Rindu Sepotong Episode di Solo

Hari sudah menjelang pagi, namun mataku sudah tak mampu terpejam lagi. Sejak pukul 03.00 pagi, rinduku kembali memanggil-manggil satu sosok yang begitu kusayang. Aku kembali merindukannya, rindu bapak. Tiba-tiba saja rinduku membawa ingatanku kembali tentang sebuah episode yang dulu lekat diingatanku, saat pergi ke Solo bersama dengan bapak-ibu.

                Saat itu, ibu berjualan baju di Pasar Beran, Ngawi. Oleh karenannya tiap beberapa waktu, aku sering diajak bapak dan ibu pergi ke Pasar Klewer untuk kulakan baju. Aku lebih sering diajak pergi daripada adikku, Sari. Mungkin karena aku lebih besar dari adikku. Jarang sekali bapak dan ibu membawa kami berdua ikut ke Solo sekaligus. Mungkin terlalu merepotkan barangkali, apalagi perjalanannya bukan untuk plesir hehe….

                Biasanya kami akan naik Bus Bus Sumber Kencono ketika pergi ke Solo. Bus Sumber Kencono pada zaman itu terkenal sekali paling murah, paling bagus, dan paling cepat jalannya. Tidak seperti sekarang, malah terkenal sebagai bus yang sering kecelakaan dan membawa korban hingga harus berganti nama. Alasan kesetiaan bapak dan ibu naik Bus Sumber Kencono sederhana sekali, bapak mendapat kartu pelanggan Bus Sumber Kencono. Kartu pelanggan seukuran KTP yang berwarna kuning ini memiliki keajaiban yang akan disukai setiap penumpang, mengurangi sekian persen biaya perjalanan bus. Kala itu bapak yang bekerja sebagai pegawai pom bensin di Beran, sering sekali mendapat kartu pelanggan Bus Sumber Kencono. Saking banyaknya, bapak gemar membagi kartu kuning ini kepada keluarga dan para tetangga setiap kali mendapatkannya.

                Aku sudah lupa rute ke Pasar Klewer setelah turun dari Bus. Maklum saja, aku terlalu kecil untuk mengingatnya. Lha wong sekarang saja, meski sudah berkali-kali naik bus ke arah yang sama, aku tetap salah alamat. Sukses nyasar tanpa kuhendaki hehe… Setelah sampai di Pasar Klewer, bapak lebih suka menggendongku meski aku sudah SD. Mungkin takut anaknya hilang karena berapa kali pun kami mengunjunginya, Pasar Klewer selalu ramai. Padat sekali.

                Ibu selalu hafal letak toko langganan baju yang menjual dengan harga murah. Dengan gesit menawar lagi, dan memilih beberapa model baju. Mulai dari baju anak hingga baju orang dewasa. Dan aku cukup diam, memerhatikan, dan memintaku jatahku setelah ibu selesai belanja. Jatah yang kuinginkan bukanlah barang mahal. Aku suka sate yang lontongnya dibungkus plastik bening. Saat itu aku selalu merasa aneh dengan bungkus lontongnya. Di Ngawi, tak pernah kutemui hal semacam ini. ketika kutanya alasannya mengapa seperti itu, jawaban bapak singkat saja. Entah benar seperti itu atau sekedar pemikiran bapak saja.

                “Ngirit godong gedhang, Nduk. Neng Kutha, godong iku larang.” Menghemat daun pisang, Nak. Di kota, daun itu mahal.

                “Oh….” dan aku pun kembali makan sate dengan lahapnya. Setiap pergi ke Pasar Klewer, kami akan menjumpai penjual sate yang sama. Usia mbak penjual satenya masih muda. Dia berjualan dengan rinjing besar wadah lontong, sate, dan panci kecil berisi bumbu sate. Tempat bakar satenya juga kecil, jadi kami harus sabar menunggu jika ada beberapa pembeli lain yang sudah antri terlebih dahulu.

                Sering ke Pasar Klewer kulakan baju bareng bapak-ibu bukan berarti, aku bisa sering beli baju sesukaku. Ibu jarang membelikan meski aku sudah merengek. Harus hemat, demikian prinsip ibu. Berbeda halnya dengan bapak, jika aku suka sesuatu. Bapak langsung membelikannya, dua sekaligus. Satu untukku, satu untuk Sari. Dan selalu saja, motifnya kembar meski kami bukan anak kembar. Sebenarnya aku sudah protes lama ma bapak-ibu soal baju kami yang kembar. Semua serba sama, serba kembar. Padahal kami ingin punya baju yang beda. Enggak lucu kalau tiap pergi ke mana-mana karena wajah apalagi baju yang mirip, orang selalu menyangka kami anak kembar hehe…

                “Ben ora meri, Nduk.” Begitu selalu jawab ibu padaku, yang langsung mendapat persetujuan bapak dengan anggukannya, tanpa mengeluarkan sedikitpun kata-kata.

                Kegemaran bapak memutar gendhing-gendhing jawa di rumah, menimbulkan hobi baru untukku, aku suka menari. Hobi nari ini aku peroleh karena setiap datang ke acara pernikahan, selalu ada tarian jawa. Penarinya cantik-cantik, memakai baju yang bagus, gemerlap, seperti Wayang Orang yang diputar di TV. Maka selama seminggu aku pun menari sesuka hatiku, mengikuti irama gendhing jawa, dan bapak hanya tersenyum melihatku.

                Seminggu sukses menari, aku langsung dibelikan sampur (selendang nari) warna merah dari Pasar Gedhe Madiun. Seminggu masih giat menari, akhirnya ibu mendaftarkan aku les nari di Ngawi. Kalau tak salah, namanya “Sanggar Limpoeng”. Nama sanggar itu merupakan akronim dari nama suami-istri guru tariku. Melihat selendang indah Bu Poeng, aku kembali merengek ke ibu minta dibelikan sampur yang baru. Sampur yang lebih panjang dan ada manik-maniknya seperti punya temanku. Dan menurutku Pasar Klewerlah tempat yang tepat untuk membelinya haha….

                Kembali saat bapak-ibu kulakan, aku meminta dibelikan sampur terlebih dahulu sebelum belanja. Aku takut uang ibu habis duluan sebelum sampur impianku terbeli hehe…. Akhirnya aku mendapat sampur hijau dengan manik-manik warna emas di ujungnya. Lain kesempatan, aku juga kembali bersemangat ingin ikut ke Pasar Klewer karena gendewa. Gendewa adalah nama jawa untuk busur. Kala itu, aku sudah berlatih untuk Tari Wira Pretiwi. Tari ini menggambarkan tentang kegagahan seorang prajurit yang sedang berperang. Dan atribut yang harus dikenakan saat menari adalah gendewa dan anak panahnya. Sayangnya saat membeli gendewa aku tidak diizinkan ikut, mungkin karena aku sudah besar dan semakin meningkat pula keinginanku tiap kali ke sanaJ.

                Kunjungan terakhir bersama dengan  bapak-ibu, terjadi sebelum bapak sakit parah. Menjelang lebaran, aku dan adikku juga diajak untuk memilih baju lebaran. Sebelum ibu belanja, sepintas aku melihat baju putih seperti princess di salah satu toko. Baju princess itu dengan manisnya dipajang di bagian depan toko. Warnanya putih, dengan rok mengembang selutut, atasnya kain berwarna hitam dengan bunga warna emas yang melilit manis. Aku berdiri di depan toko dan meminta ibu membelikannya untukku.

                Ibu pun bertanya pada pemilik toko, dan harganya mahal menurut ibuku. Lima puluh ribu, itu harga terendah yang bisa disepakati setelah ibuku menawarnya. Saat itu sekitar tahun 1995/1996, jadi baju itu jelas-jelas mahal. Ibu membujukku untuk melihat yang lain dulu, barangkali aku tertarik pada baju lain dan membatalkan permintaanku yang satu ini. Tapi yang kuinginkan hanya itu saja, baju princess. Meski harusnya aku membeli baju muslim untuk lebaran, tapi aku bersikukuh memilih baju princess yang biasanya dipakai di acara pesta-pesta seperti di TV hehe….

                Setelah selesai belanja, akhirnya ibu memutuskan untuk membelikanku baju itu, baju princess yang harganya mahal. Sebaliknya adikku harus mengalah, meski sama judul baju princess. Baju adikku tak lebih dari 20 ribu saja hehe…. Sepulang belanja, aku selalu minta bapak dan ibu naik becak saja. Aku selalu suka model becaknya yang lain dari yang lain. Lebih unik dari becak yang di ngawi. Meski harus memakai 2 becak dan menghabiskan biaya lebih banyak untuk sampai ke terminal, agenda naik becak tak boleh terlewatkan.

                Melihatku mendekap kresek baju princess erat-erat, bapak hanya tersenyum sambil mengelus-elus kepalaku sembari berkata, “Nduk..nduk.” Haha… mungkin bapak berpikir, darimana kiranya sifat keras kepalaku itu menurun. Itulah kenangan terakhir bersama bapak dan ibu sewaktu ke Solo. Setelah bapak sakit, ibu tak pernah lagi belanja baju ke Pasar Klewer karena sibuk merawat dan mencari pengobatan bapak ke berbagai tempat. Terakhir kali baju princess itu kulihat saat aku lulus kuliah, karena sedari kecil tiap kali ibu ingin memberikan baju itu ke orang lain, aku selalu menolaknya. Aku ingin ibu menyimpan baju itu saja, yang lain boleh diberikan kecuali yang itu. Sesuai harganya, baju itu ternyata awet lebih dari 15 tahun hehe…

Mengingat hal itu rasanya ada sapuan angin yang sejuknya sampai ke hati, ada bahagia yang membekas, membuahkan rindu untuk selalu kembali, mengulang hal yang sama. Dan selalu saja kenangan itu bertumbuh melampaui waktu di hati yang masih menyimpan rindu:).

Hikari home, 23 Februari 2013

6:26

Note: Kangen, ingin ke sana lagi, menguji ingatan, dan mencari jejak yang menghilang dari waktuku:).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s