PINGUIN
Halaman pinguin, ini merupakan salah satu halaman yang memuat kisah harian. Tapi g bisa disebut sebagai diari juga, sekedar cerita tentang kehidupanku sehari-hari
Lebih dibuat untuk melatih menulis dan menyampaikan pesan pada orang saja. Tapi mudah-mudahan apa yang saya ceritakan bisa sampai. Kalau belum mengerti sisi ceritanya, ini menandakan saya harus lebih melatih kemampuan menulis saya lagi.
Kenapa halaman ini saya namakan pinguin?
Iseng saja, soalnya saya suka pinguin. Terkesan dengan kemampuan hidupnya untuk bertahan di alam yang berat. Daya juangnya untuk bertahan hidup menggugah perasaan saya, semoga saya juga bisa bertahan dalam hidup dengan berbagai permasalahan yang ada, heheh… Itung-itung belajar dari pinguin.
Selamat membaca dan mohon sarannya:)
DAN SYAHIDAH PUN MENEMUKAN JALANNYA
Apa yang menjadi ragumu teman?
Jika kau tahu
Apa yang menantimu
Setelah jalan ini kau tempuh?
Kerikil mungkin akan melukai langkahmu
Jalan pun tak rata
Kaki pun bisa berdarah karenanya
Airmata tercurah tanpa henti
Tapi apa yang menjadi ragumu teman?
jika
Syurga dengan sebaik-baik tempat kembali
Kebahagiaan dengan keabadiannya
Senyum sang rasul dengan segala keteduhannya
Teman dengan dzikir penuh cinta pada sang pencipta
Malaikat yang selalu memuliakanmu
Memuji jiwa pemberanimu
Adalah sebaik-baik jalan pulang
Cita-cita tertinggi
Bagi segenap mukmin di dunia
Jalan dakwah pun
Terbuka dengan indahnya
Menanti langkah juangmu
Apa yang menjadi ragumu teman?
Lakukan yang terbaik demi tegaknya
Islam, Rahmatan lil alamin
Dan kini seorang syahidah
Telah menghiasi perjuangan ini
Perjuangan yang dipersembahkan
Demi menggapai ridho Ilahi
Seorang bunda dakwah telah berpulang
Diiringi senyum jutaan malaikat
Kembali ke pangkuan Sang Pencipta
Pagi itu seperti biasanya, aku terbangun setelah mendengar suara bel untuk sholat shubuh. Suara adzan masih terdengar dimana-mana, menyeru manusia untuk terbangun dari tidurnya. Hari masih rapat, belum nampak cahaya barang sedikit pun, dingin terasa begitu ku buka jendela kamar asrama.
Bergegas aku meraih mukena di atas lemari pakaian samping tempat tidurku, dan mengambil air wudhu. Setibanya aku di mushala sekaligus ruang kuliah di pesantren, nampak beberapa amah¹ berbisik dengan muka serius dan terlihat panik. Aku tak tahu apa yang terjadi namun yang jelas, pastilah terjadi sesuatu yang serius. Namun, aku enggan berprasangka dengan sesuatu yang tidak pasti. Ah, sudahlah. Nanti juga kita akan mengetahuinya, pikirku. Setelah semua berkumpul usai menunaikan shalat shubuh. Kami dikejutkan dengan adanya sebuah berita duka, istri dari ustad hidayat nurwahid, Hajah Tastian Indrawati Hidayat Nurwahid meninggal semalam. Beliau meninggal pukul 01.00 lewat beberapa menit, akibat stroke yang baru diketahui sepulangnya beliau dari tanah suci.
Ustad Hidayat Nurwahid beserta istri baru saja menunaikan ibadah haji. Sepulangnya dari tanah suci, almarhumah bermaksud menjenguk putranya yang berada di Pesantren Gontor. Rasa rindu pada sang buah hati mengalahkan rasa lelah yang ada. Namun, dalam perjalanan ke gontor, almarhumah nampak tidak sehat. Ketika berbincang dengan ustad, almarhumah tidak bisa menanggapi dengan jelas dan terlihat tidak sadar sepenuhnya. Langsung saja ustad membawa almarhumah ke Jogja International Hospital. Almarhumah dirawat selama beberapa hari dan sempat sadar. Tapi almarhumah kembali pingsan dan tidak sadarkan diri. Hal ini diakibatkan beliau berusaha menyambut tamu yang datang menjenguk. Akibat dari banyaknya tamu yang datang menjenguk dan kondisi yang belum pulih, beliau kembali tidak sadarkan diri.
Setelah dirawat beberapa hari dokter menyatakan menyerah, akibat dari kondisi almarhumah yang sudah terlampau parah. Beberapa hari sebelum almarhumah meninggal, para santri sudah diberitahu oleh ustad mengenai sakit yang diderita oleh almarhumah. Ustad juga meminta doa dari para santri dan menganjurkan untuk menjenguk beliau. Kami pun terkejut atas berita tersebut karena beliau baru saja pulang dari ibadah haji bersama ustad hidayat.
Ustad berkata bahwa beliau adalah seorang ummahat yang sangat gigih dalam berdakwah. Perjuangan beliau demi syiar islam tak mengenal kata menyerah ataupun lelah. Bahkan sakit yang diderita konon akibat dari padatnya aktivitas beliau dalam berdakwah. Pagi setelah kuliah shubuh, jam 06.10 amah meminta kesediaan santri membantu mempersiapkan tempat peristirahatan bagi tamu yang bermalam di Islamic Center(IC). Ada delapan santri dan dua amah yang menyatakan kesediannya, kami pun mengumpulkan seprei bagi para tamu tersebut. Kami berangkat ke IC dengan sepeda motor karena anak-anak yang bisa mengendarai sepeda motor terbatas dan kesulitan mencari sepda motor maka kami sampai di IC agak siang.
Sesampainya di IC, terlihat beberapa anak sudah mengatur dan memberi seprei, anak-anak lain sibuk membersihkan ruangan tersebut. Ruangan yang kami bersihkan dipergunakan sebagai tempat bermalam akhwat, sedangkan ikhwan berada dilantai atas dan tidak menjadi tugas kami untuk membersihkannya.
Setelah selesai kami pun pulang, kami berenam pulang. Namun, dalam perjalanan pulang dua santri mengalami kecelakaan. Kecelakaan tersebut tidak menimbulkan luka serius namun tetap membuat kedua santri mengalami nyeri, apalagi kedua santri akan ujian keesokan harinya. Akhirnya setelah melalui berbagai pertimbangan, aku memutuskan untuk pergi takziah bersama ruri. Kami berdua berencana akan pergi dengan rombongan SKI UGM.
Tapi rencana yang telah tersusun rapi hampir saja batal. Aku dan ruri ketinggalan rombongan tersebut, sesampainya kami di masjid kampus(maskam) keadaan sudah lengang, tak nampak teman-teman yang semula akan berangkat bersama. Tapi ruri tak mau menyerah begitu saja, dengan sabar dia menelepon satu persatu teman kami, berharap dapat mengetahui keberadaan mereka dan secepatnya menyusul. Setelah lama menelepon, akhirnya amah dapat dihubungi, dan yang lebih mengejutkan lagi adalah rombongan SKI UGM sudah sampai di pom bensin gejayan. dengan tergesa kami berusaha mngejar rombongan tersebut, sampai pada akhirya kami bertemu di jalan menuju prambanan.
Memasuki daerah prambanan, kami pun menuju ke rumah duka. Jalan menuju rumah duak dijaga ketat oleh aparat kemanan dan juga kepanduan PKS. Lapangan bola di dekat jalan masuk dijadikan sebagi tempat parkir puluhan mobil, bus, sepeda motor tamu. Namun, meskipun begitu kami masih menemui motor dan mobil yang diparkir di jalan kecil menuju rumah. Hal ini tentu saja mempersulit arus pelayat yang datang.
Rumah tempat jenazah disemayamkan terletak di rumah orang tua ustad hidayat. Rumah tempat jenazah disemayamkan nampak sederhana dan seperti rumah penduduk lainnya. Yang membuat berbeda adalah mushola kecil dan rapi yang terletak di samping depan rumah, di mushola inilah jenazah disemayamkan. Ribuan orang datang memenuhi rumah duka dan juga rumah-rumah disekitarnya. Sholat jenazah pun dibagi menjadi beberapa gelombang, disebabkan kecilnya mushola dan banyaknya tamu yang ikut menyholatkan jenazah. Beberapa tokoh penting menjadi imam dalam sholat jenazah tersebut. Ustad Abu Bakar Ba’asyir yang hadir pun menjadi imam dalam sholat jenazah tersebut.
Rangakain bunga tanda duka cita pun terus berdatangan dari berbagai pejabat penting, mulai dari Presiden RI beserta Ibu Ani Yudhoyono, Wapres beserta Ibu, berbagai Menteri, Direktur Utama Bank, Pejabat Daerah, Perusahaan dll. Tamu pun terus berdatangan dan seakan tanpa henti ikut mengantarkan jenazah hingga pemakaman pada pukul 14.00. Selamat Jalan ibu Hjh. Tastian Indrawati. Semoga Allah memberikan tempat terbaik sebagai balas segala perjuangan yang telah ibu lakukan selama ini. Seorang syahidah telah menemukan jalannya, akankah kita dapat mengikuti jejaknya? Waallahhu a’lam bi showab. Fastabiqul khoir…
Keterangan:
amah¹ = bibi; isitilah yang dipakai dalam pesantren untuk sebutan pemandu, orang yang bertanggung jawab membina anak-anak pesantren.
assalamu’alaikum,
sebenarnya ana sudah tau soal meninggalnya almarhumah umi tastian Indrwati.
hanya dalam hal ini,
kita juga hrus tetap istiqomah dan komitmen dalam da’wah.
terutama bgi akhwat untuk tetap mentabayuni ato mendakwahi sesama akhwat maupun wanita biasa.
allahu akbar.
Hamasah!