Rindu Mami

Aq: “Sayang, kamu ditinggal mami sejak kapan sih, Ibu Kinur lupa.”
B: “Sudah bertahun-tahun yang lalu.”
Aq: “Eh, perasaan sejak kita bikin topeng deh. Dari Senin ya?”
B: “Iya, katanya besok Mami pulang.”
Aq: “Kan masih ada Papi di rumah?”
B: “Sama saja. Papi juga kerja pulang malam. Tapi Mami lebih parah sering pergi. Papi hampir berhenti bekerja karena Mami sering kerja.”
Aq: “Sayang, enggak apa-apa ya. Kalau kangen Mami kan bisa telepon. Papi sama Mami kerja kan demi kamu juga biar bisa sekolah terus.”
B: “Lalu apa aku harus diurus pembantu?”
Aq: “Iya.. ya.. kamu benar.” Perkataannya membuatku terdiam. Dia mimisan lagi. Dia mimisan setiap kali badannya panas. Saat mimisan dia memberitahuku bahwa dia mimisan dan atas inisiatif sendiri mengambil tisu dari toilet untuk menyumbat hidungnya.
Aq: “Sayang, kalau kamu enggak mau Mami kerja, bilang dong ke Mami biar Mami berhenti kerja dan merawat kamu di rumah.”
B: “Aku sudah pernah mengatakannya dan Mami memberiku ‘pujian’.”
Aq: “Apa maksudmu dengan pujian?”
B: “Mami bilang, pilih mami berhenti kerja dan aku tidak sekolah atau pilih Mami kerja dan aku naik kelas 5.”
Aq: “Sayang, itu bukan pujian namanya. Tapi mami memberimu pilihan. Yang sabar ya sayang, Papi-Mami pasti sangat sayang ma kalian. Ntar pulang ke rumah langsung istirahat ya, biar cepat sembuh.”

Dan aku pun terdiam tanpa bisa berkata-kata lagi. Dalam hidup mereka yang kupandang berlimpah, aku merasa sedih padanya. Kasih sayang selalu menang di atas materi. Anak kecil tak mengerti makna materi. Mereka hanya mengenal arti kasih sayang di hidup mereka.
Aq: “Sayang, kamu ditinggal mami sejak kapan sih, Ibu Kinur lupa.”
B: “Sudah bertahun-tahun yang lalu.”
Aq: “Eh, perasaan sejak kita bikin topeng deh. Dari Senin ya?”
B: “Iya, katanya besok Mami pulang.”
Aq: “Kan masih ada Papi di rumah?”
B: “Sama saja. Papi juga kerja pulang malam. Tapi Mami lebih parah sering pergi. Papi hampir berhenti bekerja karena Mami sering kerja.”
Aq: “Sayang, enggak apa-apa ya. Kalau kangen Mami kan bisa telepon. Papi sama Mami kerja kan demi kamu juga biar bisa sekolah terus.”
B: “Lalu apa aku harus diurus pembantu?”
Aq: “Iya.. ya.. kamu benar.” Perkataannya membuatku terdiam. Dia mimisan lagi. Dia mimisan setiap kali badannya panas. Saat mimisan dia memberitahuku bahwa dia mimisan dan atas inisiatif sendiri mengambil tisu dari toilet untuk menyumbat hidungnya.
Aq: “Sayang, kalau kamu enggak mau Mami kerja, bilang dong ke Mami biar Mami berhenti kerja dan merawat kamu di rumah.”
B: “Aku sudah pernah mengatakannya dan Mami memberiku ‘pujian’.”
Aq: “Apa maksudmu dengan pujian?”
B: “Mami bilang, pilih mami berhenti kerja dan aku tidak sekolah atau pilih Mami kerja dan aku naik kelas 5.”
Aq: “Sayang, itu bukan pujian namanya. Tapi mami memberimu pilihan. Yang sabar ya sayang, Papi-Mami pasti sangat sayang ma kalian. Ntar pulang ke rumah langsung istirahat ya, biar cepat sembuh.”

Dan aku pun terdiam tanpa bisa berkata-kata lagi. Dalam hidup mereka yang kupandang berlimpah, aku merasa sedih padanya. Kasih sayang selalu menang di atas materi. Anak kecil tak mengerti makna materi. Mereka hanya mengenal arti kasih sayang di hidup mereka.

 

Sekolah Angin, 26 April 2013

14:32

Note: Ini hari kelima dia merindukan Maminya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s