ditaati oleh kedua belah pihak. Membuat kesepakatan merupakan salah satu langkah konkret penyelesaian masalah.
Tiga hal di atas merupakan pemikiran mendasar bagi saya untuk memilih bicara daripada diam. Mungkin, Anda mempunyai pemikiran yang berbeda daripada saya, sah-sah saja hehehe…. Sekali lagi, setiap orang berhak berpendapat dan utarakanlah pendapat Anda kepada orang lain. Tidak ada yang salah selama kita berani mempertanggungjawabkannya.
Apalagi di zaman sekarang semua orang bebas berpendapat, selama tidak melanggar hak-hak orang lain. Kita juga tidak perlu takut akan kritik dari orang lain. Dan jika kita masih diam, menyimpan masalah sendiri, alangkah ruginya kita. Tak akan ada perbaikan berarti di kemudian hari. Setiap masalah merupakan tantangan dalam hidup seseorang. Kita akan belajar tentang satu hal (penyelesaian masalah) sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan kita.
Ada pula yang beranggapan, semestinya dengan bertambah umur kita harus menyadari kesalahan yang dibuat dan melakukan refleksi terhadapnya. Tetapi, saya rasa ini tidak bisa berlaku bagi semua orang. Dibutuhkan kepekaan dan kesadaran yang tinggi agar seseorang bisa menyadari kesalahannya. Dan, satu-satunya cara untuk menyikapi permasalahan dengan bijak adalah membicarakannya secara langsung dengan pihak yang bersangkutan. Dengan demikian akan diperoleh sudut pandang yang berbeda. Bisa jadi menurut orang lain hal itu bukan kesalahan karena ia belum mengetahui apa yang seharusnya dilakukan. Dan, ketika hal ini dibicarakan bersama, semuanya akan terasa jauh lebih mudah. Kesalahan maupun kesalahpahaman dapat dijernihkan kembali dengan bicara. Bicara itu berlian, setujukah Anda? Hamasah!!![sn]
* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.
Rasa yang ada… 12 November 2009
Posted by nurdiyanti in Coretan Hati.5 comments

Rasa yang ada kini
Terlalu singkat untuk diungkap melalui kata
Terlalu kerdil untuk disempitkan maknanya
Melalui emosi yang ada
Rasa ini…
Terlalu indah
Tak kan serupa dengan warna dunia yang ada
Rasa yang membuatku hidup..
Dan semakin hidup
Ketika menatap sepasang lengkung kebahagiaanku..
Membangkitkan kesadaran
Yang telah pergi
Memberi harapan
Dan nyala jiwaku…
Rasa yang hanya bisa kurasa
Jika bertemu dengan bintang hatiku..
Adakah kau merasakannya jua?
Degup yang selalu tercipta
Untuk satu jiwa yang kukenal..
Dalam harapan dan kesedihanku…
Bintang…
Aku menyukaimu tanpa kata dan logika..
Note: Kenangan 11 november 2009. Saatnya mengatakan,“Kurasa aku sudah mati dan masuk surga. Mungkin surga terlalu berlebihan untukku, tapi aku terlalu bahagia…”. Ingin seterusnya mendekap rasa ini agar tak beranjak pergi, seandainya aku mampu… ![]()
Paingan, 12 november 2009
1:11 AM
Panggil Aku Nur In The Sky 5 November 2009
Posted by nurdiyanti in diari pinguin.18 comments
Sejak kuliah, aku memutuskan buat merubah nama panggilanku. Bukan sofa, tapi nur. Bukan tanpa alasan aku melakukan ini. Sudah lama, aku berpikir mengenai hal ini. Dipikir matang-matang sampe kematangan,hehe.. Terbiasa dipanggil sofa dari TK mpe SMA, sebenere aneh juga dipanggil nur, tapi yo weslah, tetep keukeuh panggil nur aja.
Ceritanya berawal dari rasa sebel ma seorang teman SMA. Rasanya trauma kalau inget gimana cara dia manggil namaku, sofa.. dengan embel-embel yang bikin aku sebel banget. Rasanya ga rela, kalau ada yang manggil namaku kayak gitu. Ini bukan soal di ejek kayak waktu sd, temen-temenku suka manggil kursi sofa, sofa kursi. Bodoh amat, ibaratnya anjing menggonggong kafilah berlalu,wkwkwk…
Dulu seh, waktu masih kecil suka sebel kalau ada yang manggil kursi begitu, lha wong orang koq disamain ma kursi seh? Ga rela pokoknya!!! Tapi ma bapak dibilangin, “ Wis nduk ora usah di pikir” dah cukup buatku diam walaupun di hati masih dongkol. Ejek-ejekan sofa kursi ini berlangsung mpe SMA. Tapi namanya dah kebal, ya itu tadi bodoh amat, ga jadi pikiran lagi. Kebiasaan nangis habis di ejek kursi ma temen-temen SD pun hilang saat bapak bilang,”Nek dijarak yo dilawan tho nduk, jo meneng ae.. mengko tambah digawe dolanan” kata bapak dengan muka sedikit jengkel ma temen-temenku.
Yah, aku juga yang salah, bisanya cuma ngadu ma bapak. Ga pernah mau lawan anak laki-laki yang bandel-bandel seperti mereka. Kalau mereka dah mainin rambut kepangku, aku pasti nangis. Mpe pernah minta rambut pendek aja kayak adekku. Dah bosen punya rambut panjang kalau malah nambah daftar olok-olokan.. saking marahnya bapak mpe bilang,”Wes ora sah nangis maneh, tinjunen we” ha? Tinju? Wkwkw.. pikiranku saat itu masak seh menang lawan anak-anak nakal itu?
Tapi aku lebih punya ide jitu buat ngatasi kekejaman mereka dengan cara cerdas. Aku kan ga suka kekerasan,hehe.. kalau mereka masih jarak aku maneh, aku ga pernah kasih tahu PR-ku ma mereka. Mereka kan sukanya nyontek, ga suka ngerjain PR,wkwk.. yah cukup mengurangi kebandelan merekalah,haha… rasanya sedikit tenanglah. Cuma satu gertakanku,”Nek isih jarak aku maneh, ora usah nyontho PRku, awas ya?!! Ancamku saat itu,wkwkw…
Sebenarnya aku juga penasaran, arti nama sofa itu apa tho? Koq ga yang lain? Yang bagus dikitlah, aisyah (nama istri kesayangan nabi), shinta kan terkenal jadi pendamping rama yang setia dan cantik,hehe.. atau nama jawa lainnya. Aku kan orang jawa, bukan orang eropa, nama sofa jadi aneh. Tapi bodohnya aku ga pernah nanya ma bapak, sebenarnya arti namaku apa tho?
Waktu SMP, setiap ngambil uang jatah bulanan dari mas(seingatku ga pernah nabung kecuali sd,hehe..) salah satu pegawai banknya pasti selalu manggil aku sofa marwah. Aneh.. tapi lama-kelamaan dah kebiasaan,hehe.. pikirku keren juga dipanggil sofa marwah daripada sofa kursi,jelas beda jauh dong,wkwkwk… Pas pelajaran agama islam jadi inget, dua bukit di arab yang jadi asal cerita sumber air zam-zam kan sofa dan marwah. Kayak nama judul sinetron yang sekarang lagi happening kan? Wkwk.. Tapi masak seh bapak kasih nama karena inget sejarah air zam-zam? Pertanyaan tak terjawab ini masih bikin pusing.
Pernah juga kepikiran, jangan-jangan namaku di ambil dari nama penyanyi cilik tahun 80an kali ya? Yang namanya ira maya sofa itu lho. Kan bapak suka ma ira maya sofa, kali aja dikasih nama sofa dari situ,wkwkw.. ne bener-bener alasan paling edan yang terlintas dibenakku, tapi juga sedikit logis kan? Secara aku lahir tahun ’87, nah penyanyi ira maya sofa juga lagi naik daun,wkwkwk… tapi musthil deh:)
Ibarat detective neh, penelusuran arti namaku apa? Ga berhenti di situ aja, lanjut terus!!! Dengan semangat berapi-api, nanya ma ibu pas pulang dari pasar,”Bu, sofa ki menopo tho artine?”sambil pasang muka serius. Eh ibu jawab,” Lha jeneng sofa iku sing maringi bapak. Ha??.. lha pripun tho bu? Koq sofa?” tanyaku masih penasaran. Sofa iku singkatan soko jenenge mbah kakung soko bapak. Asmane mbah kakung Sopawiryo. Terus bapak wenehi jeneng sofa, ben kelingan terus karo si mbah kakung meski wes ora ana. Nek nur kuwi pesenane mbah kakung saka ibu, makane adhimu iku yo ono jeneng nur. Oalah” akhirnya.. Cuma kata itu yang keluar setelah pertanyaan tentang arti namaku sapa terjawab sudah,wkwkw.. we.. la dhalah.. adoh saka perkiraanku,wkwkwk…
Masa SMA, guru agama pas kelas tiga manggil aku sofia bukan sofa. Alasan mbah mundhir(begitu biasa aku memanggil) karena beliau yakin namaku berasal dari kata sofia yang berarti bijaksana. Secara waktu itu, lagi bahas tentang penyebaran islam di spanyol. Terus ada nama gereja apa ya? Aku lupa yang pas pemerintahan muslim beralih fungsinya jadi masjid. Nah, nama gereja itu ada kata sofia-nya kalau ga salah. Aku cuma diem aja, tersenyum sopan buat menghormati pendapat beliau yang menurutku sangat menghargai namaku. Dibanding teman-temanku yang jail tuh, kursi sofa, kursi sofa.. heh.. rasanya aku pingin injak kaki mereka satu-satu,wkwkw.. untung aku anak baik, jadi biarin aja. Jiwa pengasih lebih besar dari jiwa pendendam seh,wkwkwkw…
Guru agamaku itu orang kedua yang menghormati namaku. Ini bukan masalah gila hormat lho ya, tapi setiap nama adalah doa dari orang tuanya, jadi ga pantes buat bahan ejekan. Apapun namanya itu.
Sebenarnya hal mendasar, aku ga mau dipanggil sofa itu bersumber pada satu orang. Kalau ingat, dia tu bikin sedih aja,hehe.. Rasanya dunia begitu sempit, karena gaung suaranya yang mengikutiku. Kesedihan yang ga perlu, tapi mau gimana lagi? Denial seh, tapi mau gimana lagi? Ku kira, ini defense mechanism yang baru bisa kulakukan. Mungkin suatu hari nanti, ketika aku berani menghadapi realita yang ada. Baru aku mau dipanggil sofa,hehe…
Aku nulis ini demi satu alasan. Buat semuanya, please jangan panggil aku sofa lagi. Aku masih trauma deh kayaknya,wkwk.. tiap dipanggil sofa pasti inget ma yang buruk-buruk. Aku ga mau nama mbah kakung jadi jelek gara-gara jadi bahan ejekan. Panggil nur ajalah, di rumah kan selalu dipanggil nur, bukan sofa. Nama kesayangan dirumah tu ganur atau kinur. Neh ga tau asalnya darimana. Tapi lebih baik ga usah ditelusuri lagi aja deh,wkwkw.. Bapak suka manggil ganur atau kinur. Kalian juga boleh manggil seperti itu, aku malah suka. Kalau pingin bikin aku seneng lagi, panggil aku Nur In The Sky,wkwkwk…
Aku kan suka banget ma bintang,wkwkw.. arti bebas dari Nur In The Sky menurutku=cahaya dilangit=bintang. Nah, anggep aja aku bintang buat kalian,wkwkw… so sweet kan? Wkwk… waduh parah tenan, bisa-bisanya bilang so sweet,wkwkw..
Waktu kelas tiga SMA, saking senengnya ma Nur In The Sky, mpe kepikiran buat pin yang ada gambarnya Nur In The Sky. Buat temen-temen sekelasku pas kelas 3, kalian tentu tahu kan gambar yang kumaksud?wkwk… itu kreatif kan? Nah, suatu ketika nek punya uang tu aku bikin pin”Nur In The Sky” yang banyak buat kalian semua. Biar nek kangen aku, kalian bisa lihat pin lucu itu,hehe… jenius kan?
Oh ya, Nur In The Sky aja ya? Lagian kan aku ga minta dipanggil nur cantik, nur imut atau nur cute kayak cewek lainnya, wkwkw.. buatku panggilan cantik, manis, imut atau cute itu ga pantes deh buat aku,wkwkw..
Aku nyadar fisik biasa aja, tapi aku bersyukur dengan apa yang Allah berikan sama aku sekarang. Lagian bapak ma ibu dah bilang aku anak wedok sing ayu dhewe, ora ana tunggale,wkwk.. Itu dah cukup buatku. Kalau orang yang sayang ma kita dah bilang kita cantik, kurasa tak perlu pengakuan dunia lagi bukan? Wkwkw… Ya, iyalah tiap orang tua pasti bakal bilang anaknya yang paling ayu/gantheng. Karena yang mereka lihat bukan fisik kita tapi pancaran kasih sayang ada di wajah kita,cie…. Bener ga? Ga perduli orang bilang aku cantik atau jelek, I don’t care about it!
Bagiku nilai seseorang tidak dinilai dari fisiknya tapi dari kepribadiannya, lebih bagus lagi ditunjang sisi kognitifnya. Dia ramah, baik, suka ,menolong, jujur, ga pernah bohong, pinter itu lebih baik daripada sekedar cantik atau cakep. Ne seh menurutku, kalau kita beda pendapat juga aku ga larang koq. Ok fren?
Meski aku sudah woro-woro ke seluruh dunia ibaratnya, panggil aku nur ya? Baik dengan penyampaian secara halus, sedikit paksaan maupun ancaman ma temen-temenku, komentar mereka sama,”Ga mau ah, dah kebiasaan panggil sofa”. Huh… dongkolnya minta ampun. Napa seh ga ada usaha buat nyenengin aku? Meski aku dah bilang, “Awas ya tiap panggil sofa ntar aku hukum kalian, traktir donat, mie ayam, aku injak kaki kalian.” Yah, sudah diduga, ga ada kata-kataku yang mempan buat mereka semua. Mereka tetap nyengir dan manggil aku, sofa! Cuma ada beberapa temen deket yang bener-bener ngerti perasaanku aja yang mau dengerin dan manggil aku nur. Bagi mereka yang ga mau manggil aku nur, aku pun dah bilang,”Terserah, kalian manggil apa, boleh nur, dian, yanti atau apa aja asal bukan sofa!
Masa kuliah pun, aku memperkenalkan diri sebagai nur. Setelah tahu namaku sofa nurdiyanti pun, dosen-dosen tetep manggil aku sofa. Ampun… kalau ma dosen jelas ga berani demo lah. Cukup diam, walau hati sedikit ga rela,wkwkw… walau dosen dah nanya pas pertemuan pertama ma mahasiswanya, nama panggilan masing-masing lalu garis bawahi di absensi. Walau ku dah bilang nur, tetap saja mereka memanggilku sofa,aih…
Setiap sms temen-temen SMP&SMA pasti manggil sof atau fa.. Ya ampun, rasanya seperti petir nyambar telingaku. Setiap dipanggil sofa selalu saja teringat ma satu nama. Teringat namaku dipanggilnya, gaungnya masih terasa sampe sekarang. Meski ga lihat wujudnya, suaranya selalu mengikuti kemanapun aku pergi. Rasanya surga terlalu jauh bagiku.
Lugu ma bodoh itu bedanya tipis nur, itu yang sering dibilang ma orang ma aku. Aku ga tau, apa aku termasuk orang yang lugu atau bodoh. Kurasa aku termasuk orang lugu yang terseret arus bodoh. Awal masuk psikologi kognitif, aku iseng praktekin salah satu teori psikologi kognitif. Yang kukira berhasil ,eh… semakin menyeretku dalam situasi yang tidak kuinginkan…
Jadi gini neh, suatu ketika dosenku bilang,”Orang yang ingin melupakan sesuatu tidak akan pernah melupakannya, justru semakin ingat. Hal ini dikarenakan alam bawah sadarnya mengingatkannya untuk melupakan. Secara otomatis, alam bawah sadar akan semakin mengingat hal yang ingin dilupakannya tersebut. Dan satu-satunya cara untuk melupakan adalah semakin mengingatnya, menghadapi ketakutan supaya bisa melupakan.”
Ini seh seingatku, ga tau apa aku masih ngantuk atau apa? Yang jelas, sejak kuliah itu aku merasa mendapatkan insight! Layaknya seorang jenius, kuciptakan terapi sendiri. Namanya terapi seribu nama, keren kan? Caranya cukup simple, tulis aja namanya berulang-ulang, sebanyak mungkin disetiap kesempatan. Tentunya bukan nama aslinya, tapi nama pemberianku yang sadis pula,wkwkwk…
Setelah melakukan hal itu selama bertahun-tahun, kurasa aku mulai dapat menguasai diriku. Cukup berani untuk tidak lari saat bertemu dengannya seperti SMA. Tapi alamak, ternyata ada yang kurang dari terapiku, masih saja teringat!!! Harusnya aku konsultasi dulu sebelum bikin terapi yang belum benar metodenya,aih…
Terapi namaku gagal total,wkwkwk…
Setelah itu pun, aku hentikan kelakuan aneh yang tidak bertanggungjawab,wkwk… namanya kayak mantra aja kutulis terus, mpe temenku heran. Ne sapa tho? Bukan sapa-sapa ne terapi nama, jawabku tanpa merasa bersalah,wkwkwk..
Sebelum masuk pondok pun sebenarnya aku tau kalau bintang bahasa arabnya najmana tapi kata adekku bisa disingkat jadi najma aja. Mulai dari situ nah, aku suka make nama nur najma,hehe…
Baru-baru ini adekku bilang,”Mbak tau ga artinya sofa apa?”
”Ga ada artinya, tu dari nama mbah kakung ri”
”Ada koq, tapi nek diliat-liat ga sesuai ma kamu deh mbak”
Hmmm.. ne anak tu ya suka bikin kesel juga ternyata,”Bodoh” jawabku cuek
”Di pondok pernah di beri pelajaran tafsir ga?” tanyanya ga mau kalah
Aku tetap diam dan meneruskan makan. Tanpa dijawab pun kalau dia masih niat bicara pun pasti bakal diterusin, tebakku dalam hati.
”Artinya tu ya, jernih atau bening mbak” Nah, tu kan dia jawab juga.
Hmmm.. masih pura-pura cuek, padahal dalam hati berpikir keras? Bening? Jernih? Air kali ya? Wkwkwkkw…. tu kan baru bahasa arab, kalau pake bahasa korea, jepang, jerman ada ga ya artinya? Pikiran iseng mulai bekerja dengan cepat. Ah, udahlah mikir arti nama koq jadi ribet ya?
Akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan, apapun artinya yang jelas setiap nama sangat bermakna bagi seseorang. Nama itu ibarat KTP dunia akhirat yang ga pake masa berlaku. Setiap nama membawa citra diri positif sekaligus doa dari orang tuanya. Jadi, apapun alasannya ga baik buat kita mainin nama seseorang. Kayak kasih julukan, nyebut nama ortunya, dll. Ga sopan lah, tapi ini sering terjadi di sekitar kita bukan? Kalau orangnya gendut, pasti dipanggil ndut, orange item dipanggil gosong, item, dll. Kasihan kan? Jangan sampe seseorang jadi minder karena kita manggil nama yang tidak layak.
Kalau menurut kalian, manggil nama julukan buat orang itu sah-sah saja ya sudah. Aku ga maksa, tapi paling ga kita berusaha berbuat baik dikitlah ma orang, walau dengan hal yang sederhana. Salah satunya dengan manggil nama dengan sebaik-baiknya. Setuju ga???
Inget ya teman, panggil aku nur. Kalau mau dapat pahala lebih karena nyenengin hati temannya tu panggil aku, ”Nur In The Sky” wkwkwk….
Hamasah!!!
Kakakku tercinta, Pulanglah 3 November 2009
Posted by nurdiyanti in diari pinguin.add a comment
Aku kangen banget ma kamu..
Saat ini, aku membutuhkanmu lebih dari sebelumnya..
Ditengah rasa frustasi dan kegagalan yang kualami, ku hanya ingin dengar suaramu..
Aku tak peduli, kamu akan bilang,”Kamu tu ya, manja banget. Dah gedhe juga kayak anak kecil”. Seperti yang biasa kau ucapkan jika aku mengeluh. Tapi inilah aku, dengan segala kekuranganku, I dont care..
Jika suatu saat aku dewasa dan menjadi wanita seutuhnya, anggap saja Allah telah bermurah hati mendengarkan doa orang-orang yang menyanyangiku, termasuk doamu,wkwkwk…
Saat ini, aku sungguh membutuhkanmu. Bukan saja sekedar es krim, buku, bintang atau apapun yang biasanya menjadi penawar kesedihanku. Aku butuh kamu..
Aku tak tahu, mengapa aku begitu rapuh. Masih saja tidak sadar, kalau aku bukan lagi remaja yang masih pantas kau perhatikan. Umurku saja sudah 22 tahun. Aku semakin tua, tapi tidak pikiranku.. aku masih saja seperti dulu, mungkin benar aku manja. Tapi saat ini aku butuh pendapatmu…
Aku kangen saat-saat aku menulis surat padamu setiap bulan. Saat-saat aku menceritakan semua kisahku dalam lembar-lembar kertas yang biasa aku kirimkan padamu. Aku merasa kehilangan saat-saat itu…
Benar aku sudah dewasa, tak seharusnya menantikan perhatianmu. Tapi aku tetap saja membutuhkanmu saat ini. Kurasa kamulah orang yang tepat untuk mendengarkan semua keluh-kesahku, yah walau kutahu kamu tak akan berminat. Sibuk dengan segala kerjamu, yang kutahu untukku juga tapi tetap saja menjadi masalah bagiku..
Kenapa semua menjadi berubah? Aku merasa kehilangan kamu saat ini. Aku merasa ada jarak terlampau jauh yang tak bisa kulalui untuk menggapaimu.. ada jarak yang membuatku merasa sendirian. Aku Cuma ingin kakakku saja, yang sudah lama kurindukan..
Aku tak peduli akan memanggilmu kamu atau mas. Bagiku sama saja, penghormatanku padamu tidak terletak pada kata sapaan, tapi posisimu di hatiku. Kenapa itu menjadi masalah sekarang? Bukannya aku berlaku tak sopan ketika tidak memakai krama inggil ketika bicara denganmu. Tapi aku merasa nyaman ketika bilang aku dan kamu. Aku merasa nyaman ketika ngoko, kurasa sudah cukup aku memakai krama inggil ketika masa kecil bukan? Aku ingin menjadi diriku sendiri, bukan lagi boneka cantik dan penurut yang dikendalikan oleh orang lain. Aku adalah aku.. egois memang tapi aku merasa senang begini..
Aku kangen, saat-saat kau menganggapku adik. Bukan musuh seperti sekarang. Boleh saja kamu men-delete facebook-ku sekarang. Tapi jangan pernah men-deleteku dari hatimuJ karena apa? Karena aku tak bisa membenci orang yang kusayangi, begitu juga sebaliknya aku tak sanggup dibenci oleh orang yang kusayangi.. so sweet kan? Hehe..