AU REVOIR CINTA

Mumpung nangis ta buat nangis sekalian y? Biar sekalian patah hatine… Tp harus kuat,,, biar Ajeng bisa buat ancang-ancang hidup ke depane. Ga nungguin cinta yang ga jelas.. ;( Mb Ais sedih liat kamu gini nduk, tp ne harus ta sampeke.. Bib udah punya calon sakjane. Maaf ya.

Pesan pendek dari Mbak Ais ne sungguh menghancurkan hatiku. Berkali-kali Mbak Ais sudah mengingatkan agar aku segera melupakan Habib tapi susah sekali. Sekali menyukai pasti membuatku sengsara karena aku selalu menyukai seutuhnya, sulit buat lupa atau berpaling meski harapan kian pudar. Hingga akhirnya Mbak Ais terpaksa memberitahu kabar itu padaku. Mungkin dengan ini aku bisa segera sadar, tak menunggu cinta yang tak mungkin nyata untukku.

Habib hanyalah mimpiku. Yang datang dalam diam dan senyumnya di mimpi-mimpiku. Yah, dalam mimpi. Selamanya akan begitu. Karena tak mungkin ia datang menemuiku di dunia ini kalau bukan dalam mimpi. Aku bukanlah orang yang berarti buatnya.

Allah, beginikah nasibku? Kenapa harus kecewa sekali lagi? Tak cukupkah hukuman-Mu untukku? Kenapa harus menyukai seseorang yang tak kan pernah menyukaiku? Ah, aku juga yang keliru.. Saat tahu aku punya perasaan seperti ini harusnya ku buang jauh-jauh segera. Harusnya tetap dalam pendirianku seperti dulu, tak kan pernah jatuh cinta sebelum aku menikah. Tapi bagaimana caranya mengendalikan perasaan hatiku? Jika tanpa sadar aku telah jatuh cinta lagi…

“Ajeng… Yakinkah kamu dengan pilihanmu saat ini?” tanya Faruq pada suatu sore saat ia mengantar kepergianku di tepi pelabuhan.

“Memangnya kenapa Ruq?”

“Itu tempat yang jauh Jeng, yakinkah kamu bisa bertahan hidup di pulau yang jauh dan terpencil itu sendiri? Apa kamu yakin bisa kembali? Apa kamu yakin tidak akan menderita di sana? Jangan karena obsesimu, kamu menderita Jeng…” ujar Faruq padaku datar sambil memandang laut lepas di depan kami…

“Ini impianku Ruq, tentu kamu tahu itu. Sejak kecil aku sudah berdoa agar diberi kesempatan untuk mewujudkan impianku. Tak perduli betapa jauhnya, aku kesepian atau menderita di sana. Bahkan walaupun aku tak tahu apa yang akan aku hadapi di sana nanti, tapi satu yang pasti aku tak kan pernah menyesali keputusan yang telah ku buat sendiri.”

“Bukannya aku tak tahu mimpi-mimpimu Jeng. Kamu sering menceritakan hal itu. Aku tahu kamu pemberani, tak takut pada penderitaan di tempat terpencil. Tapi lihatlah aku, aku di sini Jeng. Aku butuh kamu, aku tak ingin kehilangan kamu…”

Segera ku menoleh pada Faruq, mencoba memastikan apakah yang ku dengar tadi hanya imaginasi ataukah nyata. Mataku mencari matanya. Ingin melihat kejujuran itu…

Seakan tahu dengan apa yang di pikiranku Faruq pun segera menatapku dengan penuh kepastian. Berusaha menghilangkan semua keraguanku dia pun berkata, “Aku suka kamu Ajeng Rahayuningtyas.. Suka sedari dulu, semasa kita masih SMA, suka sedari dulu yang tak pernah kamu sadari atau bahkan kamu sadari tapi berusaha kamu tepis. Suka yang masih sabar ku pendam ketika ku tahu kamu suka Yohanes.. Aku tetap diam bahkan meski aku tak suka aku cuma diam melihatmu menyukainya tanpa henti meski aku tahu dia terus mempermainkanmu…” kata-kata yang di ucapkan Faruq seakan membetot semua kesadaranku.

“Aku… Aku tak pernah percaya kamu suka aku. Kamu dan aku sungguh berbeda Ruq. Kamu pujaan gadis, lelaki tampan dengan segudang prestasi di sekolah. Banyak gadis cantik yang suka kamu. Meski Desi bilang padaku, kamu suka aku. Aku tetap tak bisa percaya. Karena aku bukan siapa-siapa. Tak ada kelebihan yang bisa ku banggakan atau membuat orang lain suka padaku,” jawabku jujur.

“Kenapa Jeng…?”

Aku juga tak tahu Ruq. Seandainya saja dulu, aku tak menyukai Yohanes. Tentu aku menyukaimu. Kamu lelaki ideal, baik, pintar, dan paham agama. Tapi entah kenapa aku lebih memilih Yohanes yang jelas-jelas aku pun tahu tak mungkin menyukaiku. Juga perbedaan agama di antara kami. Tapi yang terlihat hanya dia. Bahkan setelah kamu kuliah di Jakarta pun, yang ku suka tetap Yohanes. Ketika lelah dengan penantian Yohanes, aku mulai menyukai Habib. Sosok lelaki dewasa yang membuatku nyaman. Meski ku tahu aku bukan pilihan hatinya, tapi tetap saja aku tak bisa merubah arah hatiku.

“Aku pun tak tahu,” jawabku sendu sambil mwenundukkan pandanganku, berusaha menghindari tatapan mata Faruq yang tajam. Pandangannya membuatku beku hingga ke dalam hatiku.

“Seandainya saja aku bisa mengendalikan arah hatiku Faruq. Seandainya saja bisa. Tentu aku tak akan terluka sedemikian dalam seperti yang kau saksikan sekarang ini.”

Deburan ombak semakin keras. Gelombang pasang di akhir tahun tampak menakutkan, membuat ciut nyali bagi yang melihatnya. Tapi tidak bagiku. Hatiku masih sekokoh tebing di tepi laut yang menjulang tinggi. Semakin lama orang-orang pun mulai memadati pelabuhan di samping kapal dengan membawa segala barang-barangnya yang membuat mereka terhuyung menaiki kapal dengan jembatan kecil di antara orang dan kapal raksasa.

“Jangan pergi Jeng,” tawarnya berharap

“Sejauh-jauhnya aku mengembara, kelak aku akan pulang ke Tanah Jawa juga Ruq. Di sini aku di lahirkan, di sini pula aku ingin menghabiskan sisa hidupku. Tapi aku tak tahu kapan aku kembali.”

“Tapi aku suka kamu Jeng, tak ingin kehilangan kamu. Tak mungkin aku tenang membiarkanmu sendirian di pulau terpencil. Aku tahu sifatmu, jika sudah merasa suka akan sulit bagimu terlepas darinya. Jangan melarikan diri Jeng. Pergi ke pulau terpencil itu bukan hanya karena impianmu sedari kecil bukan? Kamu melarikan diri karena ingin melupakan Habib! Ajeng, lihat aku! Lihat aku, katakan yang sejujurnya.”

”Faruq… ” hanya itu yang mampu aku katakan. Aku tak sanggup lagi berbohong padanya. Aku dan dia telah lama bersahabat. Dia tahu aku seperti apa. Dan airmataku pun jatuh menderas di sore itu. Tergugu aku menangis di depannya meluapkan semua sakit hatiku teringat sebuah pagi di awal bulan.

Pagi itu, SMS Mbak Ais yang mengabarkan tentang Habib yang sudah memiliki calon istri sungguh menghancurkanku. Tak perlu lagi aku bertanya kepada Habib tentang kebenaran berita itu. Untuk apa lagi? Mempermalukan diriku? Aku tak sanggup lagi merasakan malu yang luar biasa. Cukup sekali ketika ia tahu tentang perasaanku padanya. Cukup sekali ketika ia berkata bahwa tak seharusnya aku bermain hati dengannya. Harusnya aku sudah cukup peka dengan pernyataannya. Dia menolakku! Tak perlu lagi aku tahu mengenai perasaanya padaku karena tentu saja ia tak menyukaiku.

Dan ketika Dosenku memberikan kabar padaku, “Selamat ya Jeng, proposal penelitianmu di terima oleh Prof. Nakamura. Kamu memperoleh dana buat mengadakan penelitian di Papua selama dua tahun. Semoga berhasil ya Jeng, kamu bisa pergi bulan akhir bulan ini. Aku sudah urus semuanya. Kamu bisa berangkat ke Papua dan melaksanakan penelitian seperti apa yang telah kamu rencanakan selama ini.”

Tak ada kata lain yang aku ucapkan selain, “Terimakasih Bu. Saya akan segera menyiapkan diri dan mengontak Prof. Nakamura untuk mengucapkan terimakasih. Saya tidak sabar ingin pergi segera ke Papua akhir bulan ini,” ujarku cepat.

Ah, tak sabar? Apa pula yang ku maksud dengan tak sabar? Apakah aku tak sabar meninggalkan segala kenangan menyakitkan yang ku alami dan berharap kepergianku akan membantu melupakan segalanya. Segala yang aku cintai tapi sangat menyakitkan ini? Ucapan Faruq sedikit banyak ada benarnya. Aku hanya melarikan diri.

“Ajeng, kamu yakin mau berangkat? Dua tahun ga cepet lho,” tanya Bu Chintya padaku di rumahnya.

“Yakin bu, kalau saya ga yakin ga mungkin saya buat proposal penelitian pada Prof. Nakamura. Saya sungguh-sungguh ingin mengadakan penelitian saya agar bisa menyelamatkan kehidupan suku mereka bu,” ujarku tegas.

“Ya sudah, kalau kamu yakin. Banyak peluang bagus kalau kamu bisa menyelesaikan penelitian ini. Kamu bisa segera ke Jepang buat kuliah S2 dan memperluas koneksimu. Ini hanya permulaan saja, kamu bisa mengadakan penelitian dengan berbagai pihak yang tertarik dengan proyekmu sekarang. Tapi ingat, jangan keasyikan belajar dan ketagihan jadi peneliti. Gimanapun juga kamu cewek. Jangan telat nikah,hehe… Kalau ada calon nikah aja dulu sebelum ke Jepang. Usia kan makin bertambah Jeng. Kesempatan belajar bisa di dapat kapanpun asalkan kamu mau tapi urusan jodoh tidak begitu. Sulit menemukan yang mengerti kita dan menerima apa adanya. Dan jika kamu sudah menemukannya jangan tolak jika tidak ingin menyesal,” nasehat bu Tya terasa menghujam jantungku. Hmm.. Jodoh!

Menikah? Siapa pula perempuan di dunia ini yang tak ingin menikah, berkeluarga, dan membesarkan anak-anak mereka? Tapi sayangnya menikah bukan hal yang mudah. Perlu dua hati yang di restui Tuhan agar terwujud sebuah keluarga.

“Jeng, koq malah nglamun? Ayo, mikir siapa? Hehe… Pacarnya ya?”

“Ga bu, saya ga punya pacar. Saya akan pacaran habis nikah,” ujarku sambil tersenyum memandang raut muka heran Bu Tya atas pernyataanku barusan.

“Hmm, pasti masalah bukan muhrim lagi ya Jeng?” tanya Bu Tya padaku. Setahun jadi dosen pembimbing skripsiku Bu Tya sedikit banyak tahu tentang prinsipku

Aku cuma tersenyum saja menanggapi pertanyaannya. Tapi apakah aku sudah benar-benar menjaga pergaulanku? Kurasa aku jauh dari sempurna untuk satu hal itu. Tapi setidaknya aku tak mau terlalu jauh terjerumus lebih dalam lagi.

“Kamu mau pesan tiket pesawat sendiri atau aku pesankan Jeng? Tapi sebelum ke Papua kamu ke Maluku dulu ya, ketemu sama Dr. Yoshua. Beliau yang akan mengantar kamu ke Pedalaman. Beliau lebih dulu meneliti tentang suku tersebut. Kamu bisa belajar banyak dari beliau.”

“Naik kapal saja bu. Saya rasa perjalanan dengan kapal lebih baik untuk saya,hehe…”

“Ah, kamu ini aneh-aneh saja. Ok, kalau itu yang kamu mau. Biar Rio yang urus tiketmu nanti. Kamu berangkat dari Semarang aja.”

Semenjak mendapat SMS Mbak Ais, entah kenapa aku merasa semakin mantap meninggalkan Pulau Jawa. Biar segera terbang semua kepedihanku saat ini. Aku tak mau terlalu larut dalam kesedihan yang terlalu lama, aku harus segera bangkit dan meraih mimpi-mimpiku. Semua peristiwa itu masih terekam jelas di ingatanku. Dan kini mulai membayang lagi saat aku hendak pergi melepaskan segalanya.

“Jangan tawarkan cinta padaku Ruq. Aku sudah tak punya hati sekarang, aku hanya sebuah badan yang jiwanya terobek putus asa. Sudah hilang kepercayaanku akan cinta. Jangan tawarkan cinta padaku Ruq. Kamu bisa meraih kebahagiaan dengan gadis yang lebih baik dariku,” sapuan angin sore yang mengibarkan ujung jilbab biruku seakan memberiku energi untuk menegarkan diri.

“Aku  tak hendak menawarkan cinta Jeng, yang ku tawarkan adalah kebahagiaan. Aku tak akan meninggalkanmu seperti mereka. Aku akan berusaha sekuatnya membahagiakanmu.”

“Kamu masih muda Ruq, cita-citamu dan cita-citaku pun masih panjang. Biarlah Tuhan yang memutuskan nanti. Jika tiba saatnya lukaku telah sembuh, semoga Tuhan memberi batas pandang waktu yang direstui takdir. Di mana pun aku dan kamu berada, meski terpisah jarak yang jauh pasti akan bertemu juga jika memang kau jodohku dari langit.”

“Aku akan menunggumu Jeng.”

“Jangan berjanji Ruq, karena manusia punya keterbatasan bukan Tuhan yang Maha dengan segala kekuatan tak terbatasnya. Aku tak mau membebanimu dengan janji yang mungkin bisa kau ingkari. Jika kau telah merasa yakin, akulah jodohmu. Sahabat yang ingin kau ajak berbagi menghabiskan sisa hidupmu, cari dan nikahi aku. Aku tak ingin jatuh cinta lagi. Aku hanya ingin membangun cinta dalam restu Tuhan, dalam pernikahan Ruq. Dan ketika itu telah terjadi, aku akan belajar mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Seluruh jiwaku, karena kamulah sahabat sejati yang di kirim Tuhan untukku. Tapi sebelum itu terjadi, jangan tawarkan cinta dan membuatku jatuh cinta.”

“Jeng, sejauh apapun kamu pergi, aku akan berdoa semoga Allah merestui niat baikku. Sungguh aku tak ingin menyakitimu, aku hanya ingin membahagiakanmu Jeng…”

“Aku tahu itu…” tak ku perdulikan lagi ramai pelabuhan di sore itu. Yang ku tatap hanya senja di ujung laut. Jingga, selalu membuatku terhipnotis! Membuat semua perhatianku tertuju pada tenggelamnya senja. Selalu, seperti sore itu.

Ah, bagaimana pula menyatukan hati jika masih saja yang ku lihat Habib? Meski tak bertemu, tapi seakan jiwaku telah tergadai untuknya. Jiwaku selalu menyenandungkan namanya, memanggilnya cinta. Meski bahagia akhirnya dia menemukan cahaya hidup yang telah dicarinya selama ini tapi kabar itu tak pelak membuatku sungguh kecewa… Sakit sekali rasanya… Cinta…

“Ruq, sudah waktunya aku naik kapal. Terimakasih atas pertolonganmu selama ini. Tak ada yang bisa ku berikan selain doa semoga Allah memberikan hadiah terindah buatmu.”

“Kamu Jeng, kamu yang terbaik buatku. Ku aminkan doamu. Hati-hati ya Jeng, pandai-pandailah menjaga diri. Kamu belum tahu pasti mereka seperti apa meski sudah belajar budayanya selama ini.”

“Iya Faruq, makasih ya.”

Aku pun meniti tangga kapal dengan hati penuh keyakinan. Ku tegarkan diriku sendiri. Tenang Jeng, kamu pasti bisa menjaga diri dan melewati ini semua. Ketika sudah berada di atas kapal, mataku segera mencari Faruq di bawah sana.

Ah, di masih setia menunggu di tepi kapal seperti tadi sewaktu kami berbincang. Ku tatap matanya sekali lagi dan ku temui sebuah keyakinan di dalam dirinya sama seperti tadi. Cinta… Mengapa sulit bagiku untuk menerimanya?

“Au Revoir cinta… Entah sampai kapan aku bisa berjumpa denganmu… Au Revoir cinta, sampai jumpa lagi untuk segala yang ku cintai di Tanah Jawa. Aku hanya bisa menitipkanmu pada Tuhanku. Jika Ia berkenan, mungkin aku akan kembali lagi ke Tanah Jawa yang ku cintai. Biar aku pergi sejauh yang ku mau untuk mengobati luka hatiku. Biar aku tahu siapa diriku sekarang dan tak menyesal di kemudian hari…”

Ku ucapkan lirih segala harapanku di ujung dek kapal sambil melihat bintang yang mulai menghias langit. Ah, biarlah…. Biar terjadi pada waktunya nanti… Biar bisa merubah arah hatiku sekarang, jika bukan Habib atau Faruq. Siapapun itu, biar bisa membuatku ikhlas menerimanya suatu saat nanti. Karena ia adalah jodoh dari Allah yang direstui dalam batas pandang waktu-Nya untukku di dunia.

*Au Revoir : sampai jumpa (Perancis)

23  November 2010

11:46 AM

Note: Sedih sekali menerima kabar itu,hehe… Cerpen yang mewakili suasana hatiku saat ini… Hmm.. Allah, bantu aku menundukkan hatiku… (@_@)

2 thoughts on “AU REVOIR CINTA

  1. menyentuh…sama seperti yg kurasakan saat ini..kepentok sama “cinta” tak berbalas…mencoba ikhlas..sulit banget…
    maluu sama Allah dg rasa ini…cuma bisa lari menghindar..berharap waktu yang bisa mengobati…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s