Drama Kartu Transjakarta

Setelah memastikan berkali-kali jalur transjakarta arah ke Ciputat, aku mantap naik trans jurusan Tosari-Ciputat. Tujuanku pagi tadi, jalan Ir. H. Juanda di Ciputat. Eh… karena cuma bilang Halte Juanda saja, aku malah turun di Halte Juanda dekat Monas, bukan Juanda di Ciputat.

Sesampainya di Blok M, ada dua penumpang yang naik, seorang mbah berusia sekitar 70-an dan perempuan berusia 30-an. Tadinya, mereka berdua duduk dengan tenang di sebelahku. Aku juga tidak memerhatikan mereka datang dari mana hingga perempuan paruh baya itu bertanya kepadaku.

“Mbak, ini bisnya mau ke Ciputat, kan?”

“Iya Mbak ke Ciputat, kok,” jawabku santai.

“Bayar tiketnya nanti, Mbak?”

Begitu mendengar pertanyaannya, aku langsung menatapnya lekat-lekat, “Mbak memang tadi masuk dari mana? Kalau naik trans kan harus pakai kartu. Kartu seperti ini, Mbak,” jelasku sambil memerlihatkan kartu trans milikku dari BCA.

“Lho… saya nggak punya, Mbak. Memang pakai uang nggak bisa?”

“Nggak bisa, Mbak. Mbak harus beli di halte trans,” jawabku yakin.

Mengikuti perkataanku, mbak berjilbab biru tua akhirnya turun dari trans. Mataku mengikuti kepergiannya, tapi terkejut karena tak melihat halte trans di sekitar. Aku khawatir sekali kalau mbak itu kena denda atau semacamnya.

Setelah mbak berjilbab biru tua turun, pandanganku beralih ke Mbah yang duduk di sebelahku. Aku memiliki kekhawatiran yang sama, kasihan kalau mbahnya nggak punya kartu terus didenda.

Pelan, aku mulai memalingkan badan dan menyapa mbah berbaju hijau.

“Mbah.., sudah punya kartu seperti ini?” tanyaku sambil memerlihatkan kartuku.

“Enggak, ntar bayar aja pakai ini,” jawabnya santai sambil memerlihatkan uang lima ribu yang digenggamnya.

“Enggak Mbah… Mbah harus punya kartu kayak saya. Nggak bisa pakai uang,” jelasku lagi berusaha menyadarkan si mbah.

“Nggak… pokoknya nanti pakai uang saja,” sahutnya yakin.

Hadeh… aku dag-dig-dug dalam hati memikirkan nasih si mbah berkebaya hijau. Khawatir kalau mbah kena denda dan sebagainya. Pikiranku terus berkecamuk, mataku tak lepas menatap mbah di sampingku. Ya ampun, mudah-mudahan mbah di sampingku nggak disuruh bayar denda. Kasihan!

Beberapa menit kemudian, transjakarta mulai berjalan, petugas yang biasanya berdiri di depan pintu, tiba-tiba berjalan ke arah si mbah. Aku mulai berhitung dalam hati sembari merapal doa.

Dengan santai, si mbah mengulurkan uang lima ribu yang digenggamnya erat tadi. Petugas trans mengeluarkan gesek tunai BCA. Petugas menerima uang si mbah dan memberikan bukti pembayaran serta kembalian.

“Lho… Pak… kok bisa bayar pakai uang, sih?” tanyaku dengan ekspresi TERKEJUT BIN MUSTAHIL.

“Iya bisa, Mbak,” petugas trans menjawab dengan ekspresi sesantai dan secuek si mbah.

“Mbaknya ini tadi bilang ke saya, kalau bayar harus pakai kartu. Terus saya bilang, pakai uang juga bisa. Eh tadi ada Mbak yang turun juga karena dikasih tahu Mbak ini harus bayar pakai kartu,” adu si mbah dengan ekspresi penuh kemenangan.

Jeng… jeng… jeng… Rasanya ingin berkata, benarkah itu, Roma?

“Iya Mbak.. memang bisa pakai uang, kok,” tambah si bapak.

Usai petugas berlalu, mbah kembali menjelaskan padaku, “Mbak.. ini bis APTB, bisa bayar pakai uang. Nggak harus pakai kartu.”

Jeng… jeng… jeng,… Benarkah itu, Rika?

Padahal kan sebelumnya, aku udah nanya sama petugas trans kalau arah Tosari-Ciputat itu naik trans, bukan APTB.

“Bis warna biru itu trans, Mbak. Bukan APTB,” jelas mbak petugas trans di Halte Juanda sebelumnya.

Jawaban mbak petugas trans sebelumnya masih terngiang-ngiang. Antara percaya dan nggak percaya… eh beberapa saat kemudian, ada seorang ibu yang bisa turun tidak di halte.

Waaaalllaaaah… naik trans aja aku kalah gaul sama mbah yang sudah sepuh. Hiks… memalukan!

bca-transjakarta-26-01-2013

Kulkas Neng Laela

Tiap kali Idul Adha tiba, aku selalu teringat Neng Laela Nur Rahmah

Ada keajaiban di kulkas Laela yang sebenarnya ingin kutulis sedari dulu…. Kulkas Laela itu kaya sekali dengan makanan. Namun, si empunya malah jarang makan. Meski jarang makan, rezekinya banyak sekali tiap pulang sekolah. Laela selalu membawa oleh-oleh entah dari sekolah, diberi tetangga, dikirim dari rumah, atau diberi makanan dari teman yang datang berkunjung.

Sejak dia hidup sendiri setelah migrasi Daeng Aisyah Vimar ke Hikari. Semakin kaya makanan di kulkasnya. Tiap kali aku ke sana, aku rajin melihat kulkas Laela. Mencari makanan yang kusuka dan membuang makanan yang sudah berhari-hari tak ia makan. Ibaratnya, aku jadi satpol pp buat kulkas Laela wkwk….

“Neng… ih.. ikannya dibuang aja ya, ini udah dari kapan ampe beku gini?” protesku padanya.

“Iya buang aja,” jawabnya kalem dengan wajah penuh kelelahan setelah mengarungi samudera kehidupan sepanjang hari hehe….

“Neng… ya ampun brownies kurma ini udah kedaluwarsa dua minggu ya? Ya ampun… tapi Sabtu kemarin, aku masih makan aja ini brownies!” ucapku kaget.

“Masak sih Nur? Ya udah, ntar buang aja deh,” jawabnya santai.

“Iya, pasti kubuang daripada ntar teman-temanmu kalau datang makan brownies ini! Tapi, Neng… kata teman kuliahku dulu yang anak farmasi. Sebenarnya, tanggal kedaluwarsa itu masih bisa dimakan sampai sebulan ke depan, kok. Aturannya sih gitu.”

Gorengan, biskuit, cokelat, sayur, lauk, sirup, kecap, saos, dan semua bahan makanan siap saji maupun makanan yang umurnya lama ada di Kulkas Neng Laela. Ibarat kata, kulkas Laela adalah toserba!

“Neng… kamu makan gitu, aku udah masak, nih,” tawarku ketika malam tiba.

“Ehm.. udah kenyang Nur tadi makan di sekolah. Ntar malam aja kalau aku lapar, aku mau bikin mie rebus!” jawabnya lagi sambil memejamkan mata.

Mie rebus dengan irisan cabai adalah makanan favorit Neng Laela selain jus dan bakso.

Kalau aku hendak ke rumahnya, Neng Laela selalu nitip, “Nur… jangan lupa beliin bakso depan RTM, ya ma jus,” begitu pesannya selalu.

Aku dengan senang hati membelikannya bakso depan RTM supaya Neng Laela mau makan. Berat badannya persis sekali dengan Nyonya Malsa. Tak pernah berubah sejak lima tahun yang lalu. Rasanya enggak ada tambahan meski satu ons. -_-

Tahun lalu, tiap kali aku ke rumah Neng Laela, aku membuang semua makanan yang kunilai tak layak menghuni kulkas Neng Laela kecuali satu kresek putih di freezer. Aku nggak pernah buka dan melihat isinya selama berbulan-bulan.

Tak selamanya hidup itu selalu menyenangkan, begitu juga dengan isi kulkas Neng Laela yang suatu ketika mengalami paceklik. Aku dan Daeng Viya yang datang lebih dulu sebelum Laela pulang ke rumah tak menemukan bahan makanan meskipun mie instan. Aku dan Daeng akhirnya menelusuri setiap jengkal kulkas Laela dan tatapan mata kami berhenti ke kresek putih itu.

“Daeng… ini apa, ya?” tanyaku sambil membuka bungkus kresek putih.

Semacam benda keras berwarna merah yang punya aura horor. Kuperhatikan lama, tapi tak kunjung temu jawabnya.

“Jangan-jangan ini daging kurban?” balas Daeng Viya sambil berpikir.

“Masak sih? Emang ini udah bulan ke berapa? Idul Adha kapan, sih?”

“Kayaknya setengah tahun yang lalu, deh! Ih.. kalau kita masak aja gimana, ya? Keracunan nggak ya? Kamu searching di internet deh Nur, soal daging yang umurnya setengah tahun masih bagus nggak dimasak?” Daeng Viya sebagai Sarjana Perikanan rupanya memiliki ketakutan terhadap daging Idul Adha haha… Ya iyalah, dia nggak menguasai masalah perdagingan karena jurusannya perikanan wkwk….

“Oke, aku searching deh.” Beberapa menit kemudian, “Daeng.. daging itu tahan bertahun-tahun kali kalau disimpan di freezer. Bisa sampai 5 tahun dan biasanya dijadikan persediaan makanan pas perang,” jelasku bersemangat.

“Oke deh, kita masak saja ya, Nur. Aku bersihin dagingnya, kamu beli bumbunya.”

Sepanjang memasak rendang, aku dan Daeng Viya tertawa terpingkal-pingkal mengingat daging itu. Setelah gulai matang, dan kami makan bersama, Neng Laela baru sampai rumah.

“Eh kalian masak apa? Aku kan nggak punya makanan. Maaf ya kulkasku kosong. Sibuk banget nih belum sempat belanja,” sapa Neng Laela.

“Iya enggak apa-apa Neng. Ayo makan bareng, nasinya juga udah matang. Kita masak gulai sapi, lho!” tawarku kalem.

“Beli daging di mana? Eh… jangan-jangan… ini daging di kulkas, ya?” tanyanya.

“Iyalah, daging dari mana lagi gitu,” sahut Daeng Viya sambil tertawa.

“Ya ampun Neng… dirimu ini kebangetan banget. Kenapa nggak bilang dari dulu ada daging, tahu gitu.. udah kumasakin buat kamu dari dulu,” protesku lagi.

Dan, kami pun mengakhiri sore itu dengan rasa kenyang di perut masing-masing dengan gulai sapi yang dagingnya sudah berumur 6 bulan. 🙂

Semalam, aku bertanya ke Neng Laela lewat WA, “Neng.. kamu masih punya daging, enggak?”

“Masih dong.”

“Masaaakkk,” balasku.

“Masakin dongggg,” balasnya lagi.

Eh Neng… hari ini, aku nggak jadi masak ragi karena Bu Yem lupa ninggalin kelapa buatku. Masak lapis daging aja deh jadinya. Minggu depan, ke sini yaaa…

Aku bakal masakin deh apa maumu wkwk

 

Hikari, 24 September 2016

20:00

Note: Kangeeeen Neng Laelaaa… Main Neng!

Halo Juni

Halo Juni, selamat ulang tahun!

 

Selamat melanjutkan kehidupan dan memperjuangkan segala hal yang layak kamu sebut bahagia.

Selalu ada kemungkinan untuk patah dan jatuh. Tak pernah ada pohon yang menghijau tanpa merasakan kekeringan. Tapi, tunas selalu bertumbuh. Tak perlu berdiam terlalu lama. Bertumbuhlah kembali dengan segala talenta menawanmu.

Tuhan selalu membuka pintu. Doa-doa baik selalu tertuju pada setiap jejak bahagia yang kau tebarkan pada sekitar. Tuhan selalu menunggu. Jangan pergi terlalu lama dari-Nya.

 

Halo Juni, terima kasih!

Sudah jadi teman baik dalam definisi yang tak terbaca waktu. Tahun-tahun berlalu menumbuhkan semua kekuatan terpendam. Kita terlalu kerdil dalam membaca arah yang benar. Semua salah dalam pandangan dunia, terlalu menakutkan, bukan? Tapi, Tuhan telah memberikan semesta pada manusia, apalagi yang kau takutkan? Kasih sayang-Nya menaungi hamba yang rindu berpulang pada-Nya.

 

Hikari, 2 Juni 2016

23:56

Note: Doa untuk teman di hari ini. Doa untuk diri sendiri dan semesta yang menjadi panggung terbaik.

 

 

Persepsi Masalah

If you dont have problem, you really have problem.”

~ James Gwee

Aku begitu bersyukur kemarin. Banyak hal yang bisa kupelajari dari setiap pertemuan. Bagiku, setiap orang yang baru kukenal selalu punya daya magisnya sendiri. Selalu mengesankan dan membuatku merasa, oh keren sekali orang ini!

“Kamu jadi orang jangan terlalu lugu, Sofa,” saran Mbak Amel kemarin.

Entah kalimat itu kudengar sudah berapa ribu kali sejak masa sekolah. Kok masih ada ya yang mengucapkan kalimat itu sampai kemarin hehe…. Tapi, tak mengapa…. Itu bukan hal yang merisaukanku saat ini.

Aku lebih memerhatikan pemikiran, usaha mewujudkan ide, dan setiap pencapaian mereka. Melihat orang lain begitu sibuk mengupayakan setiap hal terbaik dalam hidupnya, membuatku malu.

Hei Nur… ke mana saja kamu selama ini? Kok baru tahu? Dunia nyata lebih menarik dari apa yang dipaparkan dalam buku. Kehidupan nyata yang diabadikan lewat buku memang membantu, tapi membaca saja tidak cukup.

Interaksi dengan orang lain meski baru sebatas mendengar dan merasakan energi positif mereka akan membuatku merasa terlalu membesar-besarkan masalah sepele. Kehidupan memang selalu dipenuhi dengan masalah. Dan Allah sudah melengkapi cara mengatasi setiap masalah tersebut lewat akal-budi dan kehadiran orang lain.

Kemarin, aku ketemu orang-orang keren… dan salah satu yang paling membuatku bahagia saat ketemu Pak James Gwee! Beliau ramah, hangat, penuh senyum, dan semangat! Senang sekali rasanya ikut cuil (curi ilmu) meski sebentar.

If you dont have a problem, you really have problem,” ucap Pak James kemarin.

Kalimat itu sederhana, tapi membangkitkan kesadaranku. Seperti ledakan yang membongkar pintu keluar kegelisahanku. Ya memang hidup untuk menyelesaikan masalah.

“Kalau kamu nggak punya masalah, berarti kamu sudah selesai dengan kehidupan. Kita nggak ada di dunia lagi,” kurang lebih itu kalimat tambahannya.

Oke… I think, I don’t need to worry! *efekMEA

Aku cuma perlu rencana dan materi untuk setiap masalah, termasuk masalah nganggur :p.

Lantai 25 Batavia One, 14 Mei 2016

07:38

Note: Eh senangnya nulis di kantor yang belum ada penghuninya… berasa yang punya Samsung aja :p. Btw mau bilang kalau Pak James Gwee mirip ma salah satu idolaku. Kuanggap kemarin latihan jumpa fans kalau nanti ketemu Aamir Khan sungguhan :).

Takdir Rindu

Tiap tetes hujan yang menyapa bumi kadang membuatku napasku tertahan…

Pada basahnya tanah yang disapa hujan, tercium olehku wangi rindu

Wangi rindu yang mewartakan ketabahan perpisahan sebelum perjumpaan abadi

Wangi rindu yang selalu mengalirkan harapan demi harapan

Dan doa ibu yang menjagaku dari lelahnya perjalanan takdir

 

 

 

Pernah angin berbisik dengan bangganya, ia mampu bergerak ke segala penjuru semesta…

Mampu membawa rinduku yang senantiasa mencari arah Surga

Aku hanya tersenyum mengabaikan kepongahannya…

Tapi, beban rindu yang tak tertanggungkan lagi membuatku percaya dengan mudahnya…

Bukankah ada banyak alasan yang bisa kujadikan sandaran?

 

 

Pelan.. perlahan… ia buatku mengangguk

Percaya saja…

Bukankah hanya angin yang mampu…

Menerbangkan rindu yang tak sanggup kusimpan sendiri

Meringankan hati yang rindunya terus tumbuh tiap detiknya

 

 

Kuterbangkan rindu demi rindu bersama angin yang mengarak air ke langit

Berharap kekuatan yang dibanggakannya benar-benar membawanya ke langit tertinggi

Tak lagi memenuhi bumi dan menyapaku lagi

 

 

Tapi…

Kiranya semesta pun tahu…

Angin bisa menjauh pergi dan datang kembali

Tak pernah benar-benar pergi apalagi mampu membawa beban seberat rinduku pergi…

Sia-sia saja..

 

 

Rupanya lebih mudah bagi angin mengarak awan…

Rupanya lebih menyenangkan membawa berkah yang diutus Tuhan

Rinduku rupanya dititipkan pada awan yang berarak…

Rinduku pun jatuh bersama kegembiraan tetes demi tetes hujan yang menyapa takdirnya

 

 

Tak pernah ada jarak yang terlampau jauh bagi tetes hujan..

Dengan derasnya… tanpa penyesalan

Karena takdirnya selalu turun ke bumi

Dan diam-diam menjelajahi langit kembali tanpa ada yang tahu

Menerima perintah Tuhan tanpa keraguan

 

 

Tetes hujan membawa kembali rinduku, menumbuhkan lebih banyak lagi… Menyebarkannya ke seluruh sudut bumi tanpa bisa kucegah…

Tersenyum dan memberiku wangi berisi pesan ketabahan

Arah Surga masih terlampau jauh, angin tak kan mampu membawa rinduku ke sana

Rinduku kembali menghuni jiwa

 

 

Mungkin benar prasangkaku selama ini..

Tak pernah ada yang sanggup menerima rindu

Kecuali jiwa yang selalu menumbuhkan rindu tanpa mempedulikan waktu

 

 

Hikari, 8 Mei 2016

20:30

Note: Lebaran? Waktunya menghirup napas sejenak… sebelum melanjutkan perjalanan hidup yang ujungnya masih terlampau jauh… Hamasah!!

 

 

Bu Sarikem

Sepanjang aku bersekolah, banyak guru yang berkesan untukku. Namun, ada seorang guru yang hingga kini masih kuingat dengan baik. Namanya, Bu Sarikem. Beliau adalah wali kelasku saat kelas 1 SMP. Murid-murid memanggil beliau, Bu Sari. Aku mengenal beliau lebih dekat dari teman-teman lain berangkat dari masalah yang kuhadapi. Yaitu terkait mataku yang tak bisa melihat dengan jelas.

Sejak naik kelas 4 SD, aku sudah tidak bisa melihat dengan jelas tulisan di papan tulis. Aku hanya menatap kosong papan tulis ketika guru menjelaskan. Meski sudah duduk di bangku paling depan sekalipun, aku tetap tidak bisa membaca tulisan dengan jelas.

Selama sisa tahun terakhir berakhirnya SD, aku hanya belajar dari catatan teman sepulang sekolah. Meski aku tak bisa mengikuti pelajaran yang disampaikan lewat papan tulis, aku belajar memahami sendiri catatan temanku dengan baik. Hasilnya, aku selalu memperoleh rangking di kelas sepanjang tahun. Setidaknya aku selalu memperoleh rangking 5 besar di kelas.

Hal paling menyedihkan selama SD adalah pernah sekali aku mendapat nilai nol dalam ulangan. Bukan karena aku tidak bisa menjawab pertanyaan ulangan tersebut, tapi soal tersebut ditulis di papan tulis. Soal ulangan harian itu tidak dibacakan atau diketik dalam selembar kertas. Padahal, akulah yang menulis soal tersebut di papan tulis. Guru-guru selalu menunjukku untuk menyalin materi pelajaran yang penting di papan tulis karena menganggap tulisanku rapi. Hari itu, pertama kalinya aku merasa bodoh dan mendapat ejekan dari teman-temanku.

Meski kesulitan belajar karena penglihatanku yang tidak jelas, aku tidak berani memberitahukan hal tersebut pada guru di sekolah. Aku hanya memberitahu ibu tentang mataku yang tidak bisa melihat papan tulis. Namun, ibu tidak menindaklanjuti keluhanku. Mungkin ibu berpikir, itu hanya sakit mata biasa karena selama ini aku tetap mendapat rangking di kelas dan pujian dari guru tiap kali menerima raport.

Masa belajar di SD, kututup dengan rasa bahagia karena aku memperoleh urutan ketiga untuk nilai tertinggi UAN. Wali kelasku pun segera memberi saran pada ibu agar memasukkanku ke SMP favorit di Ngawi, SMP 2 Ngawi.

Minggu pertama belajar di SMP, kulalui dengan perasaan teramat sedih. Aku baru mengenal beberapa teman baru di kelas. Teman yang sebangku denganku pun enggan meminjamkan catatan pelajarannya kepadaku. Dia merasa terganggu dengan sikapku yang terus melihat catatan bukunya meski sudah kujelaskan kalau mataku sakit.

Minggu berikutnya aku bertukar teman sebangku. Teman sebangku yang baru lebih baik dari sebelumnya. Ia tidak marah ketika aku meminjam catatannya dan bersedia menerangkan kembali penjelasan guru. Meski sudah mendapatkan teman sebangku yang baik, aku tetap saja merasa tidak nyaman. Aku tidak ingin terus-menerus mengganggu teman dengan kekuranganku. Akhir minggu kedua, aku memberitahu ibuku kembali tentang kondisi mataku. Kujelaskan dengan lebih rinci apa yang aku alami sejak kelas 4 SD.

Ibu akhirnya mengerti kalau aku membutuhkan kacamata. Ibu pun menulis surat dan menyuruhku memberikan surat itu pada wali kelasku. Sehari setelah aku memberikan surat ibu, Bu Sari memanggilku ketika jam istirahat tiba.

“Sofa, apa benar kamu tidak bisa membaca dari tempat dudukmu? Saya dapat surat dari Ibumu, katanya kamu nangis karena nggak bisa baca papan tulis?” selidik Bu Sari.

“Inggih Bu—Ya Bu,” jawabku singkat dengan mata berkaca-kaca.

“Ya sudah, nanti Bu Sari bicara dengan BP ya, mudah-mudahan kamu dapat bantuan dari sekolah supaya belajar dengan baik,” lanjut Bu Sari berusaha menenangkanku.

Aku hanya bisa mengangguk mendengar perkataan beliau. Aku kembali duduk dengan perasaan tak menentu. Sepulang sekolah, aku bertanya kepada ibu tentang surat yang ditulisnya. Rupanya ibu meminta bantuan Bu Sari supaya sekolah membantu membelikan aku kacamata. Ibu tak memiliki uang untuk membeli kacamata untukku. Aih, sedihnya mendengar hal itu.

Hari Jumat di minggu yang sama, aku kembali dipanggil oleh Bu Sari. Bu Sari menyuruhku menemui beliau sepulang sekolah.

“Sofa, sekolah bantu kamu untuk beli kacamata. Saya diserahi tugas untuk membelikan kamu kacamata. Kita beli di Solo saja ya hari Minggu, kebetulan Minggu saya membeli baju di Pasar Klewer. Habis beli baju, nanti baru beli kacamata buat kamu,” Bu Sari menjelaskan dengan detail rencana pembelian kacamata.

Aku sangat gembira mendengar hal itu, namun kata yang bisa kuucapkan hanyalah, “Inggih Bu, matur nuwun sanget—Ya Bu, terima kasih banyak.”

***

Hari Minggu, aku dan Bu Sari pergi ke Solo. Aku gembira bisa mengunjungi Pasar Klewer setelah sekian lama. Terakhir kali aku pergi ke Pasar Klewer bersama dengan bapak dan ibu adalah saat kelas 2 SD. Karenanya, misi pembelian kacamata kala itu bisa dibilang jadi salah satu perjalanan mengenang jejak kehidupan.

Sepanjang perjalanan ke Solo, aku memerhatikan betul wajah Bu Sari. Selama 2 minggu belajar di kelas, aku baru bertemu beberapa kali dengan Bu Sari. Bu Sari berperawakan gemuk, tingginya sama dengan tinggiku saat kelas 1 SMP. Kulit beliau putih pucat, matanya besar, berhidung mancung, rambut Bu Sari lurus dan pendek sebahu. Bu Sari tak banyak bicara sehingga di mata teman-teman, wali kelas kami terlihat tegas. Oh ya, beliau mengajar bahasa Jawa. Salah satu mata pelajaran yang paling membuat teman-teman tak bersemangat belajar karena dianggap pelajaran paling susah.

Setiba di Pasar Klewer, aku mengikuti Bu Sari yang berkeliling dari satu toko ke toko lainnya untuk berbelanja baju muslim dan baju lainnya. Aku hanya diam sepanjang mengikuti Bu Sari sambil membantu membawakan belanjaan beliau. Bu Sari hafal sekali toko-toko langganan tempat beliau berbelanja. Sambil berbelanja, Bu Sari bercerita tentang usaha sampingannya menjual baju yang sudah lama ditekuninya.

Selesai berbelanja, Bu Sari membawaku ke toko kacamata di sekitar Pasar Klewer. Takut-takut aku memasuki toko kacamata tersebut. Setelah menjalani pemeriksaan di toko kacamata tersebut, bapak pemilik toko kacamata melontarkan pernyataan yang membuatku semakin sedih.

“Masih kecil kok minusnya sudah empat, Bu?” selidik bapak penjual kacamata.

Aku diam tak tahu harus menjawab apa.

“Sudah lama Pak sebenarnya sakit matanya, tapi baru sekarang diperiksa,” Bu Sari tenang menjawab.

“Harusnya diperiksa dari awal merasa kabur, biar minusnya nggak seberat ini.”

Aku dan Bu Sari sama-sama diam.

“Nanti setelah pakai kacamata pasti kamu pusing sekali. Enggak apa-apa, pakai saja. Itu namanya adaptasi karena baru pertama kali memakai kacamata dan langsung minusnya berat sekali. Kamu harus terus pakai ya, biar minusnya nggak nambah. Kalau ke kamar mandi dan tidur, kacamatanya dilepas saja,” bapak itu menjelaskan sedetail mungkin.

“Sofa, mau pilih yang mana bingkai kacamatanya?” Bu Sari bangkit dari duduknya dan mengajakku memilih bingkai kacamata.

“Sampun, kantun Bu Sari kemawon—Sudah, terserah Bu Sari saja,” jawabku malu.

Akhirnya Bu Sari memilihkan kacamata berbingkai kuning dengan lensa lebar berbentuk persegi seperti miliknya. Kacamata itu seperti yang dipakai guru-guru di sekolah. Aku malu hendak menolak pilihan beliau. Aku sudah bersyukur mendapat bantuan kacamata dari sekolah. Lagipula Bu Sari juga tahu mana yang baik untukku.

Sambil menunggu kacamataku jadi, Bu Sari mengajakku masuk kembali ke Pasar Klewer. Kami makan sate ayam yang lontongnya dibungkus plastik bening. Hal itu lagi-lagi mengingatkanku pada kenangan bersama bapak dan ibu sewaktu ke Solo. Setiap kali menemani Ibu berbelanja di Pasar Klewer, aku selalu minta dibelikan sate ayam yang lontongnya dibungkus dengan plastik bening itu. Kami makan dalam diam sambil memandangi lalu-lalang orang.

***

Senin berikutnya, malu-malu aku menyimpan kacamata dalam wadahnya dan kusembunyikan dalam tas. Teman sebangku yang mengetahui hal itu segera menegur dan menyuruhku untuk memakai kacamata. Teman-teman yang mengetahui aku memakai kacamata memiliki reaksi yang beragam. Ada yang memuji, ada yang cuek, dan adapula yang menyindir.

Saat hendak maju mengerjakan soal matematika di papan tulis, aku melepas kacamata dan meninggalkannya di meja. Lagi-lagi teman sebangkuku mengingatkan agar tak malu dan mengenakannya saat mengerjakan soal di papan tulis.

Selesai mengerjakan soal matematika, aku berbalik kembali ke bangku. Ada teman yang bersiul entah dengan maksud apa. Aku menunduk dan berusaha menutup kacamataku. Tiba-tiba ada teman TK yang saat itu sekelas denganku berteriak dengan kencang.

“Nggak usah malu, Sofa. Pakai aja kacamatanya, kamu cantik kok kayak Ibu Direktur,” Niken berteriak dari bangkunya berusaha membesarkan hatiku.

Teman-teman sekelas langsung ikut bersorak, mereka menyemangatiku. Aku melihat semuanya dengan lebih jelas. Aku seakan melihat dunia baru yang lebih indah. Segalanya terlihat terang, berwarna, dan membuatku tak mengalami kesulitan saat belajar.

Semenjak Bu Sari membantuku membelikan kacamata dengan dana sosial dari sekolah, ibu sangat berterima kasih kepada beliau. Setiap kali lebaran dan ada hajat penting, ibu selalu menyuruhku mengirimkan makanan dan kue ke rumah Bu Sari. Setiap kali aku ke rumah Bu Sari, rumah beliau selalu sepi. Kabar yang kudengar dari teman-teman, memang Bu Sari tidak menikah.

Menjelang kenaikan kelas 3 SMP, Bu Sari berpesan kepadaku untuk berkunjung ke rumah beliau sepulang sekolah.

“Sofa dipanggil Bu Sari kenapa?”

“Enggak tahu,” jawabku jujur.

“Kok bisa dekat dengan Bu Sari, sih? Bu Sari kan galak kalau ngajar,” tanya seorang teman dengan ekspresi heran.

“Bu Sari enggak galak. Bu Sari kan baik, cuma kalau ngajar memang tegas. Ya, sewajarnyalah…. Kalau galak, itu kayak guru bahasa Indonesia itu lho. Jawab atau enggak jawab pertanyaan tetap saja dipukul sama penggaris,” belaku tak rela Bu Sari disebut galak.

Ya, bagiku Bu Sari adalah guru yang baik. Beliau selalu mengajarkan bahasa Jawa dengan sabar kepada anak-anak. Beliau tetap mengajar dengan sabar, terus berusaha membiasakan krama kepada murid-muridnya supaya tidak kehilangan identitasnya sebagai orang Jawa. Beliau memberikan pujian kepada murid sepantasnya dan tidak menggunakan hukuman fisik kepada murid yang nakal.

Setibanya aku di rumah Bu Sari, beliau menanyakan tentang perkembangan saat kelas 2. Aku pun menjawab, segalanya berjalan dengan baik dan aku tetap mendapatkan rangking meski belum juga mendapat juara 1.

Seusai perbincangan tentang perkembangan belajar di sekolah, Bu Sari memberiku sebuah baju muslim. Baju muslim yang beliau berikan berwarna cokelat muda dengan model terbaru.

“Enggak apa-apa ya kalau masih kebesaran, Sofa. Biar bajunya masih bisa kamu pakai sampai SMA,” terang beliau sambil memerhatikan baju muslim yang sedang kucoba.

“Nggih Bu, matur nuwun sanget—Ya Bu, terima kasih banyak,” ucapku gembira.

Semasa SMA, aku masih rutin berkunjung ke rumah Bu Sari. Begitu juga saat awal masuk kuliah. Sebelum bertemu dengan teman-temanku, aku mengunjungi Bu Sari dan menceritakan tentang kuliahku di Jogja.

“Bagus Sofa. Kamu harus rajin belajar ya, supaya sukses dan bisa bantu ibumu,” nasihat beliau kepadaku.

Itu adalah nasihat terakhir yang kudengar dari beliau. Sebelum sempat berkunjung kembali, beliau sudah meninggal. Aku merasa sedih sekali karena tak mengetahui di mana makam beliau. Aku hanya bisa mendoakan beliau supaya mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Sosok Bu Sari membuatku belajar tentang arti seorang guru. Guru harus memiliki kepekaan terhadap situasi muridnya. Memiliki empati, menyemangati, dan terus berusaha memberikan bantuan terbaik kepada setiap murid-muridnya. Terima kasih Bu Sari atas semua pelajaran dan kebaikan yang pernah ibu berikan kepadaku dan teman-teman.

 

Hikari, 22 November 2015

Note: Tulisan ini dikirim ke SGI-DD saat kegiatan “Kado untuk Guru” tahun lalu. Buat teman-teman SMP, masih ingat nggak dengan Bu Sari atau guru lainnya? 🙂

 

Tanya

“Kapan kamu nikah?” tanya seorang hamba Allah.

Entah kenapa pertanyaan ini seperti penyakit menular. Mewabah tanpa bisa dicegah. Terduplikasi dengan sempurna pada setiap pertemuan.

“Kalau rindunya dan rinduku sudah setara… beriringan sampai pada Allah, pasti akan Allah pertemukan.”

Jawaban ini untuk setiap orang yang dengan kepedulian atau simpatinya selalu menyisipkan tanya yang sama :p. Bukan pada waktu, takdir itu dinanti. Bukan pada keraguan, takdir itu dipertanyakan. Tapi, pada keyakinan bahwa Allah Mahabaik pada setiap hamba yang senantiasa berusaha setia berjalan pada perintah-Nya.

 

Aamiin.

 

 

Hikari, 5 Mei 2016

09:48

Note: Hamasah!!

 

 

 

Distribusi Pengetahun

Bertemu dengan banyak orang adalah hobi baruku. Sepuluh tahun yang lalu, aku bercita-cita menjadi Arkeolog yang meneliti artefak dan fosil, benda mati. Hal itu disebabkan saking tidak sukanya bertemu orang lain dan bicara dengan mereka. Berhubungan dengan manusia itu rumit. Lebih mudah meneliti benda mati dan jadi peneliti. Itu pikiranku, dulu.

Tahun-tahun berlalu membawaku belajar hal-hal menarik lainnya. Sedikit-demi sedikit pandanganku berubah, dan aku mulai merasa nyaman bicara dengan makhluk hidup, selain keluarga inti. Semakin bertemu banyak orang, semakin aku bersyukur.

Kiranya Allah telah memberkahi manusia dengan berbagai macam pengetahuan yang membangun sekaligus menghancurkannya dalam satu waktu. Banyak hal menarik yang membuatku semakin menghargai makna sebuah pertemuan. Salah satunya, distribusi pengetahuan.

Orang-orang pandai lagi berbudi tak selamanya meraih kemewahan dunia. Bukan soal mampu-tidak mampu tentunya. Tapi, lebih pada kemauan. Orang-orang yang kurang berhasil dalam menyematkan memori pengetahuan di otaknya pun seringkali dianggap lemah dalam meraih standar keberhasilan hidup. Setelah kurenungkan, letak persoalan yang sesungguhnya ketercapaian standar keberhasilan hidup bukan pada pandai-kurang pandainya seseorang.

Keberhasilan itu menaungi orang-orang yang sanggup membawa pecahan pengetahuan setiap orang yang ditemuinya, menyatukan dalam dirinya, mengerahkan usaha, dan membuat peluang dalam hidupnya.

Distribusi pengetahuan memegang peranan penting, selain restu Allah pada hambanya. Ketekunan dan sikap mental positif akan membawa perubahan yang luar biasa. Setiap kelemahan yang dimiliki manusia akan digenapi oeh manusia lainnya. Oleh karenanya, Allah menyuruh kita untuk menjalin silaturahmi dengan banyak orang. Dalam pertemuan tersebut pun telah dikabarkan Nabi Muhammad Saw menyimpan banyak manfaat. Salah satunya adalah menumbuhkan rezeki.

Orang-orang yang sedikit bertemu dengan orang lain, akan memiliki lebih sedikit kesempatan dalam belajar dan berusaha. Setiap orang yang kita temui, akan membawa tambahan pengetahuan juga kekokohan karakter pribadi bagi manusia bijak.

Setiap pembicaraan positif dalam usaha mencapai keberhasilan hidup pun tentunya akan mendapat dukungan positif pula. Kecuali, ia bertemu dengan manusia yang meragukan kuasa Allah dan menyerah dalam hidup, tentu saja dukungan yang diberikannya negatif.

Kesempatan, persaudaraan, pengetahuan, dan semangat berusaha ada dalam diri setiap orang. Pembeda berhasil-tidaknya seseorang dalam meraih tujuannya kembali dalam dirinya sendiri. Adakah ia mampu menyatukan pengetahuan dari setiap orang yang ditemuinya, atau memilih berusaha dengan kemampuannya semata. Padahal, ada hikmah luar biasa dalam setiap kerja sama manusia. Karenanya, tak perlu heran jika orang yang dinilai sukses adalah orang yang pandai menjaga hubungan dengan manusia lain :).

Lontong Balap

Y: “Dik, suka lontong balap g? Makan lontong balap aja ya daripada keliling lagi.”
A: “Oke.”
A bertanya pada penjual lontong balap: “Pak, nggak usah pakai tauge, ya!”
P: “Kalau nggak pakai tauge, namanya bukan lontong balap, Mbak.”
Y: “Namanya lontong macet, Pak,” sahutnya membela bapak penjual lontong.
A: “Oke, saya mau Pak pakai tauge, tapi taugenya matang, kan? Saya nggak bisa makan tauge mentah,” balas A memastikan.
P: “Iya, matang kok Pak.”
Beberapa saat kemudian….
A: “Mas, ini banyak banget….”
Y: “Taruh aja di piringku yang kamu nggak bisa makan.”
A memindahkan sebagian lontong balapnya ke piring Y.
Y: “Kamu makan apa kalau ditaruh banyak gini ke piringku?”
A: “Aku makan yang ada di piringku.”

Note: Teman makan yang tepat akan membuatmu bisa makan makanan yang tidak kamu sukai di mana pun tempatnya.

Anak Senja

Namanya Senja. Perempuan muda yang bersemangat menjelajahi dunia dengan segala ketabahannya. Ia terlahir dari rahim seorang ibu sekuat butir hujan yang tak lelah berjalan di antara langit dan bumi. Ketabahan ibundanya pun menurun pada Senja, perempuan muda yang selalu ingin melihat seluruh dunia.

Namanya Senja. Perempuan muda yang pernah berayah seorang lelaki sederhana nan setia. Lelaki yang mengasuh anak perempuannya layaknya putri raja dunia. Lelaki yang tak banyak pinta kecuali harapan akan kedamaian keluarganya. Lelaki yang tak pernah mengeluarkan amarah meski sebatas sanggahan untuk istri tercinta. Diamnya bukan tanda kelemahan. Diamnya adalah tanda keluhuran budi seorang pemimpin yang mengutamakan keluarga tercinta. Lelaki sederhana nan setia itu, lelaki yang dirindu senja saat bahagia maupun saat derita menemaninya.

Namanya Senja. Perempuan yang tak takut menjelajahi dunia asing hanya demi memenuhi rasa ingin tahunya. Perempuan muda yang tak pernah ingin kehilangan, tapi selalu diuji oleh rasa hilang yang senantiasa berbayang….

Namanya Senja. Perempuan yang menatap matahari laksana cermin raksasa yang memikat hatinya. Saat cerminnya menghilang dalam gelap malam, ia cukup menunggu dalam kesetiaan yang sama, masih ada mataharinya di esok hari….

Namanya Senja. Perempuan berhati kaca yang mudah retak terluka oleh bias persepsi dunia. Baginya, semua penghuni langit dan bumi laksana udara yang membelai dan mendamaikan perjalanannya. Namun, sekali hatinya retak, jalannya semakin terasa sepi dan sendiri di antara gemerlap dunia. Senyumnya tak lagi sama….

Namanya Senja. Sekali ia melangkah, pantang berpulang dalam nestapa. Ia kan terus berjalan hingga menjumpai mataharinya, dirinya dalam dimensi yang berbeda. Tunduk dalam kuasa Tuhannya yang ia percaya senyata Surga dalam hatinya.

Namanya Senja. Tak akan hilang dirinya dalam duka-nestapa layaknya langit yang kehilangan awan. Ia tetap melangkah dalam setiap keyakinan yang ia pertahankan diam-diam. Berteriak tak selamanya menjelmakan kekuatan. Ia percaya dalam bisik diam di relung terdalamnya jiwa, suaranya terdengar hingga ke lapisan langit yang belum pernah ia jumpai….

Namanya senja. Perempuan yang kerap kali menangis dalam tidurnya. Perempuan muda yang mudah bahagia karena dunianya berwarna, seindah harapan yang ia lukis di langit-langit doanya.

Namanya Senja. Percaya pada kekuatan kebaikan kan membangun istana terbaik untuknya melebihi buruknya prasangka yang ia kerap terima.

Menanti senja menyapa, 21 April 2015
14:00
Note: Untuk senja dan perempuan-perempuan lainnya yang masih mengimani kebahagiaan Tuhan, tegarlah meniti duniamu.
Ini juga untukmu, yang mulai tak kukenali….