Janji

“Jangan mudah berharap dan memberi harapan.”

~ My Sister

Hem, ok kali ini aku mau curhat soal satu hal yang bikin aku kesel banget akhir-akhir ini. Masalahnya terkait dengan janji. Sungguh, saya kecewa!

Aku sudah bergembira dengan amat sangat. Rasanya terbang sampai ke langit (lebay!) kalau mikirin bakal ketemu ma someone. Deuh! Mempertimbangkan aku berangkat atau enggak ke Jakarta itu enggak gampang, aku penuh dengan pertimbangan. Aku merasa lebay ketika aku harus ke Jakarta, tapi dorongan hati tak mampu kutipu. Aku begitu ingin bertemu dengannya. Bayangan senyumnya, senyumku yang hadir karena senyumnya, juga kebahagiaan yang mengelilingiku akhirnya menguatkan tekadku untuk pergi ke sana. Jarak Surabaya-Jakarta rasanya hanya satu jam bagi orang yang berbahagia. Lagi-lagi aku merasa bodoh dan lebay karena begitu bergembira, aih….

Tak ada rasa lelah jika ada cinta sebagai penawarnya. Tapi jalan kebahagiaan memang berliku. Jalan ini begitu sulit kutempuh. Bayangan kebahagiaan itu pun tinggal bayangan saja. Tak jadi nyata untukku. Masji Biru, Masjid Kubah Emas, Pesantren Ustadz Yusuf Mansyur, juga TMII hanya mampir dalam anganku. Dan gamis biru yang sedianya hendak kukenakan saat aku pergi ke Masjid Biru pun tersimpan lagi di tasku. Ya ampun, aku dah berkhayal bakal mejeng di Masjid Biru pakai gamis biru kan kayaknya keren haha. Tapi sayang semua tinggal mimpi, hiks…. Emang dasar enggak boleh lebay. Ampun!

“Benda enggak bisa menebus kebahagiaan,” ini kata-kata yang kurekam darinya. Karenanya meski begitu sulit untukku pergi, kukuatkan langkahku untuk menjumpainya, senyumnya yang kurindukan. Dan sekali lagi, hanya karena kejadian bodoh—aku tidak tahu tindakan bodohnya atau sikapku—yang membuat perjumpaan ini gagal?

Aku kecewa! Begitu mudah baginya mempermainkan janji. Mengingkari janji yang ia ucapkan sendiri tanpa ada yang memaksanya. Aku kecewa! Karena janjinya itulah yang membuatku bahagia dan pengingkarannya membuatku sungguh kecewa. Aku kecewa dan mulai terkikis rasa percayaku terhadapnya. Aku tak hendak mengemis kebahagiaan lagi darinya. Merajam harga diriku sebagai manusia.

Aku kecewa dan tak hendak jadi begini. Siapa juga yang ingin menjadi diriku sekarang? Terpuruk, merasa lemah, dan diliputi kesedihan yang teramat sangat karena janji yang teringkari?

“Tahu, ngerti tapi enggak sadar?”

Ok, kalimat selanjutnya sungguh merajam diriku. Bagaimana cara mengembalikan kesadaranku yang telah lama menghilang? Bagaimana? Tolong beritahu aku biar hidupku tak mengganggu lagi kehidupanmu.

“Sebutkan alasannya, udah kuberi kesempatan ngomong, enggak ada kesempatan lagi.”

Oke, sekarang gantian. Aku enggak akan kasih kesempatan buat diriku sedih terlalu lama. Sudah cukup rasanya segala yang menyedihkan. Huh! Kesel rasanya! Sudah cukup. Aku akan ikuti pesanmu: Stabilkan diriku. Aku enggak akan mau ketemu kamu sebelum aku menemukan kembali kesadaran dan kestabilan hidupku. Aku enggak mau ketemu kamu lagi! Sudah cukup aku membodohkan diriku selama ini.

Hati-hati menaruh rasa percaya dan berjanji pada orang lain. Karena ketika rasa percaya mulai terkikis dan janji teringkari meski tanpa kesengajaan, akan berbanding lurus dengan rasa benci yang mulai hadir sebagai akibat dari rasa kecewa….

Okeeeehhh…..

Sudah cukup kecewanya. Kelak aku kan ke sana, menjelajah berbagai tempat yang membuatku bahagia bersama dengan seseorang yang menggenggam tanganku dengan penuh cinta, tanpa pernah mau melepaskanku lagi. Senyumnya, senyummu terangkai abadi dalam kebahagiaan yang tak terkira. Bunga cinta kan indah terasa bila diiringi oleh ridho Sang Illahi. Ya, hanya yang direstui takdir-Nya, yang akan menenangkan hatimu.

Khayalan labil! Tapi enggak apa-apa kan kalau khayal jalan-jalan bareng suaminya wkwk…. Ok, Kin. Jangan sedih lagi! Enggak boleh jalan-jalan kecuali bareng suamimu ntar. Jadi bersabarlah…. Sabarlah menanti yang terbaik di hidupmu. Ciptakan kebahagiaanmu sendiri. Jangan menggantungkan kebahagiaanmu pada orang lain.

Ingat pesan ibu, “Yen ora trisno awakmu bakal marai soro uripmu.” Makjlep-jlep deh, pesannya ibu. Hiksss…. Sedih :( .

29 Desember 2011

4:04

Note: menghabiskan pagiku untuk curhat. Ah ya, udahlah Kin. Enggak boleh sedih lagi…. Kamu pasti bisa hidup bahagia!!

Tentang Nur Najma

Sofa Nurdiyanti. Lahir di Ngawi, 24 Mei 1987. anak kelima dari enam bersaudara, ya akrab disapa nur ini, mempunyai banyak cita-cita. Mulai dari guru sejarah, arkeolog, ahli bahasa, ahli budaya, wartawan, trainer dan penulis. Dari sekian banyak cita-cita tersebut, akhirnya psikologilah yang dijadikan pilihan sebagai jembatan untuk menggapai semua cita-citanya. Untuk menyalurkan hobi membaca dan menulis, Mahasiswi psikologi, universitas sanata dharma yogyakarta ini bergabung dalam organisasi jurnalistik di Eksis (Fakultas Psikologi) dan FKM BUDI UTAMA(Forum Keluarga Muslim Bina Ukhuwah Dakwah Islam Universitas Sanata Dharma) sebuah wadah jurnalistik di fakultasnya. Minat nur adalah dunia menulis, walau pada awalnya ‘terpaksa menulis’, sekarang ingin menjadi penulis, terutama penulis fiksi. Sekarang juga tengah berlatih supaya bisa menjadi penulis dan trainer. Nur ingin menularkan semangat untuk maju pada teman-temannya dan hal itu ingin diwujudkan melalui cita-citanya sebagai trainer dan penulis. Menulis merupakan salah satu langkahnya agar menjadi pribadi yang percaya diri dan mempunyai banyak teman. Nur bisa dihubungi melalui email: nurhamasah@gmail.com Sofa Nurdiyanti's ProfileCreate Your Badge
This entry was posted in diari pinguin. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s