Nilai-Nilai Rani

Wisata Qur'an di Cisarua            “Rani, kenapa kamu keringatan seperti itu,” selidikku sambil menghapus keringat dingin di wajah manisnya.

            “Bu Kinur, saya takut nih ntar nilai ulangan saya jelek,” akunya padaku dengan bibir gemetarnya.

            “Sayang, yang penting kamu sudah belajar kan? Enggak usah khawatir soal nilai lagi,” terangku padanya berusaha menenangkan.

            Setelah selesai ulangan IPA, aku menyuruh anak-anak menukar jawaban pada teman di seberang bangkunya, dan mencocokkan jawaban bersama. Pikirku biar hemat waktu, toh jawaban singkat sepuluh nomor saja. Jawaban per nomor aku tulis di papan tulis sambil menjawab pertanyaan dari anak-anak mengenai jawaban mereka yang sedikit berbeda. Seusai menghitung benar dan salah, kuminta kepada masing-masing bangku mengumpulkannya ke mejaku setelah dikembalikan pada pemiliknya.

            Kuperiksa dan kunilai ulangan anak-anak, lalu kutemukan sebuah kejanggalan pada ulangan Rani. Ada empat jawaban salah masih terlihat jelas di kertas ulangannya lalu diganti dengan jawaban yang benar di sampingnya. Aku berpikir ulang mengapa seperti ini? Karena sebelum kucocokkan bersama anak-anak tadi, aku memeriksa jawaban mereka satu persatu. Tak banyak yang mengubah jawaban mereka, hanya beberapa anak saja, dan itu tak termasuk Rani.

            Kuperiksa lembar jawaban yang diperiksa Rani, jawaban temannya nilainya kurang. Artinya, kalau mereka bekerjasama memperbaiki jawaban bersama, tentu kedua nilai anak itu sama bagusnya. Tapi, kejadian itu kulewatkan saja. Berharap aku salah menduga kepada Rani. Ulangan berikutnya, kejadian itu berulang. Kali ini, kupastikan dan kulihat jawaban Rani sebelum dan sesudah dikoreksi. Tepat dugaanku, Rani membetulkan jawabannya setelah dikoreksi temannya.

            “Bu, Rani itu jujur enggak sih? Soalnya saya perhatikan dia memperbaiki jawaban ulangannya setelah dikoreksi temannya,” tanyaku pada wali kelas sebelah yang masih satu level denganku.

            “Ih baru tahu ya. Anak itu memang begitu, enggak jujur. Jadi kalau koreksi jawaban anak-anak mending kita sendiri aja. Capek sih, tapi lebih baik begitu daripada ada yang curang.”

            Rani… aku tidak mengerti mengapa ia melakukan hal itu, berbuat tidak jujur. Alasan kemarahan uminya jika ia mendapat nilai jelek mungkin salah satu penyebabnya. Tapi, anak itu pandai. Nilainya selalu di atas rata-rata, ia rajin mengumpulkan tugas, mengerjakan PR, berani maju ke depan kelas, akrab dengan teman-temannya, juga senang membantu gurunya. Namun, mengapa ia berbuat tak jujur belum terjawab, sampai aku bertemu dengan uminya saat penerimaan raport akhir semester.

            Abi dan umi Rani datang saat penerimaan raport. Abinya merupakan orang yang berpendidikan dan ahli di bidangnya. Abinya lulusan S3 dari sebuah universitas ternama dari Eropa. Abinya sibuk pergi ke berbagai tempat karena kepakaran ilmu yang dimilikinya. Meski sering pergi, dari cerita yang kudengar dari Rani, abinya sangat memanjakan dan menyayanginya. Tak pernah kudengar dari Rani orang tuanya bertengkar. Mereka keluarga yang harmonis, kakak-kakak Rani juga bersekolah di sekolah internasional. Keluarga mereka terbiasa memakai bahasa Inggris saat berbicara, termasuk Rani, meski ia lebih pasif dibanding saudaranya yang lain.

            “Rani, coba lihat nilai kamu semester ini, banyak nilai delapan. Prestasi kamu menurun lho. Ayo, kamu harus lebih giat belajar lagi, dengarkan Bu Kinur biar semester depan enggak ada nilai delapannya,” ucapannya terkesan tegas dan matanya memandang Rani dengan tajam.

            Tangan Rani lagi-lagi gemetar. Matanya melirik cemas kepada abinya yang memangku Rani.

            Dengan senyum lebar abinya menguatkan, “Ok, Rani harus belajar lebih giat lagi ya, sayang,” abinya menepuk pundak Rani pelan-pelan.

            “Abi-Umi, nilai Rani sudah di atas rata-rata kelas lho. Rani juga jarang sekali mengulang ulangan hariannya. Rajin mengumpulkan PR dan berani maju ke depan kelas,” pujiku pada mereka.

            “Tapi Bu Kinur, nilai Rani di kelas 3 lebih bagus daripada sekarang. Dulu nilai delapannya Cuma satu-dua saja. Enggak kayak sekarang,” jelas umi Rani.

            “Anak-anak kan berproses Umi. Apalagi pelajaran kelas 4 sudah semakin sulit dibandingkan sebelumnya. Jadi dihargai saja nilai Rani sekarang. Tidak ada nilai yang kurang. Sikap Rani juga baik, kalau soal nilai bisa dikejar lagi asal Rani sudah nyaman belajar.”

            “Rani ingat kata Bu Kinur ya, pelajaran Rani semakin sulit, jadi harus rajin lagi,” abinya menambahkan.

            “Kalau belajarnya di rumah, Rani sudah bisa belajar sendiri atau masih ditemani, Umi?”

            “Kalau dia belajar sama tantenya, kalau sama saya yang ada ribut terus. Saya enggak sabar ngajarin dia. Saya cepat marah kalau dia enggak bisa-bisa,” terang umi Rani.

            “Tapi Rani hebat lho Umi, dia pintar bahasa Inggris dibandingkan teman-temannya. Saya saja suka kagum dengan diari Rani yang ditulis dengan bahasa Inggris.”

            “Rani enggak lancar bahasa Inggris dibanding kakak-kakaknya. Dia pasif saja, mendengarkan. Tapi, saya kaget dia pernah marah pakai bahasa Inggris.”

            “Ohh….”

            Pertemuan itu selesai begitu saja, dengan tambahan beberapa kalimat mengenai posisi raport Rani di antara teman-temannya. Kembali aku menerangkan untuk ke sekian kalinya kepada orang tua, bahwa sekolah tidak memakai rangking. Sekolah menghargai proses belajar anak sebagai individu dan tidak ingin membandingkan anak yang satu dengan lainnya. Patokannya hanya rata-rata kelas saja.

            Mengingat betapa kerasnya pendirian umi Rani, aku tak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa memberi pengaruh pada anak saja. Saat morning session, aku mencoba berbicara pada anak-anak. Semoga mereka mendengar dan paham apa yang kukatakan.

            “Anak-anak, siapa yang suka nilainya bagus?”

            Semua angkat tangan dengan bersemangat kecuali satu-dua anak istimewa yang sibuk bermain.

            “Siapa yang pernah mencontek saat ulangan harian atau tidak jujur saat koreksi? Ayo… ngaku?” tanyaku sambil tersenyum, supaya mereka tak ketakutan.

            Tak ada reaksi. Semua diam saling memandang satu sama lain. Takut-takut menatapku.

            “Eh Bu Kinur, enggak bakal marah kok. Cuma tanya, kalau ada yang pernah nyontek enggak apa-apa? Pagi ini kita bahas ya,” tawarku pada mereka.

            Mulai terdengar suara, satu-dua saling menunjuk temannya. Tapi tak ada yang mengangkat tangan. Sampai akhirnya ada satu anak yang angkat tangan dengan bangganya.

            “Saya Bu,” aku seorang anak laki-laki tanpa takut.

            Lalu beberapa anak lainnya ikut angkat tangan sambil tertawa.

            “Kenapa harus mencontek?”

            “Soalnya susah Bu,” seru seorang anak lantang diiringi dukungan dari anak lainnya. Seketika kelas gemuruh membenarkan. Menyalahkan soal ulangan yang dirasa terlampau sulit untuk mereka.

            “Pas ulangan itu, kalian belajar malamnya sebelum ulangan atau sudah dicicil sebelumnya? Belajarnya sudah sejak diberi pengumuman ulangan?”

            “Ya malam Bu,” sahut seorang anak perempuan.

            “Tapi saya enggak, saya belajar 2 hari, Bu,” ada seorang anak dengan cuek menjawab.

            “Nah, kalau kalian belajar cuma semalam doang, gimana bisa ngerjain dengan mudah? Padahal Bu Kinur selalu kasih pengumuman lho kalau mau ulangan. Masak sudah kelas 4, belajarnya enggak tiap hari. Iya kalau pas ulangan satu aja, kalau pas ulangan ada dua pelajaran gimana?”

            Terdengar ada beberapa anak saling memandang dan berbicara lirih saat aku bicara.

            “Nak, kalian sudah kelas 4 lho. Kelas 4, sudah wajib belajar sendiri, jangan nunggu orang tua nemenin. Kalau orang tua kalian bisa nemenin, masih bisa bersyukur. Kalau orang tua pulangnya malam saat kalian udah tidur gimana? Masak enggak belajar?”

            “Saya enggak bisa belajar kalau sendirian Bu, udah kebiasaan sih,” kali ini jagoan kelas menjawab.

            “Seharusnya, sudah waktunya kalian mengajari adik kalian belajar lho, Nak. Bukan lagi mengandalkan orang tua. Semester 1 kemarin, Bu Kinur masih kasih pengumuman kalau mau ulangan, biar kalian belajar. Tapi kalian enggak semua belajar. Kalau gitu, semester 2, Bu Kinur enggak kasih tahu ya jadwal ulangan hariannya. Bisa sewaktu-waktu asal materi pelajaran sudah selesai. Konsekuensinya, kalian harus belajar setiap hari. Ada atau tidak ada ulangan.”

            “Yah Bu,” kompak suara kecewa terdengar memenuhi kelas.

            “Nak, Bu Kinur senang kalian dapat nilai bagus. Tapi, Bu Kinur lebih senang lagi kalau nilai bagus kalian dari hasil kerja kalian sendiri. Jujur. Tidak mencontek atau member contekan ke teman. Nilai bagus itu jadi sia-sia kalau kalian mencontek. Mungkin Bu Kinur enggak tahu kalian mencontek, tapi Allah selalu tahu.”

            Anak-anak mulai terdiam.

            “Jangan mencontek ya, Nak. Bu Kinur bangga dengan kemampuan kalian. Percaya kalian bisa meraih nilai bagus tanpa mencontek. Kalau nilai kalian jelek, Bu Kinur kan enggak pernah marah. Kalian bisa belajar lagi ma Bu Kinur pulang sekolah, terus ulangan lagi sampai kalian bisa,” kataku menguatkan.

            Kupandangi seisi kelas sambil berdoa dalam hati, mereka mengerti apa yang kukatakan. Wajah mereka menyiratkan penerimaan, ada pula yang masih meredam kesal padaku. Hingga pandanganku sampai pada Rani, kutatap matanya lebih lama mencoba menguatkannya.

            “Niat yang baik, harus disertai cara yang baik, Nak. Termasuk dengan bersikap jujur,” tambahku lagi mengakhiri morning session pagi itu karena jam pelajaran tahfidz sudah mulai.

Minggu, 24 Agustus 2014

14:16

Note: Selalu ada cara yang lebih baik bagaimana menyampaikan kebaikan pada anak-anak tanpa harus membuat mereka tertekan. Terimalah segala proses anak dengan dukungan dan bimbingan, dan jauhilah rasa marah ketika berbicara dengan mereka. Nilai hadir mereka di hidup kita jauh lebih besar daripada nilai yang mereka hasilkan🙂

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s