Ramalan Cinta Sehidup-Semati

Pelajaran olahraga sudah berakhir. Sebagian anak laki-laki seperti biasanya bermain bola di lapangan. Sebaliknya anak perempuan lebih bervariasi, ada yang membeli jajan di warung belakang sekolah, ada yang bermain, ada pula yang bergerombol sambil bercanda. Penasaran dengan apa yang anak perempuan lakukan di bawah pohon, perlahan aku mendekati mereka dengan hati-hati.

            Lisna tampak dikerubungi oleh anak perempuan sekelasnya maupun dari kelas lain. Semuanya menahan tawa sembari menutup mulut. Tak ingin mereka menyembunyikan apa yang mereka baca. Aku diam-diam menyelinap di antara mereka.

            “Ah…. Bu Kinur, Lis… cepat sembunyiin,” seru Sarah terlonjak kaget.

            “Apaan sih, Lis? Pakai disembunyiin segala? Jangan atuh. Sini, Bu Kinur juga mau baca,” rayuku pada mereka.

            “Jangaaannn….” anak-anak serempak berteriak hendak berlari

            “Eh, enggak usah lari, Bu Kinur kan cuma mau lihat. Enggak mau marahin kalian,” tambahku lagi berusaha menyakinkan mereka.

            “Ih, tapi Bu Kinur janji atuh enggak bakal marah ya, kalau enggak marah, baru kita kasih kertasnya,” tawar Lisna.

            Aku mengangguk pasti dan Lisna pun menyerahkan kertas yang dibawanya padaku dengan wajah malu-malu dan senyum kikuk anak perempuan lainnya.

            “Apaaaa?” aku kaget sekali melihat judul tulisan dari kertas yang kupegang.

            Tampak di kertas tersebut tertulis judul dengan huruf kapital: RAMALAN CINTA SEHIDUP SEMATI. Huaaa… baca judulnya saja aku dah kaget minta ampun. Melihat pertanyaan yang ada di dalamnya apalagi, benar-benar shock!

            “Lis, ini punya siapa?”

            “Punya Jamilah, Bu,” Lisna kembali tersenyum malu.

            “Jamilah, kamu bikin sendiri atau dapat darimana?”

            “Dari majalah, Bu,” jawab Jamilah sambil terkekeh.

            Haduh, tobat! Kenapa anak-anak sampai sebegitunya?

            “Ini buat apa sebenarnya?”

            “Ini buat ramalan, Bu. Jadi jawab dulu pertanyaannya, nanti baru bisa dinilai cintanya sehidup semati apa nggak,” Sarah kalem menjawab.

            “Soalnya 125? Banyak amat?”

            “Iya Bu. Ibu punya pacar nggak? Kalau ada ntar Lisna ramalin, Bu,” tawar Lisna tersenyum.

            Hadeeeehh…. Ini anak berani benar sama gurunya. Aih…. Jangan tanya lagi padaku apa saja pertanyaan dari Ramalan Cinta Sehidup Semati tersebut. Pertanyaan-pertanyaan tersebut harusnya ditanyakan pada orang dewasa, bukan anak SD yang umurnya baru 10 tahun. Aku mengelus pundak Lisna, Sarah, dan Jamilah bergantian. Anak lainnya menggamit lenganku, ingin tahu apa yang hendak kulakukan pada teman mereka.

            “Lisna, Sarah, Jamilah, yang lain juga dengar ya? Ramalan ini nggak ada manfaatnya buat kalian. Lebih baik belajar sama Bu Kinur. Pertanyaan di ramalan ini juga karangan saja. Nggak ada benarnya sama sekali. Nggak ada tuh ramalan yang bisa meramal cinta sehidup semati,” aku melirik pada Jamilah yang memegang kertas ramalan itu.

            “Tadi si Lisna yang ngajakin Yesti, Bu,” adu Yesti padaku, mencari bala bantuan.

            “Lagian ya, Nak. Kalau sudah besar, cara menikah bukan lewat pacaran. Nggak ada istilah pacaran dalam Islam. Nanti kalau kalian sudah besar, Bu Kinur kasih tahu lagi. Sekarang waktunya kalian buat belajar. Belajar dan sekolah setinggi mungkin. Jangan putus sampai SD saja.”

            “Ya, tergantung modalnya, Bu. Sarah mah, ikut kata Papa dan Mama saja,” jawab Sarah polos yang bercita-cita menjadi desainer baju.

            Istirahat sudah selesai. Beriringan kami kembali ke kelas, melanjutkan pelajaran berikutnya. Udara kering di desa pinggir pantai siang itu menggugurkan daun-daun mangga di pojok sekolah. Sembari melangkah, kugenggam erat-erat tangan muridku sambil berharap, tak ada lagi pengaruh buruk yang menghampiri mereka.

            Andai mereka sudah dewasa, ingin sekali kuucapkan kalimatku yang masih tertahan di hatiku. Cinta yang indah itu tak pernah teramal dari Ramalan Cinta Sehidup Semati yang kalian baca. Cinta yang indah itu, yang membuat para malaikat pun mendoakan kalian ketika tiba waktunya Ridha Allah menaungi janji pernikahan dengan lelaki pilihan. Lelaki yang membawa kalian ke Surga dengan ilmu dan imannya, Nak.

 

Kenangan dengan murid kelas 5

Sabtu, 30 Agustus 2014

19:56

Note: Duhai Yang Memberi Kehidupan, berilah perlindungan pada setiap anak-anakku. Jangan sampai mereka terjebak dalam pengaruh buruk yang memburukkan kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s