Anak-Anak Dalam Dekapan Fajar

“Kamu kenapa ngantuk sih, Ka?” tegurku pada salah seorang murid yang tidur di kursinya saat jam pelajaran meski sudah cuci muka.

            “Aku tangi jam loro leles lombok ning pasar Bu nganti shubuh,” Eka menjawab dengan mata yang tak terbuka sepenuhnya.

            “Leles iki opo to, Ka?” tanyaku lagi tak mengerti apa yang dikatakannya.

            “Golek lombok nek pas truk teko ning pasar, Bu,” sahut Anggoro padaku.

            “Cari sisa lombok maksudnya?”

            “Iya, Bu.”

            “Dapat berapa kamu, Ka?”

            “Rong puluh ewu, Bu.”

            “Uangnya kamu beliin apa?”

            “Tak tukokne jajan, Bu,” jawabnya lagi tak bersemangat.

            “Ya sudah, kamu tidur aja di depan komputer. Gelar tikarnya, biar nggak masuk angin. Kalau udah bangun, kamu kudu belajar sendiri ma Bu Kinur ya, biar nggak ketinggalan,” putusku kemudian daripada Eka jatuh dari kursi karena tidur.

            Saat anak lain masih terlelap dalam tidurnya, Eka sudah bangun dan pergi ke pasar untuk leles. Eka adalah anak tunggal dengan banyak adik, entah enam atau tujuh adiknya, aku lupa. Uang yang diperoleh Eka juga digunakan ibunya untuk makan sehari-hari, membiayai keluarga besarnya. Meski usianya baru delapan tahun, tapi Eka sudah mencari uang dengan kemampuannya untuk keluarga.

Ben tahun, Ibuku nglahirke, Bu,” adunya padaku di suatu siang.

Aku hanya mendengar cerita dan memotivasinya. Hanya ilmulah yang mampu mengeluarkannya dari kesulitan ini. Bukan sekali ini Eka mengantuk, anak lain pun juga demikian. Anak yang tinggal di pinggir sungai dekat Pasar Keputran, selain mengamen, suka mengambil sisa sayuran dari truk yang datang memasok barang. Truk datang ke pasar dua kali, sore dan dini hari. Leles merupakan salah satu kesempatan bagi anak-anak untuk mencari uang. Mereka mengumpulkan sisa sayuran yang ada, dibersihkan dan dijual kembali ke pedagang tentunya dengan harga yang lebih murah dari harga aslinya.

            Mereka mencari sendiri uang jajan dan membelanjakan sesuai dengan keinginannya. Biasanya dibelikan jajan dan barang yang tak ada hubungannya dengan kebutuhan sekolah. Tapi beberapa anak menyimpan uang dan membeli barang yang lebih berharga dari sekedar jajan. Mereka menjadi mandiri dalam soal memenuhi kebutuhan hidupnya karena tak mungkin meminta kepada orang tua mereka. Uang yang mereka peroleh juga sering diberikan kepada orang tua mereka setelah menyisihkan sedikit untuk membeli jajan.

            Guru-guru sudah mengerti kondisi mereka yang sering mengantuk saat jam pelajaran karena leles. Lebih baik hadir di sekolah dan belajar semampu mereka daripada berkeliaran di jalan, begitu prinsip kepala sekolah. Perhatian kepala sekolah kepada anak-anak ini sungguh luar biasa. Kepala sekolah menyempatkan diri mendatangi orang tua mereka, mengajak bicara, menyemangati, dan dekat dengan semua anak. Kepala sekolah juga semangat mencari dana spp, buku, dan peralatan sekolah lainnya. Asalkan mereka masuk, biaya bisa diusahakan.

            Anak-anak juga sayang sekali dengan bapak kepala sekolah, mereka menurut dan mendengar apa yang dikatakan oleh kepala sekolah daripada guru yang mengajar. Ketulusan tak pernah tertolak oleh jiwa yang asing sekalipun oleh kasih sayang. Beliau senantiasa menyisipkan nasihat untuk tekun belajar. Karena hanya ketekunan mereka belajarlah yang kelak mampu membawa mereka keluar dari lingkungan itu.

            “Bu, ayo les maneh mengko sore ndek Keputran,”

            “Benar ntar mau belajar? Ntar kalian main lagi sampai sore,” aku memastikan kesanggupan Eka untuk belajar.

            “Iya Bu, tenan. Arek-arek yo gelem kok, Bu. Sampeyan wis suwi ora teko, lho,” Eka berusaha menyakinkanku.

            Tiap sore, biasanya aku mengunjungi mereka untuk memberi les tambahan membaca, menulis, dan berhitung. Karena banyak dari mereka meski sudah kelas atas belum lancar membaca, menulis, dan berhitung. Semangat mengajar mereka di sore hari naik-turun seiring dengan semangat mereka belajar hehe…. Sudah lama aku tak member les, akhirnya kuputuskan sorenya menemui mereka dengan sepeda pinjaman Ibu Kos yang baik hati🙂.

            Sesampainya aku di sana, kudapati anak-anak sedang berenang di sungai pinggir pasar yang kotor. Airnya berwarna coklat, banyak sampah di pinggir sungai. Tapi itulah anak-anak, mereka tetap berenang dengan gembira tanpa mempedulikan tempat. Meski sering mandi di sungai, mereka jarang sakit. Kadang merasa gatal saja, tapi tak sampai sakit. Allah selalu menguatkan mereka meski dalam keadaan yang kurang ideal sekalipun.

            Kuperhatikan kegembiraan mereka dari tempatku duduk di pinggir sungai. Anak-anak ini luar biasa, tak perlu mainan mahal dan kolam renang bagus untuk membuat mereka tertawa lepas. Mereka bisa menciptakan kebahagiaan dalam setiap keterbatasan yang mereka miliki. Mereka anak-anak yang terpilih karena mampu bertahan dan berjuang dalam setiap kesulitan. Merekalah anak-anak dalam dekapan fajar.

Foto0390

Ndoro Kakung Home, 1 September 2014

15:22

Note: Berbahagialah mereka yang menjalani hidupnya tanpa penyesalan🙂.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s