Jalan-jalan Kebahagiaanku

Siang kemarin, seperti biasanya saat menjelang aku berpamitan pergi, Ndoro Kakung selalu berusaha menahanku. Kayaknya aku benar-benar adik yang manis jadi enggak rela kalau jauh-jauh dari dia wkwk…. Padahal aku kan males banget kalau di rumahnya dia. Mungkin kasih sayang yang besar akan menutupi kekurangan-kekurangan yang tampak nyata sekali wkwk….

                “Mbok, besok saja pulangnya.”

                “Enggak bisa. Besok pagi, udah rapat bikin modul,” jawabku singkat.

                “Jam berapa?”

                “Jam delapan pagi mas,” balasku lagi.

                Dan dia tak menemukan kalimat lain selain keluhan singkat, “Huh pekerja!”

                Dan aku pun tertawa melihat ekspresinya yang selalu terlihat aneh itu, benar aneh lho, mas:). Setelah berkonsultasi singkat bertanya mengenai tulisan, aku membawa seluruh bahan materi modul kelas 4 sambil berharap masih tersisa ‘mata’ untuk pekerjaanku yang satu ini. Sembari berbaring, memutar lagu “For a Thousand Years”, berusaha mengingat-ingat kosa kata Bahasa Inggris saat menerjemahkan kumpulan kalimat-kalimat asing dalam tabel-tabel yang sungguh tak menarik, sayangnya itu adalah tabel proyek sekolahku yang tak bisa kuhindari. Sesuai dugaanku, aku memilih tidur beberapa menit kemudian setelah memasang beberapa alarm—meskipun aku tahu tak akan banyak menolong ketika aku telah nyaman tertidur.

                Saat terbangun, samar kulihat wajah Ndoro Kakung dan bertanya padaku, “Mau pulang jam berapa dll….” Kalimat berikutnya tak lagi kuingat ketika aku memutuskan tidur lagi haha….

                “Eh bocah iki, malah turu maneh,” serunya padaku.

               Dan dengan amat malasnya aku berusaha bangun, membuka mata, memasukkan buku, baju, dan barang lainnya ke dalam tas hitamku.

                Tatapan Ndoro Kakung masih mengikutiku ketika aku beres-beres sembari berpesan, “Bajunya enggak usah dibawa semua.”

                “Masih ada kok dikoper,” jawabku separuh sadar.

                “Berapa banyak?”

         “Masih ada,” dan usahaku membuka mata sambil membereskan barang harus terbagi dengan menjawab pertanyaan Ndoro Kakung dalam seperempat kesadaran karena aku masih ingin tidur.

                “Enggak usah dibawa semua. Kamu kan bakal sering ke sini. Jadi, kalau ke sini tinggal bawa diri aja. Enggak usah bawa baju lagi,” pesannya bijak.

              Ah, kalimat itu sudah menjadi kode yang jelas, Ndoro Kakung sudah bersiap melaksanakan berbagai strategi agar aku rajin menjumpainya tiap akhir pekan. Duh! Aku masih muda, masih bersemangat menjelajah negeri, dan menjalin silaturahmi ma teman-teman se-geng. Duh, kapan jalan-jalan kalau tiap akhir pekan harus pasang muka ke Citra Raya? Huaaa…!

                Mengingat perbincangan kami semalam, tampaknya agenda akhir pekan telah dirancang demikian serius oleh Ndoro Kakung.

                “Kamu kalau Sabtu libur enggak, Nur?”

                “Libur.”

        “Ya udah, kalau gitu Jumat malam kamu ke sini, ya?” perintahnya halus.

                “Enggak bisa dong, kan aku pulang sekolah jam 4,” jawabku bangga mampu membuat alasan menyingkirJ.

                “Kan bis dari Citraland paling malam setengah delapan. Jadi masih sempatlah,” tambahnya lagi.

                Aku diam, tak mampu membantah.

                “Kamu itu harus sering-sering ke sini biar gampang dibina,” tuturnya bijak laiknya pertapa suci dari padhepokan tersembunyi dari mata dan pendengaran manusia.

                Dengar kalimat itu, aku jadi ingat klasifikasi film-film di TV yang kodenya BO (Bimbingan Orang tua). Nah, kalau aku kodenya BNK (Binaan Ndoro Kakung). Kalau ibu dengar kalimat Ndoro Kakung pasti langsung mengangguk setuju dan berkata menyemangati, “Wis tho, Nduk, manut Masmu wae….”

                Diam berarti menyerah, setuju, telak tanpa perlawanan.

      Kalimat-kalimat ampuh menggoda lainnya pun langsung mengarah padaku, “Masak tahun depan kamu enggak bisa nyicil rumah?”

                Hmmm…. Aku mulai mupeng.

            “Bingung kan? Kalau asumsinya kamu jadi pegawai dengan standar gaji segitu pasti bingung darimana duitnya. Nah, beda kalau kamu cari tambahan. Kalau kamu dah ngerasain nerima uang kayak yang aku terima, ngajar itu cuma hobi. Bisa-bisa kamu jadi penulis dan ninggalin kerjaan guru.”

                Tuh…. Kalau udah ngomong gitu. Aku pasti diam. Huaaa…. Okelah demo Honda Jazz tahun depan. Sedikit berkorbanlah, kurangi dulu jatah jalan-jalan demi kebebasan finansial wkwk…. Dan baliho dari atas tol yang kulihat sewaktu naik bus, tentang iklan rumah seindah kristal berharga miliaran pun kembali membayang di benakku.

                Waktu Ndoro Kakung bilang, “Masak kamu enggak mau punya rumah di Jakarta?”

                “Aku tuh maunya rumah di tepi pantai, Mas! Kalau di Jakarta mana ada pantai yang bagus?” tuturku bangga sambil tersenyum lebar-lebar membayangkan rumah kayu dengan jendela lebar-lebar, pagar rendah dari bunga mawar, dan halaman yang langsung menyatu dengan pantai.

                Setelahnya kudapati ekspresi tak percaya seakan berkata, ga mungkin. Haha…. Jangan-jangan jawabannya kayak di film yang aku lihat dulu. Aku pernah nonton film, di mana ceweknya mengutarakan harapan pada calon suaminya tentang rumah idamannya, rumah di tepi pantai. Dan jawaban cowoknya di dalam hati adalah astaga, rumah di tepi pantai? Ga nyungsep tuh rumah kena tsunami?

                Oh God! Sekarang jaman udah maju kan? Kalau semua orang takut rumahnya kena tsunami kayaknya aku enggak bakal lihat rumah yang berjajar indah dengan anak-anak yang berlarian bahagia di tepi pantai dehJ. Oke, deh, apapun itu, untuk Honda Jazz, Rumah Pantai, Naik Haji, Kinur siap kurangi jatah jalan-jalan, asal enggak tiap minggu deh. Tolong deh, Kinur masih muda dan bersemangat jalan-jalan wkwk…. Moga Allah ridho:).

Dalam imajinasiku ada tiga partai yang lebih mentereng, lebih elegan, dari segala partai di tahun 2014. Tiga partai itu adalah Partai Ndoro Kakung dengan bendera kemakmuran, Partai Jalan-jalan dengan bendera kebahagiaan, dan Partai Akhirat dengan bendera syariat. Semuanya menarik-narik mataku untuk memilih. Semua-semuanya berkata mereka yang terbaik dan jalan kebahagiaan bagiku. Dan aku bingung menetapkan arahku. Terdiam, merenung, dan sejenak memilih tersenyum dan berusaha merengkuh ketiganya dengan alibi: kan kudu seimbang dunia akhirat, NurJ. Okehlah, seimbang wkwk….

25 Agustus 2012

2:20

Note: Berkat tidur siang, energi masih meluap buat nulis. Masih ada satu cerita lagi yang mesti kutulis Ndoro Kakung. Oh ya, please deh, kata pengantarnya cepetan ditulisin. Kan kerjaanku udah selesai. Janjinya selesai kerjaan, kata pengantar jadi lho:). Ok, bos?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s