Episode Ehem

Ini adalah beberapa potongan episode di sekolah baru. Nama sekolahnya, Sekolah Angin deh. Karena banyak angin yang menerbangkan imajinasiku ke segala penjuru semesta. Hehe….

 

Take 1:

Habis sholat, bacaan doa anak-anakku lebih hebat dari gurunya. Akhirnya aku ikuti mereka haha…

Sampai ada teman yang bilang: “Kin, harusnya kita jadi guru kelas 1 aja, biar bisa ikuti belajar hafalan dari pertama.”

Aku : “Iyee, aku juga huaaaa….” Aku mau cari pondok ah, mau belajar tahsin ma hafal surat lagi, biar ga ketinggalan dari anak-anak. Malu ma anak bisa dikejar, malu ma Allah? Beuuhhh! Bikin jaro, batinku sendiri.

 

 

Take 2:

Dengar anak-anak bicara waktu pagi

A: “Tau ga seh, kalau si Y itu ikut grup Jacko Lovers yang sama kayak kakakku?”

B: “Masak seh?”

Lalu aku dengan lugunya bertanya, “Grup apaan seh? Grup facebook?”

A: “Hem, bukan bu. Itu lho, grup BBM.”

Aku: Glek! Aje gile. kecil-kecil udah megang BB aja.

Lalu hanya terdengar aku berseloroh ohh demikian lama sambil mikir BB, haha…

 

 

Take 3:

Bikin gambar tentang cita-cita yang mau dipasang ke loker masing-masing anak

Aku: “Nah, gini ya anak-anak. Tulis cita-cita kalian seperti ibu terus digambar. Contohnya. Nama, Kinur. Cita-cita Penulis. Berusaha dan Berdoa. Hamasah! Nah, tulis gede-gede. Tunjukin ke teman kalian biar didoain ramai-ramai ya?”

Lalu ada anak yang mangacungkan tangan dan memberi info: “Miss, mamaku juga berusaha dan berdoa dan sekarang jadi penulis lho.”

Aku: “Oh ya? Nulis buku apa?”

C: “Bukunya bla-bla-bla.”

Aku: “Oh…..”

Akuuuhhhh speechles mamen haha…..

 

 

Take 4:

Aku: “Sayang, si F ga pernah mau bicara ya?”

G: “Ga bu. Anaknya terlalu pendiam sih.”

Aku: “Dulu pernah ngomong?”

G: “Waktu kelas 1 pernah ngomong kok, Bu. Tapi sejak kelas 3 mau ngomong lagi.”

Aku: …..

Kembali ke rumah, ngobrol ma teman

M: “Kata Bu E, dia dulu anaknya suka ngomong kok. Suka nanya ini-itu ke mamanya. Tapi ma mamanya disuruh diam, berisik, gitu mamanya bilang. Jadi dia sekarang diam. Udah dikonsultasikan ke psikolog juga kok, Kin.”

Aku: Padahal anaknya manis sekali, tapi ga pernah mau ngomong, sayang banget, hem, cuma bisa membatin sedih. Pelajaran penting bagi orang tua supaya tidak menyuruh diam anaknya ketika bertanya neh.

 

 

Take 4:

Masih acara membuat cita-cita.

D: “Miss… Miss…. Mamaku kuliah dua kali lho. Pertama di ITB, kedua di UI. Yang waktu wisuda di UI, aku udah lahir tapi masih bayi.”

Aku: “Wah hebat dong. Ayo, belajar lebih giat lagi biar ntar lebih hebat dari mamanya. Biar bisa kuliah di luar negeri.”

Dan sekali lagi, ada anak berwajah khas arab mengacungkan jari padaku: “Miss… Miss… Kakaknya Hadi, Kak Jannah itu kuliah di New York loh.”

Aku: “Oh…..” Kali ini dengan pikiran semakin tak terarah, bingung mau ngomong apa haha….. Mupeng:)

 

 

Take 5:

Ngobrol ma guru kelas 4 pas jam makan siang

Setelah ceritain pengalaman dua hari dengan semangat, sang guru menimpali.

Ibu E: “Itu belum seberapa, emang ini kelasnya beda. Dulu tuh ye, ada anak yang namanya G, tiap Sabtu-Minggu selalu diajak liburan ke luar negeri. Ke Singapura, Hongkong, Australia, mpe anaknya mogok ga mau sekolah. Pingin liburan terus.”

Aku membelalakan mata: “Ada kayak gitu?”

Ibu E: “Akhirnya kita para guru komunikasi ma orang tua. Menyarankan kalau ga liburan sekolah panjang jangan diajak jalan-jalan mulu biar semangat belajar di hari Senin. Nah, tantangannya di sekolah ini gimana ngajarin anak konsep kesederhanaan ketika orang tua memberikan banyak fasilitas.”

Aku: “Hem…” Manggut-manggut.

Ibu E: “Ada lagi tuh Mbak Kinur, di kelas 6 ada yang jadi artis.”

Aku: “Apa?”

Ibu E: “Iya, sering main sinetron dan iklan.”

 

 

Siang ini, benar-benar mencerna perbincanganku dengan Malsa, setibanya di sekolah ini.

Malsa: “Kalau dulu kita ngajar anak-anak dhuafa. Sekarang gurunya jadi dhuafa ya dibandingin ma anak-anaknya, Kin?”

Hahaha…. Ampun dah.

Kalau curhatannya Eko: “Hatiku ga di sini, Kinur. Biasanya kan kita ngajar anak-anak yang benar-benar membutuhkan. Di sini fasilitas lengkap dan anak-anak orang kaya semua, Kinur.”

Aku: “Udahlah Ko, ini kan sekolah bagus. Kita belajar aja di sini dulu. Kalau sekolah jelek banyak, Ko. Tapi kalau sekolah bagus kan jarang. Nah, kalau kita udah tahu sistem, udah tahu bangun sekolah yang baik gimana, gpp. Kita balik ke sekolah yang kekurangan. Biar kita bisa membenahi. Niat membenahi aja ga cukup, kalau kita ga punya ilmunya. Ntar kita diremehin lagi, anak kemarin sore udah mau atur-atur gitu,” tuturku padanya.

Eko: “Iya..iya di sini, masalah juga banyak. Kita belajar aja.”

 

 

Allah, inikah wajah dan rumah ketiga yang menjadi tempatku belajar? Semoga segera tumbuh cinta di hatiku untuk mereka semua. Agar aku bisa belajar dengan baik bagaimana cara mengajar dari hati. Tidak lari dan tetap bertumbuh bersama anak-anak dalam dunia pendidikan. Hamasah!

 

 

Hikari Home

18 Juli 2012

1:17

Note: Selamat datang cinta:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s