Rindu Bahagia

“Aku Rindu, kamu, bahagia,” ucapku perlahan, tergugu sendiri, “sungguh merindukan bahagia, di tiap detikku.”

Dan dia pun hanya memandangku dengan senyum meneduhkan, seakan kebahagiaan itu sungguh dekat kurasakan.

“Apa yang kamu maksud dengan kebahagiaan, Rindu?” Bahagia bertanya lagi padaku. Pertanyaan itu belum mampu kujawab sedari dulu.

Ah, pertanyaan itu. Selalu saja membuatku tertahan demikian lama. Mencari definisi bahagia saja sudah menyesakkan bagiku. Setiap liku hidupku dikata orang sebagai kebahagiaan. Sedangkan aku menamainya dengan kehampaan hidup. Segalanya yang berjalan sesuai dengan impianku tak lantas mengantarkanku pada apa yang kucari, kebahagiaan.

“Mungkin saja yang dinamakan bahagia itu adalah kelegaan tanpa penyesalan,” cetusku begitu saja. Aku tidak mampu memikirkan jawaban lain lagi.

Dan lagi-lagi dia hanya tersenyum, yang entah kuartikan apa.

“Bagaimana bisa kau berharap menemukan kebahagiaan sedangkan kau tak mengenal apa itu kebahagiaan? Berapa lama kau akan berkubang dalam pertanyaan dan pencarian yang melelahkan itu, Rindu?”

“Aku juga tak tahu, aku sama sekali tak mengerti dengan apa yang kucari. Aku hanya ingin bahagia. Tapi ternyata itu tak semudah yang kukira. Aku sesak. Aku merasa tak berarti dalam kehidupan ini.” Balasku beruntun, menguarkan satu demi satu pedih yang menyiksaku selama ini.

“Kamu terlalu banyak berpikir dan mencari. Andai-andai tentang kebahagiaan bukanlah jawaban yang tepat untukmu. Bagaimana lagi harus kujelaskan padamu, bahagia itu dekat sekali. Sedekat syukurmu pada Tuhan kita.”

Aku tertunduk malu, kurasa jawabannya benar sekali. Tapi entah mengapa, itu tak cukup memuaskan kegelisahanku selama ini.

“Bahagia itu bukan saja tentang tercapainya keinginan-keinginan, tapi juga tentang kesetiaan pada Tuhan. Jika kamu percaya pada-Nya dengan tulus, dengan syukurmu, itu juga kebahagiaan. Rindu, aku tak mengerti bagaimana kamu bisa melewatkan tahun demi tahun kebahagiaan hanya untuk mencari definisi bahagia? Bahagia itu dekat sekali, sedekat syukurmu pada Tuhan.”

“Tapi aku merasa belum cukup dengan apa yang kuraih selama ini. Aku merasa tak berdaya atas semua mimpi-mimpi itu. Mimpi-mimpi itu selalu saja menuntunku untuk bergerak maju, tapi selalu saja, aku menoleh ke belakang. Menyesali apa-apa yang tak aku lakukan, menyesali kesalahanku memilih jalan, menyesali keputusanku, bahkan menyesali ketidakberdayaanku pada kehidupanku sekarang…” Mataku semakin memerah, marah, dengan hebatnya.

“Penyesalanmu tak akan mengubah apapun. Tak akan membawa kebaikan bagi hidupmu sekarang, meski sedikit. Apakah waktu tak mengajarimu tentang makna ikhlas? Tentang berapa banyak yang kau capai dan kau lewatkan demi penyesalan-penyesalanmu, itu?”

Aku memilih diam saja. Kubiarkan Bahagia menyerbuku dengan kalimat-kalimatnya yang merajam. Sudah lama aku tak berbincang dengannya meski kami tinggal di rumah yang sama, di rumah yang orang sebut dengan hati. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku sibuk dengan rinduku. Ya, aku merindu selalu, pada kebahagiaanku. Sesuai dengan nama yang melekat padaku, Rindu. Dan aku semakin iri ketika bahagia tetap tenang dalam kebahagiaannya, sesuai dengan namanya, Bahagia.

“Aku hanya rindu, rindu kebahagiaanku,” akhirnya aku bicara juga setelah sekian lama aku terdiam.

Lagi-lagi dia memandangku dengan senyum. Kali ini, aku yakin, itu bukan tatap kasihan. Tapi tatapan yang menguatkanku.

“Tahukah kamu, Rindu. Ada satu hal yang belum kamu tahu sedari dulu. Seandainya saja kamu sadar, Kerinduan itu kebahagiaan yang diperindah oleh waktu. Maka jika kamu merindu, kamu telah berbahagia tanpa kamu sadari. Karena kamu tahu apa yang kamu harapkan, kamu inginkan, dan berusaha mencapainya. Bukankah kebahagiaan namanya ketika kita memerjuangkan apa yang kita yakini? Tetaplah bersabar dalam kasih sayang Tuhan. Tetaplah setia pada jalan-Nya. Kamu boleh merindu tentang apa saja, termasuk kebahagiaan. Asalkan kamu tak mengingkari jalan-Nya, jalan kita, jalan yang akan memertemukan kita dengan kebahagiaan hakiki, Kasih Sayang Tuhan.”

Aku terisak pelan, dan dia kembali terdiam. Mungkin ingin membiarkanku merenungkan kata-katanya. Tapi apapun itu, secara perlahan, ada kelegaan yang menyusup satu demi satu setelah kalimat terakhirnya.

Tuhan ampuni aku, atas keraguanku pada-Mu. Aku mengiba dan mendoa dalam diamku, pada-Nya, yang telah lama tak kurindu karena sibuk mencari bahagiaku sendiri.

Hikari Home, 17 Desember 2012

1:52

Note: Untuk semua perindu kehidupan, maka tempatkanlah rindumu pada jalan yang diwahyukan, hingga rindu itu tak membelenggu kehidupan:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s