Melewati Rindu

“Rindu selalu berbayang harapan dan bermuara pada keyakinan yang teguh. Maka, lekatkanlah rindumu pada keyakinan yang benar hingga harapan yang kau tuai searah keyakinan pada Tuhanmu.”

Ada banyak kata berjejak di belakang bayang ketika aku mengucapkan rindu pada angin. Ada banyak ruang tersembunyi yang melingkupi cahaya kehidupan. Ada banyak deru kemarahan ketika aku merasa rindu, tanpa bisa berbuat apa-apa… Karena rindu yang tertahan, kusembunyikan di balik tangis yang tak kubiarkan jatuh. Itulah derak rindu lalu… Derak rindu yang membuatku belajar tentang sesuatu, harapan dan keyakinan.

Pertanyaan dan harapan menggantung di udara. Kegamangan akan jejak yang harus ditapak pun menuai banyak kemarahan. Marah karena ada banyak keraguan untuk melangkah pada yang benar. Marah pada diri karena mencari-cari alasan, pembenaran berbuat salah hingga akhirnya tiba waktu untuk memilih. Ini bukan saja soal    merindu pada sesuatu. Ini masalah prinsip kehidupan.

Betapa banyak pengorbanan(mungkin juga keegoisan) yang melekat sepanjang perjalanan. Betapa banyak prasangka dan dosa yang mengiringi keputusan-keputusan tanpa tanggung jawab. Setelah menimbang semua dalam keputusasaan, maka tibalah aku pada titik itu, keyakinan. Harapan akan terus melekat pada keyakinan yang benar dan tidak terjadi sebaliknya. Harapan yang benar hanya ditempatkan pada keyakinan yang semestinya. Bukan meletakkan harapan pada keegoisan….

Setiap dari kita, mungkin merasa menjadi orang yang paling malang, paling menderita, paling teraniaya, dan terjebak dalam situasi serta takdir yang tak dikehendaki. Tapi, sudahlah! Hanya manusia tak berakal yang selalu mencari pembenaran diri dan mencari-cari alasan untuk dikasihani! Seberapapun besarnya penderitaan yang kita rasa, tak ada apa-apanya dibanding dengan perjuangan para utusan Allah dalam mengemban amanah dakwah!

Tak selayaknya kita merengek-rengek meminta kekuatan untuk hal-hal yang tak semestinya. Mintalah kekuatan pada Allah untuk hal-hal yang besar, untuk menempatkan dunia dan akhirat pada tempat yang semestinya. Mintalah kebaikan-kebaikan menghiasi banyak ruang di hidupmu… Dan rasakanlah rindu itulah kekuatanmu, rindu menyeberang ke tempat abadi, dan menghindari murka-Nya.

Rindu itu melekat pada setiap perjuangan ke arah kebaikan. Bukan malah sebaliknya, melekatkan rindu pada keburukan. Semoga Allah senantiasa memelihara kita, menempatkan jiwa kita pada penjagaan-Nya, dan memberikan kasih sayang-Nya pada setiap harapan yang kita semai dengan benih ketulusan. Semoga….

Untuk kalian para perindu! Hei, ada jeda terbaik dalam kehidupan ketika kalian menemui kata rindu: memilih. Pilihlah rindumu hanya pada kebaikan… Karena rindu pada kebaikan hanya berakhir pada kebaikan.. Jika rindu berbuah keburukan itulah ujianmu:)

Lewati saja batas rindumu, biar segera terbayar apa yang terasa kurang di hidupmu… Lewati saja batas rindumu, biar kau tak mencari jejak pada setiap bayang yang tertinggal…. Lewati saja rindumu, biar kau tak menggantungkan tanya pada gerimis pertama yang kau sentuh… Lewati saja rindumu, biar udara yang kau hirup hanyalah bahagia!

Duka tak pernah menjadi musim bagi anak adam. Duka hanyalah hembusan udara yang harus kau lewati biar kau tahu arti bersyukur!

Sekolah Angin, 24 Juni 2013

13:14

Note: Aku melalui rindu dengan segenap keyakinan, ada kebaikan di balik keburukan yang kutemui… Aku harus memilih dan memihak keyakinan yang benar biar rinduku tak berakhir dengan dosa belaka:) Hamasah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s