Bahagia Itu Bersama Keridhaan-Nya

        Sukses itu ketika kita tak pernah menyesali setiap menerima akibat dari keputusan yang kita ambil. Dan aku merasa lega dengan keputusan awal tahun kemarin, saat aku menyakinkan diri untuk kembali ke jalan yang menurutku benar dan harus kulakukan: kembali kepada Allah. Keputusan ini menguji imanku. Aku merasa berat melakukannya. Tapi aku kembali menyakinkan diri bahwa bahagia yang benar adalah saat bahagia terlepas dari dosa. Bahagia yang bisa kita beritakan ke seluruh dunia. Dan aku merasa lega, tak menyesal, dan bahagia ketika aku tahu Allah bersamaku dalam keridhaanNya.

                Aku semakin nyaman menjalani hari-hari yang dihadiahkan Allah untukku. Aku kembali menata apa yang dulu pernah terserak. Serpihan mimpi-mimpi masa depanku semakin memanggil-manggilku. Aku bersegera dan aku bersemangat. Pernah terlintas dalam pikiranku, apa kiranya yang terjadi padaku saat aku masih menjalani kehidupanku seperti dulu. Saat aku masih memerturutkan inginku. Saat aku dikuasai oleh rasa yang semakin membelitku. Memutus kesadaranku dan menjauhkanku dari rasa yang disebut damai. Tapi tidak, sekali-kali kuenyahkan semua pikiran burukku. Cukup untuk jadi pelajaran dan bukan sesuatu yang pantas dikenang abadi di hati.

            Selalu ada dua kutub berlawanan, itulah hukum yang berlaku di dunia ini. Ada yang menyambut baik keputusanku dan tidak sedikit yang masih memandang aku terlalu idealis. Apapun pendapat mereka atas hidupku, bagiku sama sekali tidak masalah. Yang kuperhatikan bukanlah pendapat manusia—meskipun itu juga penting sebenarnya—tapi lebih kepada apa yang dikehendaki Allah pada hamba-Nya. Dan setiap orang beriman akan memiliki keyakinan yang sama: setiap ujian yang datang kepada manusia adalah baik. Dan tidak ada berita duka bagi mereka yang memercayai bahwa Allah mencintai hamba-Nya sejauh ia mencintai-Nya.

                Mencintai Allah itu bukan sekedar kata: aku mencintai Allah dan beriman dengan sepenuhnya. Tapi mencintai Allah menuntut bukti dengan adanya setiap ujian tersebut. Masihkah kita dengan bangga dan lantang berkata, “Aku mencintaimu Allah,” tapi kita diliputi duka mahaberat yang membuat kita kembali harus memilih? Menurutku tidak? Allah ingin kita benar-benar memaknai apa itu cinta dan setia pada Allah dengan benar.

        Setiap ujian yang datang padaku, kuanggap proses pendewasaan diri dan peneguhan imanku. Dari waktu ke waktu kita akan selalu memertanyakan iman jika semua hal yang terlihat indah hilang dari kehidupan kita. Keindahan-keindahan itu serasa nyata dan begitu dekat, membuatku membelok dari apa yang kuyakini sebelumnya. Namun, ketika aku sadar dan berani untuk memilih jalanku, aku merasa lega.

                Ketika aku melihat, orang-orang di sekitarku yang mengalami ujian sepertiku, aku hanya bisa berkata: Yakinlah, jalan Allah yang terbaik untukmu. Tak akan ada penyesalan setelahnya. Karena ketika engkau yakin terhadap Allah, kau akan merasa damai tak terkira terlepas dari ujian itu. Sebaliknya bagi mereka yang masih ragu antara menurutkan keinginan hati dan iman kepada Allah, tidak bisa menyelesaikannya. Maka Allah akan memberinya ujian yang sama. Dan dia pun kembali berkubang pada masalah yang sama. Betapa malangnya mereka. Kehidupan yang amat berharga yang kalian dapatkan janganlah dihabiskan untuk mengalami percobaan yang sama terus-menerus.

Ciputra, 16 Februari 2013

Menjenglang jam 5

Note: Ini tugas workshop nulis:).

2 thoughts on “Bahagia Itu Bersama Keridhaan-Nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s