Satu Cahaya

“Kita tak pernah terpisah, sungguh ini benar,” tuturku padanya.

“Tidak, bagaimana mungkin kita tak pernah terpisah?” gugatnya padaku dengan tatapan terkejut.

“Aku dan kamu satu. Satu untukku, satu untukmu kita masih berpegang pada tali yang sama. Seperti nama yang menjadi jodoh raga masing-masing sejak kelahiran kita. Kita adalah layar yang menyatu menaungi semesta dari awal mula tercipta. Mataharilah yang memberikan warna berbeda. Tapi itu hanya tampak permukaan saja. Kita sama. Digariskan hidup dalam pergulatan dunia yang sama. Mempunyai kewajiban yang sama, dan sedang mencari jalan pulang menurut keyakinan masing-masing. Kita sama, percayakah kamu? Ataukah kau harus menunggu langit terlipat saat kiamat baru menyadari kita satu?” Deretan kalimatnya terasa bagai angin pagi yang segera berlalu diterpa hujan. Tak lagi ingin kumengingatnya.

“Aku tak tahu, yang jelas aku terlalu enggan untuk berpikir kita satu. Terlebih lagi, jika sebenarnya kita terpisah jauh. Rasanya terlalu sulit aku memaknai keterikatan yang menyulitkan ini,” tutur malam dengan dengan nada datar.

Diamnya membuat sepi terasa semakin dingin bagiku.

“Berjalanlah terus malam, selama kita masih berpegangan pada tali yang sama, kita akan bertemu di suatu masa di mana perjumpaan adalah jawaban dari segala perpisahan. Di mana harapan dan bekal pencarian kita selama ini menjadi tumpuan hati-hati yang merasa tersingkir dan kerdil di hadapan-Nya. Dan jika tak tertaut kasih yang diharap, tak perlu merana karena kelak kita pasti kan bertemu,” lanjutku berusaha menyakinkannya.

Siang, seperti biasanya berbicara dengan wajah cerahnya. Diselimuti ribuan semangat menyala, seperti sinarnya yang tak pernah meredup. Selalu bercahaya, menyinariku, menyinari semua yang dilaluinya. Pelan sekali berusaha kumaknai semua barisan kata-kata penghibur itu. Pandanganku mengabur melihatnya. Meski sama-sama bercahaya, cahaya kami terasa saling menolak. Antara terang dan gelap. Tak jelas, hingga bayangan pohon ratusan tahun di depan kami pun tampak terasa tak tertanam dengan kokoh. Senyumnya sekali lagi melintas di depan cahayaku, manis dan terasa lekat diingatanku. Amat berbeda dengan cahayaku yang senantiasa diliputi kesedihan. Sejujurnya aku tak begitu yakin, apakah aku mampu menghapus bayangan cahayaku. Akankah jadi lebih terang karena kedatangannya. Aku tak begitu yakin, tapi kupaksakan saja demi melihat cahayanya yang telah lama kurindukan.

“Berapa lama kita tak bersua,” cetusnya sambil mempermainkan cahaya emasnya yang menawan.

“Aku tak begitu yakin, mungkin seribu senja telah berlalu sejak terakhir kita menyalakan api kehidupan.”

“Seribu senja,” desahnya mengambang sambil bergegas menjauh pergi, “Kutak ingin menanti hingga hari akhir terlipat, siang. Aku percaya kamu melebihi birunya langit yang kita saksikan tempat pertama kali kita bertemu. Tak peduli bertemu lagi atau tidak melebihi seribu senja kemarin, aku kan tetap berdiri di kaki langit, seperti sekarang.”

“Tak perlu berjanji malam, karena sudut janji yang tak terbingkai dengan takdir kan menghapus sinarku. Tak perlu berjanji dan biarlah sisi cahaya kita masing-masing kita menyatu dengan sendirinya,” tegasku pada cahayanya yang mulai menjauhiku. Dan berlalulah ia dengan cepatnya dari pandanganku tapi kuyakin ia masih mendengarku.

“Ini untukmu, cahaya kebahagiaanku. Ini untukmu, senja yang selalu kau rindukan,” gaungnya memenuhi cahayaku di tepi takdirku. Dan sesaat aku pun takjub karena hadiah indahnya padaku. Cahaya yang tak pernah kumiliki karena tersimpan dalam diamnya. Semburat merah itu sebentar saja, berkilau dengan anggunnya di balik rasa haruku. Waktu pun terasa berarti, meski selalu kuacuhkan.

“Tak perlu kau menantiku, malam. Karena kagumku jadi milikmu, sejak dulu. Sejak kulihat senja yang menawan hatiku.”

Tetes-tetes bening yang dicurahkan Sang Kuasa pun memaksaku pergi dari tempatku semula. Tempat di mana, cahayaku dan cahayanya menguji nyali. Ah, tak perlu menantiku dan tak perlu menagih janji penantianmu. Biar cahayaNnya yang satukan atau pisahkan dengan sendirinya.

5 Januari 2012

14:57

Note: Hem, akhirnya… Latihanku yang pertama di awal Januari:). Ada yang tau maksudku? wkwk. Buat lunasi janji untuk daeng penyuka biru:))

Tentang Nur Najma

Sofa Nurdiyanti. Lahir di Ngawi, 24 Mei 1987. anak kelima dari enam bersaudara, ya akrab disapa nur ini, mempunyai banyak cita-cita. Mulai dari guru sejarah, arkeolog, ahli bahasa, ahli budaya, wartawan, trainer dan penulis. Dari sekian banyak cita-cita tersebut, akhirnya psikologilah yang dijadikan pilihan sebagai jembatan untuk menggapai semua cita-citanya. Untuk menyalurkan hobi membaca dan menulis, Mahasiswi psikologi, universitas sanata dharma yogyakarta ini bergabung dalam organisasi jurnalistik di Eksis (Fakultas Psikologi) dan FKM BUDI UTAMA(Forum Keluarga Muslim Bina Ukhuwah Dakwah Islam Universitas Sanata Dharma) sebuah wadah jurnalistik di fakultasnya. Minat nur adalah dunia menulis, walau pada awalnya ‘terpaksa menulis’, sekarang ingin menjadi penulis, terutama penulis fiksi. Sekarang juga tengah berlatih supaya bisa menjadi penulis dan trainer. Nur ingin menularkan semangat untuk maju pada teman-temannya dan hal itu ingin diwujudkan melalui cita-citanya sebagai trainer dan penulis. Menulis merupakan salah satu langkahnya agar menjadi pribadi yang percaya diri dan mempunyai banyak teman. Nur bisa dihubungi melalui email: nurhamasah@gmail.com Sofa Nurdiyanti's ProfileCreate Your Badge
This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s