Naluri Guru

Kemarin malam saat lagi masak, aku terpeleset dekat tempat cuci piring. Kepelesetnya sih biasa aja. Paling cuma kaget doang. Begitu melihat aku terpeleset terus diam karena masih kaget, si Anci langsung nolongin aku sambil bilang, “Udah enggak apa-apa…”

Komentarnya agak gimana gitu, habis nolongin aku, si Anci masih nerusin ngobrol ma Viya. Beberapa saat kemudian, baru aku bilang ke Anci, “Anci, kamu tadi ngomongnya kayak ngomong ke anak kecil sih? Aku kan bukan anak kecil lagi.” protesku pada Anci.

Soalnya nih, itu kalimat yang biasa kita ucapkan ke murid kalau lihat mereka jatuh atau terluka haha….

“Udah Nur, itu namanya naluri guru,” jawabnya sambil tertawa berderai….

Akhirnya kami semua tertawa bersama-sama mendengar ucapan Anci. Hei Anci tahukah kamu, sebelum jadi guru, itulah naluri kita sebagai wanita, calon ibu:). Dan naluri merawat, mendidik itu semakin terasah ketika kita menjadi guru. Praktek setiap hari merawat dan mendidik anak-anak di sekolah. Meski melelahkan, tawa, senyum, kejahilan mereka menjadi pengobat lelah ketika hari menjelang senja:).

Aku akan merindukan hari-hari ini lagi, Pamit Pada Rindu bukanlah suatu hal yang mudah. Tapi, bagaimana pun kita harus tetap bergerak ke depan, menuju impian-impian berikutnya yang tak kalah indahnya:).

Sekolah Angin, 14 Mei 2014

4:04

Note: Boys, Girls, I will miss you all, every single thing we had done before:)Market Day

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s