Senyum anak perempuan di sore ini

Di bawah halte trans grogol, terdapat beberapa rumah kardus dan banyak anak kecil… Ada juga penjual minuman dan makanan di sekitarnya. Seringkali aku tertegun beberapa lama tiap kali turun dari busway menuju Mall Citraland…Sore ini kuperhatikan, ada seorang bapak yang menjual minuman dari luar pagar besi yang melingkupi halte trans grogol di depan Citraland, sempat terpikir untuk membeli, lalu aku berjalan terus…Sesaat berjalan, aku berubah pikiran dan berbalik ke bapak penjual minuman itu. Bapak itu berumur 40 tahunan, dan ada seorang anak perempuan berumur 6 tahunan di sampingnya…

Saat aku sudah berdiri di depan lapak bapak itu, anak perempuan kecil itu yang melihatku langsung berteriak kencang kepada bapaknya, “Pak…”Bapak tua yang sibuk menata dagangannya itu pun melihatku dan bertanya hendak membeli apa.

“Fresh tea rasa apel, ada enggak pak?”Lalu bapak itu segera membuka wadah minumannya dan mencari-cari minuman yang kumaksud.

 Beberapa lama waktu berlalu, aku jadi tak tega, lalu aku pun berkata lagi, “Seadanya aja, Pak. Yang ini juga boleh,” ujarku sambil menunjuk minuman yang dipegang bapaknya.

 “Dicari dulu aja, mbak. Nanti kalau berhenti dicari ada, gimana?” Dan bapak itu terus mencari dengan teliti, membaca satu persatu label minuman yang ada di wadah kecilnya.

 “Ini mbak,” sambil tersenyum bapak itu menyerahkan botol minuman kepadaku dari balik pagar besi yang ada di antara kami.

 “Harganya berapa, Pak?” dalam hati aku berharap, bapak itu menaikkan harganya juga tidak apa-apa biar anak kecilnya yang bermain tanah mendapat jatah jajan di hari ini.

 “Enam ribu, mbak.” Perkiraanku salah, bapak itu tetap menjual minumannya dengan harga biasanya. Tidak menaikkan harga seperti di tempat-tempat umum lainnya. Sebenarnya aku tidak ingin meminta kembalian dan berniat menyerahkan uangku kepada adik kecil itu, tapi kuurungkan karena takut menyinggung perasaan bapak itu.

Sesaat sebelum berlalu, aku lihat bapak dan anak itu saling tersenyum dan kembali bersama… Lalu tiba-tiba saja memoar belasan tahun yang lalu kembali membayang dibenakku. Dulu, aku pun….Mereka beruntung sekali karena masih memiliki waktu untuk saling memberi kebahagiaan lewat senyum yang terpancar dari wajah masing-masing… Sore ini aku merasa, panggilan anak perempuan itu kepada bapaknya adalah suara termerdu yang pernah aku dengar… Allah:)

Ndoro Kakung’s home

5 Januari 2013

20:10

Note: Untuk kalian juga yang masih merindu, moga kerinduan kita semua kan menemui muara kebahagiaan yang sama kelak:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s