Amanah Kehidupan

Sejak sore tadi sewaktu naik bus dari Bekasi, tiba-tiba saya terpikir untuk menuliskan dua kata penting: Amanah Kehidupan. Apakah, Anda mengerti apa yang saya maksud? Arti dari kata amanah adalah kepercayaan. Kepercayaan yang dititipkan oleh Tuhan kepada kita dalam kehidupan ini. Itulah yang saya maksud dengan amanah kehidupan. Kepercayaan dalam hidup yang dititipkan Tuhan pada kita dalam segala aspek kehidupan.

 Foto3448

Banyak amanah yang dititipkan Tuhan pada kita. Namun, ada satu aspek yang terkait dengan orang lain, yakni menyangkut keselamatan jiwa orang lain. Penjagaan keselamatan setiap nyawa manusia tidak hanya bergantung pada satu manusia, tapi juga manusia lain yang berada di lingkungan tersebut. Saling menjaga dan melindungi, itulah salah satu pesan Tuhan kepada kita. Sebagai umat yang dipercaya tinggal di dunia. Namun entah mengapa, perilaku dalam keseharian tidak menunjukan usaha menjaga keselamatan diri kita dan orang lain yang berada di sekitar.

Sebenarnya sudah ada usaha untuk menjamin keselamatan setiap orang. Ada berbagai macam peraturan yang dibuat guna menjamin keamanan dan keselamatan setiap orang. Misalnya, petunjuk penggunaan suatu barang, tata tertib lalu lintas jalan, maupun berbagai tanda bahaya bencana alam dan latihan dalam menghadapi situasi darurat yang terjadi sewaktu-waktu. Jika semua peraturan dan usaha menjamin keselamatan ini sudah ada, mengapa masih banyak terjadi peristiwa yang mengakibatkan manusia kehilangan nyawa, khususnya korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas?

Adakah jawaban yang bisa Anda berikan selain itulah takdir yang diberikan Tuhan, sudah habis waktu yang diberikan Tuhan untuk hidup? Tiba-tiba saya terpancing untuk membahas keselamatan jiwa ini dari sudut pandang yang berbeda:). Peraturan tentang lalu lintas sudah ada, namun tampaknya kesadaran untuk menjalankan peraturan tersebut belum tertanam dengan kuat di benak banyak orang. Sering saya lihat sewaktu naik Bus Trans Jakarta, ada mobil dan motor yang menggunakan jalur khusus Bus Trans Jakarta. Kendaraan yang ngebut di jalan dan menyalip tanpa memerhatikan kendaraan lain pun sangat memungkinkan terjadinya kecelakaan. Kejadian-kejadian tersebut merupakan hal lumrah yang sering kita lihat bukan? Pelanggaran lalu lintas yang dilakukan secara berjamaah hehe….

Kejadian memprihatinkan yang saya alami belakangan ini adalah perilaku supir bus yang membahayakan penumpang. Entah ini merupakan perilaku yang secara sadar ia lakukan atau bukan. Kejadiannya saat saya pulang dari Bekasi ke Terminal Kampung Rambutan. Itu adalah pengalaman pertama saya naik bus dari Bekasi ke Kampung Rambutan. Saya diturunkan persis di pinggir jalan, tidak masuk ke Terminal Kampung Rambutan. Saya tidak tahu apakah bus tersebut memang sejak dari dulu tidak pernah masuk ke Terminal Kampung Rambutan atau tidak. Pastinya, saya tidak diturunkan di dalam terminal sebagaimana mestinya.

Berhubung itu adalah kali pertama saya ke Terminal Kampung Rambutan, tentu saja saya bingung. Saya tidak melihat adanya terminal. Namun, kondektur bus sudah menyuruh saya turun. Untungnya ada beberapa orang yang turun dari bus selain saya. Saya pun mengikuti mereka karena tidak tahu harus berjalan ke mana selanjutnya. Hal yang membuat saya kaget adalah orang-orang tersebut melompati pagar pembatas jalan menuju jalan setapak di bawah jalan raya di mana kami diturunkan.

Orang-orang tersebut seakan sudah terbiasa dengan hal tersebut. Mereka melompati pagar pembatas jalan dengan santainya, dan menuruni jalan setapak yang bersih dari rumput. Tampaknya jalan setapak tersebut memang sering dilalui oleh orang-orang. Karena betul-betul tak mengetahui di mana letak terminal tersebut, saya pun mengikuti aksi mereka hehe…. Saya sampai harus berjinjit karena pagar pembatas jalan tersebut cukup tinggi untuk saya. Geli, heran, sekaligus merasa bersalah karena saya merasa telah melanggar peraturan lalu lintas. Apalagi semester ini kebetulan saya mengajarkan materi tanda lalu lintas kepada anak-anak kelas 4 dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Aih, tidak terkira sedihnya hati saya mengingat hal itu:).

Dalam gerimis sore, saya berusaha berjalan dengan hati-hati. Jalan setapak tersebut tentu saja licin karena tanah merah terkena air hujan. Apalagi jalannya menurun cukup curam. Saya pun bertanya pada mbak yang ada di depan saya untuk menyingkirkan rasa penasaran.

Jawaban yang saya terima sungguh membuat kaget, “Memang biasanya lewat sini. Bus enggak masuk terminal, Mbak.”

Saya pun hanya bisa menganggukkan kepala dan memercepat langkah supaya tidak ketinggalan orang-orang di depan saya. Itu adalah pengalaman pertama saya. Pengalaman kedua, saya alami hari ini, hampir sama kejadiannya. Yaitu, diturunkan di pinggir jalan. Saya berangkat dari Tangerang menuju Bekasi lewat Kebon Jeruk. Saya naik bus arah Karawang yang katanya lewat terminal Bekasi. Sebelum saya naik, kembali saya bertanya pada kondektur bus tersebut, untuk menanyakan tujuan saya, Terminal Bekasi.

“Pak, lewat Terminal Bekasi?”

“Lewat, udah naik aja.”

Saya pun naik dan berusaha menyakinkan diri, ini bus yang tepat:). Tapi apa yang terjadi, saat bus memasuki daerah Bekasi Timur. Kondektur bus menyuruh saya maju dan bersiap turun. Saya kembali menegaskan bahwa tujuan saya adalah Terminal Bekasi bukan Bekasi Timur. Namun jawaban yang saya terima bertolak belakang dengan pernyataan awal kondektur tersebut. Saya disuruh turun di Bekasi Timur karena bus tidak masuk terminal. Saya disuruh naik angkutan umum lagi. Bahkan oleh supir bus tersebut saya diberi petunjuk untuk melewati jalan setapak yang ada di pinggir jalan untuk naik kendaraan berikutnya.

Saya pun hanya bisa terdiam dan turun dengan perasaan tak menentu. Untungnya lagi, ada beberapa pemuda yang juga turun. Saya ikuti mereka dari belakang. Kami berjalan melewati jalan setapak dan jalan yang saya lewati adalah tempat pembuangan sampah. Aih… ini sungguh di luar dugaan saya. Setelah menaiki jalan tersebut, saya pun berganti angkutan umum menuju Terminal Bekasi.

 Foto3477

Sewaktu pulang menuju Jakarta Selatan, sebenarnya saya ragu untuk naik bus ke arah Kampung Rambutan. Tapi ada yang berpesan pada saya untuk tidak turun di Terminal Kampung Rambutan. Saya diminta turun di Pasar Rebo supaya lebih aman. Mendengar hal itu, saya merasa senang. Karena bagaimana pun juga lebih cepat sampai di rumah jika melewati Kampung Rambutan daripada daerah Grogol maupun Blok M.

“Pasar Rebo macet, enggak lewat Pasar Rebo. Turun aja di Kampung Rambutan,” mendengar hal itu saya turut panik. Padahal sekali lagi, sebelum menaiki bus tadi saya sudah bertanya apakah bus akan lewat Pasar Rebo. Supir pun mengiyakan, oleh karena itu saya naik. Setelah pengumuman dari kondektur bus tersebut, banyak penumpang berdiri dan bersiap turun. Namun ibu yang duduk di samping saya menahan dan memberi nasihat agar tetap turun di Pasar Rebo saja. Meski khawatir, saya pun menurut. Saat melihat banyak penumpang diturunkan di tengah jalan, ada seorang ibu-ibu yang protes kepada supir bus.

“Pak… pak… bahaya ini, kok menurunkan penumpang di tengah jalan? Ini melanggar peraturan namanya. Pak, Bu, jangan turun. Nanti bahaya kalau ada mobil lewat, Anda bisa tertabrak di tengah jalan.” Seru ibu berbaju hijau berusaha menahan pasangan suami istri yang berusia lanjut turun dari bus.

Supir yang mendengar protes ibu tersebut diam saja. Dia pun melanjutkan aksinya, membawa bus dengan kecepatan tinggi. Ketika ada angkutan umum yang berhenti mendadak di depan bus, secara otomatis supir mengerem mendadak. Semua penumpang kaget, dan beberapa penumpang yang berdiri terjatuh ke depan karena bus berhenti mendadak. Sang ibu berbaju hijau itu pun kembali mengeluarkan pernyataan dengan nada miris.

“Pak… pak… bawa penumpang kok kayak bawa sapi, sih? Astagfirullah… pak… pak… kok enggak manusiawi sekali, sih?”

Mendengar hal itu, aku jadi teringat pengalaman saat inisiasi fakultas di Jogja. Teman satu angkatan beserta panitia dinaikan ke dalam beberapa truk hehe…. Kami pun berdiri dalam posisi yang tidak seimbang mengikuti pergerakan truk. Meliuk ke kanan dan ke kiri. Tapi anehnya, teman-teman justru berteriak kegirangan menikmati pengalaman pertamanya naik truk.

Sewaktu turun dari truk, ada yang nyeletuk, “Aku jadi tahu gimana perasaan Sapi saat naik truk, deh. Kasihan ya mereka, apalagi enggak bisa pegangan kayak kita yang punya tangan.”

Supir bus tersebut diam saja. Mungkin saja dia sudah tidak peduli lagi pada ucapan ibu tersebut. Sebenarnya apa yang membuat para supir berlaku demikian? Apa karena mengejar setoran sehingga harus berkejaran dengan waktu? Apakah ini alasan logis yang menjadi alibi mereka. Tidakkah mereka sadar, bahwa mereka juga punya tanggungjawab untuk membawa setiap penumpang sampai di tempat tujuan dengan selamat?

Bapak supir dan bapak kondektur yang budiman, tahukah kalian, setiap penumpang yang naik kendaraan telah memercayakan keselamatan mereka pada kalian? Jika setiap penumpang turun dengan selamat di tempat tujuannya, kalian juga akan beroleh pahala dari Tuhan. Tuhan akan menilai setiap upaya hambanya yang berusaha menjaga setiap kehidupan dengan layak. Setiap kehidupan yang kembali kepada keluarganya dengan selamat tentu akan menyampaikan terimakasih yang mendalam pada kalian. Jika tidak mendapat ucapan terimakasih dari penumpang. Tuhan benar-benar tahu bagaimana cara membalas kebaikan kalian. Inilah amanah kehidupan yang wajib saling kita jaga, satu sama lain. Hamasah!!

 Foto3478

Hikari Home, 25 Maret 2013

0:58

Note: Latihan menulis:).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s