Melihat ulahnya untuk ke sekian kalinya, akhirnya aku hanya bisa terduduk diam. Menatap punggungnya dengan sedih dan mengehela nafas secara perlahan tanpa berkata apa-apa. Ya, akhirnya aku putus asa lagi. Entah untuk ke berapa kalinya. Terdiam lagi dan berusaha berpikir bagaimana cara menarik perhatiannya agar mau mendengarkan ucapanku atau setidaknya bersikap ‘manis’ barang sejam saja. Tapi itu tidak pernah terjadi. Dia selalu begitu, membuatku kehilangan akal dengan ulahnya yang seringkali tak terduga. Demi melihat wajah murungku, Nurul pun segera menghampiri Anggoro.
Menyentuh lengan baju Anggoro, menatap wajahnya seraya berkata, “Anggoro, kon enggak sayang karo Bu Guru, ta?”
Tegas nurul bertanya hingga membuatku tergelak sesaat. Ah Nurul…. Nurul. Selalu saja, ia yang jadi pembela dan penyemangat saat aku putus asa. Mendengar pertanyaan Nurul—yang dilontarkan ke Anggoro entah untuk ke berapa kali—Anggoro selalu bersikap sama. Tak peduli, dan mengalihkan pandangannya segera. Mencari mainannya, berlari, atau bersembunyi dengan gaya cueknya.
Pertanyaan itu demikian rajin Nurul serukan saat melihat tingkah Anggoro membuatku sedih dan terdiam. Hem, ya pertanyaan itu—apakah murid-muridku menyayangiku—tercetus begitu saja beberapa bulan yang lalu saat aku kewalahan. Ya, kewalahan karena hampir seharian begitu susah sekali mengajar kelima muridku. Bayangkan, genap lima jari jumlah muridku tapi aku tak kuasa memberikan materi pelajaran kepada mereka. Berlari, bersembunyi, bertengkar, mogok belajar, dan setelah aku ajak bermain pun masih enggan belajar. Aku kehabisan akal. Lalu aku pun bertanya dengan sungguh-sungguh pada mereka.
“Hayo, siapa yang sayang ibu guru?” Pancingku pada pangeran dan putri dari Negeri Ajaib.
“Saya…saya….” berebut keempat anak akhirnya mengacungkan tangan tinggi-tinggi padaku, pertanda sayang padaku. Ya, keempat anak, meski pada awalnya hanya Nurul dan Eka yang mengacungkan jari. Akhirnya dengan malu-malu Andri dan Rohman turut mengacungkan tangan. Mereka pun mengelilingiku dan tersenyum sangat lebar. Ya, entah mereka menyayangiku secara sungguh-sungguh atau efek senang sehabis aku ajak main petak umpet. Yang jelas, keempat anak-anak itu mengacungkan tangan dan menyatakan sayang padaku. Aku pun merasa bangga. Titik! Meski bangga, tapi ada satu yang kurang. Masih ada satu anak yang tak acuh duduk di atas lemari sembari memalingkan muka padaku.
Waktu kudekati dan kutanya, “Anggoro enggak sayang ma Ibu Guru?”
“Males Kak,” jawabnya pendek, masih memegang mainannya.
Huaaaa…. Anak itu. Ampun, jual mahal amat sih ma aku? Hiks…. Jual murah aja napa? Batinku kesel hiks… Padahal buat satu anak itu, aku udah usaha mati-matian. Ekstra keras dari yang lain. Meski begitu sampai detik ini pun aku belum mendapatkan jawaban yang amat kunantikan, ungkapan cinta Anggoro hahaha.
Ingin rasanya saat itu aku berkata pada Nurul: Sudah Rul, jangan ditanya lagi. Biarkan perasaan sayang yang tulus itu tumbuh dengan sendirinya suatu waktu nanti. Biarkan perasaan sayang Anggoro ke ibu guru tumbuh tanpa tanda tanya atau tanda seru. Biarkan saja, tinggal menunggu waktu saja, karena pada akhirnya nanti Anggoro akan sayang pada ibu guru meskipun ibu guru dah enggak ngajar kalian lagi. Dan setelah Anggoro sayang ma ibu guru, ia tak akan pernah lupa pada ibu guru untuk selamanya.
Yes, emang beda tipis guru yang optimis ma guru narsis wkwkwk…. Tapi beneran deh. Aku mau bilang itu ke Nurulku tersayang. Buat salah satu muridku yang enggak berhenti bilang: Aku sayang ibu guru. Sungguh kata-kata buat Nurul yang masih terpendam dalam hatiku itu jadi penyemangatku. Penyemangat saat aku sudah kehabisan energi, sedih, dan terkadang menangis di pojok kelas saat anak-anak sudah pulang sekolah. Hem, ya sedihnya terasa sekali saat melihat jajaran kursi di kelas pojok—nama buat kelasku—kosong ditinggalkan murid-muridku. Tingkah anak-anak semakin menjadi saat aku mengajar sendiri tanpa ada guru kelas mereka: Bu Win. Hari Selasa dan hari Sabtu, jadilah dua hari itu, hari intropeksi diri luarbiasa di akhir jam pelajaran. Seringkali sambil menyapu kelas, kuhabiskan waktu barang sejenak untuk merenung. Gimana cara ngajar mereka dengan baik? Semua metode yang pernah kudapat, telah kuterapkan. Tapi, lagi-lagi belum bisa. Ya….
Anggoro Sosro Dewo, itulah nama murid ajaib yang belum bisa kurebut hatinya. Hadeuuhh…. Badannya lebih kecil dari anak yang lainnya, kulitnya hitam legam, rambutnya keriting kecil dengan binar mata yang begitu hidup. Ya, binar matanya begitu hidup dan membuatku selalu rindu untuk berjumpa dengannya. Binar matanya seakan mewakili semangat hidupnya yang membara. Suaranya lantang, pemberani, dan sikapnya amboi layaknya jagoan dalam serial film koboi hahaha…. Sering aku membayangkan Anggoroku jika telah dewasa akan jadi jagoan layaknya di film-film koboi dan pandai berkelahi. Aih, tidak! Kuusir imajinasi nylenehku itu. Anggoroku enggak akan jadi jagoan macam preman cilik lainnya yang sering kutemui di sekitar tempat tinggalnya. Ia harus jadi apapun dalam perspektif positif, cerdas, dan dihargai orang. Tidak dipandang sebelah mata seperti saat orang-orang tahu ia bagian dari anak-anak jalanan yang tinggal di wilayah kumuh.
Anggoro itu anak yang cerdas. Meski ia malas belajar, tapi sekalinya mau mendengarkan, ia bisa menguasai materi dengan baik. Mengerjakan tugas dengan cepat, hanya untuk mengganggu teman-temannya yang belum selesai, atau kabur dari kelas untuk bermain sepakbola bersama dengan anak-anak lainnya. Oh ya, Anggoro sangat semangat saat pelajaran Bahasa Inggris. Ia selalu minta jatah lebih untuk pelajaran Bahasa Inggris. Ya, meskipun gaya cas-cis-cus-ku sangat memprihatinkan tapi masih bisa diandalkan buat pelajaran anak kelas dua wkwk….
Pada awalnya saat ia dan Andri kabur dari kelas, seringkali aku keluar kelas mencarinya, mengejar mereka, dan seperti polisi akan menggenggam tangan mereka erat-erat begitu tertangkap untuk diseret menuju ruang pengadilan a.k.a kelas. Tapi itu hanya untuk beberapa bulan. Selanjutnya aku sudah belajar, tak kalah cerdas dari mereka. Jika mereka kabur aku hanya akan melongok ke luar kelas beberapa saat. Memanggil nama mereka sesaat lalu masuk lagi ke dalam kelas.
Aku sudah memegang ‘kunci’. Mereka tak akan kabur lagi jauh-jauh ke masjid, pasar, rumah Andri, atau bersembunyi di panti asuhan dekat masjid. Saat aku tak juga mencari, mereka akan mengendap-ngendap kembali ke sekolah dan memanggil namaku dari luar kelas.
“Bu Kinur…. Bu Kinur….”
Dan aku kembali meneruskan pelajaran pada ketiga muridku yang lain.
“Bu Kinur…. Bu Kinur,” seru Anggoro lagi. Saat aku memilih tak peduli, Anggoro dan Andri pun akan semakin mendekat. Mengendap-endap perlahan layaknya detektif profesional yang sedang mengintai buruannya. Sesekali berusaha melihatku dari balik kaca jendela dan berseru lagi, “Bu Kinur….” ulangnya dengan suara nyaringnya.
“Ayo Anggoro, Andri masuk. Udah mainnya ntar aja di dalam kelas.” Sahutku pura-pura cuek. Aih, melawan jagoan cilik macam kalian, ibu pun harus pandai berstrategi haha…. Masak selama 4 bulan berturut-turut, ibu harus mengejar kalian terus-terusan macam di film India. Ah, enggak seru. Ibu kan udah kurus ngejar-ngejar kalian selama ini. Bisa-bisa ibu alih profesi jadi guru olahraga dengan spesialisasi cabang atletik: lari. Oh tidak!
Kalau pun Anggoro, Andri, dan Rohman—anak baru yang dulu penurut ini sekarang mulai menunjukkan kebandelannya—kabur dari kelas aku biarkan saja. Jika sudah lelah bermain, berlari, atau main sepakbola mereka akan kembali ke kelas sendiri. Ya, meskipun baliknya selalu mendekati jam pulang, haduh please! Tapi lebih baik mereka ke kelas tanpa ada aksi film India dengan adegan berlari yang begitu dramatis. Biar tumbuh kesadaran pada diri mereka masing-masing untuk belajar bertanggungjawab masuk ke kelas. Ya, meskipun sekali lagi aku harus menyabarkan diri karena nyatanya mereka masuk, duduk manis tanpa rasa bersalah, hanya untuk mengikuti ritual akhir jam pelajaran: berdoa dan salim a.k.a pamit pulang padaku.
Jika pelajaran tak menarik hati Anggoro, dia akan mudah bosan.
Lalu dengan raut muka merayu pun, Anggoro akan berseru, “Bu, main komputer aja.”
“Ga ada komputer kalau enggak rajin belajar!” Tegasku padanya.
“Halah Bu,” raut muka merayu dengan gaya ngambek itu pun akan kembali muncul. Aih, selalu begitu. Halah Bu, yang diucapkan dengan nada menggantung, dan mata meredup kesal itu selalu membuatku tertawa. Lama-kelamaan saat dia kembali ngambek, aku pun turut berseru menirukan ucapannya.
Halah Bu, kuucapkan dengan nada yang tak kalah mendayu sambil memandang wajahnya yang disembunyikan karena malu. Lalu teman-temannya pun akan mengikuti dan tertawa bersama-sama setelahnya. Ya, rayuannya tak lagi mempan padaku.
Dulu, kalau Anggoro meminta padaku, “Bu, main game dulu. Nanti belajarnya habis game.” Aku pun meluluskannya.
Tapi hal itu tidak berlaku lagi. Jika telah terpenuhi keinginannya—bermain game—tetap saja ia tak mau bangkit dari depan komputer. Selalu menunjukkan ekspresi tak peduli biarpun kupinta ia untuk bangkit menuju kursinya. Selalu begitu. Memahami pola perilakunya yang menjengkelkan karena tak menepati janji. Kini, aku ubah peraturanku: game hanya berlaku bagi murid yang rajin belajar. Bagi murid bandel hanya diperbolehkan memandang temannya main game. Beres! Tapi segala peraturan, cara halus, maupun kasar enggak mempan buat Anggoro. Ah, ya sudahlah.
Awal-awal aku mengajar, aku sangat teoritis. Maklumlah guru baru. Fresh from the oven ala donat yang baru diangkat dari penggorengan. Aku rajin menerapkan berbagai teori dengan amat disiplin. Memakai acara reward and punishment. Kontrak kelas yang jelas, tak luput satu butir pun kulanggar. Kalau enggak ikut pelajaran, bakal pulang telat dari jam biasanya, atau menambah jumlah PR. Perjanjian disetujui, semua manggut-manggut, aku kira akan berjalan lancar, dan merasa gembira. Nyatanya perjanjian itu tinggalah perjanjian.
Dua anak—Anggoro dan Andri—memilih pulang telat. Sepuluh menit pertama, mereka masih kompak membentuk persekutuan tak terkalahkan. Bermain sesuka hati dan tidak mempedulikan keberadaanku. Lalu lima belas menit berikutnya, si Andri mendekat padaku dengan tanda-tanda kekalahan. Mendekat dan mau belajar membaca supaya pulang cepat. Aku pun mengajarinya membaca dan melirik Anggoro yang masih bersikukuh pada pendiriannya. Tak rela, kawan karibnya belajar. Ia pun segera berubah, melancarkan strategi berikutnya supaya Andri tak mau belajar membaca. Namun upaya Anggoro yang mulai tak digubris Andri mulai membuatnya putus asa. Anggoro ikut mendekat padaku, berusaha menawar jatah tugasnya.
“Baca aja ya, Bu. Kayak Andri. Ga usah kerjain tugas….”
“Anggoro kan udah bisa baca, masak belajar baca? Udah kerjain aja 2 nomer tugas tadi. Habis itu pulang,” lanjutku memberikan posisi tawar lainnya.
“Halah Bu, yo wes nek no…. Ga usah maca sekalian. Aku ndek kene ae nganti bengi.”
“Ih sapa yang mau nemenin Anggoro di sini? Ibu kan lapar, mau pulang. Masak Anggoro enggak lapar? Ayo baca aja, habis itu pulang.”
Dan saat Andri berpamitan padaku, lalu pulang. Anggoro pun menatapnya, tak lepas-lepas. Ahay…. Ini anak mupeng juga haha…. Di terpa suasana kelas yang panas, Anggoro pun menurut. Segera belajar, ya meskipun—lagi-lagi aku mengalah—dia hanya membaca satu paragraf pendek. Selepas membaca, langsung dengan raut berseri sang jagoan berpamitan dan berlari keluar kelas. Aih…. Dan setelah menutup pintu kelas, segera aku menemui kepsek yang sedari tadi kulihat melongok ke dalam kelasku. Mungkin dipikir pak kepsek, aku sedang melakukan tindak kekerasan pada anak haha…. Ah, jangankan keras, bersuara keras pun rasanya susah buatku. Dan aku menghindari menyubit anak. Paling banter hukumannya gelitikin anak rame-rame haha…. Itu dulu waktu kesabaran utuh.
Sekarang, aih…. Sudah berubah jadi guru galak deh. Udah mulai nyubit anak meski jarang…. Ampun. Kalau anak-anak normal menolak hukuman, tapi lain dengan Anggoro. Dia justru menantangku supaya dihukum. Sering dia berulah supaya aku hukum dan menawarkan hukumannya sendiri padaku.
“Bu, aku berdiri di depan kelas aja. Kayak gini sampai pelajaran selesai. Enak enggak ikut pelajaran,” jelasnya sambil menyilang kedua tangan memegang telinga, lalu angkat satu kaki sambil menunjukkan ekspresi senang.
Kuperhatikan tingkahnya, “Enggak, enggak mau. Enak Anggoro kalau dihukum kayak gitu. Udah anak-anak ayo serbu Anggoro. Kitik-kitik sampai Anggoro mau maju ke depan kelas,” teriakku mengomando pasukan kecilku. Dan segera setelahnya Anggoro akan melakukan perlawanan, berteriak tidak mau dikitik-kitik haha…. Lalu teringatlah kembali olehku, cerita tentang Bapak Anggoro kalau marah bisa bersikap galak padanya. Oleh karenanya hukum cubitan enggak akan berlaku dengan optimal. Percuma saja. Menambah dosa. Jadi hukuman terbaik sedari dulu hanya dikitik-kitik meskipun itu tak mendidik dan berefek maksimal. Ampun.
Kalau sedang mogok belajar, Anggoro tak bisa diganggu gugat. Memaksanya belajar hanya akan berakibat fatal. Bisa-bisa disobeknya buku pelajaran. Nah, ini tingkahnya yang paling membuatku kesal. Jika itu terjadi, aku akan mendiamkannya. Aku enggak mau lagi dia menyobek buku pelajaran sebagai tanda protes. Kalau dia mau tidur, ya sudah kubiarkan tidur. Dia enggak akan betah lama-lama tidur kecuali memang ngantuk beneran—akibat main petak umpet hingga shubuh. Bangun tidur, dia akan kembali mendengarkan pelajaran meski dengan gaya cueknya. Biasanya sengaja aku keraskan suaraku bertanya pada anak-anak lainnya tentang sebuah materi. Dan seperti biasanya, ada anak yang jawab asal-asalan. Lainnya diam karena merasa tidak tahu. Lalu dengan gaya jengkelnya dia akan segera menjawab pertanyaan yang benar dengan suara lantangnya.
Meski terkesan ‘bandel’, jagoanku anak yang baik. Dia setia kawan dan suka bekerja membantu bila dibutuhkan. Dia yang terlebih dulu menjenguk temannya saat sakit. Bertengkar berkali-kali dengan Andri, membuat Andri menangis, tidak membuatnya benci atau menjauh dari Andri. Ya, namanya juga anak-anak. Bertengkar lalu baikan lagi. Tak ada yang bisa membuat Andri dan Anggoro benar-benar berpisah atau saling membenci terlalu lama. Ikatan rasa sayang di antara mereka lebih besar dari pertengkaran-pertengkaran yang mereka ciptakan.
Bersembunyi di bawah meja guru, di dalam lemari buku, di antara dinding lemari dan rak buku, di kamar mandi, atau di mana saja yang sanggup memuat tubuh kecilnya. Anggoro dan yang lainnya sangat suka dengan permainan petak umpet itu. Setiap hari, selalu membuatku mencari mereka di tempat-tempat yang telah kuhafal letaknya. Tapi tetap saja, mereka merasa hal itu mengasyikan. Mereka tetap tertawa dan pura-pura kesal ketika aku menemukan letak persembunyian. Oleh karenanya aku terkadang mengajak mereka bermain petak umpet di kelas. Meski terdengar konyol, tapi aku sering mengajak mereka bermain di dalam kelas di luar konteks apersepsi. Aku akan menawarkan pada mereka permainan apa yang mereka sukai. Entah itu jamuran, beteng-betengan, pak pos, ular tangga, dsb. Sisi positifnya aku jadi hafal lagi berbagai jenis permainan yang dulu pernah kumainkan hahaha….
Aku menikmati saat-saat bermain bersama mereka meskipun harus berkata, “Ssst…. Mainnya di dalam kelas aja ya? Jangan sampai ke luar kelas. Nanti kalau ketahuan guru lain bisa dimarahi, kita enggak bisa main lagi.” Haha…. Ampun, kupikir akulah yang takut ketahuan guru-guru lain. Tapi buat apa harus menghentikan hal-hal yang membahagiakan? Karena aku mengalami kesulitan untuk berhenti melakukan hal-hal yang membahagiakan, termasuk bermain bersama mereka. Alibiku.
Aku menikmati peran-peranku saat berpura-pura tak tahu jalan permainan. Lalu dengan lagak master maka Anggoro akan berkata, “Wah, Bu Kinur keliru. Jo ngono bu, melu aku wae.” Aku lebih suka Anggoro ceria bermain bersamaku daripada harus melihat dia mogok belajar karena harus menunggu teman-temannya yang lain. Menunggu murid-muridku mencerna pelajaran tak secepat dia.
Kadang, aku merasa takjub mendengar ceritanya saat mengamen dan menggoda polisi pamong praja yang mengusirnya. Anggoro enggak takut dengan siapapun. Ya, dia pemberani tapi terkadang perlu diarahkan. Biar keberaniannya tak merugikan dirinya sendiri. Saat aku datang membantu mereka belajar di malam hari pun kadang aku merasa terharu. Ya, selelah apapun asal tidak hujan, aku akan datang ke pemukiman mereka menggunakan sepeda ibu kos. Soalnya sehabis hujan, anak-anak lebih suka tidur daripada belajar. Saat-saat berkumpul bersama dengan mereka di malam hari sebenarnya sangat menyenangkan. Ada saja tingkah dan celetukan konyol yang keluar dari mereka.
Terkadang saat malam tiba, aku merasa takut bersepeda di jalanan Surabaya yang mengerikan. Penerangan yang minim di jalan raya membuatku semakin deg-degan apalagi beberapa kali nyaris tertabrak atau diserempet kendaraan lain. Tapi ada satu kalimat ajaib yang menyemangatiku: Kalau belum saatnya lihat Surga (PD lagi!) berarti masih bisa hidup di dunia. Kalau jatuh, sakit, bangun lagi. Sayang banget kalau enggak berangkat belajar bareng mereka. Dan lagi, sikap Anggoro lebih manis dan bersemangat belajar saat ada di rumah. Diiringi dengan musik dangdut super kencang, suara tawa menggema, juga asap rokok yang tak berhenti mengembara di udara, aku dan anak-anak belajar bersama. Selain gelap, kadang aku merasa ngeri melihat lingkungan mereka. Tapi sekali lagi, aku yakinkan diriku: aku akan baik-baik saja, ada Allah yang akan menjagaku.
Orang tua mereka juga menyambut ramah kedatanganku. Mereka akan menyapa dan menyuruh anak-anak segera berkumpul untuk belajar bersamaku. Raut-raut wajah menyeramkan itu berubah jadi begitu ramah karena aku di sana menemani anak-anak mereka belajar bersama. Ya, sampai detik ini aku terus berusaha berlaku sebisaku. Menemani mereka belajar juga mendamaikan sikap Anggoro yang ‘ajaib’. Semoga saja, doaku untuk seluruh anak-anakku dikabulkan Allah. Masa depan Anggoro dan teman-temannya akan seterang binar mata mereka yang selalu membuatku rindu. Amin.
23 Januari 2011
9:23
Note: I love you more…. more… and more Anggoro:).