NASIB BAIKNYA MURID

Sehari sebelum berpisah“Bagaimana mereka bisa lulus UAN, kalau membaca soal saja tidak bisa?” ini adalah sebuah pertanyaan yang aku lontarkan pada salah seorang guru ketika mengetahui beberapa murid kelas enam tidak bisa membaca dan belum lancar menulis.

            “Tenang saja Bu, meski enggak bisa membaca, budak-budak1 itu nasibnya baik kok,” ujar salah seorang guru muda padaku dengan senyum penuh arti.

            Nasib baik, ini adalah dua kata yang menjadi pemikiranku. Nasib baik seperti apa yang membawakan keberuntungan—lulus UAN—pada anak-anak kelas enam? Pertanyaanku pun mulai terjawab satu demi satu. Mendekati UAN, aku diberi tugas untuk mengawasi anak-anak try out UAN. Aku pun berusaha menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

            “Bu Kinur, ini disuruh Pak Ika tulis jawaban di papan tulis buat anak-anak,” lirih Pak Dadang memberitahuku di kelas saat anak-anak mengerjakan try out dari Diknas.

            “Apa Pak? Seriusan?” tanyaku tak percaya.

            “Iya Bu, Pak Ika yang nyuruh saya sampaikan ke Bu Kinur,” raut wajah Pak Dadang tampak tak enak padaku.

            Mungkin ia malu padaku. Tahu sih, kemampuan anak-anak sangat jauh dari yang diharapkan Diknas. Tapi, ya Allah, masak sampai segitunya ini sekolah? Cara yang ditempuh wakasek ini tidak akan menyelesaikan masalah. Justru menjerumuskan anak-anak.

            “Maaf Pak, saya nggak bisa. Saya tidak mau. Kalau Bapak ingin menolong anak-anak dengan cara seperti itu silahkan saja. Saya tidak mau ikutan,” jawabku menahan marah.

            “Baik, Bu.”

            Pak Dadang menjauh, dan berkeliling kelas. Kertas jawaban yang hendak diberikan padaku masih dalam genggamannya. Dua guru lainnya tampak pura-pura tak tahu apa yang kami bicarakan dan meneruskan mengawasi anak-anak, meski aku yakin, guru yang ada di ruangan kelas pasti juga mendengar apa yang kukatakan.

            “Anak-anak, sabar ya kalau soalnya sulit. Tetap berusaha dikerjakan sebaik mungkin. Teliti lagi, jangan buru-buru menjawab. Nanti setelah try out, Bu Kinur akan bahas soal ini bareng kalian. Percaya pada kemampuan kalian ya, nak. Allah lihat kalian lho, yang jujur ya,” pesanku pada anak-anak dengan hati nelangsa.

            Seisi kelas dipenuhi dengan wajah tak pasti. Hanya beberapa anak yang tampaknya yakin dengan jawabannya. Itu pun belum tentu meraih nilai maksimal. Beberapa anak lainnya tampak asyik melempar penghapus, menghitung kancing baju, dan tingkah lainnya yang diniatkan mencari jawaban secara instan.

            Pak Dadang tampak berkeliling kelas, sambil melihat kertas jawaban anak-anak, Pak Dadang memberitahu jawaban yang benar. Aku memalingkan muka, merasa sedih dan tak berdaya. Beberapa anak lainnya tampak tak malu berseru memanggil Pak Dadang menanyakan jawaban. Suasana kelas jadi aneh. Begitu bel berbunyi tanda ujian selesai aku langsung keluar kelas. Menenangkan diri.

            “Saya nggak mau lagi Pak, jadi pengawas try out. Percuma aja saya disuruh ngawas, kalau tetap membolehkan kecurangan. Apalagi guru yang kasih jawaban ke murid. Itu kan menjerumuskan murid, Pak,” keluhku pada salah seorang guru yang biasa kuajak diskusi, Pak Rahman.

            “Gimana lagi, Bu. Memang di sini kebiasaannya seperti itu. Enggak hanya di sekolah kita saja, tapi di sekolah lain di gugus kita rata-rata seperti itu. Kalau anak-anak enggak ditolong nanti rata-rata try out sekolah kita paling kecil. Bisa ditegur Diknas lagi, Bu.”

            “Sebenarnya kan itu enggak menolong murid Pak, tapi menolong sekolah biar enggak ditegur Diknas,” sahutku lagi geregetan.

            “Tapi Bu, nanti kalau Ibu nggak mau ngawas dimarahi Pak Ika , lho.”

            “Biar saja, Pak saya dimarahi. Lebih baik saya kasih tambahan anak-anak pulang sekolah aja belajar buat UAN. Saya enggak mau disuruh ngawas lagi. Saya sedih Pak, masak kelas 6 masih ada yang enggak bisa baca. Gimana mereka mau lulus, coba?”

            “Itu mah udah biasa, Bu. Nanti kelas 1 SMP diajari lagi baca sama gurunya. Ada juga kok anak guru SD yang bisa baca setelah lulus kelas 1 SMP,” balas Pak Rahman lagi.

            Gusti…. Pembicaraan kami berakhir. Tapi tetap saja pikiran terkait anak-anak kelas 6 membayang terus. Bagaimana mereka bisa melewati UAN, kalau selama ini hanya sedikit saja guru yang masih berkomitmen mengajar. Jam-jam kosong belajar meski guru datang juga tak menjadi masalah serius bagi sekolah. Jangan tanya lagi bagaimana cara mengajar dan fasilitas buku untuk anak. Jika guru sudah kehilangan semangat mengajar, maka proses belajar tak akan pernah mencapai tujuannya. Proses belajar menjadi gagal sebelum materi diberikan.

            Pengetahuan umum anak terkait masalah sehari-hari yang seharusnya sudah dikuasai pun jauh dari kata cukup. Sumber daya guru terbatas. Guru bahasa Inggris yang ada pun diambil dari tenaga administrasi TU. Karyawan tersebut dileskan selama 1-2 bulan belajar bahasa Inggris lalu diangkat menjadi guru honorer. Karena guru bahasa Inggris tersebut mengalami kesulitan mengajar anak-anak, maka dapat dihitunglah ia benar-benar mengajar dalam satu semester. Materi saja tak mampu ia kuasai, bagaimana ingin mengajar murid?

            “Bu, maksudnya wajahnya bagai pinang dibelah dua itu bagaimana? Masak wajah dibelah sih, Bu? Hiiii… serem,” tanya seorang murid padaku.

            Dia belum paham bahwa apa yang ia tanyakan adalah sebuah peribahasa. Namun, yang ada di pikirannya adalah wajah yang benar-benar dibelah dua. Tentu saja itu menakutkan dalam benaknya. Aih….

Lain waktu, ada lagi seorang murid yang bertanya, ”Bu, arti angkuh itu apa?”

Karena saat itu ujian, aku diam saja tak menjawab. Guru lain yang mendengar segera memberi jawaban, yang dirasanya benar dengan suara lantang.

“Angkuh itu sombong. Angkuh itu keras kepala. Angkuh itu tegar!” ucapnya pasti sembari menatap langit-langit kelas.

Duh Gusti… darimana datangnya pemikiran kalau angkuh itu tegar? Anak-anak yang mendengar jawaban sang guru hanya manggut-manggut saja. Entah mengerti, entah tidak, aku juga tak bertanya. Aku diam dan berjanji dalam hati akan mengenalkan macam-macam peribahasa dan sinonim di lain waktu pada anak-anak.

Nasibnya baiknya murid, tergantung dari guru yang ia dapatkan, semangat belajar anak, juga didikan dari orang tua di rumah. Semoga saja, jika salah satu unsur yang diperlukan untuk membuat nasib baik seorang murid hilang, masih ada unsur lain yang menopang. Dan semoga saja, unsur yang hilang itu bukan dari faktor guru yang mengabaikan profesinya, dan mengabaikan harapan bangsa yang tersemat dalam jiwa lugu murid-murid kita. Aamiin.

Ndoro Kakung Home, 29 Agustus 2014

14:21

Note: Peristiwa itu sudah 3 tahun berlalu. Semoga saja, tak ada lagi peristiwa seperti itu di tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s