Mas Nomer 1 di Hatiku

“Mas, sama Ibu enggak boleh masuk SMA lho. Disuruh daftar ke SMEA aja biar bisa langsung kerja habis sekolah,” aduku padanya lirih lewat telepon, dengan hati berkecamuk saat memikirkan keinginan untuk kuliah.

Siang itu, aku ditemani adikku berjalan kaki dari rumah mencapai wartel terdekat di desa sebelah. Hari itu, hari penting bagiku. Besok adalah hari terakhir mendaftar ke SMA, tapi aku belum dapat ijin juga dari Ibu untuk sekolah di SMA. Aku tidak mungkin mengirim surat seperti biasa kepadanya, terlalu lama, dan aku tidak punya waktu untuk menunggu lebih lama lagi. Jadi aku putuskan berjalan dan membawa sedikit uang untuk menelpon masku. Aku butuh jawaban cepat dan satu-satunya cara adalah menelponnya karena di rumah belum ada HP.

Di surat-surat sebelumnya, masku sudah menyuruhku mendaftar ke SMA, supaya aku bisa kuliah. Biayanya akan dia tanggung, dan aku tak perlu mengkhawatirkan hal itu katanya di sebuah surat. Syaratnya, aku harus rajin belajar supaya nanti bisa dapat beasiswa untuk meringankan biaya. Aku bahagia tak terkira karenanya. Harapan untuk kuliah seperti sebuah pesta kembang api di hatiku yang menyusut karena putus asa mengenai masa depanku. Pelan-pelan ada harapan tumbuh, dan kembang api yang hanya bisa kulihat di pesta tahun baru, tiba-tiba saja kurasakan hadir dengan indahnya di hatiku. Aku bahagia. Tapi tidak lama.

“Kasihan masmu kalau biayai kamu kuliah, Nduk. Masmu itu udah waktunya nikah. Biar dia kumpulin uangnya buat nikah aja. Kan udah sekolahin kamu ma Dik Sari sejak bapak enggak ada. Jadi, masuk SMEA aja ya, biar bisa kerja langsung. Enggak ngrepotin Masmu lagi.” Nasehat ibuku selepas maghrib itu luruh hingga ke hatiku. Ibu benar, Masku udah nyekolahin aku dari kecil. Apalagi kalau nanti kuliah. Katanya uangnya bisa puluhan juta. Masku yang kurus dan hitam itu kalau bekerja lebih keras lagi bisa jadi penampilannya akan jauh lebih menyedihkan dari yang terakhir kulihat. Aih…

“Enggak usah kuliah, Mbak Nur. Daripada buat kuliah, mending uangnya dibelikan Sapi, diangon, ntar beranak banyak. Bisa cepat kaya,” ujar salah satu tetanggaku yang dekat rumah.

Mendengar ucapannya, hatiku teriris-iris. Lalu mulai berpikir, aku siapa? Udah enggak punya bapak, ibu sekarang kerjanya enggak kayak dulu lagi. Buat makan aja susah, apalagi buat sekolah yang mesti dibantu masku. Aku mulai menimbang-nimbang dengan beratnya, sendirian, dalam diamku. Berbeda sekali dengan teman-temanku di SMP. Mereka bersemangat sekali memilih SMA favorit. Ada yang memilih melanjutkan ke SMA favorit di kota sendiri, Ngawi, ada yang ke Madiun, bahkan ada yang jauh-jauh hari pergi ke Jogja untuk mendaftar ke SMA favorit di sana. Mereka bahagia dan tak ada yang cemas mengenai biaya.

Terkadang aku menyesal masuk SMP favorit, karena sedikit sekali yang selevel ma aku soal hidup susah hehe…. Perbedaan yang mencolok jadi begitu menyakitkan. Setelah dua tahun masuk di kelas reguler, saat kelas 3 aku secara ajaib masuk ke kelas unggulan. Aku jadi semakin bodoh di antara anak-anak pintar dengan otakku yang pas-pasan dan berharap kembali masuk kelas reguler agar aku tak kehilangan namaku saat pembagian raportJ. Hari-hari terakhir di SMP, banyak teman-temanku yang bertanya SMA mana yang hendak kupilih. Tapi aku memilih diam saja. Menimbang nasehat ibuku dan harapan masku: SMA dan SMEA.

“Udah enggak usah khawatir, besok kamu daftar ke SMA aja. Ibu biar aku yang urus. Kalau kamu masuk SMA, kamu bisa kuliah, bisa dapat kerja yang lebih baik daripada lulusan SMEA.” Kata-katanya singkat dan menyejukkan. Aku pun pulang dengan adikku bersisian sambil bergandengan tangan, bahagia.

“Ya udah kalau masmu bilang gitu. Nduk, kamu boleh masuk SMA tapi syaratnya satu, jangan pacaran ya, Nduk, cah ayu. Kasihan masmu nanti sekolahin kamu susah-susah kalau kamu pacaran. Bisa enggak kosentrasi belajarnya. Pokoknya belajar sungguh-sungguh biar enggak jelek nilainya.”

“Nggih Bu,” jawabku bersemangat. Bagiku pacaran bukan hal penting karena tak ada niat bagiku pacaran seperti teman-temanku di SMP. Kalau lihat teman cewek yang dipegang ma pacarnya kok risih banget. Ok, say no to pacaran!

Dan keesokan harinya aku pun berangkat, memilih SMA terdekat. SMA yang kumasuki tidak lagi SMA favorit karena pertimbangan biaya. Kalau masuk SMA favorit aku harus naik kendaraan dua kali, otomatis uang saku harian akan jauh lebih mahal. Apalagi biaya sekolah di sana katanya mahal sekali. Jadi aku ikhlas masuk SMA 1 Ngawi dengan bahagia yang meluap pada tahun 2003.

Akhir tahun 2004, aku dan keluarga besarku pergi ke Jogja untuk menghadapi peristiwa yang tak kalah besarnya dalam sejarah keluarga kami, pernikahan masku. Akhirnya masku menikah juga. Seusai keluar dari gereja, dengan berlinangan airmata ibuku keluar dan berkata padaku, “Nur, kamu harus belajar sungguh-sungguh. Di salah satu perjanjian nikahnya masmu aja sampai dicantumin, bahwa setelah nikah harus boleh biayai kamu sampai kuliah.”

Sesaat aku terdiam, tak mengerti. Tapi setelahnya aku tahu, dalam pernikahan kristen biasanya ada perjanjian pernikahan. Dan masih sempat-sempatnya masku memasukkan syarat membiayai sekolahku dan adikku di dalamnya. Pendidikanku dan adikku teryata masih nomer 1 untuknya. Mengetahui hal itu, aku tersentuh hingga jauh ke dasar hati. Aku ikut merasakan haru seperti ibuku.

Hari-hari di SMA lumayan menyenangkan kecuali satu hal yang menjeratku bertahun-tahun kemudian hehe… Sejak kelas 2 SMA, aku dibelikan buku SPMB oleh masku. Disuruh belajar biar gampang masuk PTN. Saat penjurusan kenaikan kelas 3 pun, aku memilih IPS meski nilaiku mencukupi masuk IPA. Aku lebih suka ilmu sosial daripada ilmu eksak. Di IPA sudah banyak anak-anak pintar, jadi aku memutuskan masuk IPS untuk satu misi mulia yang belum juga kuraih sejak SD: rangking 1 di kelas wkwk… Sejak SD, rangking tertinggiku selalu rangking 2, tak pernah mendapat rangking 1 dan itu terus terjadi hingga SMA.

Meski wali kelasku mendesak agar aku mengubah keputusanku, aku tetap kokoh dengan pilihanku: IPS. Dan terjadilah apa yang aku harapkan, aku mendapat rangking 1 di semester pertama. Aku bahagia kembali hehe…. Karena sudah mendapatkan apa yang aku inginkan, aku mencoba hal baru di SMA, ikut merasakan kebandelan teman-teman sekelasku. Pura-pura tidak hafal pelajaran Tata Negara dan memberikan buku Tata Negaraku pada teman lain, supaya aku dihukum keluar kelas, seperti teman segeng. Kala itu, Guru Tata Negara lumayan tegas. Tidak bisa menjawab pertanyaan atau tidak membawa buku paket saja hukumannya dikeluarkan dari kelas.

Olaaa… dan ternyata aku sama bahagianya seperti teman-temanku yang lain saat dikeluarkan dari kelas. Kami pergi ke kantin dan makan gorengan sambil bicara banyak hal. Oh ternyata begini rasanya dikeluarkan dari kelas. Sedikit merasa bersalah sih, tapi lebih bahagia di kantin daripada di kelas ternyata wkwk….

Saat aku bahagia dengan penyimpanganku, teman-temanku yang masuk IPA menatapku prihatin seraya berkata, “Sofa, harusnya kamu masuk IPA ma anak-anak pintar dan baik biar enggak ketularan bandelnya anak-anak IPS.” Dalam hati, aku ingin sekali tertawa, tapi aku hanya tersenyum mendengarnya. Dari TK sampai SMA semester pertama, aku sudah jadi anak baik di sekolah. Itu artinya sudah 10,5 tahun aku membahagiakan guru-guru dengan sikap baik dan manis, jadi tidak masalah kalau satu semester saja aku sedikit ‘berulah’ di sekolah, batinku nakalJ. Dan di akhir tahun SMA kembali aku mendapat rangking 2 dengan nilai UAN rata-rata di atas 9. Jadi, aku tidak terlalu mengecewakan masku yang baik hati itu.

“Sekali-kali menyimpang enggak apa-apa, Nur. Asal kamu bisa balik lagi jadi anak baik,” begitu nasehat salah satu guru bandelku di SMA. Guru sekaligus sahabat yang sampai kini senantiasa memberiku pencerahan atas setiap nasehat yang ia berikan, maturnuwun sedulurJ.

Memasuki masa kuliah. Aku dilanda panik, Jogja dilanda gempa besar di akhir bulan Mei. Dan aku harus tetap pergi di bulan Juni untuk mulai mendaftar dan mencari universitas. Setibanya di Jogja, aku masih melihat reruntuhan bangunan yang dilanda gempa. Kamar kosku pun dindingnya tak lepas dari retak akibat gempa. Hari-hari pertama di Jogja aku masih merasakan beberapa guncangan gempa kecil. Aku takut sekali, tapi Mbak Saroh yang menemaniku di Jogja menguatkanku dengan pesan sederhananya.

“Kalau belum waktunya mati, pasti enggak bakal mati meski ada gempa, Nur.”

Dan aku pun kembali menguatkan hati, percaya pada kuasanya Gusti Allah. Di Jogja, aku ditemani oleh saudara iparku berkeliling mencari universitas. Karena cita-citaku sejak kecil adalah guru, maka kuberanikan tekadku untuk memilih jurusan keguruan. Tapi sayang, aku tak direstui. Masa perkuliahanku pun akhirnya berlabuh pada salah satu Universitas Katolik terbaik di Jogja dengan jurusan yang sama seperti saudara iparku: Psikologi.

Awalnya aku sungguh tak merasa nyaman. Aku berada dalam lingkungan yang tak pernah aku sukai. Apalagi saat aku mendaftar pun tak tahu nama universitasnya. Ampun, kiranya hanya aku satu-satunya orang di dunia ini yang mendaftar tanpa tahu nama universitasnya apa. Rupanya apa yang tak kusukai di awal memberiku banyak hikmah dalam hidupku. Di sana, aku mulai belajar mengenai perbedaan, kasih sayang, toleransi, dan perjuangan hidup. Di kampus itu pula, kesadaranku sebagai seorang muslimah tergugah sehingga aku memutuskan untuk tinggal di pondok pesantren sembari kuliah.

Ilmu psikologi dan kehidupan kampus yang sangat cepat mulai mendapati keseimbangannya saat aku belajar mengenai agama Islam. Fiqh, Dakwah, Akhlaq, Hadist, dan ilmu lainnya semakin menyadarkanku akan miskinnya pengetahuanku terhadap agamaku sendiri. Tanpa disadari kedua lingkungan yang bertolak belakang tersebut semakin meneguhkan diriku pada posisi mana aku berdiri dalam keyakinan dan sikapku terhadap lingkungan sekitarku. Aku pun mulai menikmati kehidupanku di masa kuliah meski sebelumnya aku seringkali merasa marah terhadap masku karena akhirnya harus kuliah di tempat yang tidak aku sukai.

Hubunganku dan masku pun mengalami banyak perubahan. Aku tidak lagi berkirim surat setiap bulan dan berlembar-lembar menulis kisah sekolahku padanya. Ada teknologi baru selain HP yang aku pelajari, internet. Aku berkirim email dengan kesetiaan yang sama seperti saat aku masih sekolah dulu, dengan berlembar-lembar halaman di MS. Word yang aku ketik dengan susah payah. Tapi respon yang aku dapat berbeda. Aku tidak lagi mendapat jawaban yang sama panjanganya dengan isi suratku dahulu. Aku merasa diacuhkan dan ternyata ia mulai bersikap ‘kejam’ agar aku lebih mandiri dari sebelumnya.

Saat aku mengunjunginya di Jakarta, aku diajak bertemu dengan salah satu sahabatnya. Masku pun memperkenalkanku sebagai adiknya dan terlontar satu ucapan yang merupakan jawaban atas sikapnya yang keras padaku selama ini.

“Ini, adik saya pak, kalau jauh dari saya anggap musuh. Kalau ketemu gini, baru saya anggap adik.” Olaaaa… Ampun, ternyata my brother mau didik aku ala militer biar enggak manja lagi wkwk…. Pantesan kalau jauh, sadisnya minta ampun, tapi kalau ketemu gitu aku tetap di manja haha….

Saat kuliah aku diberi tenggat waktu 3,5 tahun untuk pembiayaan. Selebihnya, jika aku belum lulus juga, aku harus mencari biaya sendiri. Memikirkan hal ini, aku dibuat stress minta ampun. Sampai-sampai aku tulis besar-besar di buku catatan keuangan bulananku: WAJIB LULUS 3,5 tahun. Kalau udah lulus nanti langsung terjun payung.

Demi menghemat waktu, aku pun selalu mengambil jatah maksimal sks yang bisa aku peroleh. Biar cepat penuh sks dan ambil skripsi maksudku. Sayangnya otakku tak seencer temanku yang IP-nya di atas 3,5. Sering aku merasa putus asa dengan kehidupan akademik di kampus yang jauh sekali dengan masa-masa saat sekolah. IP-ku naik turun dengan drastisnya. Sangat jauh berbeda dengan kehidupan kuliah masku yang begitu gemilang. Masuk UGM, jurusan favorit, dan jadi mahasiswa terbaik saat lulus pula. Hadeh, aku semakin tertekan tanpa bisa kucegah.

Aku merasa sangat bodoh. Tapi sahabat baikku semasa kuliah selalu memotivasiku. Kami sering menghabiskan waktu di hall kampus, duduk saja, dan bicara banyak hal tentang semua masalah yang kami hadapi. Kemudian keluarlah sebuah kalimat yang membuatku sangat terhari hingga hari ini.

“Kamu itu mahasiswa berprestasi dari Ngawi, Nur. Kamu satu-satunya yang berhasil masuk Sadhar! Berarti kamu enggak bodoh. Kamu berprestasi!” Dia mengucapkannya dengan mata berkilat-kilat penuh semangat, dan aku pun tergugah karenanya.

Kami berdua demikian kompak dalam segala hal. Dialah salah satu penyemangatku semasa kuliah. Tahun-tahun pertama kuliah, sering kami mendaftar berbagai kegiatan sebagai panitia di kampus, dan mempunyai ketabahan yang sama saat melihat nama kami tak tercantum sebagai panitia. Ketabahan dalam penolakan tak menyurutkan semangat kami haha…. Kami terus saja mendaftar berbagai kegiatan hingga di akhir tahun masa-masa kuliah, kami mulai menjadi panitia di satu-dua kegiatan kampus yang membuat kami bangga: kami berhasil. Ignatisia Lingga Angger Kinasih, I love you soJ. Kegilaan kita berbuah banyak hikmah sayJ.

Selain menjadi anggota jurnalistik di fakultas, kekompakan kami semakin teruji saat bekerja paruh waktu sebagai mitra perpustakaan. Tujuannya tak lain mencari uang tambahan. Keterbatasan membuatku semakin kreatif untuk terlibat dalam usaha-usaha yang menghasilkan uang. Mulai jual berbagai jajanan dan donat di pondok pesantren, jual pulsa, kerja di perpustakaan sampai masuk lembaga tes psikologi di kampus, karena minat yang mendalam di bidang HRD.

Masa-masa skripsi yang melelahkan tak menyurutkan semangatku. Aku mengiyakan saja penawaran dosen untuk terlibat dalam penelitian payung. Dengan segala perjuangan dan keruwetanku akhirnya aku bisa menyelesaikan penelitianku meski hasilnya tak sesuai harapan karena ada kesalahan metode penyebaran sampel. Saat satu demi satu teman memilih mundur, aku tetap menguatkan hati. Bahkan saat aku ingin mundur pun, Allah memberiku kemudahan untuk menyelesaikan skripsiku. Saat aku ingin mundur, dosenku menelpon dan menyuruhku menyelesaikan skripsiku dan mendaftar ujian di akhir bulan. Waktu yang tersisa hanya 2 minggu, tapi lagi-lagi Allah memudahkan. Aku mengerjakan lagi skripsiku di hari pertama ramadhan.

7 September 2010, akhirnya aku ujian pendadaran dan dinyatakan lulus. Dan aku pulang sehari menjelang lebaran demi revisi skripsi. Akhirnya setelah setahun lebih aku tidak pulang, aku bisa pulang ke rumah dengan kerinduan mendalam. Sejak mengambil mata kuliah skripsi, aku sudah berjanji: Tidak akan pulang ke Ngawi sebelum aku jadi Sarjana Psikologi. Sebuah janji yang teramat berat, tapi akhirnya aku bisa melaluinya.

Tidak lama-lama aku pulang ke rumah, karena aku mengejar tenggat mendaftar wisuda. Aku ingin sekali memenuhi syarat dari masku yang hanya akan menghadiri wisudaku kalau aku bisa wisuda bersamaan dengan saudara iparku. Yah, bukan masku kalau tak memberiku kejut listrik di hidupku. Dan aku pun kembali bekerja keras saat revisi. Dan untuk pertama kalinya aku menangis selama kuliah gara-gara dosen pengujiku memintaku menghitung ulang data skripsiku sesuai keinginannya. Dan rumor pun segera berkembang di antara teman-temanku kalau aku tidak lulus ujian dan harus mengulang lagi. Menyakitkan sekali. Aih….

Selama bimbingan skripsi, kakak angkatan yang satu bimbingan skripsi denganku sering berkata, “Enggak ada mahasiswi bimbingan Ibu yang enggak nangis, Nur. Kalau enggak di depan Ibu, pasti saat di rumah nangis.” Tapi aku tetap tersenyum dan berkata, aku tak akan menangis. Apapun yang disuruh oleh bunda (panggilanku untuk dosen pembimbingku) aku ikuti saja, yang penting cepat lulus. Aku tak punya banyak waktu. Dan benar saja, selama bimbingan aku tak pernah menangis sedikit pun, aku sudah menguatkan hati. Paling banter, aku sering mimpi bimbingan ma bunda sambil mengigau haha….

Tapi tenggat waktu mendaftar wisuda yang tinggal seminggu lagi dan permintaan menghitung ulang skripsiku itu sungguh membuatku menangis. Aku takut tak bisa wisuda di bulan November dan masku tersayang tak akan datang di wisudaku yang berikutnya. Dua hari berturut-turut aku tak henti berada di depan komputerku untuk menghitung. Aku tidak tidur kecuali ketiduran, sholat, dan makan. Dan aku menyelesaikannya dengan segera. Setelah membereskan administrasi kampus yang ribet, aku bahagia menanti bulan November tiba dengan bayangan senyum bangga dari Ndoro Kakung.

Kebahagiaanku menjelang wisuda terusik oleh bencana yang datang dari Gunung Merapi. Entah mengapa, saat-saat terpenting dalam hidupku selalu diwarnai oleh datangnya bencana. Sembari menunggu wisuda, aku kembali bersemangat mencari kerja sembari bergabung menjadi relawan kampus untuk pengungsi Merapi. Perpisahan di kampus di bulan November dibatalkan mengingat ledakan terbesar yang membuat para warga mengungsi dan sebagian ditampung di Kampus Paingan. Lima november saat gladi resik di Kampus Mrican pun dibatalkan karena gemuruh Merapi dan abu mulai menyerbu. Romo yang memimpin gladi resik wisuda pun berpesan agar para mahasiswa mengikhlaskan seandainya besok wisuda dibatalkan.

Pagi, 6 November 2010 aku akhirnya berangkat ke kampus bersama Ibu, Sari, dan Mbak Saroh dengan taksi yang penuh debu Merapi. Dini hari ternyata, Merapi kembali mengeluarkan ledakan terbesarnya di bulan itu. Seluruh Jogja tertutup abu dan pasir halus. Aku memakai toga dan masker, demikian juga yang lainnya. Wisuda pagi itu akhirnya tetap berlangsung dengan teman-temanku yang saling menguatkan. Kami bahagia dengan rasa prihatin yang tak lepas-lepas. Bencana masih mengintai. Aku bahagia sekali pagi itu, ibu terus tersenyum padaku di atas kursi roda yang dipinjamkan dari Yakum tempat Mas Yan menjadi relawan.

Syarat dari Ndoro Kakung terpenuhi: aku dan Mas Yan wisuda bersama meski kami berbeda angkatan. Sayangnya Ndoro Kakung tak hadir dalam wisudaku. Kecewaku kembali menggumpal. Tapi mereda secara perlahan mengingat betapa besarnya kebaikan yang ia tanamkan dalam hidupku.

Bisa menyekolahkan adik-adik sampai PT, demikianlah salah satu tujuan hidup yang ia tulis di agenda pribadinya. Dan Allah memudahkannya. Aku dan Sari kini sama-sama menyandang gelar Sarjana Psikologi dari kampus yang berbeda. Menatap foto wisuda adikku, rasanya haru tak lepas-lepas membayangiku. Teringat kembali saat aku menghadiri wisuda masku di bulan agustus tahun 1997, aku dan adikku berdiri bahagia berfoto bersamanya. Di tengah lapangan Graha Saba Pramana, UGM, masku gagah sekali memakai toga kebanggannya. Toga dengan senyum lebar dan bahagia yang ditularkan pada satu demi satu keluarganya, sambil diiringi harapan semoga kami semua bisa menyelesaikan kuliah seperti dirinya. Toga dan semangat yang dibawanya telah membawa kami juga seperti dirinya, memakai toga dengan senyum dan kebahagiaan yang sama.

Many thanks for you, brother. I love you, soJ. Selamanya, kamu tetap jadi Mas Nomer 1 di hatiku. May Allah bless youJ.

Hikari Home, 15 September 2012

13:32

Note: Ndoro Kakung yang sekarang lebih gemuk dan kulitnya tak sehitam dulu lagi. Adikku tersayang: Nur Sari Ningrum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s