Timbangan Kebahagiaan Desa dan Kota

Desaku kaya sekali, karena rumput bertumbuh di mana pun yang ia suka, tanpa takut terusir oleh para pemilik lahan karena hitungan rupiah per meternya sangat berharga layaknya tanah di Ibukota. Di sini banyak tanaman tumbuh bahagia. Dari tanaman yang kutahu namanya hingga yang tak kutahu namanya. Di sini, pohon-pohon besar tumbuh dengan lebatnya. Besar sekali dan meneduhkan mata ataupun orang yang berdiam di bawahnya saat terik matahari terlalu keras menyapa. Di sini tak perlu ada tanaman hidroponik karena tanah masih luas sekali. Metode menanam yang tercipta akibat kurangnya lahan. Miris sekali mendengar kalimat, kurangnya lahan, jika ingat betapa Indonesia terbentang antara Sabang sampai Merauke.

Desaku kaya sekali, karena dapur di rumah-rumah kami luas sekali, melebihi luasnya ruang utama. Dapur-dapur di desa merupakan salah satu bagian rumah yang tak kalah penting. Jika si empunya rumah punya hajat, maka wanita-wanita desa memenuhi ruang dapur dan bekerja dengan gembira tanpa perlu diperintah ini-itu. Semua tahu apa yang harus dilakukan. Sedih rasanya bila melihat barisan tak seperti rumah petak-petak yang amat kecil, itu pun jadi rebutan banyak orang. Dan lebih bersedih lagi, pada mereka yang tidur dengan nyenyaknya di jalan-jalan yang dilalui orang tanpa seorang pun merasa peduli. Karena di desaku, itu tak pernah terjadi. Kami tetap punya rumah meski berdinding bambu dan beralaskan tanah merah saja.

Desaku kaya sekali karena air mengalir dengan jernihnya, dingin sekali, dan terasa segarnya… Dan jadi harta berharga tanpa takut air pam mati layaknya di Ibukota. Lebih mengherankan lagi jika sumber utama kebutuhan air berasal dari sungai yang tak pernah dijaga sungguh-sungguh oleh semua orang. Sampah dan warna air yang membuat bergidik itulah satu-satunya, sumber air. Aku semakin merana saja. Jika kalian hendak berkunjung ke desaku, lihatlah, kami punya sumber air kecil. Tapi itu cukup untuk kebutuhan desa bahkan disalurkan ke kota sebagai salah satu sumber air pam. Air di sungai juga bergerak dengan menawan, selincah ikan-ikan yang bergembira di jernihnya air tempat mereka berdiam.

Desaku ramai sekali, karena anak-anak kecil bermain, teriakannya memenuhi bumi, berlarian di antara rumah-rumah sederhana dengan tawa bahagia tanpa harus menghabiskan banyak waktu untuk mengikuti berbagai les ekslusif. Anak-anak tak perlu mendapat marah jika tak tidur siang atau bermain hujan saat berkah Allah memenuhi bumi. Anak-anak di desa cukup bergembira jika mendapat sepatu untuk ke sekolah. Tak pernah menuntut sepatu ber-merk karena mereka pun tak mengerti, merk sepatu yang mahal itu apa.

Dan kadang desaku berdesah lirih, punya jalan beraspal yang bagus layaknya di Ibukota, supaya jalan yang terdiri dari tanah kapur itu tak meleleh saat hujan. Terkadang desaku juga berkeluh tentang janji sang bupati. Janji yang katanya akan memberi aspal pada tanah kapur setelah terpilih nantinya. Aih, padahal penduduk desa dengan setia memilih dan berharap pada janji yang terlupakan itu.

Dan kadang anak-anak di desaku bermimpi, punya sekolah yang bagus, dengan berbagai barang apik yang cuma bisa ditengok dari layar televisi. Anak-anak desa akan bercoleteh penuh rasa ingin tahu tentang berbagai benda elektronik terbaru yang memenuhi iklan TV. Dan jauh, dari jangkauan mereka, anak-anak kota yang beruntung hidup dalam gelimang harta, bisa memerolehnya dengan sekali rengekan saja. Bermain sepenuhnya tanpa perlu diajari lebih lanjut. Karena gadget itu bukan lagi barang mewah.

Dan sedari dulu, aku berharap ada pemimpin yang benar-benar mengayomi, bukan hanya pemimpin yang bersalaman dengan warga sambil memberi amplop saat menjelang pemilihan saja… Pemimpin yang tiap hari datang ke kantor kelurahan, bukan datang siang dan pulang beberapa jam kemudian…. Hingga kami harus menunggu hari berikutnya demi sebuah tanda tangan di surat-surat penting apalagi jika bukan karena birokrasi?

Dan kadang desaku berharap, saat pemilu, para calon pemimpin itu benar-benar memenuhi janji supaya anak-anak bisa juga sekolah hingga di batas pencapaian tertinggi, karena meski padi dan kedelai ditanam hingga panen, uang yang didapat benar-benar tak mencukupi biaya sekolah yang semakin melangit dari tahun ke tahun. Hingga tak ada lagi anak-anak usia sekolah yang dinikahkan karena alasan klasik. Biar anak-anak perempuan kami juga tahu rasanya meraih impian. Bukannya menggendong anak yang usianya tak beda jauh dengan adik-adik mereka.

Dan aku tak tahu apa harus bergembira dengan kekayaan desa yang tertukar dengan berbagai ketertinggalan bersebab ekonomi. Dan aku pun harus ingat dengan baik-baik, bahwa gemerlap kota juga menyimpan sendu. Sendu pada tawa anak-anak jalanan yang dipaksakan. Sendu pada airmata ibu-ibu yang anaknya sakit di gubuk-gubuk kardus. Sendu pada berbagai sifat yang bercampur aduk pada upaya pencapaian kekuasaan, tahta orang-orang yang ingin berkuasa.

Dan mungkin Allah sudah menyimpan rapi dan membagi kebahagiaan-kesedihan tanpa kecurangan. Karena sungguh Allah memberi kita kebahagiaan yang utuh untuk menghalau kesedihan tak tertanggungkan di setiap jiwa yang menghuni bumi.

Ngawi, 28 Desember 2012

18:05

Note: Kicauan-kicauan yang entah harus kuarahkan pada siapa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s