jump to navigation

Tak Sekadar Memaafkan 26 Oktober 2009

Posted by nurdiyanti in artikel.
Tags: , ,
add a comment

Mungkin ada di antara kita yang mendengar, “Duh, sulitnya memaafkan orang lain….” Memaafkan orang lain memang penting, tetapi itu belum cukup. Mengapa begitu? Simak ulasan berikut ini.

Suatu ketika, tiba-tiba handphone saya bergetar. Ada pesan singkat yang masuk, tertera nama seorang teman SMA. Langsung saya baca sebuah pesan yang membuat saya berhenti sejenak dari kegiatan saya membaca buku terbaru milik kakak saya. Isi pesan tersebut sebagai berikut, “Mungkin di dunia ini enggak ada orang yang masuk neraka jika setelah seseorang melakukan kesalahan dia langsung minta maaf. Tetapi menurutku, kita berhak enggak memaafkan kesalahan seseorang karena mungkin kesalahan itu enggak termaafkan. Kamu setuju, enggak?”

Langsung saja saya balas dengan jawaban, “Enggak!”

Lalu, teman saya pun bertanya, “Kenapa? Kasih alasan, dong!”

Sejenak saya berpikir dan berusaha menuliskan jawaban yang pas untuk pertanyaannya. Lalu saya balas, “Karena aku bukan Allah yang tahu segalanya. Aku enggak boleh sombong dengan bilang kesalahannya enggak termaafkan, karena bisa jadi dia melakukan itu karena terpaksa. Enggak sadar sudah menyakiti orang lain. Kita bukan nabi yang bersifat maksum (bersih dari dosa). Tetapi, kita diberi akal oleh Allah buat berpikir dan bisa memaafkan orang lain. Bisa jadi suatu saat kita membuat kesalahan fatal di mata orang lain dan menyesal. Dan, satu-satunya cara mengurangi rasa bersalah adalah diberi maaf.”

Pesan itu pun saya kirim, lega rasanya setelah memikirkan jawaban untuk teman saya.

Sejenak saya berpikir, “Wuih… panjang juga ya, balesanku hehehe….” Saya baca lagi pesan itu, berulang kali sehingga memunculkan pertanyaan yang cukup menyentak dan menuntut kejujuran diri sendiri: “Apa benar aku sudah melakukan hal itu?”

Memberi nasihat pada seorang teman tentang memaafkan memanglah mudah. Tetapi, melakukan apa yang kita nasihatkan itulah bagian pentingnya. Sudah dilakukan belum? “Ayo jawab jujur!” suara hati saya ikut berdemo hehehe….

Saya pun melakukan refleksi terhadap diri sendiri. Saya termasuk orang yang tidak suka berkonflik dengan orang lain. Saya berusaha menghindari konflik dengan menjaga sikap saya terhadap orang lain. Hal itu saya lakukan dengan berusaha mengalah pada orang lain. Marah atau dimarahi orang lain menurut saya bukanlah hal yang menyenangkan hehehe…. Walaupun begitu, tetap saja saya bersinggungan dengan konflik, baik dengan keluarga atau teman. Jelas saja, hidup di dunia ini memang tidak lepas dari masalah. Jika tidak diselesaikan dengan hati-hati bisa menimbulkan konflik dengan orang lain. Akibatnya, hubungan kita dengan mereka pun menjadi renggang, apalagi jika kata maaf sulit dikatakan.

Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita tidak lepas dari masalah. Masalah-masalah yang tak terselesaikan tak jarang berujung pada konflik. Konflik yang ada jelas membuat kita tak nyaman dan mengganjal di hati. Sebenarnya, jalan penyelesaian konflik tersebut akan lebih mudah jika kita mau memaafkan orang lain. Tetapi, memaafkan orang lain pun tidak cukup. Paling penting yang harus kita lakukan terlebih dahulu adalah memaafkan diri sendiri.

Ya, memaafkan diri sendirilah yang harus kita lakukan. Sesungguhnya, akar permasalahan yang membelit diri kita adalah karena kita tidak mau mengakui kesalahan diri sendiri. Dengan memaafkan diri sendiri, kita akan mudah menerima kenyataan dan tidak terus-menerus menyesali keadaan yang ada. Menyesal memang perlu supaya kita sadar dan bisa mengoreksi kesalahan kita. Hanya saja, itu akan menjadi sia-sia jika penyesalan kita tak berkesudahan. Cukup sekali saja sebagai peringatan. Semakin kita menyesali keadaan yang ada, semakin bertambah berat pula masalah yang kita hadapi. Segera berbenah untuk mencari solusi atas permasalahan yang ada.

Jika sudah bisa memaafkan diri sendiri, langkah kedua yang perlu kita tempuh adalah memaafkan orang lain. Memaafkan orang lain mungkin sulit dilakukan. Perlu kebesaran hati dan kemauan yang kuat untuk melakukannya. Mungkin sulit pada awalnya, namun jika dibiasakan akan terasa mudah dan membuat hati menjadi lebih nyaman tentunya.

Saya sendiri pada awalnya juga sulit memaafkan orang lain. Jika marah pun saya diam dan menyimpan amarah tersebut dalam hati. Namun, dampaknya ternyata buruk bagi jiwa saya. Tindakan me-repress masalah yang tak terselesaikan itu ternyata tidak tepat. Ketika bermasalah dengan salah seorang saudara saya, amarah saya meledak dan menjadi konflik berkenpanjangan. Sungguh tidak mengenakkan dan membuat pikiran saya tidak fokus pada setiap apa yang saya kerjakan, termasuk kuliah.

Lalu, saya pun mencoba mempraktikkan nasihat seorang dosen yang menyarankan agar para mahasiswanya membiasakan diri “membersihkan sampah” yang ada dalam hati. Membersihkan sampah di sini artinya membuang emosi-emosi negatif dalam diri kita. Lalu, penuhilah diri kita ini dengan energi positif, sehingga kita akan jauh lebih nyaman dan bahagia. Misalnya, saat kita mendengarkan orang lain curhat dan kemudian kita berempati atas apa yang terjadi padanya. Hendaknya kita membuang perasaan-perasaan dan emosi negatif yang tadinya ada di hati kita. Karena dengan begitu, kita tidak akan terpengaruh oleh suasana hati yang tidak mengenakkan tersebut.

Aktivitas “membersihkan sampah” ini akan sangat membantu kita dalam menganalisis permasalahan yang ada. Kita dapat berpikir lebih jernih dan objektif. Dan pastinya, kita akan dapat mudah memaafkan orang lain.

Sejak mengenal nasihat dosen saya itu, saya berusaha menyelesaikan konflik dengan cara belajar memaafkan orang lain. Lama-kelamaan, saya pun menikmati aktivitas “membuang sampah” itu dengan memaafkan orang lain, dan kemudian membuat sebuah prinsip seperti yang saya tulis di awal artikel ini.

Jadi, jika suara hati saya berdemo dan menuntut jawaban, “Sudahkan aku memaafkan orang lain?” Saya dengan bangga menjawab, “Sudah dong hehehe….” Ya, walaupun terkadang hati masih bandel jika disuruh minta maaf dan memaafkan orang lain, tetapi saya berusaha sebisa mungkin untuk menyelesaikan masalah dengan “membuang sampah”.

Saya kira, apabila ada orang yang berbuat salah dan meminta maaf kepada kita, maka sudah selayaknya diberi maaf. Karena, satu-satunya cara mengurangi rasa bersalah pada diri sendiri atau orang lain adalah dengan diberi maaf. Ketika kita menerima maaf dari orang lain, tentunya akan sangat membahagiakan kita. Hubungan kita dengan orang lain pun dapat djalin kembali. Dan, kita belajar satu hal, yaitu lebih berhati-hati dalam bersikap pada orang lain. Jangan sampai menimbulkan konflik baru. Karena, jika hal itu terjadi lagi dan kita tidak diberi maaf, tentu akan sangat menyusahkan kita, bukan?

Memaafkan orang lain adalah suatu bentuk kebaikan yang sudah selayaknya kita lakukan. Mari ber-fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) dalam meraih cinta Allah dan makhluknya. Jika kita sudah berusaha mencintai Allah dan makhluknya dengan langkah yang sederhana—memberi maaf—saya rasa kita pun pantas mendapat cinta Allah dan makhluknya. Ayo, siapa mau berlomba dalam kebaikan dengan memberi maaf? Andakah orangnya?[sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]

DEMO BUAT SANG PRESIDEN 30 Januari 2008

Posted by nurdiyanti in artikel.
Tags: , , , , ,
add a comment

Tanda Cinta Mahasiswa Bagi Pemimpin

Kunjungan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono di Universitas Negeri Yogyakarta disambut dengan aksi oleh mahasiswa. Betapa tidak?
Di tengah tidak stabilnya kondisi dalam negeri, mahalnya biaya pendidikan, melambungnya harga sembako, KKN yang semakin meluas, kriminalitas dan angka kemiskinan yang semakin meningkat membuat gerah sejumlah kalangan, tak terkecuali mahasiswa…

Akhir-akhir ini tentu kita sering mendengar berita demo dimana-mana. Aksi yang merupakan eufimisme dari demo sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Rakyat pun tak sungkan lagi dalam mengadakan aksi, mulai dari tingkat kelurahan yang menuntut kepala desa yang korupsi, pengaduan pilkada yang disinyalir mengalami kecurangan hingga aksi mahasiswa dalam memperjuangkan uneg-unegnya yang dirasa mengganjal dalam bangsa. Indonesia seperti orang tua yang melahirkan sebuah bayi baru yang diberi nama demokrasi.
Reformasi yang terjadi hampir sepuluh tahun yang lalu melahirkan bayi baru yang menurut saya, kita sendiri belum tahu bagaimana cara merawatnya. Semenjak reformasi digulirkan, rakyat seakan-akan terlepas dari belenggu kepatuhan mutlak. Kebebasan itu pun semakin mendekatkan kita pada kasi kekerasan tanpa memperhatikan kepribadian bangsa kita lagi. Bangsa yang dikenal dengan keramahannya, musyawarah dan bangsa yang beragama. Ketika kasi berlangsung semua sifat tersebut melebur dalam aksi yang tidak terkendali. Kebebasan pun di ekspresikan dengan berbagai cara, diantaranya dengan mengadakan demo.
Namun yang lebih mengejutkan kita adalah proses dari penyampaian aspirasi tersebut yang masih diwarnai dengan kekerasan. Bentrok dengan aparat pun tak terelakkan lagi. Tak ada demo yang tak rusuh, begitulah selalu. Sebagai contoh, demo yang digelar oleh para mahasiswa di jogja, selasa(24/1) kemarin sempat terjadi ketegangan dari pihak aparat kemanan dan para mahasiswa yang ingin bertemu dengan presiden secara langsung. Walaupun tidak menimbulkan korban jiwa namun aksi tersebut sudah merupakan cermin perjalanan demokrasi di indonesia. Karena walaupun kita sudah mempunyai demokrasi, tak ada jalan lain dalam menyampaikan aspirasi kalau tidak mengadakan aksi masa kepada pemerintah.
Mempertemukan dua kepentingan yang berbeda, itulah yang terjadi. Di satu sisi aparat kemanan berusaha mengamankan presiden dari kemungkinan aksi rusuh masa, sedangkan mahasiswa mempunyai kepentingan dalam menyampaikan aspirasi mereka. Kedua pihak yang merasa paling benar bersitegang, dan mengesampingkan rasionalitas masing-masing. Tak pelak lagi, aparat keamanan yang merasa terisnggung dan tersulut emosinya ‘mengamankan’ mahasiswa yang dianggap melampaui batas. Apakah tidak ada cara lain tanpa kekerasan?
Ketegangan yang terjadi dan sikap tidak mau mengalah seringkali memicu timbulnya kekerasan. Aksi saling dorong, pemukulan, dan bentrok tentu bukan lagi hal yang aneh di masa sekarang. Mahasiswa pun tak kan dikenali lagi ciri khas intelektualitasnya jika sudah mengadakan demo. Rasionalitas dikesampingkan dan emosi semakin tersulut. Aparat keamanan pun semakin berang melihat sikap demonstran yang tidak terkendali dan seringkali dengan alasan keamanan mengadakan tindak kekerasan.
Seharusnya penyampaian aspirasi mahasiswa melalui aksi yang digelar mendapatkan tanggapan sebagaimana mestinya dari aparat pemerintah. Bukan tanpa sebab jika mahasiswa melakukan aksi, ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada pemegang amanah rakyat tersebut. Saya kira temu presiden dengan mahasiswa dan mengadakan diskusi secara terbuka tidak ada salahnya. Bukankah presiden adalah penyambung lidah rakyat?
Bagaimana akan menyambung lidah rakyat, jika tidak bisa mendengar aspirasi yang ada. Pemerintah sudah berusaha semaksimal mungkin dalam memperbaiki keadaan negeri ini, namun pastilah ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan. Maksud baik dari pemerintah dalam menerapkan berbagai kebijakannya belum tentu dimengerti oleh masyarakat dan mahasiswa. Ada berbagai pertimbangan yang menjadi kunci penentu munculnya berbagai kebijakan tersebut. Hal inilah yang perlu dijelaskan supaya terjadi tepa selira dan sikap saling mendukung, karena semuanya mempunyai tujuan yang sama, memperbaiki kondisi bangsa.
Waktu terus bergulir perubahan yang diharapkan semakin jauh dari harapan masyarakat. Mahasiswa-sebagai kaum yang identik dengan intelektualitasnya-diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa. Tidak sekedar memberikan kritik, serta mengadakan aksi jika situasi yang ada tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sebaliknya masing-masing elemen yang ada dapat memberikan kontribusinya sesuai dengan kemampuan yang dimilki, bersama-sama membangun bangsa.
Kebebasan dan demokrasi yang ada hendaknya digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab. Bangsa kita memang baru belajar dengan demokrasi yang ada, namun alangkah bijaknya jika kita mampu menggunakan demokrasi sebagai sarana dalam mencapai tujuan.
Bangsaku, marilah kita belajar bersama. Mahasiswa, bersikaplah dengan lebih bijak lagi, tak selamanya emosi membawa kita pada tujuan yang diharapkan. Ciptakanlah suasana aksi damai tanpa kekerasan sehingga kita mampu memberi teladan pada rakyat tentang arti demokrasi. Demokrasi yang dipahami tidak sekedar mengadakan demo dengan kekerasan. Intelektualitas dalam berfikir, rasionalitas dan perasaan dalam bertindak, tanggung jawab serta niat baik dalam membangun bangsa merupakan sebuah kombinasi yang tepat untuk dilakkukan. Para pemimpin bangsaku, dengarkanlah suara kami(rakyat), kami yakin apa yang kalian lakukan semata-mata demi kebaikan bangsa.
Alangkah bijaknya jika terdapat kerjasama yang saling bersinergi antara pemimpin dan rakyat sehingga tidak timbul kesalahapahaman yang pada akhirnya hanya akan menimbulkan kerugian. Transapransi kebijakan yang ada dan didengarkan aspirasinya adalah harapan terbesar sehingga tidak lagi timbul prasangka. Pemimpin pun dapat menjadi penyambung lidah rakyat. Penyambung lidah dalam bertindak dan memperjuangkan tujuan bersama.
Sebagai pemimpin, mungkin aksi yang dilakukan oleh mahasiswa dapat dipandang sebagai tanda cinta dari sang anak kepada orang tuanya. Tanda cinta ketika ia bertanya apa yang terjadi dengan bangsa? Tanda cinta ketika suaranya ingin didengar dan diperhatikan. Bagaimanapun juga, bangsa ini adalah sebuah keluarga yang tidak dapat bekerja sendiri. Mungkin saja dengan adanya aspirasi yang didengar lewat aksi, pemerintah menemukan sebuah kesadaran baru dan jalan bagi perbaikan bangsa. Semangat!!!