jump to navigation

Mengalahkan Monster Hambatan Menulis 18 Februari 2009

Posted by nurdiyanti in artikel.
Tags: , , , ,
12 comments

Banyak hal yang menghambat kita ketika akan memulai menulis sebuah tulisan. Berbagai macam hambatan tersebut tentu saja menjadi beban tersendiri bagi kita. Bagaimana solusinya?

Dalam menulis, pastinya setiap pemula akan mengalami banyak hambatan, mulai dari rasa takut melakukan kesalahan, kurangnya rasa percaya diri, terlalu perfeksionis pada awal belajar, terlalu fokus pada pendapat orang lain, atau memiliki perasaan tidak bisa menulis. Kesemua hal di atas tentu saja sangat menggannggu kita dalam menulis. Bisa jadi, segala ide yang muncul akan menjadi sia-sia karena semuanya akan terkubur dalam dasar otak akibat ketakutan kita.

Lalu, apa benar hambatan menulis sangat memengaruhi kita sehingga membuat kita berhenti menulis?

Takut melakukan kesalahan? Tentu, setiap orang pernah mengalaminya. Perasaan putus asa akan hinggap ketika kita tidak mampu mengatasi hambatan itu. Sebenarnya, apa yang membuat kita takut? Mungkin karena kita tidak tahu bagaimana cara menulis berdasarkan EYD, takut membuat tulisan yang salah, atau karena sebenarnya dalam diri kita tersimpan ketakutan-ketakutan yang tidak wajar, yang senantiasa menghalangi kita dalam menulis?

Kenapa saya menyebutnya sebagai ketakutan yang tidak wajar?

Karena, setiap orang tentu saja pernah berbuat salah. Tetapi, yang lebih salah adalah ketika kita menyerah dan berhenti menulis karena takut mengalami kesalahan. Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika kita berbuat salah? Jawabannya cukup sederhana, kita harus mengakui dan belajar dari kesalahan tersebut.

Manusia yang benar bukanlah manusia yang tidak pernah berbuat salah. Tapi, manusia yang benar adalah manusia yang mau belajar dari setiap kesalahannya, serta mengembangkan diri atas dasar setiap masalah yang pernah diperbuat.

Contohnya: ketika kita menuliskan gagasan kita, apa yang harus kita lakukan adalah mengeksplorasi segala kemampuan dan ide yang muncul dari dalam. Jika kita tidak menguasai kemampuan EYD misalnya, maka yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah belajar EYD. Jika kita terus mengalami ketakutan dalam menulis (takut membuat kesalahan), maka kita tidak akan pernah belajar dari kesalahan yang kita buat. Padahal, setiap kesalahan adalah salah satu bentuk proses pengembangan diri kita.

Kurangnya rasa percaya diri merupakan hal yang paling sering dialami mereka yang baru mulai belajar menulis. Kurangnya rasa percaya diri ini muncul sebagai akibat dari rendahnya kepercayaan diri seseorang terhadap kemampuannya sendiri. Hal ini mengindikasikan adanya konsep diri yang rendah.

Untuk mengatasi hal tersebut, kita perlu membuat sebuah konsep diri yang baru. Setiap orang mempunyai talenta dan kemampuan yang perlu diasah serta dapat dikembangkan. Setiap orang mempunyai sisi-sisi yang berbeda dan berharga yang dapat dijadikan sebagai kunci sukses dalam hidupnya, tidak terkecuali dengan menulis.

Menulis adalah salah satu kemampuan yang dapat dikembangkan oleh setiap orang karena bersifat in potentia (menjadi potensi dalam diri setiap orang). Menulis bisa dikembangkan dan tidak memerlukan bakat. Salah, jika orang tidak percaya diri dalam menulis, dan akhirnya tidak menulis sama sekali.

Kita harus belajar menghargai diri sendiri, menyakinkan diri, bahwa kita mampu dan berpotensi menulis dengan baik. Belajar menulis adalah salah satu sarana kita dalam meningkatkan rasa percaya diri. Dengan terus belajar, kualitas tulisan kita pun akan bertambah baik. Kita pun dapat mengirimkan atau memublikasikannya ke media massa atau forum-forum publik umumnya.

Jika publik sudah menerima tulisan kita, maka kepercayaan diri kita pun akan bertambah. Itu akan terus memacu semangat kita dalam menulis. Sebagai contoh: seseorang yang tidak memilki kepercayaan diri kemudian mau mengubah sikapnya. Maka, orang tersebut akan semakin mudah bangkit dan kembali menulis ketika ia mengalami kegagalan.

Keinginan untuk membuat sesuatu secara sempurna merupakan hal yang diinginkan oleh banyak orang. Sempurna bukan berati tidak pernah mengalami ketidaksempurnaan. Berawal dari berbagai ketidaksempurnaan itu kita belajar memperbaiki dan meningkatkan semangat menulis. Nah, kita harus belajar mengendalikan ego kita. Perfeksionis bukanlah sikap yang buruk. Namun, jika kita terlalu perfeksionis, dan akhirnya terlalu takut membuat sesuatu yang salah, pada akhirnya kita tidak menulis. Makanya, perfeksionis adalah sikap yang perlu kita waspadai.

Kunci mengatasi sikap perfeksionis adalah kita harus mau menerima segala kekurangan dan hambatan yang ada. Ketika kita mau menyadari bahwa kekurangan dalam menulis adalah hal wajar serta merupakan fase yang pasti dialami oleh siapa pun yang baru belajar, kita akan semakin sadar bahwa kita memang harus menempuh proses panjang dalam mencapai kesempurnaan.

Contohnnya, seorang yang terbiasa melakukan sesuatu secara sempurna, dan pada suatu waktu dia melakukan pekerjaan secara tidak perfek, pastilah muncul perasaan putus asa berlebihan. Dia biasanya tidak mau menerima atau mengakui kenyataan serta cenderung lari dari masalah. Situasi seperti ini tentu merugikan kita. Makanya, kita perlu menyadari bahwa tidak selamanya pekerjaan yang tidak sempurna itu merugikan kita. Justru dari ketidaksempurnaan itu kita belajar bagaimana cara mengantisipasi hal-hal seperti itu di kemudian hari.

Terlalu fokus pada pendapat orang lain juga merupakan hal lain yang perlu kita waspadai. Memang, kita membutuhkan pendapat orang lain. Namun, terlalu berpusat pada pendapat orang sehingga membuat kita tidak berani menulis sesuai dengan diri sediri juga merupakan kesalahan fatal.

Dalam penulisan sebuah karya, kita membutuhkan ketegasan diri, apa yang baik menurut orang lain belum tentu sesuai dengan diri kita, bukan? Oleh karena itu, hendaknya kita mempunyai prinsip-prinsip yang jelas tentang berbagai hal sehingga tidak mudah diombang-ambingkan oleh pandangan orang lain.

Contohnya, ketika kita belajar membuat artikel, lalu kita meminta seorang teman. Teman kita ini memberi komentar yang tidak sesuai dengan karakter tulisan kita, dan kemudian tanpa berpikir terlebih dahulu kita mengubah tulisan. Bisa jadi perubahan yang kita lakukan itu mengurangi ciri tulisan kita atau bahkan mengubah ide dasar yang harusnya kita sampaikan. Kritik dan saran dari orang lain tidak boleh kita abaikan. Memang. Tetapi, kita juga tidak boleh menanggapinya secara berlebihan. Semua dinamika tulisan kita akan membentuk sebuah ciri, dan itu memang proses yang harus kita lewati.

Dari berbagai hambatan di atas kita dapat menarik sebuah kesimpulan, bahwa sesungguhnya tidak ada hambatan yang berarti kala kita belajar menulis. Pada awalnya mungkin terasa sulit, tetapi latihan menulis secara kontinu akan membuat kita sadar, bahwa dalam latihan menulis, sesungguhnya tidak ada hambatan yang tidak bisa ditaklukkan.

Kita harus yakin bahwa kita bisa menulis. Tidak ada rintangan yang patut kita jadikan sebagai pembenaran untuk berhenti berlatih. Sebab, menulis sungguh-sungguh hal mudah yang dapat dikerjakan oleh setiap orang. Yang diperlukan adalah semangat, jiwa pantang menyerah, tekad yang kuat, agar kita bisa sampai pada kesimpulan tadi. Dan, saya sangat yakin, semangat menulis akan membawa kesuksesan bagi kita semua. Tetap semangat menulis![sn]