Masalah Yang Melingkar

Sore ini aku dikejutkan dengan sebuah pesan yang aneh sekali. Aku bilang aneh karena menurutku si pengirim pesan tak akan berkirim pesan dan berkomunikasi dalam bentuk apapun padaku lagi, sesuai kesepakatan, permintaannya sendiri.

Sejenak aku tercenung membaca pesan itu, mengabarkan sebuah masalah yang sudah kulupakan. Tak ingin kuingat lagi sejak aku memutuskan keluar dari lingkaran masalah itu sendiri. Tapi rupanya tidak demikian dengan dirinya—yang masih berkutat dengan masalah yang sama.

Dulu, aku pikir sudah cukup berusaha dan bersabar mengingatkan. Tapi ternyata tidak, aku sendiri malah terjebak. Dan berusaha keluar dengan susah payah. Merasa lega kini dan sungguh tak berpikir ingin terjerumus untuk kedua kalinya. Sedih di awal karena peringatan dan nasihatku—agar tak mengulangi kesalahan yang sama—diabaikan. Terlebih lagi menjawab pesanku dengan balasan untuk tak mengganggu kehidupannya. Baiklah, aku mengerti. Dia telah memilih jalannya, dan sudah cukup usahaku mengingatkan. Aku berhenti. Aku membahagiakan diriku, memerhatikan diriku, dan menyayangi orang-orang di sekelilingku. Itu sudah!

Lalu kini, datang lagi mengabarkan pesan yang jelas saja akibatnya. Hah! Percuma sudah bicara: masalah yang belum terselesaikan dengan baik dan membuat masalah yang baru hanya akan menyengsarakan hidupmu! Ah, bukan menyengsarakan. Kukira dia adalah manusia super yang selalu mengagungkan logika dan idealismenya yang di luar kewajaran, menabrak aturan Allah!

Dia hanya berlari dari satu lubang ke lubang lain tanpa bisa menutup lubang sebelumnya. Ah, manusia. Apa mau dikata? Sudah jelas dan telah terang syariat Allah pada umatnya. Tak ada kebaikan dalam kemaksiatan yang dibuat oleh manusia, tidak sekali-kali. Tapi sungguh, manusia akan selalu mencari pembenaran atas kesalahan yang diperbuatnya. Dan sedikit sekali yang sungguh-sungguh mencari jalan kebenaran dari sisi Allah. Menyedihkan, tapi itulah kenyataannya.

Ada banyak andai-andai yang melayang di dunia ini. Andai manusia lebih tabah menghadapi masalahnya. Andai manusia menabahkan diri menyelesaikan masalahnya, maka tak akan ada lingkaran dosa yang terus menerus. Tak akan ada kesedihan yang terlalu. Tak akan ada kubangan sakit yang membuat manusia sulit bangkit. Tak akan ada lagi semua penyesalan yang menjengkelkan. Tapi ah, begitulah kehendak Allah kiranya pada kita. Tak akan berpindah ke tempat yang mulia kecuali kita mampu belajar membersihkan diri dari segala coba.

Mungkin saja, sedikit sekali yang mampu menyelesaikan masalahnya sekali waktu. Mereka ini tentu orang yang bijak dan menghargai waktu bernafasnya. Lalu ada sebagian kecilnya lagi, berhasil lulus dalam dua kali ujiannya. Dan lebih banyak lagi yang berhasil keluar setelah, tiga, empat, bahkan puluhan kali cobanya datang. Yang paling disesalkan adalah orang yang tak mau belajar dari kesalahannya dan terus terbenam dalam masalahnya. Menyedihkan sekali.

Tahukah kamu, masalahmu akan bertambah rumit karena masalah pertamamu belum kamu selesaikan. Lalu kamu membuat masalah kedua tanpa peduli pada masalah yang ada. Mencari-cari alasan membenarkan perbuatanmu yang jelas menyakiti orang lain, berkali-kali…. melingkar di antara kesalahan-kesalahan yang sama! Sudahlah, jika tak mau kembali ke jalan yang seharusnya, hiduplah seperti yang kau inginkan. Dan kita lihat nanti di hari yang dinanti syafaatnya oleh seluruh manusia.

Semoga kau mampu bertanggungjawab dan tidak mementingkan egomu, lagi. Semoga.

Hikari’s Home 29 Januari 2013

22:22

Note: Hidayah itu tidak ditunggu, tapi dicari dan diputuskan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s