Lelaki dari Seberang

 Ada yang datang jauh-jauh dari seberang pulau, hanya ingin menjengukku yang sedang sakit. Aku pikir, aku hanya bermimpi. Tapi itu sungguh terjadi, dia memandangku sambil tersenyum dan mendoakan kesembuhanku segera. Aku tersipu, malu, menahan bahagia yang meluap, berharap itu benar-benar bukan mimpi.

 

                Tunggu, Tuhan tak sedang bercanda, bukan? Ternyata itu cuma mimpiku saja. Ya, aku bermimpi, Pian, datang ke Jawa menemuiku. Duhai, pagi telah datang membawa pergi mimpiku. Ternyata itu benar-benar mimpi. Tapi mengapa, tiba-tiba aku bermimpi tentang Pian? Suhu tubuhku mulai turun, kuletakkan tanganku di dahi memeriksa keadaanku. Akhir-akhir ini aku kelelahan mengerjakan skripsi. Berusaha merampungkan tenggat waktu agar bisa wisuda segera. Dan, hei, Pian ternyata datang ke dalam mimpiku untuk pertama kalinya.

 

Kusebut dia Pian, meski itu bukan namanya yang sebenarnya. Pertama kali aku bertemu dengannya setahun yang lalu ketika temanku di asrama mengajakku menemuinya di kos Pian. Mbak Puspa ternyata hendak menyebarkan kuesioner skripsi yang dititipkan pada Pian. Lalu terjadilah percakapan singkat itu, yang ternyata membekas beberapa lama, mengusikku, dan membuatku sok jadi ustadzah.

 

                “Kuliahnya di Sadhar juga?” tanyanya padaku yang sejak datang ke kosnya hanya diam saja.

 

                “Iya,” balasku pendek, sembari menahan sakit di telingaku. Aku ikut Mbak Puspa juga karena dia bersedia mengantarku ke rumah sakit setelah membagi kuesioner skripsi.

 

                “Dulu, aku juga mau masuk sana, tapi enggak berani. Imannya belum kuat,” jelasnya padaku lagi.

 

                “Maksudnya?” Aku masih tak mengerti dengan ucapannya.

 

                “Soalnya di sana kan kampus Khatolik. Takut enggak kuat aja kuliah di sana, jadi akhirnya masuk Ahmad Dahlan. Padahal kan Psikologi di sana bagus juga.”

 

                Aku diam saja. Masih heran pada pernyataannya. Heran gitu, masak ada sih cowok yang takut kuliah di Sadhar? Aku aja, baik-baik aja kuliah di sana. Aku memilih diam, meski ada sejuta kata yang sebenarnya hendak kusampaikan padanya. Efek kuliah di pesantren tiap hari kali, jadi jiwa dakwahnya masih menyala kuat hehe… Setelah Mbak Puspa menyerahkan kuesioner, kami pergi menuju rumah sakit, mengantarku.

 

*****

                “Mbak, temanmu itu kok aneh sih? Masak kuliah di kampusku aja takut?” curhatku pada Mbak Puspa, sewaktu kami tiba di Pesantren. Aku dan Mbak Puspa, tinggal di Pesantren dengan tujuan belajar agama setelah seharian kuliah di kampus masing-masing. Kuliah di Pesantren dimulai sejak Maghrib sampai jam malam dan dimulai lagi sebelum shubuh. Dengan segala keasingan dan kejahilan kepribadian kami yang sebenarnya berjiwa pemberontak, ternyata kami merasa betah tunduk dalam segala aturan pesantren di utara Yogyakarta. Mungkin karena kami kuliah di jurusan yang sama, Psikologi, kami jadi cepat akrab. Mbak Puspa 3 tingkat lebih senior dariku.

 

                “Oh… yang kemarin itu, memangnya kenapa? Hanung emang gitu orangnya, Din.?” selidik Mbak Puspa padaku. Hanung dan Mbak Puspa merupakan teman satu angkatan, satu kelas di Ahmad Dahlan, jurusan Psikologi. Mereka berasal dari Kalimantan, Mbak Puspa berasal dari Kalimantan Selatan, sedangkan Mas Hanung berasal dari Kalimatan Timur.

 

                “Kayaknya ada yang perlu dilurusin deh, Mbak. Aku mau nasihatin Mas Hanung, kira-kira gimana ya? Biar dia enggak ngeri aja ama kampusku.”

 

                “Ya sudah, kamu tulis aja, ntar aku kasih suratnya ke dia.”

 

                “Apaaa? Nulis surat?”

 

“Iya tulis aja di surat, biar lengkap daripada sms ntar enggak jelas,” sarannya padaku.

 

Ya sudahlah, daripada ntar dikira minta no hape Mas Hanung, mending aku tulis surat aja deh, batinku kemudian. Aku pun memenuhi janjiku. Aku menulis sebuah surat untuknya, menjelaskan tentang konsep dakwah dan iman menurutku. Singkat saja, tak banyak, aku takut dikira sok jadi ustadzah. Beberapa hari kemudian Mbak Puspa memberikanku balasan suratnya padaku. Mas Hanung hari ini balik ke Kalimantan, dan dia beserta geng kebanggaannya mengantarnya ke bandara.        

 

“Pas dia mau pergi, aku godain dia Din, ‘Ciee yang dapat surat,’ dia cuma senyum aja Din terus kasih surat balasannya ke Mbak, nih suratnya,” goda Mbak Puspa kepadaku.

 

“Ih Mbak, apaan sih, Dina kan cuma kasih nasihat doang, enggak tulis yang macam-macam,” protesku pada Mbak Puspa.

 

Aku membaca balasan suratnya, berisi doa untukku yang berani menempuh kuliah di Sadhar semoga tetap istiqomah, memakai jilbab lebar, dan berdakwah di kampus, sesuatu yang tak berani ia lakukan. Ia pun mengutip sebuah pesan Aa Gym sewaktu ia mondok di pesantren Aa Gym di Bulan Ramadhan untukku. Aku menghela nafas, hanya sampai di situ saja komunikasiku dengan Mas Hanung kala itu. Semenjak Mas Hanung pulang ke rumahnya, aku tak pernah mendengar kabarnya lagi, karena aku tak tahu apa-apa tentangnya sampai suatu ketika aku menemukan friendster miliknya.

 

Aku add FS-nya, dan kuceritakan siapa diriku. Aku memberitahukan bahwa, akulah teman Mbak Puspa yang dulu sok menasihatinya. Tak ada jawaban sampai beberapa bulan kemudian, kuterima pesan kalau ia jarang membuka FS dan memberikan nomor HP-nya padaku. Sejak itu dimulailah kisah baru yang tak pernah kusangka sebelumnya akan terjadi.

 

Mas Hanung, ternyata menganggapku lebih tahu soal agama, dia banyak bertanya, dan meminta nasihatku tentang berbagai hal. Aku sudah mengatakan padanya, kalau aku juga baru belajar Islam lagi, dari awal. Meski begitu, dia tetap bersikeras bertanya, aku menjawab, dan kumenemukan sesuatu yang baru dari hidupnya. Dia mulai berkisah tentang pribadinya, termasuk kegagalan pernikahannya sebelumnya. Keinginannya untuk mengelilingi berbagai tempat yang belum pernah ia temui, keinginannya untuk bekerja di luar pulaunya, dan segala mimpi lainnya mulai kutahu tanpa aku bertanya padanya. Dia bertutur sendiri, sekali lagi tanpa kuminta.

Hari-hariku hampir tak pernah lepas dari kisahnya. Aku pun menganggapnya sebagai kakak, tak lebih, aku tetap bersemangat kuliah, dan melanjutkan hidupku. Aku pun menjulukinya, Pian, sebenarnya tak pas karena Pian adalah bahasa dari Kalimantan Selatan. Pian adalah panggilan penghormatan untuk orang lain, dan bagiku Mas Hanung adalah seseorang yang aku hormati sama seperti orang yang lebih tua lainnya.

 

Semua masih baik-baik saja, sampai suatu ketika aku menerima pesan pendek darinya, “Dina, gimana perasaanmu ke aku?”

 

“Maksudnya apa, Mas?” heran dengan pertanyaannya.

 

“Kan kita hampir tiap hari sms-an, aku takut kalau Dina ada rasa ma aku.”

 

“Enggak tuh Mas, biasa aja aku. Mas kan udah aku anggap saudara,” balasku ringan, memang begitu adanya yang kurasakan.

 

Tapi cobaan itu datang kemudian, berusaha menuntut kejujuran hatiku. Entah sadar atau tidak, aku mulai menyukainya tanpa aku sadari. Rasanya menjadi gembira ketika membaca pesan-pesan pendeknya yang semula terasa biasa saja. Rasanya bahagia sekali ketika mendapat puisi pendeknya di pagi hari saat aku masih terjaga. Rasanya semua jadi indah dan aku takut kehilangan semua yang kurasakan untuknya. Hatiku mulai berharap hingga mengantarku pada sebuah mimpi gila lainnya yang tak mungkin terjadi, aku bermimpi dia melamarku. Indah sekali, tapi itu hanya terjadi di mimpiku saja.

 

Beberapa bulan kemudian, Pian hendak datang ke Yogya kembali. Dia sedang berkeliling ke berbagai tempat impiannya dan singgah ke Yogya kemudian. Aku merasa bahagia sekali, apalagi dia mengatakan ingin bertemu denganku. Aku bahagia, tak sabar menunggu bertemu. Tapi takdir Allah terjadi di luar pengharapanku. Kami tidak jadi bertemu, dan di situlah aku merasa kesal setengah mati. Aku marah, lalu kuterimalah sebuah pesan yang meruntuhkan hatiku.

 

“Dina, sebenarnya aku mau ketemu kamu untuk bilang sesuatu. Selama ini aku merasa sikap kamu berubah, kamu mulai ada perasaan ke aku, ya?”

 

Oke, dunia serasa terbalik menghimpitku. Aku tak bisa mengelak. Aku tak bisa berucap apa-apa membaca pesannya. Yogya sedang diguyur hujan deras, aku sudah menunggu sejam untuk bertemu, tapi ternyata aku tak bisa menemuinya. Ada janji lain yang dipenuhinya, dan aku berpasrah dalam kecewaku.

 

“Aku cuma mau meluruskan masalah ini. Ini salahku juga kalau sampai Dina ada rasa ke aku. Salahku karena tak bisa menjaga jarak, dan kita berkomunikasi hampir setiap hari. Jadi wajar kalau ini terjadi. Aku minta maaf ya, Dina. Semoga Dina enggak salah paham, aku cuma anggap Dina adik saja.”

 

Itu pesan terakhir yang aku baca, aku tak menghubunginya lagi setelahnya. Aku menata hati, aku menyiapkan hatiku lagi yang hancur tak berbentuk. Aku kecewa. Mungkin benar apa yang dikatakannya, komunikasi kami yang hampir setiap hari ternyata membuatku dekat dengannya. Kalau begini, mau salahkan siapa? Aku membencinya. Benci sekali. Dia yang pertama menyisipkan kisah hidupnya padaku, dia yang selalu bertanya tentangku. Dia yang membuatku tertawa dan membuatku bersedih kemudian.

 

Aku berkisah pada Mbak Puspa tentang Pian. Mbak Puspa yang semula menguatkanku dan berkata aku serasi dengan Pian, berbalik menasihati agar melupakan. Tapi rasa cinta tak mudah dilupakan begitu saja. Aku memaafkannya, dan mulai menyadarkan posisiku hanya sebatas teman. Tapi tidak demikian dengan Pian, dia masih saja bersikap seperti biasa. Dekat, seakan tak terjadi apa-apa. Aku pun menjauh dengan sendirinya, meski Pian masih saja menghubungiku. Aku tak ingin terluka lagi.

 

“Din, Pian sebentar lagi nikah lho. Kamu enggak usah berharap lagi, ya. Dia sudah melamar orang lain,” petir itu kembali mengguncang hidupku.

 

Sejak menerima berita itu, aku tak lagi membalas setiap pesan Pian. Aku benar-benar berhenti menghubunginya. Sebulan kemudian saat aku mengirim kabar tentang kepindahanku ke kota hujan, dia segera membalas dan bertanya ada apa? Mengapa sama sekali tak berkirim kabar padanya selama ini? Aku hanya berkata baik-baik saja, berkata sibuk, dan alasan lain yang kubuat-buat agar benar-benar terlihat baik-baik saja.

 

Saat merasa rindu, aku membuka FB untuk sekedar melihat kabar tentangnya. Aku berusaha hidup dengan baik dan bahagia agar tak terlalu lama larut dalam kesedihan. Aku mulai bertanya-tanya benarkah yang dikatakan Mbak Puspa tentang acara lamaran itu? Jika benar demikian, mengapa setelah berbulan-bulan kemudian tak ada kabar pernikahan itu? Memberanikan diri, aku bertanya pada Pian tentang berita lamaran itu. Jawabannya membuatku merasa dibohongi. Tak ada acara lamaran, Pian pun tak juga hendak menikah dalam waktu dekat. Rupanya Mbak Puspa mengatakan hal itu padaku agar cepat melupakannya.

 

Aku marah, sungguh. Hal ini membuat hubunganku dengan Mbak Puspa menjadi renggang. Tapi apa mau dikata? Jika berita pernikahannya hanya kebohongan pun, nasibku juga tak akan berubah. Aku bukanlah orang istimewa di hatinya. Tak akan ada perubahan yang berarti. Bulan demi bulan berlalu dengan cepat, dan ketika aku iseng melihat FB Pian kutemui sesuatu yang aneh. Aku merasa ada seseorang yang sedang dekat dengannya. Dan benarlah dugaanku, ya, perempuan itu akan menjadi istri Pian beberapa bulan kemudian. Pian telah menjatuhkan pilihan. Aku semakin terluka tapi tetap mengucapkan selamat dan mendoakannya.

 

Dia menikah dan bahagia. Dia memiliki keluarga yang bahagia dan diperindah Allah dengan kehadiran anak pertamanya. Aku bahagia dan mendoakan kebahagiaan mereka. Aku berharap dia tetap diberi perlindungan Allah dan terjaga dari segala hal buruk yang mudah sekali mempengaruhinya. Komunikasi kami pun hanya terjalin saat Idul Fitri saja, tak lebih, aku tak ingin terjadi fitnah antara aku dengannya. Aku menghormati keluarganya.

Tahun demi tahun berlalu dengan cepatnya, hingga takdir seakan mempermainkan doa-doaku dahulu. Dulu, aku berharap sekali suatu ketika Pian bekerja di Jawa, dekat dengan keberadaanku. Dan hei, tahukah kalian sekarang? Aku dan dia berada di kota yang sama, dekat sekali di Jakarta. Aku hanya bertemu dengannya sekali saja, saat pertama kali mengenalnya, dan tak pernah bertemu lagi setelahnya. Tak pernah bertemu lagi, tidak juga sekarang setelah aku dan dia begitu dekatnya. Kami dekat secara fisik, tapi tidak lagi ada bahagia seperti dulu yang pernah kurasakan.

 

Sedari dulu, dia hanyalah lelaki dari seberang pulau. Lelaki seberang pulau yang hatinya tak pernah mendekat ke hatiku, tidak dulu, tidak juga sekarang. Aku bahagia, akhirnya dia meraih cita-citanya, bekerja di luar pulau tempat tinggalnya. Aku semakin dewasa menyikapi kehidupanku, dan hanya tertawa bila mengingat perasaanku dahulu terhadapnya. Dia lelaki dari seberang pulau yang menyeberang pulau untuk menemuiku, hanya ada di dalam mimpi saja. Tidak dulu, tidak juga sekarang. Meski demikian, aku tetap bahagia dengan kebahagiaanku, dan bahagia dengan kebahagiaannya. Waktu telah menyembuhkan semua luka yang dulu pernah ada.

 

 

Senin, 30 September 2013

0:32

Note: Ini untukmu, lelaki dari seberang pulau yang pernah meninggalkan hatinya di Serambi Mekah:). Selamat berbahagia, sahabat:).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s