CERPEN, CELOTEH HATI SI GADIS
Halaman cerpen…
Isinya…
Tentu saja cerpen, heheh…
lagi belajar buat cerpen, jadi mohon saran-sarannya ya:)
Sore, di desa karang tengah prandon, Ngawi
Langit mulai berubah, sang surya meniti langkah dengan agungnya, berarak menuju bagian bumi yang lain. Dan untuk kesekian kalinya, kembali membawa harta terbesarnya, cahaya yang dibutuhkan seisi bumi. Pesonanya tak pernah jenuh kupandangi dari balik sudut gubuk kecilku diantara batang padi-padi yang baru kutanam seminggu yang lalu. Entah kenapa, aku seperti merasakan sebuah harapan baru ketika melihat sang surya menghilang secara perlahan, terdapat perpaduan warna-warna yang menunjukkan keindahannya dimataku. Melihatnya seperti membawa suatu pesan baru bagiku, untuk kembali yakin dan tak patah semangat untuk bertemu dengan anakku tercinta, yudi. Hati kecilku berkata, suatu saat anakku pasti kembali, kami akan hidup bersama dan mengganti waktu yang hilang dengan hari-hari yang lebih berkesan.
Entah berapa puluh musim tanam padi kulewatkan hari tanpa kehadiran anak semata wayangku. Aku hanyalah seorang janda beranak satu, jika pun bisa disebut begitu. Yang jelas, suamiku hilang setelah ia merantau ke malaysia beberapa bulan setelah pernikahan kami. Aku mempunyai seorang anak yang kuberi nama yudi. Aku bekerja sebagai buruh tani di desa, karena hanya pekerjaan itulah yang bisa kulakukan. Tanpa ketrampilan yang memadai rasanya tak ada pekerjaan yang bisa kulakukan. Bertahun-tahun aku merawat anakku seorang diri hingga akhirnya ujian itu pun datang. Yudi, merantau ke Malaysia atas bujukan seorang agen yang tak pernah jemu membisikkan gemerincing ringgit yang akan ia peroleh ketika bekerja disana.
“ Ah… yudiku malang… “
“Mengapa tak kau dengarkan perkataan makmu ini nak… “ batinku menjerit tiap kali aku mengingatnya. Betapa berbaktinya ia padaku, ingin membahagiakan aku dengan gaji yang akan ia perolehnya ketika pulang dari malaysia, tapi ia tak tahu bahwa kebahagiaan terbesarku adalah melihatnya bahagia di sisa waktuku yang tak banyak ini. Alangkah bahagianya melihat ia menikah, punya anak dan kami hidup bahagia seperti dulu. Walaupun kami bukan orang mampu-punya materi lebih-secara ekonomi, tapi aku yakin kami tidak akan kekurangan harta terbesar, bahagia dan berlimpah kasih sayang.
“ Mak, mak…” sebuah suara memanggilku dari arah utara desa.
“ Mak, mak si joko dah pulang… “ teriaknya ke arahku.
Kuedarkan pandangan mataku yang telah terkena rabun senja ini, kearah datangnya suara itu. Dari jauh kulihat siluet bayangan seorang pemuda berusia 25 tahun berlari kearahku dengan cepat. Aku dapat mengenalinya dari suaranya. Ia rahmat, teman yudi. Nafasnya tersengal-sengal dan tak teratur, ketika sampai di gubug. Keringat bercucuran dari dahinya yang hitam-terbakar oleh matahari-diakibatkan terlalu sering terpanggang matahari ketika bekerja di sawah. Persis seperti yudi, anakku yang kini amat kurindukan kehadirannya. Melihatnya sama saja seperti melihat yudi, postur tubuhnya yang kurus, tinggi, rambutnya yang lurus dan gaya bicaranya tak jauh beda dengannya. Maklum saja, mereka adalah teman sejak kecil, sehingga penampilan maupun karakter mereka hampir sama.
“ Mak, mak… si jo-ko dah pu-lang da-ri malaysia ” ulangnya terbata kepadaku tanpa memberi kesempatan pada tubuhnya untuk beristirahat dan mengambil nafas setelah ia berlari jauh.
“ Tadi kulihat ia di tepi desa, turun dari sebuah taxi mak” urainya kepadaku.
Joko, ah… nama yang tak kan pernah kulupakan, karena ia mempunyai kaitan yang erat dengan yudi, anakku. Yudi pergi bertahun-tahun yang lalu bersama sepuluh orang pemuda desa yang terkena bujukan agen licik, si marno yang gila uang itu. Jika aku mengingatnya, ingin rasanya kubunuh dia, orang yang telah memisahkanku dari anak semata wayangku. Sepuluh pemuda desa tersebut pergi dengan marno, termasuk pula si joko.
“ Tapi tak kulihat yudi ada bersamanya mak” terangnya sambil berusaha menyingkirkan kesedihan yang ingin ditepisnya, namun tak pelak tertangkap pula olehku, karena rahmat sudah kuanggap sebagai anakku sendiri, sehingga aku hafal karakternya, tak satupun hal yang bisa luput dari penglihatanku.
“ Mata tuaku terpejam sejenak, mencoba mencari harapan yang kian lama kian habis, habis oleh penantian dan kerinduan yang tak pernah bisa ku obati. Hanya kepulangan anakku yang kuharapkan, dengan begitu segala ksedihan, kerinduan dan penatianku selama ini kana terbayar seketika. Namun, nampaknya harapanku tak kan terwujud dalam waktu dekat.
“ Antarkan aku ketempat joko sekarang, aku ingin mencari tahu dan mendengar sendiri dari mulut joko tentang yudi” perintahku cepat.
“ Baik mak, mari saya tuntun, kita jalan pelan-pelan saja” jawabnya sambil menggandeng tubuhku yang kini baru sembuh dari stroke beberapa bulan yang lalu. Stroke menyerangku setelah penyakit jantung lemah yang kuderita bertahu-tahun lalu.
“ Ah, tubuh tuaku, bertahanlah sampai yudi pulang, aku tidak bisa mati dalam keadaan seperti ini, tanpa tahu keberadaan anakku” kuseret langkahku pelan berusaha mengikuti langkah rahmat disampingku.
Selangor, malaysia
Fajar mulai bersembunyi dibalik gelapnya malam, namun ada beberapa pemuda yang mengendap-endap menuju jalan raya berlari ke arah kota. Tampak raut kewaspadaan dan ketakutan tergambar jelas di mata mereka, ada enam pemuda berusia 20 tahunan berusaha menghindari kejaran police-police malaysia. Rupanya mereka adalah TKI gelap atau juga menjadi gelap karena ulah para cukong-cukong malaysia. Biasanya mereka melarikan diri dari pabrik/perkebunan tempat bekerja karena diperlakukan tidak adil, tidak digaji, atau bahkan disiksa jika tak mau bekerja sesuai harapan para cukong-cukong pemilik kebun sawit dan karet yang diluar perikemanusiaan dan tak mengenal kata istirahat. Jika berontak, mereka bisa saja membakar visa dan melaporkan mereka sebagai TKI ilegal pada kepolisian malaysia, begitu liciknya mereka tanpa menyadari hukuman yang menanti mereka di hari akhir, hari dimana segala sesuatunya dihisab tanpa merugikan siapapun.
“ Kita tidak bisa begini terus menerus teman-teman, bekerja diantara kejaran para manusia berhati batu itu, polisi-polisi malaysia yang tak mengenal hati itu. Uang kita sudah habis untuk menyuap mulut mereka, namun mereka terus saja mengejar kita jika bertemu. Seperti budak kita disini, dicambuk tanpa mengenal kata tua-muda, laki-laki maupun perempuan jika tertangkap. Aku rindu kampung halamanku, rindu ibuku yang semakin menua, tak bisa kubayangkan siapa yang menjaganya sekarang, sungguh aku berdosa pada ibuku tak mendengar kata-katanya untuk tak pergi ke malaysia” terang yudi dengan nada kemarahan yang berusaha diredamnya.
“ Apa yang kaurasakan tentunya tak jauh beda denganku yudi. Namun apa yang bisa kita lakukan, kita tak punya visa dan tak bisa pergi ke Kedutaan RI untuk meminta pertolongan. Setiap hari ada satu TKI yang meninggal entah karena disiksa majikan atau mati saat berusaha melarikan diri, namun yang terdengar di indonesia hanyalah TKI legal yang terdaftar. Sungguh aku tak bisa berfikir lagi, bagaimana cara kita pulang, aku juga menahan rindu sama seperti yang kaurasakan yudi” timpal arif, pemuda berusia 27 th, asal ponorogo yang sudah di malaysia sejak ia lulus STM, air matanya menetes satu persatu. Raut wajahnya kini tampak lebih tua dari usianya yang muda akibat perjuangannya yang berat.
“ Kita harus mengambil resiko teman-teman. Jika kita masih punya keinginan untuk pulang, besok kita pergi KBRI menumpang truk sayur ke kota, aku kenal baik dengan supirnya, ia pasti mau menolong kita” sambung fredi, pemuda hitam asal NTT.
“ Jika begitu, kita besok pergi jam 2 pagi dan bersembunyi di truk sayur, semoga saja kita sampai di KBRI dengan selamat, Namun jika kiranya Allah berkehendak lain aku sudah siap, aku tidak bisa berada disini seumur hidupku” ucap lirih seorang pemuda paling muda diantara mereka, hamdani 20 th asal banyumas.
“ Jika, begitu kita sepakat untuk pergi besok pagi? Tanya yudi pada kelima temannya.
“ Ya, yudi” serempak mereka menjawab, penuh tekad dan semangat. Ketegaran dan semangat membara tampak menghiasai wajah-wajah mereka yang letih.
“ Ayo kita kembali ke hutan untuk bersembunyi dan keluar esok pagi, semoga saja kita bisa selamat sampi KBRI, kita sudah lelah setelah bekerja seminggu “ perintah fredi.
Mereka pun kembali mengendap-endap penuh waspada dalam gelap, mencoba mempertahankan denyut jantung mereka. Hanya demi satu tujuan, agar dapat memupuk harapan untuk bertemu dengan keluarga mereka. Sungguh apa yang mereka alami saat ini tak pernah terlintas dalam benak mereka sebelum berangkat ke malaysia. Agen-agen itu mendongeng tentang ringgit-ringgit yang akan mereka peroleh. Mereka bekerja di malaysia dengan membayar sekian juta untuk bekerja. Dan uang untuk mendaftar bekerja pun mereka peroleh dengan menjual harta berharga dikampung, sawah, sapi, tanah warisan, perhiasan keluarga, meminjam uang di bank dll. Hanya demi meraih mimpi, meraih kehidupan yang lebih baik dari yang mereka punya saat itu, andai mereka tahu apa yang akan menimpa mereka saat ini, tentu mereka tidak akan menukar kebahagiaan mereka dengan menjadi budak di negeri orang.
Setelah sampai di sebuah gubug yang terletak ditengah hutan, mereka pun bergegas untuk beristirahat. Tampak di gubug mereka terlihat pemnadangan yang tak ubahnya dengan perumahan kumuh yang terus digusur di ibukota. Gubug mereka berukuran 4×5 meter, terbuat dari kardus, kayu bekas, seng-seng yang tak terpakai dari tempat kerja. Gubug itu cukup untuk menampung enam orang, dengan daapur di pojok ruangan yang dibatasi oleh kain. Terdapaat dua tikar besar sebagai als buta tidur, saatu ceret berisi air matang, meja buat makan dan beberpapa piring seng dan gelas plastik di atas meja. Kembali dingin menyergap, bulan ini memang awal musim penghujan sehingga cuaca seringkali tidak menentu, banyak nyamuk berkeliaran dan menggigit tubuh mereka. Namun nampaknya hal itu tak mempengaruhi tidur mereka, rasa letihlah yang mengalahkannya. Dengan selimut seadanya mereka berusaha menghalau nyamuk dan menghangatkan badan yang menggigil kedinginan. Dan mimpi tentang kampung halaman yang selama ini menjadi penyemangat untuk terus bertahan hidup. Dalam hutan itu terdapat beberapa gubug lagi, tentu saja sebagai tempat persembunyian para TKI tersebut. Yah, hutanlah tempat mereka bernaung selama ini, tempat mereka dan beberapa puluh TKI ilegal bersembunyi dari kejaran police malaysia.
Suatu malam di ngawi.
“ Aku tidak tahu dimana yudi sekarang berada mak, yudi melarikan diri bersama kelima pekerja lainnya saat menolak untuk menerima separuh gaji dan bekerja tanpa henti mak. Aku sudah menasehatinya supaya bersabar. Namun, ia tak mau mendengarkan. Aku dengar ia masuk hutan dan bekerja serabutan ditengah kejaran police malaysia. Sekarang ia menjadi TKI ilegal karena visa yudi ditahan oleh bos perkebunan. Aku pun pulang dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit gajiku dan pulang tanpa membawa hasil, tapi aku sudah lega mak, setidaknya aku bisa pulang menjumpai keluargaku” cerita joko penuh haru.
Kata-kata joko pagi tadi masih terngiang-ngiang di benaknya.
“ Apa yang bisa kulakukan anakku? Tubuh ini telah semakin menua, mulai rapuh di makan usia. Aku bertahan hanya demi melihatmu pulang. Kenapa hal ini terjadi lagi padaku? kehilangan orang yang kucintai dengan alasan dan di negara yang sama? Bapakmu merantau ke malaysia sejak aku masih mengandungmu, hingga kini tak terdengar kabar beritanya. Akankah aku kehilanganmu setelah bapakmu? Hanya doa yang mampu kuberikan padamu nak, semoga kamu selamat, selamat pulang ke ngawi… “ batin wanita yang kini sudah berusia 55 tahun, rambutnya sudah memutih, kulitnya yang keriput membalut tulang yang hampir-hampir tak berdaging akibat beban pikiran dan penyakit yang ia derita. Namun, nampaknya penderitaan tak mau lepas dari bayangannya.
Malam mulai mengisi sebagian hari, membawa orang-orang terlelap dalam mimpi, mimpi akan indahnya dunia yang mereka ciptakan diantara kenyataan yang menghimpit. Angin mulai berhembus pelan, belaiannya semakin membuat lelap orang-orang yang sedang tidur. Bintang-bintang pun mulai berlomba memperlihatkan sinar terindahnya, mereka bergantungan di atas permadani biru yang maha luas, tak bertepi dan dijangkau oleh akal manusia.
Selangor, jam 2 dinihari.
Pemuda-pemuda itu kembali merayap, berjalan ditengah ketakutan dan harapan baru yang mereka impikan untuk bebas. Bebas menghirup nafas di kampung halaman dan juga bebas dari status budak dan buronan yang mereka sandang. Apakah kesalahan mereka? Mencoba mencari keping demi keping uang di negeri orang untuk merubah nasib keluarga. Benar kata orang bijak, manusia boleh berencana namun Allah jualah yang memutuskan. Keinginan mereka ternyata bertolak belakang dengan kenyataan yang mereka alami. Tanpa mereka sadari beberapa polisi malaysia mulai mengendus keberadaan mereka, siap mencampakkan mimpi kebebasan yang baru saja mereka bangun.
“ Freeze, tak usah nak macam-macam kami dari police malaysia!!! ” ucap seorang police malaysia sembari menodongkan senjata ke arah sekelompok pemuda yang terkejut, tak menyangka jika keberadaan mereka diketahui secepat ini. Jarak police dengan para pemuda itu 20 meter, jarak yang cukup dekat untuk mengintai nyawa para pemuda itu.
Ketakutan jelas tergambar dari wajah mereka, peluh mulai mengucur deras dari wajah mereka. Mereka harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan nyawa yang kini di ujung tanduk. Tak sempat berfikir banyak, mereka hanya bisa mematung, pasrah dengan keadaan yang semakin tergambar degan jelas dibenak mereka. Disiksa, dicambuk tak ubahnya budak, diperlakukan tidak manusiawi seperti yang mereka dengar dari beberapa teman yang pernah tertangkap terlebih dahulu.
“ Aku akan lari yudi, aku tidak mau mereka menangkap dan merampas kebebasanku” lirih fredi berucap pada yudi yang berada disebelahnya.
“ Jangan gila kau fred, mereka bisa menembak mati kita sekarang. Mereka tak pernah main-main” balas yudi dengan wajah khawatir menatap temannya. Sementara itu beberapa polisi mulai bergerak berjalan, menuju ke arah mereka dengan menodongkan senjata. Apakah yang ditakutkan manusia , jika kebebasan menjadi mimpi terbesarnya, maut tak kan bisa menghalanginya untuk terus meraih keinginannya.
“Aku tak peduli dengan mereka, ini satu-satunya kesempatan bagi kita untuk kabur. Sekarang atau tidak sama sekali” tegas fredi yang diikuti oleh anggukan keempat temannya. Yudi pun hanya bisa mendesah pasrah, sekarang ia mulai menata hatinya untuk bersia-siap untuk menerima kemungkinan terburuk, mati di malaysia dan tak bisa melihat emaknya.
Waktu seakan tak mau berhenti memberi ruang pada mereka untuk berfikir, police semakin mendekat dan terlintas ide di benak fredi untuk melemparkan pisau yang ada dibalik bajunya pada empat orang police itu. Isyarat fredi dipahami oleh kelima pemuda lainnya dan serempak mereka pun melakukan hal yang sama. Lemparan pisau mereka tepat mengenai sasaran.
Tak ayal lagi, para police itu menembakkan senjata api itu secara membabi buta ke arah pemuda itu. Detik terus berlanjut, hutan yang semula sunyi menjadi riuh oleh suara tembakan. Beberapa orang dari mereka terkena tembakan dan mengalami luka parah, namuan mereka terus berlari seolah tak merasakan luka yang ada pada tubuh mereka. Para pemuda itu terus berlari, berlari tanpa mengenal lelah, mencoba dengan sekuat tenaga meghindari tembakan. Pohon-pohon menjadi saksi bisu akan perjuangan sekelompok pemuda itu, dan hanya Allah yang mengetahui akhir dari perjuangan mereka.
Ngawi, 2 hari kemudian
“ Mak, mak…” teriak rahmat dari luar
Tergopohku berjalan berusaha menemuinya, perasaanku mengatakan ada kejadian buruk yang terjadi. Sudah dua hari ini aku bermimpi yudi pulang, namun keadaannya jauh berebda dari yudi yang kukenal, dingin dan tanpa ekspresi.
“ Mak, yudi tertembak di malaysia dan meninggal saat berusaha melarikan diri, tadi pagi aku mendengar berita dari televisi” dengan berlinangan air mata rahmat mengabarkan berita tentang kemtian yudi.
Duniaku seakan runtuh, anak semata wayang yang kunanti kepulangannya bertahun-tahun kini tewas di malaysia. Ya Rabbi, mengapa kau timpakan hal ini di akhir usiaku. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, perasaanku semakin perih. Dan dunia pun menjadi gelap, aku tak bisa mendengar apapun lagi, sayup-sayup kedengar rahmat mengguncang-guncang tubuhku.
“ mak, mak, mak… bangun mak, istigfar mak.. “ teriak rahmat pada sesosok tubuh yang kini tak bernyawa…
Dan yang berpulang, telah menemukan kebebasan mereka, kebebasan dari dunia yang menjerat dan menunggu perhitungan Allah, tuhan semesta alam. Kerinduan yang menggelegak pun menemui kebahagiaannya…
“Mak, mak itukah kau mak? Sekilas yudi melihat bayangan emaknya datang dari sebuah cahaya yang bergerak ke arahnya…
“ Yud, yudi…” mak, nampak tak bisa menyembunyikan kebahagiannya…
“ Iya mak, ini yudi mak, maafkan yudi emak telah berdosa pada emak” tutur yudi dengan semburat wajah sedih
“ Tidak yud, kamu tidak salah. Mak tak sangka kita bisa bertemu lagi, tapi sekarang dimana kita yud?” Nampak raut heran pada wajah emak ketika menyadai mereka berada pada tempat asing yang tak dikenal…
“ Mak, kita sudah berada di dunia yang lain mak, sekarang ita akan menghuni alam lain sampai kita dibangkitkan kembali mak”
“ Baiklah yud, emak sudah ikhlas, emak sudah ketemu kamu….” Ujar emak dengan penuh kebhagiaan….
Dan segala derita telah terganti, segala kerinduan telah terobati. Penantian panjang akan dilalui. Kidung kerinduan pada sang buah hati pun berganti dengan kidung rindu pada sang pencipta. Kidung yang tercipta sejak mereka terlahir hinga akhir hayat. Apakah mereka akan bertemu kembali dengan sang pencipta? Hanaya amallah yang mampu menjawab, tapi nanti ketika telah tiba waktunya. Semoga, hanya itulah yang dapat mereka harapkan.
(N’its)
keren!!!!
g nyangka ternyata si sofa (nur) yang lucu tu skrang keren abieeez. Waah gwe ketinggalan neh kyaknya. makasih ya blog u dah bkn q cemangat. o ya, wat cerpenny, kayake yang bagian yudi ktemu ma maknya tu g perlu deh. terlalu fiktif. tapi tetep, OK!
SEMANGAT!!!! ( ja ketularan virus semangatnya nur neeh!)
hai nur, he3 ni dah kulihat blogmu,
pembagian paragrafnya agak kurang bgs kykna nur, jd bingung penggalannya dmana, jd bingung jg bcna, jdnya satu paragraf ada terkalu bnyak ide, hrsnya bs dibagi ke paragraf2 br.
semangat ya, n keep writing
Assalamu’alaikum. …..!
Wach….?// gilaa Lou sop , sekarang lou dah jd pnulis, w bener gak nyangka …! gimana nich , royaltinya dah banyak yach !! bagi2 donk …
Success for you fren!!!!
hallo … selamat belajar moga cepet sukses
lam kenal
salam kenal…
subhanallah.!!
keren sekali ukh cerpennya.
semoga bisa tetap eksis
dan tetap semangaaaaa…………t.
keep spirit.
ngawi…………………
i like it………..
hei kalo boleh tanya tentang ending cerpen mu??
emang kalo kita udah ko’it kita masih bisa ketemu temen ato sodara ato keluarga yang juga udah ko’it kaya di cerpen mu???
hehe kirain ga bisa?
kirain kalo kita udah passed away urusan kita cuma sama bang satpam rumah masa depan kita (baca: malaikat penjaga kubur) siapa namanya ya? munkar dan nankir?
aduh lupa…
Buat :
1. any trisetyorini : ok, an makasih sarannya. Emang seh endingnya agaka berlebihan, kan dar sma suka berimaginasi, hehe…
2. huberta setyarindarti : yupz… makasih ya mbak sarannya… maklum baru belajar nulis neh… dah setahun ga nulis… ne juga baru utak-atik blognya.. bingung mau diapain:)
3. pai : wa’alaykum salam warahamatullahi wabarakatuh… baru beljar koq… belum da buku, jadi belum da royalti… doain ja ya.. hamasah!
4. mishbahul khoir : jazakallah akhi, yupz.. hamasah!!
5. sm : ok, maturnuwun
6. monchu18 : namanya juga fiksi mas mukhtar, hehe.. ne seh imaginasi ja, abisnya kasihan ma yudi masak ga bisa ketemu ibunya, hehe.. ya.. ya.. lain kali lebih realistis lagi, maturnuwun.
oke kq mbak… terus berkarya ya……!
assalamu’alaikum
hmm nur punya daya hayal tinggi juga ternyata
tp aku seneng kok, punya alur cerita yang baik
bisa juga bikin kita2 terhanyut he he
nur ne bakat alam ato inspirasi muda berlaga tua ya he he
salut dech,,,,,
semangat terus,,,,,,chayyooo
andy
tetap semangat,
dan liat.. lalu perhatikan apa yang terjadi… kata inspriratif mario teguh….
hmm… aku kalah jauh.. hahahaha..
sip fa… kpan2 buato lagi…
ntar tak bacae..
okey
ttd
cumi