Ndoro Kakung Mencari Mak Comblang

“Kalau ada bujang yang baik hati tolong dikenalin ke dia, ya?” pesan Ndoro Kakung to the point ke Mas Wiliam siang itu.

Hadeh… Ndoro Kakung itu benar-benar bikin keki deh. Dia melakukannya tepat di depanku, hiks… suruh cariin kenalan buat adiknya, hua!

Bicara masalah jodoh, rasa-rasanya tidak sekali ini Ndoro Kakung bahas. Hampir tiap aku ke rumahnya, pertanyaan pertama yang terlontar untukku juga itu-itu mulu. Nampaknya kekhawatirannya telah melebihi ambang batas normal daripada aku, sehingga dia merasa harus bertindak sebelum terlambat.

“Kamu itu udah punya calon belum, sih Nur?” tanyanya selalu, tak bosan-bosan.

“Kangmas, aku tuh enggak mau pacaran. Maunya langsung nikah, ta’aruf gitu!” jawabku yakin!

“Aku tuh enggak yakin ma gituan. Enggak mungkin dalam waktu singkat bisa kenal seseorang buat nikah.” Kurang lebih begitulah Ndoro Kakung berkomentar soal taaruf. Banyak contoh kasus yang bermasalah gara-gara nikah lewat taaruf, katanya.

Tapi kan, aku udah bertekad: I dont want to have boyfriend before marriage! Haha…. please deh, kalau teman-temanku yang lain diwanti-wanti biar enggak pacaran, biar enggak aneh-aneh, eh lha dalah… ini kangmas malah nyuruh aku pacaran sejak aku kuliah.

Dulu sekali, sebelum tahu pacaran dalam Islam haram hukumnya. Sejak SMP aku sudah bertekad enggak akan pacaran. Habis risih sih, kalau lihat teman SMP pacaran dan dipegang-pegang ma cowoknya gitu. Waktu cerita ini ke teman sebangku, temanku lantas bertanya sesuatu yang memusingkan.

“Kalau enggak pacaran, gimana caranya nikah, Fa?” demikian tanya temanku. Pertanyaan ini demikian berat karena dulu kami belum paham agama. Belum populer juga tema ‘pacaran setelah menikah’ apalagi di kalangan anak SMP haha…

“Ya, kalau gitu, aku nikah ma teman sekolah aja. Kan udah kenal bertahun-tahun, kan?” jawabku semakin asal haha.. dan tiba-tiba aku melihat satu-persatu teman laki-laki, yang sekelas denganku di masa itu. Mencoba menimbang-nimbang perkataanku yang barusan, haha… parah!

Masih ingat dulu waktu aku demo lewat karena Ndoro Kakung jarang balas e-mail saat di Jogja. Dengan entengnya Ndoro Kakung balas dengan singkat nan menohok: Udah, cari pacar sana biar enggak kesepian di Jogja! Jeder… jeder!! Oh gitu, ye? Bumi gonjang-ganjing deh

Dan tema perjodohan pun sempat mampir saat aku memasuki semester akhir. Saat aku berkunjung ke rumah Ndoro Kakung. Tanpa basa-basi dia dengan mudahnya berkata-kata, mengaduk-aduk emosi.

“Mau enggak aku kenalin ma temanku? Dia lagi nyari istri lho. lulusan ITB, sekarang kerja di Amerika, lho. Mumpung dia liburan ke Indonesia.”

“Enggak mau!” Hari gini, masak nikah aja pakai dijodoh-jodohin segala, sih? Kayak di film-film dong? Huaaa! Please! Kalau dijodohin ma temannya, berarti udah tua dong, hikss..

Sejarah perjodohan itu telah berlalu tanpa jejak, tapi aku masih mengingatnya dengan pasti. Sebab aku takut kalau dijodohkan meski itu sebatas ucapan saja. Hingga tahun ini dengan gencarnya Ndoro Kakung semakin rajin bertanya dan rupanya merasa khawatir kenapa adiknya yang satu ini, sangat acuh dengan masalah pernikahan. Hadeh, kangmas, masa pingin nikah muda udah lewat haha… sekarang beneran pingin S2 Psikologi Klinis!

“Ntar kayak Sari lagi, bilangnya enggak punya calon, tahu-tahu udah mau nikah aja,” jelasnya lagi saat meminta kepastian.

Hem, harus berapa kali bilang ya, kalau benar-benar enggak mau pacaran ma Ndoro Kakung?

“Kalau mau nikah pasti ntar kasih tahu kok,” jawabku asal.

Tersindir beberapa kali, lama-lama enggak tahan juga. Sesantai-santainya jiwaku, tapi kalau tema pernikahan sudah dibahas berkali-kali rasanya kok jadi enggak enak juga. Oleh karenanya pernah dengan kemampuan Bahasa Inggris yang amat sederhana, aku coba kasih tahu prinsipku. I dont want to have boyfriend before marriage. Ntar kalau ketemu ma laki-laki yang sholih lagi bisa dihormati, baru mau nikah. Dan balasannya pun singkat saja: God bless you.

Aku pikir, sms itu sudah cukup menentramkan batin Ndoro Kakung. Tapi ternyata tidak, pertanyaan itu masih saja mampir padaku. Baik secara tersirat maupun terang-terangan. Huaa… Jadi males tahu. Mengingat nasibku saat ini, aku jadi teringat nasib temanku yang tak jauh beda denganku: dikhawatirkan jodoh yang tak kunjung datang oleh orang tuanya.

Kutegaskan lagi sikapku lewat pesan FB kepada Ndoro Kakung, pernyataan lagi-lagi belum berpikir tentang pernikahan karena masih ingin S2 tahun depan. Dan jawabannya pun seakan menyakinkan. Lho siapa yang bilang aku enggak tenang kalau kamu mau nikah hehehe… hidupmu ya hidupmu, atur sebaik yang kamu bisa. Kita-kita mah penonton setia aja.

Aku kira, setelah baca pesan itu aku bisa tenang. Melewati pertanyaan itu, dan kembali tenang. Tapi oh tapi, selain bertanya ke Mas Wiliam, lagi-lagi Ndoro Kakung membuat wajahku kembali beku. Saat aku sedang serius bicara dengan Bu Nuning, tiba-tiba Ndoro Kakung menyela dengan amat seriusnya. Aku pikir mau ngobrol masalah apa. Tahunya….

“Eh sebentar Bu, mumpung saya ingat,” selanya dengan mimik serius.

Aku pun ikut diam dan mendengarkan hingga saat ia berkata, “Kalau ada yang baik kenalin buat dia ya Bu, soalnya dia anaknya cuek sih. Kalau enggak dibantu takutnya telat.”

Jeng… jeng…jeng… Itu kan, itu lagi, itu lagi. Heboh banget ini Ndoro Kakung promosi. Ampun.

“Tuh kan Bu, malu-maluin deh. Tadi juga bilang gitu sama Mas Wiliam. Haduh, khawatirnya itu lho. Saya kan ikut deg-degan kalau dia kayak gitu, Bu. Masak tiap saya main ke rumahnya ditanya itu mulu.” Aduku pada Bu Nuning setelah Ndoro Kakung meminta bantuan Bu Nuning soal mencari jodoh.

“Enggak apa-apa, itu namanya  tanda kasih sayang. Lain kali kalau ditanyain lagi, jawab aja, ‘makanya bantu doa dong, Mas.’” Oh gitu ta, hem….

Dan inilah drama terakhir Ndoro Kakung. Awas aja ntar kalau ketemu temannya, di depanku bilang kayak gitu lagi. Enggak mau lagi ikutan acaranya, deh. Please Ndoro Kakung. Berdoa sajalah buat adikmu yang satu ini. Biar ntar suatu ketika, saat aku benar-benar dewasa, dan akhirnya menikah, aku bisa mejeng foto nikah di FB wkwk….

Menikah itu bukan hanya soal usia, tapi bertemunya ridho Allah juga usaha terbaik dari setiap hamba-hamba-Nya. Many thanks to youJ.

Hikari’s Home, 10 Februari 2013

23:15

Note: Btw, monster ma pian sekarang udah punya anak loh haha… meskipun musim nikahan sudah berganti musim anak pertama, moga Allah ridho menyediakan satu hamba sholih lagi sabar untukku, nantiJ.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s