Dua Rindu

Riana

Besok adalah ulang tahun pernikahan kami yang ke sepuluh, tapi Arsyad masih ada di luar kota hingga lusa, aku kecewa. Entah sudah berapa kali kami melewatkan momen penting dalam pernikahan. Tapi kali ini aku sungguh kecewa. Aku tak menuntut banyak, hanya sedikit perhatian di hari istimewa kami? Salahkah?

“Pa,kenapa enggak diganti aja jadwal ketemu kliennya? Besok kan ulang tahun pernikahan kita,” bujukku padanya pagi tadi.

“Udahlah Ma, kan baru sekali ini Papa enggak ada di rumah pas ulang tahun pernikahan kita. Kita rayain setelah Papa pulang, ya?” jawabnya cuek tanpa menoleh padaku sambil membereskan laptopnya.

Aku terdiam, menahan jengkel. Tak berminat menjawab, karena pasti usahaku sia-sia.

“Ini klien penting Ma, nanti Mama boleh minta apa aja sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kita sebagai gantinya?” sahutnya lagi sambil tersenyum padaku.

Huh…rasa sebalku tak berkurang meski aku melihat senyum manisnya. Senyum yang dulu selalu meluluhkan hatiku, mampu berkata iya untuk setiap permintaannya,termasuk permintaannya menjadi ibu bagi anak-anaknya, kini tak lagi kurasakan teduhnya.

“Papa pergi dulu ya, Ma. I’ll miss you,”pamitnya sambil mencium keningku dan menghilang dari pandanganku segera.

Rumah mungilku kembali sepi, Adnan, putra kami sudah ada di sekolah. Aku duduk di ruang tamu, memandangi foto pernikahan kami yang terpampang di sudut meja.

Pa, aku selalu merindukanmu, selalu, meski kau ada di dekatku. Aku telah kehilangan kamu, sedari dulu. Batinku mengucapkan kalimat itu dengan sendirinya. Hatiku mendadak gerimis.

****

 

Arsyad

Udara di Kaimana sore ini sejuk, cukup menghilangkan penat setelah berjam-jam duduk di pesawat dari Jakarta. Arsyad duduk di lobi hotel yang sebenarnya lebih mirip disebut wisma. Namun, untuk ukuran kota kecil di Kaimana, hotel ini yang yang terbaik. Kamar yang ditempati Arsyad berukuran 4x4m, terdapat televisi, AC, dan di kamar mandinya terdapat pilihan air hangat. Hotel tempat Arsyad menginap terletak persis di depan pantai. Pantai Kaimana yang terkenal karena senjanya sungguh menawarkan pesona yang berbeda dibanding pantai lainnya. Pandangannya tak terarah meski ia kini berada di kota terindah Papua, apalagi mengingat gesekan rumah tangganya.

“Pa,kapan kita sekeluarga jalan-jalan? Udah lama lho, kita enggak pergi bareng Adnan. Adnan nanyain tuh, kapan pergi liburan bareng.”

“Mama aja pergi ma Adnan, Papa lagi sibuk ngurus proyek di Papua.”

“Tapi Pa, masak sehari aja enggak ada waktu? Minggu besok kita jalan yuk. Pa, Mama ingin kita sekeluarga menghabiskan waktu bersama. Apalagi Adnan semakin besar. Luangkan sedikit waktu Papa. Biar dia merasakan Papanya juga menyayangi dia. Tak melulu di depan laptop atau pergi terus,” bujuk Riana tak mau kalah.

“Mama kan tahu, pekerjaan Papa memang banyak akhir-akhir ini. Sudahlah, tidak usah membesar-besarkan masalah kecil kayak gini,” balas Arsyad tak sabar.

“Keinginan sederhana Mama adalah kita menghabiskan waktu bersama Adnan lebih sering,selayaknya keluarga normal lainnya Pa,” Riana menjauh sambil menyusut air matanya.

“Hei Syad, bengong aja!” sapa Bobi sambil menepuk pundak Arsyad, mengagetkan.

“Eh kamu Bob, enggak kok. Enggak bengong. Cuma….”

“Cuma apa? Kangen ya ma Riana? Alah kayak pengantin baru aja. Belum juga sehari enggak ketemu udah bisa bikin bengong kayak gini haha….”

Sorot mata Arsyad tiba-tiba meredup. Bobi yang melihat perubahan wajah Arsyad langsung tersadar.

“Ada apa, Syad? Cerita aja ma aku. Kita kan udah sahabatan lama.”

“Doain aja aku ma Riana langgeng ya Bob, cuma itu aja,” sahut Arsyad datar.

“Oke, kalau kamu enggak mau cerita sekarang. Yuk berangkat ketemu Pak Rumulus. Beliau udah nunggu kita.”

Arsyad segera berdiri mengikuti Bobi yang terlebih dahulu memasuki mobil. Jalan di kota kecil ini begitu lengang, hanya satu-dua motor yang lalu lalang menjelang malam. Meninggalkan semburat jingga yang dicintai banyak jiwa.

                Bahkan matahari meninggalkan jejak semburat merahnya yang menawan manusia, senja. Tapi, apa yang tertinggal di antara hati kita yang telah membeku selain Adnan, Riana? Gugat Arsyad mengingat kisruh rumah tangganya.

****

Riana

Hari ini seharusnya Riana berbahagia karena usia pernikahan mereka genap sepuluh tahun. Namun ada perih menyelusup ke hatinya. Arsyad memang bukan tipe pria romantis, irit bicara, dan pria rumahan. Sewaktu mereka pacaran dulu, hal itu sudah Riana sadari betul. Ia pun tak keberatan dengan sikap Arsyad yang demikian. Arsyad pria baik, bertanggungjawab, dan bukan playboy seperti kebanyakan lelaki lain. Ia pun menerima lamaran Arsyad tanpa banyak protes, meski yang ia katakan hanya sebaris kalimat sederhana.

“Maukah kamu jadi ibu bagi anak-anakku?” tanya Arsyad sungguh-sungguh tanpa adegan romantis layaknya di film. Tak ada cincin, tak ada bunga, tak ada adegan berlutut sambil menggenggam jemari Riana.

Riana hanya mendapati kesungguhan di mata Arsyad, dan itu cukup untuk membuat Riana berkata ya tanpa romantisme yang berlebihan. Senyum terkembang di antara mereka berdua. lamaran itu terjadi tepat setahun mereka berpacaran, dan mereka menikah dua bulan kemudian. Rumah tangga mereka tak pernah diwarnai pertengkaran berarti, rumah tangga mereka biasa saja. Teramat biasa kalau boleh dibilang Riana, hingga Riana tak menemukan kerinduan yang sama seperti dulu. Semuanya terlihat baik-baik saja, tapi Riana merasa sepi, sendirian, meski mereka telah bersama.

Ketenangan itu sekarang terusik. Hal yang dulu bisa Riana tolerir sekarang menjadi besar. Ia tak bisa menahannya lagi. Seiring dengan meningkatnya rutinitas Arsyad di kantor sebagai manajer pemasaran perusahaan multinasional di Jakarta, Riana kehilangan keindahan pesona Arsyad yang dulu ia kagumi. Aktivitas Riana yang hanya berkutat sebagai ibu rumah tangga memperparah rasa bosannya. Dunianya berubah drastis sekali semenjak ia memutuskan berhenti berkarier dan menikah. Allah, apakah aku kehilangan rasa ikhlas dan syukurku kepadamu?

Lamat-lamat Riana teringat ucapan Arsyad pada bapaknya saat datang meminangnya, “Saya tak bisa menjanjikan kebahagiaan sepanjang pernikahan kami nantinya. Tapi saya akan menjaga Riana dengan kesetiaan dan perlindungan saya sebagai seorang suami. Izinkan saya menikahi putri yang bapak cintai. Saya ingin memuliakannya jika nanti Riana menjadi istri saya,” ucap Arsyad seusai sholat Jum’at bersama bapak di Masjid dekat rumah.

Pernyataan Arsyad diulang kembali oleh bapak,saat bapak pulang ke rumah dengan wajah bahagia. Kalimat itu membuat Riana bergetar hingga semakin yakin, Arsyad akan menjadi imam di hidupnya. Kalimat itu yang mampu menyakinkan bapak untuk menyerahkan putri satu-satunya pada lelaki yang ia percaya.

“Nduk, Bapak percaya, Arsyad bisa jaga kamu seperti bapak jaga kamu selama ini. Bapak terima lamarannya Arsyad tadi sehabissholat Jumat,” ujar bapak kemudian sambil tersenyum bahagia.

Ah itu dulu, akankah sekarang hati Arsyad masih mengingat janjinya? Aku ragu….

********

Arsyad

Dua hari setelah pertemuan dengan klien di Kaimana selesai, Arsyad kembali ke Jakarta. Saat menunggu kopernya tiba, Arsyad menatap sebuah keluarga kecil yang bersenda gurau di depannya. Pasangan muda itu bersama anak lelaki yang berumur dua tahunan. Sang ayah menggendong jagoannya dan mendudukkannya di pundaknya sembari sesekali mengangkatnya ke atas. Sang istri beberapa kali mengingatkan suaminya agar lebih berhati-hati menggendong putra mereka. Episode itu menimbulkan rindu Arsyad pada keluarga kecilnya. Ah, seandainya Riana percaya bahwa ia juga menginginkan mereka memiliki waktu yang lebih untuk bersama. Tapi apa boleh buat, tanggung jawabnya pada perusahaan membuat ia tak bisa menyisakan banyak waktu.

                Riana, aku rindu kamu. Rindu senyummu saat menyambutku, bukan wajah yang menyangsikan kesetiaanku dan rasa sayangku padamu. Seandainya kamu tahu itu….

Arsyad lagi-lagi hanya bisa berkata dalam hati, entah sampai kapan.

************

Riana

Riana memandangi wajah Adnan yang tidur pulas seusai pulang sekolah. Garis wajah Adnan yang mirip suaminya membuatnya semakin bertambah sedih. Apalagi setelah mendapati pertanyaan Adnan siang tadi setelah makan siang.

“Ma, kapan Papa pulang? Adnan kangen Papa,” wajah Adnan nampak serius ketika bertanya.

“Nanti malam sayang,” balas Riana sambil mengusap rambut Adnan penuh sayang.

“Ma, Adnan sayang Papa. Adnan ingin main bareng Papa ntar kalau Papa pulang,”ucapnya jujur.

“Mama juga sayang Papa, Adnan. Kita sayang Papa. Semoga Papa cepat pulang,” sahut Riana sambil memeluk Adnan. Riana memejamkan matanya, berdoa dalam hati demi keutuhan keluarga mereka. Riana segera menghapus buliran air mata di wajahnya sebelum Adnan tersadar mamanya menangis.

Airmata Riana kembali jatuh saat memandangi wajah Adnan yang tertidur lelap, “Mama juga sayang dan kangen Papa, Adnan.”

Ndoro Kakung’s Home, 9 Agustus 2014

1:36

Note: latihan nulis🙂.

Jagalah setiap cinta yang dipercayakan padamu, sama seperti harapan indahmu akan penerimaan cintamu di hidupnya:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s