Sapaan Muridku

Senin, saat senja benar-benar hendak terganti malam, aku berjalan ke arah warteg setelah membeli es jus… Suara adzan Maghrib sudah terdengar bersahutan, dan aku semakin bergegas ke arah barat. Saat melewati Nurul Fikri, kuperhatikan ada anak usia SMP dengan baju muslim trendi warna ungu sibuk memegang HP. Aku berlalu di depannya tanpa memerhatikan lebih jelas lagi padanya.

Lalu aku mendengar suara entah darimana menyebut-nyebut nama sekolahku. Oiii… Udah pulang ngajar, kenapa masih terbayang-bayang sekolah ya? Ini mimpi atau halusinasiku saja? Mungkin aku kelelahan hingga terdengar lagi nama sekolah di pinggir jalan… Atau mungkin ini efek tiap hari dapat sms/telepon dari orang tua murid hikss… Jadi identitas sebagai guru terus melekat meski sudah pulang ngajar.

Aku pun terus berjalan dengan lurusnya, dengan niat mulia selanjutnya: membeli makan. Dan terjadilah kejadian itu, kejadian yang benar-benar membuka kesadaranku wkwk….

“Bu guru… Bu guru,” ada anak tak dikenal memanggil-manggil dengan kerasnya…

Aih, sepertinya aku benar-benar kelelahan, suara itu masih ada… atau mungkin itu suara anak les NF yang memanggil gurunya, pikirku singkat. Aku pun kembali berjalan lagi, menggeleng-gelengkan kepala sembari berjalan kemudian mengangguk-anggukkan kepala, menyetujui pikiranku tentang pendapatku barusan.

“Bu guru… bu guru, ibu guru XXXX, bukan?” dengan suara kerasnya bertanya hingga aku benar-benar sadar ini bukan mimpi. Sontak semua orang di pinggir jalan menoleh, dan melihat anak itu… Aku pun berhenti dan segera memerhatikan sekeliling. Remaja berbaju ungu muda itu ternyata berteriak ke arahku, lagi.

“Bu, Ibu guru,” panggilnya lagi padaku

        Dengan kegugupan yang tak bisa kusembunyikan, wajah menyiratkan ketidakpercayaan akan kerasnya suara anak itu, mencoba menetralisir keadaan dan berteriak lagi dari seberang jalan, “Assalamu’alaikum,” seruku dari pinggir jalan.

        Guru tak berkarakter sedang berteriak dari seberang jalan haha…. Tak apalah, habisnya kalau nyeberang lagi bakal susahJ.

        “Bu, masak ibu lupa sama aku?” teriaknya lagi dari seberang jalan, “aku murid kelas enam, Bu,” dan semangatnya benar-benar terpancar dari suaranya yang lantang.

        “Oh iya, maaf ya, ibu lupa,” teriakku lagi, dengan suara yang lebih kecil, dan hampir di ambang kepunahan karena bising kendaraan benar-benar merajai jalanan.

        “Ibu rumahnya di mana?” tanyanya lagi dengan semangat yang tak mengendur sedikit pun.

        Dan kami seperti dua kawan lama yang berpisah bertahun-tahun lalu bertemu di simpang jalan, tak sabar menunggu raga mendekat, lalu teriakan demi teriakan memenuhi dunia….

        “Dekat sini, samping SD Al Azhar. Udah ya, ibu mau pergi beli makan dulu,” seruku kemudian padanya berterus terang. Ah, lebih baik menghentikan percakapan lewat pinggir jalan yang terkesan amat dramatis ini.

        Satu sekolah tempat aku mengajar, kurang lebih terdapat 280 anak, dan aku sungguh tak bisa menghafal semua wajah mereka. Wajah-wajah familiar tentu saja dari kelasku, kelas sebelah, dan juga beberapa anak yang berhasil mencuri hatiku dengan wajah manis mereka haha…. Buat anak kelas 6, yang masih kulupa wajah dan namanya, terimakasih untuk semangat dan usahanya menegurku wkwk…. Dan mungkin, tak ada yang perlu dirisaukan dengan identitas guru. Di mana pun kita berada, identitas itu akan senantiasa melekat. Dan berhati-hatilah dengan segala tindakan dan ucapanmu karena murid-murid akan selalu bertebaran di mana pun tanpa kita sadari:)

Hikari Home 17 Oktober 2012

19:34

Note: Hari itu hari senin, dan terkadang aku harus lebih membedakan antara realita dan mimpi:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s