Bapak Supir yang Aneh

 

Masih di hari yang sama, sesampainya di terminal Citra Raya, ada satu kejadian yang sebenarnya sudah sering terjadi. Habis bayar karcis, aku selalu saja lupa minta kembalian hikss…

                “Mbak, ini kembaliannya belum,” suara kencang dari Mbak Penjaga loket menahanku.

                “Oh ya, maaf mbak. Makasih ya udah diingetin,” jawabku kikuk sembari menahan malu. Deuh. Kalau duitnya lima puluh ribu kan lumayan kalau ilang. Untung masih banyak orang baik, terutama di sekeliling orang-orang pelupa seperti aku wkwk…

                Menanti bus yang belum juga berangkat, sebenarnya aku sudah menimbang-nimbang beberapa rute menuju Hikari Home. Karena hari udah sore ada beberapa alternatif yang tampaknya harus dipertimbangkan dengan matang; ke CL-naik kopaja 86 ke Lebak Bulus-angkutan ke Pondok Labu-angkot ke Lenteng Agung; ke Blok M-naik kopaja ke Pondok Labu-naik angkutan Lenteng Agung; atau ke CL-naik busway ke Lebak Bulus-naik angkutan ke Pondok Labu-naik angkutan ke Lenteng Agung. Coba perhatikan rute yang aku tulis, bingung enggak bacanya? Kalau dilihat dengan teliti, pastilah kalian akan menemukan kata yang sama: angkutan.

                Akibat sering nonton film dan sinetron di TV yang banyak adegan pencopetan di atas kopaja, dan lebih seringnya berita kriminal di TV juga koran yang memuat berita pencopetan di atas kopaja, maka alam bawah sadarku sungguhlah merespon dengan baik: aku jadi parno ma kopaja hikss…. Aku takut jadi korban pencopetan kayak di film, berita koran ataupun TV itu. Gusti! Padahal ya, kalau mau dipikir, aku kan bukan termasuk korban pencopetan yang potensial. Dari segi penampilan aja udah kelihatan golongan mana wkwk…. Tapi yang namanya paranoid ampun, susahnya padahal jelas-jelas Sarjana Psikologi gituuuuu! Hiks!

                Kalau ingat soal penampilanku yang terlalu sederhana, jadi ingat ma sore di pengungsian korban merapi akhir tahun 2010. Sore itu, aku dan beberapa teman relawan naik ke barak pengungsian yang lumayan dekat ma Merapi. Lalu dosenku pun datang secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Saat melihatku, ia spontan berkata, “Walah ini Sofa tho? Dari belakang kayak udah mirip pengungsi Merapi,” kekeh ibu dosenku yang cantik nan modis padaku.

Kalimat pelan nan menohok itu pun kutanggapi jenaka, “Lah, katanya relawan harus membaur ma pengungsi, Bu? Ga boleh pakai baju bagus atau dandan,” kilahku sambil tertawa miris prihatin wkwkwk…. Okeh, jilbab kaos hitam yang kucel, baju abu-abu, rok hitam yang kupakai sore itu memang memancarkan aura duka khas pengungsi deh. Jadi, udah sesuai ma nasehat dosen: membaur:).

Balik lagi ke soal perjalanan soreku. Setelah memertimbangkan dengan amat sangat dari Citra Raya sampai Citraland, akhirnya aku menetapkan diri naik busway yang menyediakan area khusus wanita—biar ngerasa aman. Sebenarnya ada satu rute lagi, dari CL naik bus damri nomor…. Nah, sayangnya aku lupa, padahal kalau aku ingat, aku bisa memotong jalan. Dari CL langsung ke depan stasiun Lenteng Agung baru naik angkot 02 ke Kecapi.

Perjalanan naik busway kali ini tak beda dari biasanya, lumayan melelahkan karena aku berdiri sepanjang perjalanan. Busway sesak oleh penumpang Jakarta yang penampilannya sedikit lumayan dibandingkan penumpang kopaja. Dengan gadget canggih, teman akrab di sebelah, satu sama lain seakan orang paling sibuk di sore itu. Satu-dua orang tua masih berdiri di tengah busway, hingga akhirnya petugas busway dengan sopan meminta pada dua gadis remaja untuk berdiri.

“Mbak-mbak, maaf ya, kasihan ibu ini sudah tua. Dari Harmoni udah berdiri lama belum duduk juga. Sama ibu yang gendong anak ini, kasihan bebannya lebih berat dua kali karena gendong anak. Mbak-mbaknya kan masih muda, jadi berdiri enggak apa-apanya?” ujar petugas busway ramah sambil berusaha mendekat ke dua remaja yang dari tadi asyik bermain hp, memasang wajah ramah, simpatik, memohon pengertian.

Dua gadis remaja itu pun kikuk, lirik satu sama lain, dan akhirnya terpaksa berdiri dengan raut muka dipaksakan tersenyum. Aih, anak jaman sekarang. Please deh, ngalah aja napa. Anggap yang berdiri itu ibu kalian, pasti kalian rela kan berdiri? Jangan biarin ibu kalian kelelahan bergantungan di bus.

Sesampainya di Lebak Bulus sudah mendekati jam setengah tujuh malam. Aku was-was, takut kehabisan angkot ke Pondok Labu. Kalau angkot 02 ke Lenteng Agung, aku yakin masih ada karena sebelumnya udah pernah nanya ke supir angkot. Angkot ke Lenteng Agung masih ada sampai jam delapan malam. Sesaat berjalan, aku mendapati angkot jurusan Pondok Labu yang sedang dibersihkan pemiliknya. Iseng aku bertanya pada bapak supir yang sedang istirahat tersebut.

“Pak, permisi numpang nanya, angkot ke Pondok Labu jam segini di mana ya mangkalnya?”

Bapak supir itu pun sejenak berhenti mengelap kaca angkot dan menjawab, “Pondok Labu? Ini saya juga mau ke Pondok Labu mbak. Kalau mau naik sama saya aja.”

Sumringah, aku merasa ada tetes hujah jatuh ke wajahku. Aku mendekat ke sisi mobil yang berpintu dan bersiap naik ke angkot. Bapak supir itu pun turun dari angkot dan bertanya lagi padaku.

“Emang mau ke mana, Mbak?”

“Arah ke Stasiun Lenteng Agung, pak.”

“Oh, emang dari Pondok Labu ntar mau naik apa ke Lenteng Agung?”

Firasatku mulai enggak enak, deh. Ini tuh pertanda, kawan. Benar-benar pertanda. Masak sih, supir angkot enggak tahu rute ke Lenteng Agung? Yang benar aja! Harusnya udah hafal daerah kekuasaan dong.

Memahami raut wajahku yang lebih dulu bicara saat terdiam, sang supir pun kembali berusaha menepis keraguanku, “Saya dari tadi siang istirahat, Mbak. Enggak ngetem.”

Terus apa hubungannya ma enggak tahu rute angkot? Batinku menjerit, meminta penjelasan. Tapi berhubung udah malam, akhirnya aku berdoa semoga ini angkot yang membawaku selamat sampai ke tujuan.

“Naik angkot merah 01, Pak,” akhirnya aku bicara dengan suara tertahan.

“01? Angkot yang warna merah itu? Itu angkot ke Blok M, Mbak,” sergahnya yakin.

“Enggak Pak. Angkot 01 ke arah Lenteng Agung ada, saya udah pernah naik.”

“Mbak, angkot 01 itu ke Blok M, bukan Lenteng Agung.”

                Mengingat ingatanku soal peta dan rute angkot kurang menyakinkan, akhirnya aku mengalah, “Iya deh Pak. Pokoknya habis dari Pondok Labu ntar, naik angkot merah. Kalau enggak ada angkot, ntar saya naik ojek aja.”

                “Ojek jauhlah Mbak dari Pondok Labu ke Lenteng Agung.”

                “Enggak apa-apa, Pak, yang penting sampai rumah.”

                Kita damai aja deh, pak, batinku.

                “Sebentar ya, Mbak, saya ke sana dulu,” jelasnya padaku sambil menuju counter HP di sebelah angkot.

                Karena merasa belum yakin akhirnya aku mengikuti bapak supir angkot ke counter HP dan terjadilah dialog interaktif antara aku, bapak supir, dan ibu yang jaga kios.

                “Angkot yang ke Lenteng Agung dari Pondok Labu itu ada enggak sih?” tanya Pak Supir pada ibu itu.

                “Ada, 02 Merah, tapi enggak tahu jam segini masih ada apa enggak.”

                “Tuh Mbak, angkotnya 02 bukan 01,” ujarnya Pak Supir merasa menang.

                “Iya deh, Pak.” Aku pun pasrah dan kalah, hiks.

                Setelah aku naik angkot, Pak Supir pun kembali mewancaraiku.

                “Mbaknya kuliah apa kerja?”

                “Kerja, Pak.”

                “Habis darimana?”

                “Tangerang.”

                “Baru sekali ya, ke Pondok Labu?”

                “Udah pernah kok,” jawabku malas sambil menahan kantuk.

                “Kok saya enggak pernah lihat ya?”

                Bapak supir mulai aneh! Emangnya saya artis pak? Saya kan satu di antara sekian juta orang yang mampir ke Lebak Bulus dan sepersekian rasio yang naik angkot Pondok Labu. Huuu…. Batinku udah mulai berdialog ngawur. Aku pun diam, tak menanggapi.

                Merasa didiamkan, akhirnya bapak supir mulai bicara lagi, “Enggak, gini lho. Kalau udah kerja, masak enggak tahu angkotnya apa?”

                “Barrruuuuuu Pak kerjanya,” balasku sambil memanjangkan vokal pada kata Baru haha….

                Lalu kudengar seloroh yang panjang, “Ohhhhhh….” Nampaknya bapak supir tak mau kalah berkompetisi soal memanjangkan suara. Benar-benar mirip lomba burung perkutut deh haha….

                Ah, bapak angkotnya juga sok. Lebih parah malah, enggak tahu angkot ke Pondok Labu. Setelah angkot warna putih jurusan Pondok Labu-Ciputat itu berjalan, di perempatan lampu merah, naiklah seorang penumpang. Mas-mas ikhwan gitu deh. Dengan kemeja batik, celana kain congklang dan tak ketinggalan janggut tipis di wajah yang tirus itu langsung duduk di sebelah Pak Supir.

                Entah apa yang ada di pikiran Pak Supir sehingga ia bertanya pada mas-mas ikhwan itu, “Mas, tahu enggak angkot ke stasiun Lenteng Agung? Itu kasihan Mbaknya yang duduk di belakang. Mau ke stasiun Lenteng Agung tapi enggak tahu angkotnya. Kalau malam-malam sendirian gini kehabisan angkot kan kasihan. Kalau mau ngojek juga jauh,” dan cerita singkat dari bapak supir itu pun mampu membuatku malu. Hadehh… ini bapaknya. Kenapa supirnya lebih gugup dari penumpangnya sih? Aku aja biasaaaa aja.

                “Oh, masih ada, Pak. Masih ada angkot 02 sepertinya,” tukas mas ikhwan-ikhwan itu singkat. Jawaban mas-mas ikhwan ini semakin membuat kalut pikiran bapak supir.

                Satu-dua penumpang pun kemudian naik di angkot saat di perempatan lampu merah. Saat ada laki-laki gondrong usia 30-an naik, bapak supir menoleh dan ampun lagi-lagi bertanya pada penumpang tersebut.

                “Masnya udah lama tinggal di Pondok Labu?” Pak Supir memulai modus.

                “Udah Pak. kenapa?” Mas-Mas Gondrong balik nanya dengan muka sangarnya.

                “Ini mau nanya angkot 02 Merah ke Lenteng Agung masih ada enggak ya jam segini? Kasihan mbaknya ini neh. Mau pulang tapi enggak tahu alamatnya. Takutnya ntar kehabisan angkot ke Depok,” jelas Pak Supir sambil jari-jarinya menunjuk ke arahku yang duduk tepat di belakangnya.

                Nah, lho! Pak Supir semakin ngaco dan mendramatisir keadaan. Please deh, Pak. Saya masih ingat alamat rumah, Cuma keliru dikit hafalin nomor angkot. Lagian kan saya mau ke Kecapi bukan ke Depok.

                “Wah, enggak tahu Pak, saya.”

                Pak Supir semakin tak tenang. Ia kemudian berdialog sendiri berusaha mengusir jauh-jauh pikiran kalutnya.

                “Kalau angkot 02 Merah habis kan, Mbaknya bisa naik kopaja turun di Cilandak atau naik ke arah Pasar Minggu. Angkot di Pasar Minggu jauh lebih banyak dari angkot di Pondok Labu.”

                Gusti…. Mau enggak mau, yang tadinya aku jaim biasa aja. Jadi ikutan gugup tahu gara-gara pak supir itu sering nanya-nanya ke penumpang. Aih…. Mau kesal juga gimana gitu. Gimana pun juga Pak Supir sudah demikian mencemaskan keadaanku. Aku—meskipun penumpang tak dikenal—keselamatanku demikian berarti baginya. Terharu deh. Tapi ini bapaknya kalau di Tes Ro pasti banyak patologi deh. Kecemasannya berlebihan. Setelah itu, sepanjang perjalanan Pak Supir diam, meski sesekali masih menggumam tentang angkot 02 Merah. Aku diam. Memilih pasrah.

                Menit-menit bergerak tanpa kusadari saat bapak supir yang budiman berkata padaku, “Mbak, turun sini aja. Angkot 02 biasanya ngetem di belakang itu kata masnya (menunjuk mas-mas ikhwan yang duduk di sampingnya).”

                “Emang udah sampai di Pasar Pondok Labu ya, Pak?” tanyaku lugu sambil membuka mata, berusaha mengenali daerah yang sudah gelap.

                “Lha ini Pasar Pondok Labu, Mbak,” tegas suara pak supir menjawabku.

                “Mbaknya nunggu angkot di belakang sana itu aja. Angkotnya biasa ngetem di situ,” mas-mas ikhwan kembali menambahi kalimat Pak Supir.

                Okehlah, akhirnya aku turun dari angkot dan kuamati sejumlah penumpang masih mengamatiku dari dalam angkot. Mungkin mereka turut mendoakanku, artis di angkot yang sudah dipromosikan pak supir enggak tahu alamat dan terancam kehabisan angkot supaya sampai ke rumah. Langkah kakiku tegas menjauh dan menyebrang ke sisi jalan lainnya. Lalu aku tak sungkan bertanya pada tukang ojek dan kembali diarahkan ke jalan yang disarankan mas-mas ikhwan itu.

                Saat hendak menyebrang kembali, mas tukang ojek menyeru padaku dari belakang, “Mbak, itu angkot 02,” sontak mataku mengikuti, bersemangat, bergembira, berlari mengejar angkot, sambil berteriak dan melambaikan tangan, “Pak, angkot!”

                Dan bapak supir itu pun juga tersenyum ketika melihatku dan memberhentikan angkotnya di tengah jalan, menungguku. Menurutku ini adegan yang tak kalah dramatis dari film India dan tak kalah romantis dari film Korea haha….

                Sesampainya di Kecapi, aku sangat bersyukur. Aku mengirim doa, semoga pak supir merasa tenang karena penumpangnya selamat sampai tujuan. Saat mampir di counter HP dan membeli pulsa modem untuk simpati, aku mengeluarkan HP dan mengecek apakah Malsa sudah membalas SMS atau belum.

                Sesudah menerima dua voucher pulsa simpati 50 ribuan, aku berpamitan pada bapak penjual pulsa, “Makasih Pak.”

                “Mbak, ini HP-nya buat saya?”

                Aku masih enggak ngeh dan memutuskan mendekat.

                “Ini lho, HP-nya kalau mau dikasih saya enggak apa-apa,” bapak penjual pulsa itu nampak bahagia dan dengan gerak lambat memasukkan HP-ku ke saku bajunya.

                Setelah sadar apa yang terjadi, aku pun berteriak, “Jangan Pak! Maaf ya, Pak. Saya kelupaan. Makasih ya, Pak,” wajahku kikuk menahan malu, lagi.

                Ampun! Please deh, Kin! Sampai berapa lama lagi, kamu bakal lupa pada hal-hal penting seperti ini? hiks…. Allah, taruhlah orang-orang baik di sekitarku sebagai penyeimbang semua kelemanku. Amiinn.

 

25 Agustus 2012

4:51 AM

Note: ini udah adzan iqamat shubuh dan aku belum tidur karena keasyikan nulis. Allah, moga rapat hari ini tidak sampai sore supaya tidak mengganggu jadwal tidur siangku yang khusyuk:).

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s