jump to navigation

DEMO BUAT SANG PRESIDEN 30 Januari 2008

Posted by nurdiyanti in artikel.
Tags: , , , , ,
add a comment

Tanda Cinta Mahasiswa Bagi Pemimpin

Kunjungan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono di Universitas Negeri Yogyakarta disambut dengan aksi oleh mahasiswa. Betapa tidak?
Di tengah tidak stabilnya kondisi dalam negeri, mahalnya biaya pendidikan, melambungnya harga sembako, KKN yang semakin meluas, kriminalitas dan angka kemiskinan yang semakin meningkat membuat gerah sejumlah kalangan, tak terkecuali mahasiswa…

Akhir-akhir ini tentu kita sering mendengar berita demo dimana-mana. Aksi yang merupakan eufimisme dari demo sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Rakyat pun tak sungkan lagi dalam mengadakan aksi, mulai dari tingkat kelurahan yang menuntut kepala desa yang korupsi, pengaduan pilkada yang disinyalir mengalami kecurangan hingga aksi mahasiswa dalam memperjuangkan uneg-unegnya yang dirasa mengganjal dalam bangsa. Indonesia seperti orang tua yang melahirkan sebuah bayi baru yang diberi nama demokrasi.
Reformasi yang terjadi hampir sepuluh tahun yang lalu melahirkan bayi baru yang menurut saya, kita sendiri belum tahu bagaimana cara merawatnya. Semenjak reformasi digulirkan, rakyat seakan-akan terlepas dari belenggu kepatuhan mutlak. Kebebasan itu pun semakin mendekatkan kita pada kasi kekerasan tanpa memperhatikan kepribadian bangsa kita lagi. Bangsa yang dikenal dengan keramahannya, musyawarah dan bangsa yang beragama. Ketika kasi berlangsung semua sifat tersebut melebur dalam aksi yang tidak terkendali. Kebebasan pun di ekspresikan dengan berbagai cara, diantaranya dengan mengadakan demo.
Namun yang lebih mengejutkan kita adalah proses dari penyampaian aspirasi tersebut yang masih diwarnai dengan kekerasan. Bentrok dengan aparat pun tak terelakkan lagi. Tak ada demo yang tak rusuh, begitulah selalu. Sebagai contoh, demo yang digelar oleh para mahasiswa di jogja, selasa(24/1) kemarin sempat terjadi ketegangan dari pihak aparat kemanan dan para mahasiswa yang ingin bertemu dengan presiden secara langsung. Walaupun tidak menimbulkan korban jiwa namun aksi tersebut sudah merupakan cermin perjalanan demokrasi di indonesia. Karena walaupun kita sudah mempunyai demokrasi, tak ada jalan lain dalam menyampaikan aspirasi kalau tidak mengadakan aksi masa kepada pemerintah.
Mempertemukan dua kepentingan yang berbeda, itulah yang terjadi. Di satu sisi aparat kemanan berusaha mengamankan presiden dari kemungkinan aksi rusuh masa, sedangkan mahasiswa mempunyai kepentingan dalam menyampaikan aspirasi mereka. Kedua pihak yang merasa paling benar bersitegang, dan mengesampingkan rasionalitas masing-masing. Tak pelak lagi, aparat keamanan yang merasa terisnggung dan tersulut emosinya ‘mengamankan’ mahasiswa yang dianggap melampaui batas. Apakah tidak ada cara lain tanpa kekerasan?
Ketegangan yang terjadi dan sikap tidak mau mengalah seringkali memicu timbulnya kekerasan. Aksi saling dorong, pemukulan, dan bentrok tentu bukan lagi hal yang aneh di masa sekarang. Mahasiswa pun tak kan dikenali lagi ciri khas intelektualitasnya jika sudah mengadakan demo. Rasionalitas dikesampingkan dan emosi semakin tersulut. Aparat keamanan pun semakin berang melihat sikap demonstran yang tidak terkendali dan seringkali dengan alasan keamanan mengadakan tindak kekerasan.
Seharusnya penyampaian aspirasi mahasiswa melalui aksi yang digelar mendapatkan tanggapan sebagaimana mestinya dari aparat pemerintah. Bukan tanpa sebab jika mahasiswa melakukan aksi, ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada pemegang amanah rakyat tersebut. Saya kira temu presiden dengan mahasiswa dan mengadakan diskusi secara terbuka tidak ada salahnya. Bukankah presiden adalah penyambung lidah rakyat?
Bagaimana akan menyambung lidah rakyat, jika tidak bisa mendengar aspirasi yang ada. Pemerintah sudah berusaha semaksimal mungkin dalam memperbaiki keadaan negeri ini, namun pastilah ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan. Maksud baik dari pemerintah dalam menerapkan berbagai kebijakannya belum tentu dimengerti oleh masyarakat dan mahasiswa. Ada berbagai pertimbangan yang menjadi kunci penentu munculnya berbagai kebijakan tersebut. Hal inilah yang perlu dijelaskan supaya terjadi tepa selira dan sikap saling mendukung, karena semuanya mempunyai tujuan yang sama, memperbaiki kondisi bangsa.
Waktu terus bergulir perubahan yang diharapkan semakin jauh dari harapan masyarakat. Mahasiswa-sebagai kaum yang identik dengan intelektualitasnya-diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa. Tidak sekedar memberikan kritik, serta mengadakan aksi jika situasi yang ada tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sebaliknya masing-masing elemen yang ada dapat memberikan kontribusinya sesuai dengan kemampuan yang dimilki, bersama-sama membangun bangsa.
Kebebasan dan demokrasi yang ada hendaknya digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab. Bangsa kita memang baru belajar dengan demokrasi yang ada, namun alangkah bijaknya jika kita mampu menggunakan demokrasi sebagai sarana dalam mencapai tujuan.
Bangsaku, marilah kita belajar bersama. Mahasiswa, bersikaplah dengan lebih bijak lagi, tak selamanya emosi membawa kita pada tujuan yang diharapkan. Ciptakanlah suasana aksi damai tanpa kekerasan sehingga kita mampu memberi teladan pada rakyat tentang arti demokrasi. Demokrasi yang dipahami tidak sekedar mengadakan demo dengan kekerasan. Intelektualitas dalam berfikir, rasionalitas dan perasaan dalam bertindak, tanggung jawab serta niat baik dalam membangun bangsa merupakan sebuah kombinasi yang tepat untuk dilakkukan. Para pemimpin bangsaku, dengarkanlah suara kami(rakyat), kami yakin apa yang kalian lakukan semata-mata demi kebaikan bangsa.
Alangkah bijaknya jika terdapat kerjasama yang saling bersinergi antara pemimpin dan rakyat sehingga tidak timbul kesalahapahaman yang pada akhirnya hanya akan menimbulkan kerugian. Transapransi kebijakan yang ada dan didengarkan aspirasinya adalah harapan terbesar sehingga tidak lagi timbul prasangka. Pemimpin pun dapat menjadi penyambung lidah rakyat. Penyambung lidah dalam bertindak dan memperjuangkan tujuan bersama.
Sebagai pemimpin, mungkin aksi yang dilakukan oleh mahasiswa dapat dipandang sebagai tanda cinta dari sang anak kepada orang tuanya. Tanda cinta ketika ia bertanya apa yang terjadi dengan bangsa? Tanda cinta ketika suaranya ingin didengar dan diperhatikan. Bagaimanapun juga, bangsa ini adalah sebuah keluarga yang tidak dapat bekerja sendiri. Mungkin saja dengan adanya aspirasi yang didengar lewat aksi, pemerintah menemukan sebuah kesadaran baru dan jalan bagi perbaikan bangsa. Semangat!!!