Amarah Harits

“Caramu mengasuh anak-anakmu adalah teladan bagi anakmu berperilaku terhadap sesamanya dan memberi pengaruh bagi dunia.”

Hasil karya anak waktu kuajari melukis di Kanvas:)~ Sofa Nurdiyanti

 

Baru mengenalnya beberapa bulan tapi, pikiran tentang anak satu ini selalu membayang hingga terbawa mimpi. Sapa saja dia sebagai Harits dalam ceritaku kali ini. Anak ini adalah sekian dari anak istimewa yang membutuhkan perhatian khusus. Bukan karena keterbatasan fisik yang dimilikinya, sama sekali tidak. Anak ini sehat, pintar, dan sangat aktif. Hanya saja perilakunya selalu membuatku waspada.

            Hampir sebagian murid yang kuajar di kelas adalah anak kinestetik, salah satunya Harits. Anak ini tak bisa diam dibandingkan anak lainnya. Jika pelajaran berlangsung, dia selalu bergerak ke sana-sini, mengelilingi kelas. Tak betah duduk mendengarkan pelajaran dengan tenang. Selalu ada ide jahil di kepalanya, sayangnya perilaku jahilnya ini meresahkan teman-temannya. Akibatnya hampir semua anak perempuan di kelas tak menyukainya, juga sebagian anak lelaki yang telah menjadi korbannya.

            Tak sekali-dua kali aku mengajaknya bicara. Hanya berdua saja dengannya, baik saat jam istirahat maupun saat pulang sekolah. Tapi hasilnya tak banyak mengubah. Jika sikapnya hanya usil saja tentu aku tak terlalu mempermasalahkan. Namun, sikap usilnya sudah pada taraf menyakiti temannya secara fisik. Memukul, menendang, bahkan menonjok temannya dengan amarah yang meledak-ledak.

            Suatu kali ketika ia bertengkar dengan seorang temannya, pertengkaran merembet menjadi masalah bagi hampir seluruh anak laki-laki di kelas. Layaknya dua geng yang berseteru, masing-masing pihak memiliki teman seperjuangan. Satu disakiti, yang lain turut membalas dengan ganasnya. Aku yang berusaha melerai juga tak kuasa menahan tenaga anak-anak itu. Mereka sedang bertumbuh, anak laki-laki yang punya kekuatan, apalagi didorong rasa marah. Makin menjadilah pertengkaran itu.

            Ketika ada anak laki-laki yang berusaha melerai dan menjadi korban, aku merasa sedih sekali. Berkali-kali aku beristigfar sambil meraih tangannya, berusaha mendiamkan. Semua sia-sia, aku malah terkena tendangan kakinya saat mengamuk. Pertolongan datang saat guru lain turut melerai. Masalah ini bahkan sampai pada wakasek kesiswaan. Tapi Harits tak juga jera. Matanya masih menyorotkan amarah, merah menakutkan.

            “Harits, ayo coba istigfar yuk 20 kali. Tadi kamu sudah menyakiti teman-temanmu lho,” ajakku padanya sepulang sekolah. Kelas sudah sepi, tinggal aku berdua dengan Harits di pojok kelas. Berusaha meredakan amarahnya yang tak kunjung reda sejak siang tadi.

            “Tapi Harits enggak salah, Bu. Mereka yang ngejek Harits duluan, masak Harits diemin aja?” bantahnya tak mau kalah.

            “Tadi kan mereka udah minta maaf sama kamu. Kalau mereka ngejek, jangan dibalas mukul ya, Rits. Ingatkan kalau temanmu berbuat salah. Kalau kamu mukul mereka, masalah enggak akan selesai.”

            Dia masih diam, matanya tak mau memandangku. Dia lebih memilih menatap dinding kelas daripada mendengarkan nasihatku yang jelas-jelas bertentangan dengannya.

            “Tadi pak Ali bilang apa ke Harits? Kalau masih sulit mengendalikan marah bagaimana bisa tenang belajar?”

            Lagi-lagi dia hanya terdiam.

            “Istigfar yuk, bareng Bu Kinur,” ajakku lagi. Dan kudapati dia akhirnya beristigfar dengan lirih.

            Ah Harits, tahukah kamu, di setiap istighfarmu, Bu Kinur selalu membersamaimu. Beristighfar lebih banyak lagi karena lalai belum bisa menjagamu, mengarahkanmu.

——————————————————————————————————————————————

Ada SMS lagi dari uminya, untuk yang ke sekian kali. Tiap membaca SMS dari Umi Harits, aku selalu berusaha membalasnya sebaik mungkin. Meski tak jarang komunikasi kami jadi terasa tak efektif karena Umi Harits selalu saja menyalahkan pihak sekolah, selalu membela anaknya, tanpa mau melihat masalah dari sudut pandang lainnya.

            Harits malam ini menangis, Bu Kinur. Dia habis dipukuli Abinya karena tadi dapat laporan di sekolah bertengkar dengan temannya. Harits bilang, dia dendam ama temannya karena gara-gara temannya Harits dipukuli padahal Harits tidak salah. Tolong Bu, selidiki permasalahan anak dengan benar. Supaya Harits tidak menjadi anak pendendam seperti ini.

            SMS Umi Harits datang menjelang aku tidur. Entah harus bagaimana lagi bersikap pada keluarga Harits. Aku pernah bertemu dengan Abi Harits di sekolah. Aku juga sudah membicarakan permasalahan Harits sebisaku. Abinya hanya terdiam dan menjawab beberapa kalimat seperlunya, tampak mengerti, dan mau bekerjasama. Saran-saran yang kuajukan ia dengarkan dan bersedia melakukannya ketika di rumah. Saat itu aku merasa lega, tapi ternyata itu hanyalah kelegaan sesaat.

            Beberapa waktu kemudian giliran uminya datang ke sekolah, berbicara denganku, dan aku mendengarkan, “Bu Kinur, Harits itu harus ditegaskan, digalakin aja. Kalau nggak digalakin ya susah. Abinya aja galakin Harits di rumah supaya nurut ma abinya.”

            Aku terdiam dan mengatur nafas. Tak ingin menyela sampai ia selesai bicara.

            “Kalau di kampung saya, cara ngajarnya guru bawa penggaris panjang buat mukul murid-muridnya, Bu Kinur. Jadi, anaknya pada nurut semua. Orang tuanya juga paham itu buat mendisiplinkan murid. Jadi, tidak masalah Bu Kinur mukul Harits aja kalau nakal. Daripada Harits menjadi-jadi perilakunya nanti tambah liar.”

            Aku mengatur nafas dan membatin saja. Kalau aku turutin saran Umi Harits ini aku bisa masuk penjara karena melakukan tindak kekerasan pada anak di bawah umur. Hadeh…. Jika orang tua lain ingin anaknya diperlakukan bak porselen yang jangan sampai tergores, maka berbeda dengan orang tua Harits ini. Mereka memperbolehkan tindak kekerasan sepanjang itu untuk mendisiplinkan anak. Tapi, bagaimana bisa? Zaman sudah berubah. Tidak seperti dulu, cara itu memang manjur. Tidak lagi sekarang.

            Sepanjang usahaku memenangkan hati Harits, aku sudah mencoba segala upaya yang kupikirkan. Dengan cara lembut, berbicara dengan Harits di waktu luang, menyediakan waktu sepulang sekolah untuk membantu Harits menyelesaikan pelajarannya yang lebih sering ia tinggalkan, juga bermain dengannya, berusaha menenangkan hatinya ketika amarahnya meledak lagi, entah oleh siapa. Semua itu belum cukup juga, meski selalu kuselipkan doa khusus untuknya dan beberapa murid ‘istimewa’ lainnya.

            Harits tidak selalu usil dan mengeluarkan amarah. Orang tuanya mengajarinya untuk puasa Senin dan Kamis secara teratur. Harits tergila-gila pada tokoh Ronaldo dan memintaku memanggilnya Ronaldo—tentu saja kutolak permintaannya karena namanya sendiri sudah terlalu bagus untuk diganti dengan Ronaldo. Ia dan seorang murid lainnya pernah memberikan pantun untukku, memujiku, berusaha meredakan amarahku ketika aku lelah dengan mereka. Harits juga anak yang manis yang sebenarnya. Meski sikapnya lebih banyak membuatku was-was, tapi dia juga muridku, anakku, dan aku menyayangi semua murid-muridku tanpa kecuali.

            Pernah suatu kali kubaca buku diarinya. Lebih banyak yang kosong memang daripada murid-murid lainnya yang rajin menulis diari di pagi hari. Meski demikian, kutemukan sebuah paragraf pendek yang membuat hatiku tersentuh. Harits ingin belajar bahasa Arab karena ia ingin masuk Surga. Rupanya ia catat betul nasihatku saat morning session, kukatakan padanya bahwa nanti semua penduduk Surga akan berbicara dalam bahasa Arab. Dan sudah pasti semua penduduk Surga berbicara dalam bahasa Arab meskipun sebelumnya tak pernah belajar bahasa Arab sedikitpun. Kuanjurkan pada murid-muridku supaya lebih bersemangat saat belajar bahasa Arab, karena dengan belajar bahasa Arab akan mempermudah kita memahami Al-Qur’an. Ya, meskipun gurunya dulu sempat menyerah belajar bahasa Arab dengan ustadz saat di pondok hehe….

            Ada kalanya semangat untuk merangkul hati Harits begitu kuatnya. Keyakinanku bahwa setiap anak memiliki hati yang lebih mendengar daripada orang dewasa kuingat selalu. Ada juga saat di mana aku lelah, ingin menyerah, menangis, dan bersedih jika ulah Harits tak lagi dapat kutanggungkan. Meski demikian, selalu kuusahakan untuk menyelesaikannya meski berat. Tetap berbicara dengan orang tua Harits meski terkadang ingin menghindari karena lelah. Hingga hari itu pun datang, saat penerimaan raport kenaikan kelas.

            Orang tua Harits selalu datang berpasangan, dan berbicara lebih lama daripada orang tua lainnya. Aku berusaha mencari kemajuan positif mengenai Harits meski sulit. Selalu kubesarkan harapan orang tua Harits, bahwa anaknya pasti akan berubah, dan menjadi baik seperti yang mereka harapkan. Aku selalu berusaha memuji setiap tindakan Harits yang lucu, berkesan untukku, dan menceritakan kembali kepada mereka. Kami tertawa dan berharap bersama, saat itu akan datang, di mana Harits melejitkan segala potensi yang dimilikinya. Kami berdoa untuk itu selalu.

            “Bu Kinur, saya minta maaf ya, merepotkan Bu Kinur selama ini. Selalu SMS dan telpon terus. Maaf kalau selama ini sikap saya ada yang menyakiti Bu Kinur. Mohon doanya ya, Bu. Kami ingin membawa Harits ke umroh. Semoga setelah didoakan di sana, Harits berubah,” harap Umi Harits padaku saat berpamitan. Genggaman jari Umi Harits terasa lembut, dan sorot matanya penuh dengan pengharapan.

            Aku mengaminkan, tersenyum, dan memeluk Umi Harits sesaat berusaha menguatkan. Aku memaafkan, dan mendoakan semoga Allah juga membuka hati orang tua Harits agar bersikap lebih baik pada Harits. Karena tak selamanya kekerasan mampu memenangkan hati anak agar ia menjadi lebih baik. Mungkin saja luka Harits akibat perlakuan itu terus menganga, tak terobati, tanpa ada yang tahu, dan bisa menolongnya.

Seketika itu, teringat olehku perkataan Harits, “Bu Kinur, Harits juga doain Bu Kinur waktu sholat, lho,” ucapnya malu-malu padaku.

“Doain apa? Biar sabar ngajar Harits?” ledekku padanya.

“Iya, biar sabar ngajar Harits,” balasnya tersenyum sambil menjauh.

Aku tersenyum padanya, dan berusaha mengingatnya baik-baik. Saat aku hendak menyerah pada seorang anak, akan kuingat selalu, ada sebaris doa yang mendoakanku agar tetap sabar dalam mengajar. Dan itu doanya Harits, anak lelaki yang selalu datang dalam mimpiku.

Ndoro Kakung Home, 22 Agustus 2014

08:22

Note: anakmu adalah salah satu pancaran kasih sayang Allah yang Ia anugerahkan untukmu. Karenanya, sentuhlah hati mereka dengan kasih sayang dan doa, hingga mereka tumbuh dengan banyak cinta tanpa merasa pernah terluka oleh kita yang mencintainya.

2 thoughts on “Amarah Harits

  1. “Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu” Khalil Gibran.
    *Apa sih, g nyambung. Sharingnya menarik ka. Memang tidak mudah menghadapi anak-anak super aktif. Kesabaran bersamanya akan mendatangkan kemistri yang kuat untuk membuat segalanya menyenangkan.
    Semangat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s