Mimpi Saudaraku

                “Mimpi itu harus besar, Nur! Kalau enggak besar, namanya bukan mimpi,” nasehatnya dengan nada penuh keyakinan di suatu pagi saat kami berbincang mengenai mimpi masing-masing.

                Hawa panas pagi itu saat musim kering melanda desa pinggir pantai itu terasa menyengat, tapi kami tak acuh. Sudah biasa. Saat libur sekolah, aku dan teman-temanku senang berbincang bersama. Berusaha mengenal dan belajar dari satu sama lain. Tentang apa saja. Keterasingan dari peradaban yang sesungguhnya membuatku haus akan pengetahuan, informasi, dan segala hal baru yang biasanya aku dapatkan dengan mudahnya. Dan darinya, aku peroleh segala hal baru yang membuatku bersemangat mendengarnya.

                “Tapi kalau terlalu mustahil, bukannya sama aja ma bohong?” tanyaku lagi, meminta penegasan.

                “Itulah gunanya Usaha, Nur! Kamu wajib berusaha.”

                Aku pun terdiam, berusaha mencerna sebuah kalimat yang sebenarnya sudah sering kudengar tapi sering juga aku tak acuhkan. Dia sama seperti temanku yang lain sebenarnya. Pemuda yang penuh dengan idealisme dan mimpi. Pejuang yang merasa bisa menggenggam dunia dengan segala usahanya. Lelah dan mustahil itu tak pernah dilihatnya. Tak ada kata lelah dan menyerah. Hanya perlu bergerak, terus saja mendekati setiap mimpinya.

                Dan kisah-kisah yang dibenamkannya padaku membuatku teringat kali pertama aku bertemu dengannya.

                “Saya ingin tahu hak dan kewajiban saya sekarang,” kalimat itu keluar dari pemuda berkemeja putih yang ada di dekat pintu masuk ruang informasi, tempat kami bertanya.

                Aku menoleh sebentar saja dan melihat siapa yang berbicara. Seisi ruangan dipenuhi oleh beberapa fresh graduate yang berada dalam kondisi buta informasi. Hanya ada satu kata kunci yang memenuhi kepala kami tapi belum juga ada yang berani bertanya mengenai surat kontrak tersebut. Dan ternyata, dialah yang pertama berani bertanya. Terus terang dan pemberani, itu kesan awalku. Dan kufokuskan kembali isi otakku yang lelah untuk memahami jawaban yang diberikan ibu paruh baya kepada kami.

                Lain kesempatan tak sengaja kudapati dia berdiri di halaman masjid. Dengan pakaian trendi ala pemuda metropolitan, ia tampak sibuk dengan HP-nya. Sesekali tampak kulihat dia berusaha menghubungi seseorang, entah siapa, dengan raut wajah penuh gelisah. Dan aku pun segera berlalu menuju tempatku. Dia lagi, orang yang sama.

                “Syariat Islam sangat menghormati hak orang lain. Muamalah yang benar adalah tidak sesekali mengurangi hak orang lain. Semuanya jelas diatur oleh Allah. Tak ada yang dirugikan sama sekali. Sudah seharusnya kita mengetahui dengan jelas hak dan kewajiban kita di sini supaya tidak ada kesimpangsiuran informasi seperti saat ini,” kalimat-kalimat itu keluar dengan wajah yang selalu ditundukkan ke bawah.

Dan aku menahan tawa melihatnya memangku buku Fiqh Prioritas saat duduk di malam itu. Mungkinkah semangat membara, cerita tentang hak dan kewajiban dalam Islam itu karena ia baru saja membuka lembar demi lembar Fiqh Prioritas? Aku diam saja dan menahan semua kecamuk dalam pikirku sendiri.

Dia selalu begitu, menuai mimpi demi mimpi keseimbangan dunia dan akhirat dengan pedoman Islam. Pengusaha Islam yang sukses juga bergerak di bidang pendidikan. Itulah yang ingin dia capai. Mimpi yang terinspirasi dari kedua orang tuanya. Aku hanya meng-amiinn-kan saja dan terdiam kembali. Dia senantiasa bersemangat dalam pergerakan jamaah di antara derasnya ujian yang coba menggoyahkan jalannya lagi.

Dan sungguh, Allah tak pernah lelah menguji hamba yang berusaha berjalan di atas wahyu suci-Nya. Segera saja, satu demi satu godaan itu datang. Semua terlihat wajar dan dia tetap dalam prinsipnya. Idealisme dan logika yang diyakini akan menyelamatkannya di masa berikutnya. Dan aku merasa ada hal aneh yang tak disadari oleh orang-orang di sekelilingnya, termasuk dia sendiri.

Mimpi Saudara Laki-Lakiku tampaknya terbang secara perlahan, menjauh darinya tanpa ia sadari. Jalan yang ditempuhnya tak lagi tegak di garis Islam seperti yang dibanggakannya. Debu-debu beterbangan mengelilingi pandangannya. Mengaburkan semua batas antara hitam dan putih. Semua jadi abu-abu di matanya. Ia terlena sendirian. Lalu marahnya tak terelakkan ketika aku bicara. Luka-luka kembali menganga dan aku mencoba paham meski sulit.

Aku pun lena dalam pandanganku sendiri. Merasa benar dan sedih secara bersamaan. Salah dan benar jadi hal asing yang sulit kubedakan. Suara-suara di sekelilingku berdengung keras sekali, memekakkan telinga. Semua merasa tahu apa yang terjadi. Semua merasa mengerti apa yang sulit kumengerti. Semua menyindir dengan halusnya dan menikamku dengan tajamnya. Dan aku hanya mampu terdiam melihat semua semakin menjauh. Menjauh dari apa yang bisa aku lakukan.

Aku terus berusaha bicara meski terbata padanya. Aku berusaha bicara sebisaku: kembalilah pada jalan yang dulu engkau yakini. Tapi bicaraku tak menghasilkan faedah apapun. Aku merasa sedih, sendirian. Aku tak pernah mengerti, apa yang membuatnya berhenti menyakini jalan kebenaran yang dulu dibanggakannya. Aku tak pernah mengerti, rasa putus asa macam apa yang menjangkitinya hingga ia memilih membelok dalam sadarnya. Atau aku yang tak mau mengerti, dia telah cukup bahagia dalam pelabuhan yang memukau hatinya kini. Kebahagiaan yang mampu membuatnya berpaling dengan cepatnya. Aku tak pernah benar-benar mengerti.

Kumerasa semua usahaku untuk mengerti semua teka-teki ini harus kuakhiri dengan segera. Dan aku pun memilih jalan tengahnya, menghormati keputusan hidupnya. Benar dan salah itu hanya Allah yang tahu. Aku menahan semua dalam diamku kini. Aku lebih suka mencoba bicara padaNya dalam sujudku. Aku lebih suka mendengar kalimat wahyu yang menentramkan hatiku. Aku lebih suka membaca petunjukNya secara perlahan hingga debu-debu beterbangan itu menghilang dari pandanganku. Hilang hingga aku mampu melihat lagi segala yang dulu mengabur dalam pandanganku.

Setelah mengenang semua mimpi saudara laki-lakiku, aku hanya mampu bicara pada jiwaku, setidaknya aku tahu Allah pernah mendengar doa dan mimpinya. Semoga ia juga paham, sebesar mimpi yang dia inginkan, sebesar itu pula Allah akan mencobanya dengan ujian yang melemahkan hati hingga Allah yakin, ia benar-benar pantas memiliki mimpinya. Dan semoga Allah berkenan mengembalikan semua yang hilang dalam pandangannya, hingga ia tiba kembali di jalan itu, di jalan yang pernah jadi kebanggaannya.

25 September 2012

10:50

Note: Aku mencoba memahami skenario Allah yang ditujukan padaku dan skenario yang kauciptakan di hidupmu saat ini, saudaraku. May Allah bless you.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s