Berkahnya Rezeki Allah

Sore itu tersaput mendung ketika aku tiba di Terminal Kertonegoro, Ngawi. Akhirnya aku sampai setelah menempuh waktu 25 jam perjalanan dari Tangerang hingga Ngawi. Karena kehabisan tiket maka aku pulang dengan dua cara, pertama, naik travel hingga ke Jogja. Setelahnya, aku naik bus ke Ngawi dari terminal Giwangan, Jogja. Langsung saja aku mencari bus arah ke rumahku yang terletak di perbatasan utara kota Ngawi dengan Bojonegoro, setelah turun dari Bus Mira. Ada dua jurusan yang bisa membawaku ke rumah: naik bus jurusan Cepu dan bus jurusan Bojonegoro.

                Saat berjalan menuju ke arah dua bus itu ngetem, aku melihat bus jurusan Cepu sudah berjalan menjauh dari tempatnya, dan aku tak bisa mengejarnya lagi. Sebersit kecewa menyusup tanpa bisa kucegah karena itu berarti aku harus menunggu bus selanjutnya barang setengah sampai satu jam lagi. Tapi tak apalah, aku berusaha tetap bersemangat dan menuju bus yang satunya lagi, bus arah Bojonegoro. Kulihat penumpangnya baru sedikit, dan aku pun duduk di dekat pintu masuk depan bus. Berusaha sabar menunggu.

                Setengah jam kemudian bus mulai bergerak. Penumpang sudah memadati kursi yang ada. Barangkali karena musim liburan, jadi penumpang cepat penuh, dan aku tak perlu menunggu lama. Meski begitu, bangku di sebelah kursi masih kosong. Gerimis sudah jatuh dari beberapa menit yang lalu. Setengah berjalan, bus berhenti ada beberapa penumpang menggunakan jas hujan masuk, berikut dengan beberapa anak kecil lainnya. Kontan saja, pintu masuk bus jadi sesak, dan kernet bus langsung terlihat gusar karena anak-anak tak gesit berjalan ke bagian tengah bus. Ahai, anak-anak tak akan bergerak jika ibunya tak memberi perintah.

                Melihat penumpang masuk, aku segera memersilahkan ibu itu untuk duduk di sebelahku. Dan seperti ibu-ibu yang lainnya, ia malah tak segera duduk dan memanggil anaknya untuk duduk lebih dulu. Ibu muda itu lebih sibuk meneriaki anaknya untuk duduk di sebelahku dan hendak duduk di bangku depanku. Namun, demi melihat ibu lainnya telah menduduki bangku depan, ia pun semakin gusar. Demikian pula dengan kernet bus yang terkena tampias air hujan di pintu masuk bus.

                Saat melihatku, ia pun berkata, “Mbak, tolong diatur tasnya.” Tas ransel hitamku memang kutaruh bagian bawah kakiku karena aku sudah memangku tas kecil berisi laptop.

                “Iya sebentar mas,” balasku singkat dan untuk ke sekian kalinya memersilahkan ibu muda di dekatku yang tak segera duduk. Tas ransel hitamku yang lumayan besar memang kugeser keluar supaya ibu muda tadi mudah masuk ke bangku bus.

                “Mbak, digeser tasnya. ” Kernet bus semakin gusar

                Dan aku pun mengulang kalimat yang sama karena ibu muda itu baru bergerak masuk ke sebelahku, “Sebentar mas.”

                “Mbak, diatur dong tasnya,” kalimat kernet bus semakin tajam dan matanya membeliak ke arahku.

                Amarahku muncul dan kembali menegaskan kalimat yang sama, “Sebentar mas,” aku pun segera mengatur tasku kembali ke dalam bangku yang kian sempit.

                “Turun mana sih mbak?” tanya kernet bus padaku.

                “Masri mas,” jawabku singkat.

                “Oh Masri toh? Dekat gitu. Mending naik bus Cepu aja deh. Bus Bojonegoro itu khusus yang turun Bojonegoro karena ngejar setoran. Itu naik bus aja deh.”

                Dan rasanya aku tak bisa menahan lagi emosiku, “Oh gitu ya, mas? Ya udah. Pak turun sini pak. Pak turun.” Aku segera berteriak pada Pak Supir supaya menghentikan busnya. Entah karena mendengar percakapanku dengan kernet bus atau entah karena hujan deras. Pak supir tak juga menghentikan busnya.

                “Kiri…kiri…” kernet bus ikut berteriak menyuruh supir berhenti.

                “Makasih ya, mas!” ucapku sembari turun. Ingin rasanya aku berkata lebih panjang lagi:mas, kalau sampeyan enggak menghargai rezeki yang sedikit dari Allah, gimana Allah mau nambah rezeki sampeyan? Tapi kata-kata itu tak jua keluar. Hanya bergaung di hati dengan rasa marah yang menggelegak. Seketika aku turun dan langsung merobos hujan deras tanpa melihat ke belakang. Tak peduli dengan laptop yang lupa kutaruh di ransel, aku berjalan lurus, menuju arah bus Cepu.

                “Kok mudhun mbak?” tanya kondektur di pintu masuk belakang bus.

                “Disuruh turun mas,” jawabku singkat saja.

                Di dalam bus Cepu saat aku duduk, ibu penjual makanan kecil bertanya padaku, “Kok mudhun mbak? Ndek wau numpak bus Bojonegoro tho?”

                Dan keluarlah keluh kesahku seketika, “Nggih Bu, lha kernete matur menawi bus Bojonegoro namung kagem tiyang ingkang mandhap Bojonegoro mawon. Kula dikengken ndherek bus Cepu, mawon. Nggih, kula langsung mandhap, Bu. Tirose badhe ngejar setoran.”

                “Oalah mbak… mbak… padahal udan deres lho.”

                “Nggih duka, Bu. Kula nggih mandhap mawon, mboten menopo-nopo.”

                Setelahnya aku diam dan berdiam saja di antara jajaran bangku-bangku bus Cepu yang masih kosong. Saat bus mulai bergerak pun, aku masih sulit meredakan marah. Ya Allah, sebegitu pentingnya ya uang saat ini? Sampai-sampai mengeluarkan kata-kata tajam seperti itu pun tak merasa bersalah?

                “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” QS. Ibrahim: 7.

                Rezeki itu jika dicari, enggak akan ada habisnya. Terus dan terus akan membuat kita mengejar. Jika rezeki yang ada tidak disyukuri, maka berapapun yang kita terima tidak akan membuat kita merasa cukup. Allah akan melihat apa yang kita perbuat dengan rezeki-Nya. Jika sedikit saja tidak bisa membuat kita bersyukur, maka Allah tak akan memercayakan rezeki yang lebih besar lagi pada kita.

                Dan kalau saja setiap orang memerlakukan setiap orang yang ditemuinya sebagai saudara sendiri, maka tak akan ada perselisihan dan rasa sakit hati di antara manusia. Lalu teringatlah aku dengan tahun-tahun yang telah berlalu. Saat aku masih berseragam merah-putih. Aku naik bus sejak kelas 3 SD, saat keluarga memutuskan pindah ke perbatasan kota Ngawi. Beragam karakter supir, kernet, dan kondektur bus aku pelajari hingga kelas 3 SMA.

                Wajah-wajah yang sama, tak berubah banyak dari SD hingga SMA, membuatku mulai menghafal mereka satu persatu. Awalnya, aku dan adikku kesulitan saat harus berebut dengan anak-anak yang lebih besar saat naik bus. Hingga akhirnya aku dan adikku selalu terlambat ke sekolah. Meski begitu, aku dan adikku bertekad tak ingin pindah sekolah. Seiring bertambah besarnya kami, akhirnya kami pun seperti anak-anak sekolah lainnya. Ikut berebut naik bus agar tak terlambat.

                Kala itu, tak banyak bus yang akan berhenti melihat puluhan anak sekolah berkerumun di tepi jalan. Alasannya sederhana saja, uangnya sedikit. Apalagi kalau musim pasaran hewan tiba, legi, bus akan lebih memilih orang dewasa sebagai penumpang karena tentu saja, bayarannya lebih besar. Begitu juga saat pulang sekolah, aku dan adikku sangat kesulitan membuat bus berhenti. Jika kerumunan anak sekolah saja sulit membuat bus berhenti, apalagi jika yang mencegat bus adalah dua anak kecil. Lebih sedikit lagi bus yang mau berhenti. Jarang sekali bus mau berhenti membawa pulang kami ke rumah. Anak-anak sekolah saat itu membayar 300 rupiah untuk sekali naik bus. Tapi terkadang ada kondektur yang mengenakan setengah harga, yaitu 100-150 rupiah untuk seorang.

                Oleh karenanya, seringkali jika aku yang menjemput adikku sekolah, kami dibantu oleh guru adikku memberhentikan bus. “Baca bismillah ya, biar busnya mau berhenti.” Begitu selalu yang diucapkan oleh guru adikku yang sudah kulupa namanya. Berdoa. Selalu. Supaya supir-supir bus itu mau berhenti meski rezeki yang mereka terima atas kehadiran kami tak seberapa.

                Di antara drama menunggu bus yang paling dramatis kami alami adalah saat adikku kebetulan pulang terlebih dahulu dan menjemputku di SD. Aku pulang lebih lambat dari biasanya karena ada les tambahan menjelas UAN.

Dan kami pun kesulitan membuat bus berhenti karena bus yang biasanya menjadi langganan kami sudah lewat jamnya. Saat aku sudah keluar gerimis sudah mendahului. Dan tak lama kemudian, hujan deras mengguyur kami. Hingga satu jam lebih, kami belum juga dapat bus. Bus semakin sulit didapat karena hujan deras membuat bus enggan membuka pintu dan menepi. Kami kedinginan dan semakin menggigil tapi tak beranjak dari bawah pohon di pinggir jalan. Pikir kami, kalau berteduh di sekolah, akan semakin sore pulang ke rumah. Jadi kami bertekad berdiri dan mencegat setiap bus arah utara yang lewat.

Menjelang Ashar, akhirnya ada satu bus yang berhenti. Aku dan adikku segera naik bus. Karena seragam kami basah, maka kami tak berani duduk meski lelah berdiri berjam-jam. Melihat tingkah kami, supir yang kami kenal pun berkata, “Oalah Nduk-nduk, kok sampai kudanan tho? Kat mau rung enthuk bus yo? Wes, ndang lungguh kono.” Supir bus itu kira-kira sudah berumur setengah abad, kulitnya hitam, dengan rambut yang masih hitam dengan uban yang baru sedikit muncul. Bapak supir itu selalu menyapa kami ramah dan memanggil ‘Nduk’ kepada kami. Menanyakan kabar kami setelah pulang sekolah.

“Seragamnya basah pak,” sahutku singkat sambil menggenggam tangan adikku.

“Wis ora opo-opo, teles yo mengko dilap,” sesaat Supir bus itu menoleh pada kami dan tersenyum sebelum menjalankan busnya kembali.

Saat itu aku berdoa, semoga bapak supir yang baik hati ini dimudahkan rezekinya karena kebaikannya pada kami. Mungkin saja, supir bus yang mempunyai anak sekolah akan lebih peka seperti bapak supir itu. Karena saat ia menolong orang lain, sama saja seperti saat ia menolong diri dan keluarganya sendiri. Tabungan kebaikan yang tak akan pernah lupa Allah balas berkali lipat. Dan aku yakin, meski sekarang belum bertemu lagi dengan bapak supir itu yang baik, tabungan kebaikannya pada setiap anak sekolah akan memberi berkah pada setiap rezeki yang didapatkan.

28 Desember 2012

22:19

Note: Berusaha mengingat kebaikan supir, kernet, dan kondektur bus yang baik biar marahku mereda pada kernet bus yang satu ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s