Kisah Kacamata Minusku

Ingin mempunyai 2 mata yang sehat (bukan 4), Bisa digunakan untuk membaca banyak buku tanpa harus membatasinya, bisa digunakan untuk berlari sekencangnya tanpa takut terjatuh, bisa digunakan selamanya tanpa harus menggantinya tiap tahun,hee… Sepasang mata yang kan menemaniku melihat segala hal yang indah, seumur hidupku, bagai Sahabat Sejati

(@_@)

Ku asa setiap orang yang normal pastilah menginginkan dirinya sehat. Tidak cacat, memiliki tubuh yang lengkap dan berfungsi secara normal. Tubuh manusia yang tersusun dari organ hingga satuan terkecil yang disebut sel memiliki peran yang saling menunjang satu sama lainnya. Jika salah satu bagian terganggu kinerjanya maka bagian yang lain akan terkena dampaknya. Hal inilah yang terjadi padaku sekarang. Semakin merasa tak nyaman dengan mataku,hiks…

Aku hanya berharap memiliki dua mata yang sehat, yang bisa kupergunakan dengan baik seperti teman yang lain. Tak perlu pusing ketika memakai kacamata, tak perlu membatasi kegiatan sehari-hari, dan yang paling penting tak perlu berganti mata setiap tahun karena naiknya minus:(

Sering temanku berkata, kalau orang yang pakai kacamata itu terlihat keren dan pintar, masak sih? Ini kan anggapan kuno dan nggak bisa disamaratakan buat semua orang. Kacamata bagi penggunanya bukanlah sekedar identitas bahwa pemakainya merupakan orang yang pintar dan kutu buku. Karena pada saat ini, kacamata sudah menjadi bagian dari fashion. Orang yang nggak minus pun bisa memakai kacamata sekadar untuk mengikuti fashion. Seperti kacamata muka yang lagi marak sekarang. Bentuknya yang aneh, menurut imaginasiku bisa disamakan dengan mata UFO,haha… Tapi ya itulah fashion, segila atau seaneh apa pun bentuknya pastilah mempunyai penggemar fanatik. Hal ini nggak bisa dimungkiri oleh kita, fashion sudah jadi industri pencetak uang yang menguntungkan. Sehingga bisa dibilang dunia fashion nggak akan ada matinya. Ide-ide kreatif yang bermunculan menjadi peluang bagus bagi industri ini untuk tetap bertahan.

Emang sih, setidaknya harus bersyukur karena perkembangan teknologi sekarang banyak penemuan baru di bidang mata seperti laser (operasi untuk mengembalikan fungsi mata seperti sedia kala) yang harganya masih selangit (buatku,haha…), softlens, pengobatan dari yang tradisional, alternatif sampai modern dengan ongkos yang tentu saja tak murah. Berbagai penemuan tersebut sedikit banyak membantu penderita yang mempunyai kelainan fungsi mata mempunyai harapan untuk sembuh.

Tapi balik lagi soal mitos orang yang pakai kacamata. Bagiku, sama sekali nggak keren pakai kacamata, suer deh,hehe.. Aku dah ngerasain pake kacamata dari smp sampai sekarang soalnya. So, aku bisa bilang it’s not good to you.. Jangan sekali-kali kalian berharap pakai kacamata dengan alasan biar bisa dibilang pintar dan keren. Kalian akan jauh lebih baik jika nggak pakai kacamata. Pintar dan keren nggak hanya ditentukan dari penampilan luar seseorang tapi otak dan perilaku yang dimiliki orang tersebut. Orang pintar tapi sikapnya jelek juga nggak bakal disukai orang, punya sikap yang bagus tapi nggak pintar juga susah. Jadi seimbangkanlah di antara kedua hal tersebut, otak dan sikap. Biar kalian jadi pribadi yang menyenangkan dan disukai banyak orang.

Kalau bisa milih, pastilah aku ingin punya mata sehat tanpa kacamata. Tapi seperti peribahasa bilang, nasi sudah menjadi bubur. Mataku dah parah banget nih, tiap tahun masak nambah terus minusnya? Masih mending yang nambah uang saku dari Ndoro Kakung (ngarep banget:p), iman, ilmu, relasi teman ataupun kemampuan di berbagai bidang yang bisa nambah value kita sebagai manusia bukan minus,hikss..

Salahku juga sih, waktu kecil dibilangin bandel. Dulu waktu kecil kalau nonton TV pasti dekat banget. Tiap malam belajar pun ditemani TV, waktu itu TV masih hitam putih. Habis meja tempat belajar jadi satu ma TV sih, ngeles,haha… Kalau belajar malam ma bapak atau ngerjain PR pasti sambil lihat berita di TVRI. Istilahnya dulu kalau nggak salah dunia dalam berita, tiap jam 7 malam pasti langsung disambungin ma siaran berita nasional di TVRI. Meski dulu saluran TV masih terbatas, tapi dah menarik hatiku… Paling senang kalau lihat film Oshin. Duh, masih ada nggak ya yang inget ma film itu? Penuh perjuangan banget tuh.

Awalnya sih nggak ngerasa, tapi lama kelamaan aku ngerasa nggak bisa lihat lagi dengan jelas. Hal ini paling kentara awal caturwulan terakhir kelas 3. Tiba-tiba saja aku nggak bisa lihat dengan jelas tulisan di papan tulis. Tapi ini bisa diatasi dengan duduk di meja paling depan. Sejak saat itu, tiap awal caturwulan aku pasti berangkat pagi buat cari tempat duduk paling depan,wkwkw..

Hal ini berlanjut di tahun-tahun berikutnya, lama kelamaan aku semakin nggak jelas lihat benda-benda di sekitarku. Kayak lihat jam pas TPA di Mushola, dll. Tapi, aku belum juga ngeh kalau aku kena minus dan kudu pakai kacamata, bodohnya.. Padahal kan ada tuh pelajaran IPA kelas lima kalau nggak salah yang jelasin tentang rabun jauh, rabun dekat, dll. Sejak saat itu juga, otomatis aku belajar dari catatan teman saja. Habis nggak bisa lihat jelas Guru nerangin apa di papan tulis. Tapi untungnya masih dapat rangking di kelas, lulus UAN juga masih dapat peringkat tiga di SD. Benar-benar beruntungnya nasibku,hehe..

Tapi aku paling sebal kalau ada ulangan yang ditulis di papan tulis. Nek nanya teman ntar dikira nyontek, nek nggak nanya soalnya juga nggak bisa jawab. Gara-gara ini nilai ulangan pernah dapat jelek bukan karena nggak bisa jawab soal, tapi nggak bisa baca soalnya apa. Ironis banget kalau ingat itu.. Selain pengaruh ke pelajaran, hal ini juga pengaruhi les nari. Aku jadi nggak bisa lihat jelas gerakan tari yang diajarin ma Bu Pung. Sempat mandek akhirnya, berhenti les nari. Tapi pas SMP coba les nari waktu dah pakai kacamata tapi tetap saja rasanya nggak enak. Akhirnya berhenti total les narinya. Padahal nari itu sangat menyenangkan. Tapi kan nggak lucu kalau nari pakai kacamata,haha…

SMP itu termasuk saat yang menyenangkan. Akhirnya pakai kacamata juga, itu atas usaha Bu Sari wali kelasku. Sejak pakai kacamata yang pertama, dulu kacamatanya warna kuning keemasan, bentuk lensanya juga lebar. Jadi aneh banget deh mukaku. Tapi untungnya teman-teman sekelasku baik. Nggak ngejek aku, berusaha membesarkan hatiku saat tahu aku malu pakai kacamata. Mereka bilang kayak Direktur perusahaan di TV,wkwkw… Yah, walaupun aku tahu nggak benar, tapi setidaknya hal itu membuatku sedikit banyak berusaha menerima kekuranganku sendiri. Belajar nggak malu pakai kacamata. Thanks ya friend.

Setahun setelahnya, aku ganti kacamata. Mbak Mey belikan aku kacamata baru yang menurutku lebih baik dari sebelumnya. Waktu itu aku inget banget, sebelum dibeliin aku pakai acara survey segala pingin kacamata kayak apa ya ntar? Aku lihatin teman-teman dan kakak kelas yang pakai kacamata buat bahan perbandingan,haha..

Akhirnya aku punya satu bayangan akan kacamata baruku nanti. Kacamata warna hitam yang bentuknya kotak. Saat itu lagi ngetrend kacamata seperti yang digunain di sinetron Saras 008. Hayo, ada yang masih inget nggak sama film ini? Wkwkw… Tapi setelah dicocokin ma bentuk mukaku ternyata nggak pas. Akhirnya aku nggak bisa milih kacamata hitam yang bentuknya kotak kayak Saras 008. Akhirnya belinya kacamata hitam dengan lensa berbentuk oval. Ya ini, yang kupakai sampai sekarang. Duh, kok awet banget ya? Nggak patah walau jatuh berkali-kali. Padahal aku kan ingin ganti frame,hehe.. Dulu ma pelayan toko kacamatanya dikasih tahu buat yang beli bagus saja sekalian biar awet. Nah, mbak Mey pun nurut dan beliin yang menurut ukuranku saat itu harganya mahal banget. Tapi bener yang dibilang ma pelayan toko itu, frame-nya awet. Tahan banting pula, paling tiap tahun cuma ganti lensa aja gara-gara minus terus demo,hiks….

Dari dulu sampai sekarang, selalu saja milih lensa dari kaca. Biarpun berat tapi gampang bersihinnya. Beda sama mika, meski ringan dan tahan banting, tapi susah bersihin sudah gitu kalau tergores dikit saja lensanya bisa berabe, kayak ada lukisan di lensalah,hehe….

Tapi sebel banget nih, terakhir ni hampir seminggu kacamataku pecah lagi, dan lagi… Emang sih dah sering jatuh (nggak sengaja:p), ketindihan (habis nggak keliatan sih:p), suka lupa copot kacamata waktu tidur (ini sih dah jarang, kalau dulu iya:p), dan berbagai kejadian lainnya yang membuat lensa pecah. Untungnya pecah setahun sekali. Coba kalau setahun dua kali, bangkrut berat nih. Apalagi nggak ada asuransi kacamata pecah dari Ndoro Kakung,hiks..

Pecahnya juga mesti yang sebelah, bagian kiri. Padahal kan kalau lensa pecah sebelah sama dua-duanya pecah harga tetap sama, nggak bisa separuh harga,haha.. Sejak di Jogja, kalau periksa mata pasti di RS. Yap. Dah kapok periksa minus di optik. Dulu sih niatnya biar irit, uang periksa bisa buat nambahin beli frame yang baru, niatnya. Tapi realita dan harapan memang seringkali sulit bertemu. Meski dah periksa minus dan beli frame yang baru, kacamata baru nggak pernah kupakai. Habis pusing banget, nggak cocok minusnya ternyata. Hal ini kuketahui waktu kacamata dari optik kubawa ke Yap. Saat ngambil kacamata yang dah jadi dan nanya minusnya berapa. Ternyata minus di mata kiri ma kanan disamain. Padahal sejak SMP, minus di mata kiri n kanan dah beda setengah sendiri,hiks teganya optik itu. Padahal kan pas periksa bapaknya juga bilang kalau minus mata kiri n kanan nggak sama, tapi kenapa kasih minus yang sama buat kedua lensaku?

Kata temenku sih lebih keren kacamata dari optik. Ya, dulu aku juga inginnya gitu. Sekali-kali ganti frame yang lagi ngetren dengan model bingkai separuh dan lensanya menggantung. Nah kacamata ini dikira kacamata baru padahal kan dah setahun lebih. Gara-gara nggak cocok minusnya aja nggak pernah kupakai. Ibu bilang juga lebih bagus yang ini daripada kacamata yang lama. Sampai kepikiran frame-nya mau kuganti aja ma yang baru. Tapi urung kulakukan, males bawa ke Yap maneh nih, jauhnya. Lagian, nggak ingin menghkianati kacamata yang dah 8 tahun setia nemenin aku,wkwkwk…

Waktu periksa di Yap tuh ada kejadian lucu. Setelah capek diperiksa ma dua perawat dengan berbagai alat yang tak kunjung kutahu apa namanya. Akhirnya aku diperiksa ma dokter yang sudah agak berumur. Iseng dalam hati, aku manggil mbah kakung,hehe.. Nah, waktu dah masuk ruangan dan tiba giliranku, aku disuruh duduk di kursi hitam gedhe tempat korban dokter diperiksa,haha.. Dipasangin lagi kacamata yang kusebut kacamata robot (habis bisa lensanya bisa dicopot dan diganti-ganti sendiri), terus disuruh lihatin tulisan di papan.

“Coba baca tulisannya yang di depan,” perintah mbah kakung..

“Ehm.. A.. d… hmmm,” suaraku pun menggantung sampai nggak bersuara. Aduh, tadi kan dah dua kali sampai bosan, kok masih dicek lagi sih? Hiks… Batinku dalam hati.

“Nggak kelihatan, ya?” tanya beliau sekali lagi..

Aku pun menggeleng pasrah.. Aku sudah lapar mbah kakung. Dari jam 3 sampai maghrib nunggu antrian, batinku dalam hati. Jadi dah nggak punya energi buat bersuara,wkwkwk…

“Ya sudah kalau gini jadi nggak tebal, kan?” lanjut mbah kakung sambil nyopot kacamata robot dari mukaku, “nah, gini aja kan lebih baik?” jawabnya sendiri.

Ya iyalah mbah kakung, kalau nggak pakai kacamata kan jadi nggak tebal? Piye sih? Tapi Nur kan jadi nggak bisa lihat apa-apa… Duh, mbah kakung ini lucu banget sih.

“Ya sudah, sekarang lihat mata saya” Mbah kakung mulai dengan senter kecilnya diarahkan ke mataku… Perintahnya mbah kakung mirip yang hipnotis-hipnotis di TV nih,”Tatap mata saya” Hahaha….
Nggih mbah, ini juga dilihat tapi silau….
“Duh, kok naik lagi ya?” ujarnya dengan mimik muka serius..
I don’t know lah mbah kakung, teriakku dalam hati. Aku juga nggak ingin nambah..
“Ya udah seginis aja, masih belum ingin laser kan?” tanyanya serius sambil nunggu jawabanku

“Belum,” jawabku lemas.. Ntar aja mbah kakung, kalau harga laser dah turun satu digit, Nur dah kerja dan ada diskon besar-besaran di Yap, Nur pasti laser,haha… Nur nggak mau pakai kacamata lagi,hiks…
“Ok, silahkan duduk, selanjutnya siapa suster?” Mbah kakung dah kembali duduk ke mejanya sambil nulis sesuatu di kertas..
“Ya dok, Mas yang ini,” ucapnya sambil menyuruh seorang bapak-bapak di sampingku duduk seperti aku…
“Mbaknya yang tadi suster, tolong panggilin ke sini.”
“Ayo Mbak, duduk ke depan meja dokter,” ujarnya sambil tak kalah sibuk dari mbah kakung terus saja nulis-nulis..
“Umurnya berapa?”
Aku pun terdiam dan bengong, mbah kakung ne nanya siapa sih? Batinku lugu.

“Mbak, umurmu berapa?” Kali ini sang suster angkat bicara dengan suara keras..

Deg, aku kaget ini.. Tergagap aku bicara, mencoba menjawab, ”E.. 22 Pak”.

Suster, tolong pelan dikit, Nur ini makhluk halus, nggak bisa dibentak dikit:) Hampir 23 seh, tapi aku kan masih imut.. Haha… Rasanya nggak rela umur semakin tua aja,wkwkw…
“Masih muda” Ujar mbah kakung sambil manggut-manggut..
Ya iyalah,haha… Nur masih muda, bahkan dikit childish mbah kakung,hehe…

“Periksa enam bulan sekali ya”

Hmm.. Dulu sih rajin periksa mbah kakung, nggak minus aja, ke dokter ahli syaraf dan retina. Tapi sekarang periksa minus aja dah hampir dua kali lipat waktu nur pertama periksa. Ya, in sya Allah kalau ada rezeki Nur bakal sowan ke mbah kakung maleh,hehe… Jawabku dalam hati.
“Banyak makan sayur ya.”
Hmm.. Inginnya aku berkata langsung ma mbah kakung kalau aku ini alergi protein hewani. Jadi mau nggak mau aku harus jadi vegetarian. Aku dah nggak termasuk omnivora lagi deh, hampir 70% mirip herbivora,haha.. Tapi masih belum bisa setia ma vegetarian. Masih suka makan telur kalau lagi kepingin banget, walau habis itu gatel-gatel deh.. Coklat juga sekarang, kenapa jadi alergi sih? Aku kan suka banget ma coklat… Perasaan coklat itu protein nabati deh, duh.. Please deh, ojo aneh-aneh wae… Suramnya kehidupanku tanpa makanan enak,hiks…
“Ok, ini resep lensa dan obatnya tolong ditebus.”
“Makasih Dok,” ujarku pamit meninggalkan ruangan mbah kakung tercinta…
Setelah itu aku keluar buat ambil nota pembayaran buat nebus kartu periksa.

“Ri, ayo ning kasir,” ucapku pada adekku yang masih setia nunggu di luar, “Tapi obatnya nggak usah ditebus aja, mesti larang,” dalihku nggak mau makan obat, lagian aku paling sebel kalau disuruh minum obat pahit. Ntar deh, kalau anak farmasi Sadhar dah ciptain obat yang berkualitas semanis gula, aku pasti mau kok,haha…

Usai menyelesaikan administrasi pengobatan di Yap, aku menuju mushola kecil yang berada di ujung Rumah Sakit untuk sholat maghrib. Selesai sholat, aku dan adekku menuju optik yang berada di depan RS. Yap.

“Mbak mau ganti lensa, ini resepnya. Kalau ditipisin berapa, ya?”
“Satu jut,a” ujar mbaknya dengan muka ramah
“Ha….satu juta?” aku dan adekku kompak terbengong bareng di tempat. Kami saling memandang dengan muka tak percaya. Berharap saat itu terjadi gangguan pada telinga kami, biar menggelinding satu angka jadi seratus ribu,hiks..
Tapi kenyataan tetaplah kenyataan…
Dengan cepat aku berpikir dan menjawab, ”Ya udah mbak, nggak usah ditipisin saja”.

Tebel lensanya biarin deh.. Ya ampun, kenapa sekarang harganya jadi selangit? Nek di optik lain perasaan ditipisin antara 400-600ribu deh. Tapi aku dah kapok, ntar daripada nggak bisa dipakai lagi. Biar mahal, mending diserahin ma yang bisa dipercaya..

Badanku langsung lemes nih. Udah minusnya nambah, lensanya tebal, frame-nya dah rapuh lagi. Duh, tahan berapa lama ne kacamataku? Nak, setialah padaku sampai aku bisa membelikan frame yang lebih kuat buatmu ya lensaku. Jangan pecah-pecah lagi, please..
“Jadinya berapa hari mbak?”
“4-5 hari, soalnya stok lagi kosong Mbak.”
“Nggak bisa dicepatin lagi ya?”
“Nggak bisa Mbak, ntar kalau kacamatanya dah jadi akan saya hubungi.”
“Ya udah deh mbak, nggak apa-apa. Tapi kalau bisa dipercepat yak,” lanjutku memperjuangkan diri,haha..
Habis sehari nggak pakai kacamata saja bakal susah banget, nih lagi ngebut banyak kerjaan. Skripsi, kerja di perpus, kerjaan Ndoro Kakung, ma seabreg kerjaan lainnya. Please, piye aku kerjainnya? Tapi mungkin ini waktunya aku libur bentar deh, setelah lembur berhari-hari sampai pagi. Tapi tetap aja, ntar nggak bisa lihat TV juga menyiksa,wkwkw…

Akhirnya aku dan adek pulang naik busway.. Berusaha menetralisir hati yang kacau, aku terdiam sepanjang perjalanan pulang. Aku benar-benar capek…

Ya Allah, sehatkanlah mataku. Nur dah capek pakai kacamata terus, rasanya nggak enak banget. Aku ingin lihat segala sesuatunya dengan mataku sendiri tanpa kacamata. Bisa nggak ya? Pikiranku pun dah melayang ke mana-mana.

Minusku dah parah banget, meh dua digit. Kalau lensaku nggak pecah, aku nggak mau ganti lagi.. Aku nggak mau, pusing banget aku make lensa yang terus nambah tiap tahun,hiks….

24 Maret 2010
10:07
Note: Teman2ku, jaga baik-baik mata kalian ya. Jangan dibikin capek biar nggak sakit kayak aku. Jangan sampai kalian pakai kacamata. Rasanya akan lebih menyenangkan jika kalian melihat wajah orang-orang yang kalian sayangi dengan mata kalian sendiri tanpa kacamata… Ya Allah, maafkanlah aku kalau aku masih saja kurang bersyukur dengan semua nikmat yang Engkau berikan selama ini…
Kinur… HAMASAH
(@_@)

19 thoughts on “Kisah Kacamata Minusku

  1. hai, salam kenal ya…
    aku juga ngerasain hal yang sama kayak kmu kok.. minus aku da minus 7,5 silinder 2… udh g bisa ngapa- ngapain klo g pake kacamata.

  2. hai michael…

    salam kenal juga dari nur.
    makasih ya dah baca kisahku…
    emang ga enak punya mata ga normal,hehehe..
    tapi kita ga boleh berkecil hati…
    tetep semangat dan berkarya dengan kemampuan kita masing2…

    percaya aj, masih ada cara nyembuhin mata kita dengan jalan tradisional tanpa operasi(harapanku,hehe)
    moga2 aj tiap tahun ga tambah parah lagi….

    SEMAMGAT!!!

  3. mbak nur, mata saya udh minus parah, duduk paling depan aja gk kelihatan. udh bilang ke orangtua, tapi mereka seakan gak peduli gitu.. saran dong, aupaya orangtua saya sadar dan mau memeriksakan mata saya..
    makasih

    • Pasti sedih ya dik saat sekolah. Usia Husna berapa? Kl memang orangtua tdk dipedulikan, minta diantar guru BP sekolah atau teman saja buat periksa. Semakin lama ditunda, semakin berat nanti minusnya.
      Tetap semangat Husna🙂

  4. terimakasih atas usulannya..

    usia saya baru 12.. kelas 1 SMP.. kalau sama guru, blom bgtu deket, sama temen gak ada yang bakal sempet. sekolah saya termasuk elit, ya terlalu banyak kegiatan..
    Tapi, kalau saya makai kacamata kakak saya yg minus 1,5 terlihat jelas.

    • Kalau begitu, minta diantar Kakak Husna aja ya? Kasih tahu kakak, kalau Husna merasa matanya kabur, dan lebih jelas melihat dengan kacamata minus milik kakak.

      Dulu, Kakak juga periksa waktu kelas 1 SMP. Baru sebulan masuk, tapi nggak apa-apa minta tolong guru BP/Wali kelas. Mereka akan membantu kalau tahu. Kalau kita diam saja, pasti mereka tidak bisa membantu.

      Semangat Husna sayang, yuk cepat periksa biar bisa segera nyaman belajar dan berkegiatan🙂

  5. kakak saya gk pernh bisa, dia kuliah dan selalu pulang malam, begitupun hari libur. Saya cuma ngandelin lobang kecil dari tangan buat ngeliat jelas😥

    Terimakasih usulannya mbak nur, semoga lekas kacamata menghiasi wajah saya;)

    • Kalau nggak ada yang bisa diandalkan, masih ada satu orang lagi yang bisa qm andalkan, Husna sendiri.
      Jadilah pemberani dalam menghadapi kehidupan:)
      Jangan biarkan matamu semakin lelah krn menunggu dirimu berani terlalu lama:)

  6. Assalamualaikum mbak. Masih ingat saya? hehehe. Alhamdulillah saya sudah pakai kacamata 😃 minus saya ‘lumayan’ banyak. Kanan: minus-3 silinder 1,75 kiri: minus -3 silinder 1,50. Hiks,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s