Pujian Berhadiah Cinta

Pujian Berhadiah Cinta

Hari ini adalah kelas berenang untuk kelas 4B. Akhirnya saat yang dinanti oleh anak-anak tiba juga. Harusnya anak kelas besar (kelas 4, 5, dan 6) berenang selama satu tahun penuh, sekali setiap akhir bulan. Namun, berhubung kelas besar saat semester 1 ada pelajaran panahan, maka jatah berenang hanya di semester 2 saja.

                Saat aku datang, anak-anak sudah mengeluarkan berbagai perlengkapan berenang. Kacamata renang, ban tangan, dan papan renang. Jam setengah delapan, anak-anak turun ke bawah. Menanti berangkat renang ke Kolam Renang Marinir di Cilandak. Anak-anak yang sudah memakai baju renang di dalam seragamnya mulai mengeluh kegerahan.

                “Bu, kapan sih kita berangkatnya? Udah kepanasan ini makai baju renangnya.” Dan sahutan-sahutan lain pun segera terdengar dengan riuhnya. Segera berangkat! Itu demo mereka. Namun, apa daya angkot yang ditunggu tak juga datang. Setelah angkot datang pun, masih harus menunggu lagi.

                Perhatian mereka sedikit teralih dengan permainan futsal anak laki-laki. Tak berapa lama kemudian kami berangkat dengan tiga angkot menuju Cilandak. Dan kesabaran anak-anak kembali teruji, kolam untuk berlatih renang masih dipakai anak TK. Tidak mungkin anak-anak yang sebagian besar belum bisa berenang itu masuk ke kolam 2,5 M. Dan pertanyaan-pertanyaan kapan berenang pun menyebar di antara wajah mereka.

                Anak-anak berenang setelah rombongan dari TK selesai. Dan aku tak berhenti tertawa terpingkal-pingkal melihat anak-anak berlatih renang. Ada anak yang bersemangat menggerakkan kaki hingga air banyak menyembur ke udara. Ada lagi Fayshol yang baju renangnya kebesaran hingga menyebabkan bajunya jadi menggembung besar melebihi ukuran badannya, yang begitu kurus. Dan ada si Rafi yang setia berenang menggunakan papan seluncur kuningnya. Dengan polahnya yang khas dia selalu bisa memancing tawaku.

                Ketika hendak pulang, aku segera menyuruh anak-anak membawa tas dan barang-barang mereka agar tak tertinggal. Setelahnya, aku berjalan bersama Aufa menyisiri kolam renang. Seperti biasanya, Aufa akan senantiasa bercerita tentang berbagai hal termasuk pengalaman renangnya barusan. Ketika aku diam, terdengar Aufa menyapaku.

                “Bu Kinur…. Cantik,” ucapnya pelan.

                “Hah… Apa Aufa?” Tanyaku pada Aufa menyakinkan pendengaranku.

                “Enggak apa-apa, Bu,” ucapnya pelan-pelan.

                “Bu Kinur….” Aku diam saja.

                “Cantik,” balasnya singkat sambil tersenyum memandangku,

                “Wah, makasih Aufa,” sahutku dengan perasaan berdaun-daun.

                Dan kami pun kembali berjalan beriringan, menghampiri anak-anak dan Bu Eni yang duduk di pinggir kolam.

                Segera saja, aku heboh bercerita, “Eh… tahu enggak, tadi Aufa muji Bu Kinur lho! Tadi pas jalan bareng Bu Kinur, si Aufa manggil, ‘Bu Kinur cantik’ gitu! Ih… Nah, ini anak-anak tindakan Aufa ini patut ditiru.” Nada bangga masih menyelimutiku dengan kuatnya haha….

                “Ah, biasa aja Bu. Si Aufa tu sering manggil saya, ‘Faraby… ganteng’ gitu, Bu.”

                “Iya Bu, si Aufa juga sering manggil saya, ‘Rafif… Keren’ dia suka muji gitu!” Rafif pun ikut menimpali.

                Apaaaah? Jadi enggak cuma aku ini yang dipuji? Hikss…

                Sembari menguasai diri dari narsis aku kembali berkata, “Eh…. Anak-anak, daripada saling menghina lebih baik saling memuji. Karena akan menyenangkan orang lain yang dipuji. Coba siapa yang enggak suka kalau dipuji? Daripada menghina, ayo? Kalau menghina ntar enggak ada yang suka.”

                Anak-anak sejenak mendengar, entah paham, entah bingung.

                “Nah, mulai aja tuh manggil Bu Kinur cantik kayak Aufa hehehe….”

                Dan inilah ceritaku hari ini, saat aku belajar dari Aufa, bagaimana pujian menghadiahkan cinta. Cinta sederhana yang akan melekat dan membuat kita ingat, betapa berharganya kita, betapa bersyukurnya kita diberi kesempatan hidup dan saling menyayangi satu sama lain. Sesampainya di sekolah, segera kuceritakan pujian Aufa kepadaku, kepada semua guru hahaha….

                Kalau gitu, aku bakal dekat-dekat Aufa terus ah biar dipuji hahaha… Ilmu sederhana ini segera kupraktikkan pada anak-anak dengan lebih sering memuji dan memberi senyum haha…. Makasih Aufa, Jagoan Ibu:)

Sekolah Angin, 31 Januari 2013

16:44

Note: Happy!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s