Komitmen Mencintai

Adzan Isya dari Mushola yang terletak di tepi sungai sudah berakhir. Aku segera bangkit dari tikar dan mengambil wudhu, bergantian dengan suamiku. Segera kami sholat berjamaah seperti biasanya, kebiasaan yang terbangun sejak hari pertama pernikahan kami. Lepas sholat Isya, segera aku duduk di samping ibuku yang menderita stroke. Menemaninya berbicara agar ia tak merasa kesepian. Berbincang dengannya sedikit banyak mengurangi lelah yang kurasakan, juga sesak yang kadang tak bisa kuhindari, kesedihan dan rasa tak berdaya yang begitu menghimpit. Oh ya, panggil saja aku dewi. Dewi nama yang disematkan oleh bapakku sesaat setelah melihatku lahir ke dunia ini. Dewi, satu kata saja, sesederhana namaku, sesederhana itu pula kehidupan yang kini kujalani.

Setiap pagi aku bangun sebelum adzan shubuh berkumandang, aku membantu suamiku menempatkan tempe ke dalam rombong di atas motor. Oh ya, suamiku adalah pedagang tempe dari sebuah desa yang terkenal dengan industri tempe dan kripiknya. Aku membantu suamiku membuat tempe mulai sejak pagi hingga sore. Kami memulai usaha ini hampir setahun yang lalu, beberapa bulan setelah pernikahan kami.

Aku menikah di usia yang terbilang muda, 23 tahun, 3 hari setelah aku menjalani sidang skripsi di Yogyakarta. Dengan keterbatasan yang ibu miliki, berkat bantuan kakakku, akhirnya aku berhasil meraih gelar sarjana dari Yogyakarta. Sesuatu yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, dengan kondisi penghasilan ibu dari warung hanya cukup memenuhi kebutuhan makan saja. Sekolah merupakan berkah bagiku, kakak laki-laki satu-satunya rupanya tak ingin aku mundur dalam hal pendidikan. Ia begitu gigih bekerja dan menyisihkan penghasilannya demi keberlangsungan pendidikanku setelah bapak meninggal.

Aku cukup rajin belajar, tidak terlalu menonjol, dan tidak pula terlalu jelek di kelas. Sejak SD hingga kuliah, aku tekun belajar. Namun, rupanya ketekunanku tak berbuah sebaik harapan dalam doa-doaku ketika aku mulai berkomitmen mencintainya. Namanya, Hasan, laki-laki yang kukenal sejak aku masih kecil. Dia bahkan pernah menjadi guru ngajiku sewaktu aku belajar mengaji di TPA mushola.

Menginjak remaja, aku mulai merasakan kegembiraan setiap melihatnya. Jiwa mudaku menyisipkan kata cinta dengan begitu manisnya di hidupku. Aku mencintainya juga seperti ia mencintaiku. Kami menjalin hubungan sejak aku SMP. Ibuku melarang, menyuruhku rajin belajar saja. Tapi, bagaimana aku bisa mengabaikan cinta dengan begitu mudahnya? Aku tak menyerah. Putus sambung dalam hubungan kami pun pernah kami lewati, tapi kami begitu yakin dengan kata cinta. Cinta bisa memudahkan segala kesulitan, bak hujan mengakhiri gersang kemarau. Aku tetap mencintainya.

Aku adalah bungsu dari dua bersaudara, dan satu kakak laki-lakiku begitu menyayangiku. Dia terus menyemangati supaya terus fokus terhadap sekolahku. Harapannya, dengan pendidikan yang kumiliki, aku mampu keluar dari himpitan kesusahan hidup yang kami jalani sejak kecil. Ia terus menjagaku sepanjang kemampuannya. Aku kagum padanya, aku menyayanginya, dan begitu mengerti harapannya padaku. Tetapi, aku tetap mencintai Hasan, cinta pertama yang tak bisa kulepaskan dengan mudah.

Hasan adalah pemuda desa sebagaimana umumnya. Sehari-hari dia membantu orang tuanya menjual tempe dan membuat tempe di rumah seperti kebanyakan laki-laki di desa. Dia baik dan begitu mengerti aku. Pendidikannya hanya sampai STM saja, itu sudah merupakan jenjang pendidikan tertinggi di desa kami. Maklum saja, rata-rata pendidikan anak di desa kami hanyalah sampai SMP saja. Jarang yang meneruskan hingga SMA bahkan kuliah menjadi hal langka. Aku sudah terbiasa melihat anak-anak yang lulus SD dinikahkan oleh orang tuanya, terutama anak perempuan. Jadi wajar saja, jika aku menapaki jenjang pendidikan hingga mencapai sarjana, semua tetangga menganggapnya akan sia-sia karena aku adalah perempuan.

Hubungan di antara kami berdua berjalan wajar, tak mengalami halangan yang berarti meskipun aku dan dia memiliki banyak perbedaan. Aku si bungsu, bertemu dengan dia sulung dari dua bersaudara. Aku menganggapnya kakak yang baik. Figur kakak yang kurindukan kutemukan padanya. Sejak kecil, kakakku bekerja di kota dan jarang sekali pulang menjengukku dan ibu. Perbedaan tingkat pendidikan antara aku dan dia tak menjadi masalah bagiku, bahkan perbedaan umur 6 tahun di antara aku dan dia juga bukan masalah serius. Masalahnya terletak pada restu keluarga. Meskipun keluarganya menyetujui, ibuku pun telah luluh padanya, tapi kakakku begitu berkeras menentang.

“Perbedaan tingkat pendidikan di antara kalian akan memengaruhi pola pikir kalian. Kalau kamu bisa berpikir jauh ke depan, belum tentu dengan dia. Sayang dengan pendidikan yang sudah kamu raih sekarang kalau memaksa menikah dengannya. Setidaknya tunggu sampai kamu bekerja dulu, baru menikah.” Itulah kalimat kakak laki-lakiku padanya ketika aku meminta restunya.

Bukannya aku tak menghargainya, menghormati jasa-jasanya, tapi aku tak bisa mengabaikan rasa cintaku begitu saja. Hasan sudah bersabar menungguku selama bertahun-tahun. Usianya semakin bertambah, dan keluarganya mendesaknya untuk segera menikah sebelum berumur 30 tahun. Hasan berjanji tidak akan menghalangiku mencapai karier sesuai dengan cita-citaku menjadi pegawai bank. Ya, pegawai bank, itu cita-citaku sejak kecil. Dengan tingkat pendidikan yang kuperoleh dan IPK yang tak mengecewakan, seharusnya aku mudah saja meraih cita-citaku. Tapi tunggu, aku mencintainya, dan mengatakan ya saat ia melamarku.

Aku melalui proses lamaran dan pernikahan secara sederhana, sesederhana kehidupan yang kujalani sejak kecil. Kakakku pun akhirnya merestuiku meski kecewa tetap membekas di wajahnya saat ia menyerahkanku pada laki-laki yang kucintai. Aku menikah dan merasa bahagia. Hatiku menjadi istimewa berkat kehadirannya di hidupku, aku resmi menjadi istrinya. Apalagi yang kukecewakan?

Keindahan masa pernikahan rupanya tak berlangsung lama sejak Hasan mengingkari janjinya, ia tak mengizinkanku bekerja. Ia memaksaku berada di rumah saja. Aku tak terima, semula aku bersedih dengan nasibku. Bagaimana mungkin aku meletakkan semua harapan dan cita-cita masa depanku begitu saja? Dia pemimpinku, entah mungkin karena ego aku tidak boleh melebihinya atau kasih sayangnya terhadapaku. Ia tetap tak mengizinkanku bekerja. Akhirnya aku berpasrah dan mulai menerima takdirku. Tidak lagi kubayangkan diriku memakai pakaian kantor dengan wajah gembira. Aku sekarang di rumah, menghadapi kenyataan hidup. Aku berusaha menegarkan diri dan berkomitmen mencintainya meski kekecewaanku terhadapnya satu persatu mulai timbul.

Tak berapa lama sedih, rupanya Allah menghiburku, mengirimkan hadiah terindah-Nya di hidupku, ada janin di rahimku. Aku begitu bahagia, begitu juga dengan Hasan. Kami mulai merancang mimpi-mimpi kembali. Kami menata hidup sedari awal sesuai dengan kemampuannya, membuat tempe. Awalnya berat bagiku, harus bekerja keras seperti membakar kayu di tungku untuk memasak kedelai, tapi aku bertahan. Ada bayi mungil penyemangatku. Ibu juga senantiasa menghiburku. Aku menerima semua konsekuensi dari komitmenku sejak aku mencintainya, sejak aku menerima lamarannya, dan sejak aku menikah dengannya. Aku seorang istri yang harus menuruti kata-kata suamiku. Aku ingin beroleh Surga dari ridho-Nya terhadapku.

Bulan demi bulan kulalui, sekarang satu bulan menjelang kelahiran bayiku. Calon jabang bayiku laki-laki dan ia janin yang sehat. Berita ini membahagiakanku, tapi bagaimana dengan masa depannya kelak? Kehidupan kami dari menjual tempe tidak cukup untuk menutupi biaya produksi tempe yang baru kami rintis. Aku begitu khawatir terhadap persiapan kelahiran bayi pertamaku. Ada begitu banyak andai-andai di hidupku. Ada kecewa dan sesal yang membayangiku, ada rasa bersalah dan ketakutan yang tak bisa kulenyapkan begitu saja.

Andai aku bekerja dahulu, baru menikah dengannya, mungkin kehidupan kami tak sesulit ini. Dengan perut yang besar, aku masih harus mengolah kedelai menjadi tempe sebelum shubuh hingga maghrib tiba. Bayiku terus aktif bergerak-gerak ketika aku mengangkat panci besar-besar berisi kedelai yang hendak aku masak. Aku merasa kesakitan, tidak kuat, tapi bagaimana lagi? Kami belum sanggup membayar orang lain memasak kedelai dari keuntungan menjual tempe. Aku tak punya pilihan lain selain tetap membantunya memasak kedelai.

Duhai anakku tersayang, anugerah Tuhan yang terindah, kini aku baru memaknai apa arti cinta yang sesungguhnya. Cinta bukan sekedar perasaan gembira ketika mendapatkan keinginan hati. Cinta juga komitmen untuk mencintai dengan kesabaran meski kecewa terus menerus tumbuh menyertainya. Tapi ibu tetap berkomitmen mencintainya, sebagaimana pertama kali kami bertemu. Ibu tetap mencintainya bagaimanapun keadaannya. Dan ternyata ada satu cinta yang ibu abaikan, cinta dari kakak ibu yang begitu besar yang dulu ibu anggap sebagai penghalang kebahagiaan.

Allah maafkan aku yang telah mengecewakan orang-orang yang terlebih dahulu mencintaiku, keluargaku terkasih.

Kini, aku menggenggam jemari tua ibu di tepi pembaringannya. Ia tetap menyemangatiku dalam ketidakberdayaanku. Duhai ibu, aku berjanji tak menjadi lemah karena kesulitan ini.

Dan untukmu, nak, akan ibu ajarkan makna mencintai dengan benar, kelak ketika saatnya tiba. Semoga kamu menjadi lebih bijak daripada ibu, semoga kamu lebih berbahagia daripada ibu, dan ibu akan terus berjuang untukmu, seperti yang pernah keluarga ibu lakukan untuk ibu. Kehadiranmu akan menguatkan setiap kelemahan yang ibu miliki. Ibu akan menjadi kuat demi kebahagiaanmu, bisikku pada jabang bayi di perutku.

28 September 2019

11:39

Note: Ada banyak makna cinta yang kupelajari, Ndoro Kakung:). Ini untukmu yang berjiwa besar dalam mencintai kami:).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s