Sahabat Itu Bisa Putus!

Setiap pagi, saat morning session aku selalu menyuruh anak-anak menulis di diari mereka dengan tema yang berbeda. Tujuannya adalah aku ingin mengenal anak-anakku lebih dekat, ingin tahu pemikiran mereka, dan dunia mereka yang barangkali sulit aku jangkau saat bicara padaku. Salah satu tema yang kuberitahukan pada mereka untuk ditulis adalah tentang sahabat dan ternyata ada pernyataan yang membuatku tersentak sekaligus bertanya tentang arti sahabat dalam dunia mereka.

                Aku dulu punya sahabat waktu kelas 3, tapi sekarang aku udah putus sama dia. Aku enggak punya sahabat lagi. Aku cuma punya teman dekat. Tulis salah seorang murid perempuan yang senantiasa ceria.

                Aku bingung flow, aku rasanya mau putus aja sama F. Tapi sayang banget, kita udah sahabatan sejak kelas 2. Lagi-lagi ditulis oleh salah seorang murid perempuan untuk sahabatnya yang juga perempuan.

                Dua kalimat tersebut terus saja menjadi pikiranku. Masak iya sih sahabatan bisa putus? Kayak pacaran aja deh, demikian pikirku konyol. Tapi setelah aku pikirkan selama berhari-hari kemudian, tanpa disangka, apa yang mereka tulis adalah realita yang sesungguhnya. Tidak peduli sedekat apapun hubungan persahabatan antar sesama teman perempuan, antar sesama teman laki-laki, maupun persahabatan antara laki-laki dan perempuan, semuanya bisa putus, bubar, end, sama seperti gaya orang pacaran.

                Tidak sama persis memang gaya pacaran dan persahabatan, tapi keduanya bisa jadi mempunyai persamaan dalam banyak hal: saat berdamai, melekat, berbagi susah-senang, bertengkar, kompak, maupun terlibat dalam satu pertengkaran hingga menyebabkan hubungan mereka renggang, atau bahkan renggang sampai berakhir sama sekali. No contact forever!

                Proses mendapatkan sahabat itu pun akan terseleksi dengan sendirinya. Tak ada paksaan, tak ada kata ‘jadian’, tak ada intrik-intrik dengan gaya tebar pesona, dll. Semuanya terjadi secara alami. Seperti halnya proses seleksi alam, yang bertahanlah yang jadi pemenangnya. Yang tidak sanggup bertahan dengan kondisi sesungguhnya akan menghilang, mundur secara teratur tanpa pesan, atau yang lebih sadis, mengatakan enggak mau temenan, enggak mau ketemu, jangan ganggu lagi, dll.

                See? Sedekat apapun hubungan persahabatan antar manusia, pasti akan menemui ujiannya pada suatu masa. Rasa nyaman yang semula hadir, saling mengisi, saling menumpahkan kisah, rasa percaya, dan berbagai peristiwa ajaib yang mendekatkan hati masing-masing bisa lepas begitu saja ketika amarah tak bisa diredam.

                Bercerita pada sahabat mengenai segala kisah hidup memang baik, apalagi ketika ada masalah, tapi setelah berbagai peristiwa persahabatan yang kualami, aku menyimpulkan satu hal: sebaiknya tidak menceritakan seluruh kisah hidup kita pada orang lain. Bisa jadi dia orang pertama yang bisa nyakitin kita saat kesabarannya habis karena tau kelemahan kita.

                Tiap pilihan membutuhkan pengorbanan. Sahabat tidak harus orang yang tahu segalana tentang kita. Tapi sahabat adalah orang yang bisa memutuskan bahwa menyakiti teman adalah hal terakhir yang akan dia lakukan. Cukup Tuhan yang tahu segalanya tentang kita. Karena DIA enggak akan pernah mau menyakiti makhluknya dengan sengaja meski dia punya kuasa untuk itu.

Ndoro Kakung’s Home 15 September 2012

11:51 PM

Note: Bersahabatlah dengan tujuan mengingatkan dalam kebaikan, biar kekalnya hingga ke Surga. Say sorry for all. Hamasah!

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s