Susahnya Jadi “Artis”

Mendekati deadline lomba nulis cerpen dari Majalah Bobo, dari semalam aku jadi heboh. Mulai heboh mikir ide cerita, lihatin syarat-syarat sampai heboh lihat koleksi fotoJ. Maklum, syarat-syaratnya agak ribet, pakai surat keterangan dari sekolah segala, harus di cetak, dan pakai foto! Ahay, kalau soal foto, berhubung koleksi sudah melimpah, maka aku tak berpayah-payah foto lagi hehe… Tapi siang ini, mendadak ada seorang guru yang merubah niatku, Bu Eni minta difoto!

“Jeng, fotoin dong, buat dikirim ntar. Dirimu udah foto belum?”

“Kalau soal foto, saya kan banyak koleksi Bu.” Jawabku dengan nada bangga wkwk…

“Oke, dirimu aja ya, fotoin aku.”

“Eh, iya Bu, nanti ya, saya jaga wudhu dulu.”

“Sip.”

Seusai jaga wudhu, aku pun ke kelas Bu Eni ingin makan siang sekaligus melakukan pemotretan. Eh, tak dinyana foto Bu Eni itu susah sekali. Bukan karena Bu Eni yang minta gaya ini-itu, tapi anak-anak yang ngerubungi Bu Eni banyak sekali. Semua ingin mejeng, semua ingin difoto!

“Eh Faraby, bentar dong tangannya. Ini mau foto Bu Eni sekali aja, habis itu ntar Ibu foto kalian ramai-ramai deh, ma Bu Eni.” Seruku sembari mengambil posisi. Tapi yang namanya anak-anak hem. Malah semakin lama, semakin ramai ngerubungi.

“Eh Bila, masya Allah, ntar deh, ya.” Bu Eni ikut berseru berusaha menenangkan anak-anak yang sibuk pasang aksi di depan kamera.

“Astagfirullah Rafif, ini. Ntar ya,” Dan aku malah sibuk ber-istighfar melihat ulah anak-anak.

Terakhir kali aku menyeru, “Aduh kalian ini, jangan halangi karier Bu Eni, dong. Mau dikirim ke Majalah Bobo nih!”

Mungkin istighfar gurunya ampuh kali, aku berhasil jepret di saat-saat terakhir meskipun seadanya. Ketika aku turun di tangga, aku melihat Bu Eni lagi. Kuserukan lagi ideku yang baru.

“Bu En, di sini aja nih, ada display bagus. Mumpung enggak ada anak-anak haha….”

Dan adegan selanjutnya adalah adegan jepret-jepret di samping display Pohon Berkarakter yang dibikin Syamsi. Setelah foto Bu Eni, aku kembali melihat display lainnya yang tak kalah menarik. Display yang dibikin Eko. Wah, kali ini aku wajib foto! Haha…. setelah Bu Eni, foto lagi di dekat Angsa yang lebih keren. Aku ingin berfoto berdua bersama Bu Eni. Ketika anak-anak melintas di depanku, segera kupanggil mereka.

“Eh, Faraby sini deh. Tolong fotoin Bu Eni ma Bu Kinur ya? Gini posisinya, pokoknya bangaunya di tengah ya?” Aku mengajari Faraby dahulu posisi yang aku inginkan.

“Itu bukan bangau Bu, itu Angsa.” Potong Faraby cepat.

“Ah, sama aja. Pokoknya ntar posisinya gini ya?”

Aku dan Bu Eni pun segera mengambil posisi. Tapi, masya allah, Faraby lama banget fotonya. Setelah jadi, hasilnya tak sesuai dengan yang kuinginkan. Pas bagian mataku jadi silau karena memakai kacamata. Akhirnya aku minta difoto lagi tanpa kacamata. Tapi Faraby keburu kabur haha…. Lalu terlihatlah mangsa selanjutnya. Ada Tutan yang masih asyik minum freshtea di tangga dan Arkaan.

Melihatku mendekat, Tutan segera menebak, “Pasti Bu Kinur minta difoto, kan?”

“Ah, Tutan, tahu aja isi hati Bu Kinur haha….”

Meski sudah diminta fotoin, Tutan masih asyik minum freshtea. Aih, namanya juga anak-anak. akhirnya Arkaan bersedia menggantikan Tutan. Berhubung Arkaan lebih pendek, aku jadi bingung.

“Arkaan, kamu sampai kan? Ketinggian enggak kalau segini?” Tanyaku pada Arkaan sambil memosisikan kamera.

“Enggak Bu, sampai kok.”

Dan aku pun tersenyum bahagia. Adegan foto jadi sukses. Cheers!

Mungkin Bu Eni capek aku foto mulu kali, jadi dia langsung pergi setelah foto bareng aku wkwk… Berhubung aku baru mulai pemotretan, aku masih semangat ingin difoto haha….

“Arkaan, fotoin Ibu sendirian ya?” Pintaku padanya sekali lagi.

Tutan yang sudah selesai minum pun menghampiriku, “Udah Bu, sini Tutan fotoin aja.”

Ketika aku sudah bersiap pasang aksi dekat Bangau. Eh, anak-anak langsung ngerubungi lagi dengan adegan konyol mereka. Ampun, Gustiiii…………..! jadilah fotoku adalah adegan bersama anak-anak. Enggak ada pemotretan personal wkwk…. Sambil melihat hasil foto, yang lagi-lagi masih dikerubungi anak-anak, aku mengeluh.

“Ah, kalian ini mentang-mentang Bu Kinur cantik aja, kalian maunya foto bareng Bu Kinur mulu.” Ucapku serius.

Dan segera saja anak-anak yang ada di sekelilingku langsung kompak, koor bersama, “Haaaaa…. Apa?”

Melihat ekspresi mereka aku jadi geli haha…. Gini ini, susahnya jadi artis di sekolah wkwk…. Kalau mau narsis secara total kudu nunggu anak-anak pulang wkwkk….

Sekolah Angin, 11 April 2013

16:13

Note: Tabah ya Kin:) Hamasah:). Tutan, Rio, ma Arkaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s