Yang Penting Sholeh

“Khalid, rajin belajar ya, biar cepat paham materi pelajaran, dan enggak remedial terus. Belajarnya tiap hari enggak?” tanyaku padanya.

“Enggak belajar tiap hari,” jawabnya lagi sambil menggeleng

“Kalau ulangan belajar enggak?”

“Enggak,” kembali dia menggeleng sambil meringis padaku.

“Khaliiddddd!!!” seruku padanya gemas, “kenapa sih enggak mau belajar? Kan Bu Kinur bilang belajarnya itu tiap hari. Apalagi kalau ada ulangan. Masak belajarnya sama Bu Kinur mulu kalau mau remedial?”

“Kan kata Umi yang penting sholeh, enggak pintar enggak apa-apa,” balasnya membuatku kaget.

Apaaaa…. Ini baru aneh. Baru kali ini aku menemui ada orang tua yang bilang, enggak pintar enggak apa-apa. Sholeh sih sholeh, memang doa wajib. Tapi pintar kan juga doa yang bagus buat anak. Aku makin penasaran pada uminya.

“Tapi Khalid, Nabi Muhammad aja nyuruh kita belajar sampai ke Cina. Nabi juga ingin umatnya selain sholeh/sholehah juga pintar ilmu pengetahuan. Makanya sebagai kaum muslim kita harus pintar ilmu agama dan ilmu pengetahuan, sukses dunia dan akhirat,” jelasku lagi pada anak kelas empat yang umurnya baru sepuluh tahun.

Dia tertawa sambil menggaruk rambutnya yang panjang dan belum dicukur. Sudah seminggu yang lalu aku mengingatkannya untuk mencukur rambutnya. Anak ganteng yang satu ini emang keren sih kalau rambutnya sedikit gondrong, tapi kan dia masih SD. Penampilan kudu rapi. Bukan boyband juga hehehe….

Tapi tiap kali ditanya kenapa belum cukur selalu saja bilang, “Nunggu Abi ngantar ke tukang cukur. Abi masih sibuk.”

Heh… ya sudahlah. Nanti kalau ketemu Abinya baru aku selidiki soal doktrin uminya dan kesibukannya sampai 2 minggu enggak antar anaknya cukur rambut. Batinku sambil melihat Khalid berlalu dan kembali bermain bersama teman-temannya.

***

“Khalid itu sebenarnya pintar lho. Waktu masih kelas satu, pintarnya sama kayak Risyad kelas sebelah. Cepat nangkepnya,” cerita Bu Kusuma yang pernah mengajar Khalid saat kelas satu.

“Masak sih, Bu. Tapi kok sering remedial, ya? Dia susah konsentrasi. Perlu belajar tambahan sama saya lagi pulang sekolah, baru bisa ngerjain remedial dia.”

“Iya, pintar anak itu. Bapaknya juga dari eksak lho. Cuma mungkin karena adiknya banyak, jadi kurang perhatian belajar dari orang tua,” terang Bu Kusuma.

***

“Khalid, poni kamu Bu Kinur potong ya, soalnya sudah nutupin mata. Kan kamu jadi enggak bisa lihat papan tulis dengan jelas kalau poni kamu terlalu panjang,” tawarku padanya beberapa hari kemudian setelah percakapan kami soal rambut gondrongnya.

“Iya Bu.”

Lalu kurapikan poni Khalid dengan gunting miliknya. Setelah rapi, aku masih geregetan dengan rambutnya yang gondrong itu. Rasanya mau potong sekalian, tapi kok enggak pernah punya pengalaman motong rambut anak laki-laki. Setelah menimbang lama, Khalid kuajak bicara lagi.

“Bu, rambut yang di bawah telinga Khalid dipotong sekalian aja,” kata Khalid sambil memegang sisi rambut di bawah telinganya yang panjang.

“Tapi Kan, Bu Kinur enggak pernah cukur rambut anak laki-laki, Khalid,” terangku padanya ragu.

“Enggak apa-apa Bu, sekalian aja,” balasnya semangat.

Akhirnya aku potonglah godek rambut Khalid. Tapi setelah aku potong, aku merasa ada yang aneh dengannya. Aku masih tak menyadari apa yang aneh, tapi tetap kulanjutkan. Aku potong godek rambut sebelahnya. Setelah aku potong dan mulai memotong bagian bawah rambut Khalid. Tiba-tiba ada muridku lain datang dan melihat aksiku.

“Loh kok Khalid kayak anak perempuan sih rambutnya?” tegur seorang murid.

“Masak sih?” aku masih menatap tak percaya pada Khalid.

Kupanggil Bu Kusuma di kelas sebelah yang sedang mengajar, keringat dingin langsung menjalar ke tanganku sebab takut. Sementara itu Khalid makin diolok oleh teman-temannya. Aku semakin gemetaran saat melihat mata Khalid mulai berkaca-kaca. Begitu Bu Kusuma melihat Khalid, dia langsung berbisik padaku mengiyakan pendapat anak-anak sambil menahan tawa. Aih, mati aku. Pikirku nanti pasti orang tua Khalid marah besar padaku akibat potongan rambut anak laki-lakinya yang amburadul.

Atas saran Bu Kusuma aku meminta bantuan karyawan lain, Pak Enzo, untuk memotong rambut Khalid. Sambil harap-harap cemas, meski potongan rambut Khalid sudah rapi dipotong oleh Pak Enzo, tetap saja godek rambut yang terlalu pendek membuatnya terlihat seperti anak perempuan. Keringat dingin tak mau pergi, aku semakin khawatir. Kuajak bicara Khalid, dan dia lebih tangguh dari yang kukira. Kubesarkan hatinya dan meminta maaf atas kecerobohanku. Saat Khalid pulang, hatiku seperti tergadai hehehe….

***

            “Umi, masak kata Khalid waktu saya suruh belajar, dia bilang enggak usah pintar enggak apa-apa, karena kata Umi yang penting dia jadi anak sholeh. Apa benar begitu, Umi?” tanyaku pada Umi Khalid saat aku dan Bu Kusuma mengunjunginya di rumah.

            “Hehehe… iya Bu Kinur. Memang saya bilang begitu, soalnya saya hanya sempat mantau murajaah Khalid saja di rumah. Kalau pulang sekolah, saya suruh Khalid murajaah lagi. Kalau pelajaran sebenarnya tanggung jawab Abinya bantu Khalid belajar. Tapi Abinya juga sibuk, jarang bisa nemenin Khalid belajar. Jadi ya begitu, saya bilang aja, yang penting Khalid sholeh,” uminya menerangkan sambil tersenyum.

            “Oh begitu… padahal saya sudah ingatkan Khalid lho Umi, untuk belajar dan mengerjakan PR di rumah. Tapi Khalid ternyata tidak mengerjakan PR jadi sering mengerjakan PR di sekolah, kadang sampai pulang sekolah saya ajak dia belajar lagi sebelum remedial.”

            “Iya makasih Bu Kinur atas perhatiannya. Nanti akan kami perhatikan lagi Khalid pelajarannya.”

            “Oh ya Umi, maaf ya soal rambut Khalid saya salah potong hehe….”

            “Iya enggak apa-apa Bu Kinur. Pas dia pulang sekolah, kami tanya, dia cerita katanya dipotong Bu Kinur di sekolah. Kami tertawa saja terus bilang kalau Khalid kena razia sama Bu Kinur rambut gondrongnya,” uminya lembut menjawab.

            “Makasih Umi. Biasanya Khalid rajin lho kalau disuruh potong rambut, tapi waktu itu sampai dua minggu lebih dia enggak potong-potong. Tiap ditanya selalu bilang lupa.”

            “Oh itu kan waktu liburan Khalid suka menata rambutnya sendiri, teman-temannya bilang rambutnya Khalid kayak orang Korea. Makanya Khalid minta rambutnya gondrong aja supaya mirip orang Korea. Terus Abinya bilang enggak apa-apa selama libur rambut Khalid gondrong. Karena Nabi Muhammad aja rambutnya juga gondrong. Nanti kalau mau masuk sekolah baru dipotong rambutnya. Eh Abinya kelupaan terus antar Khalid ke tukang cukur,” tambah uminya lagi.

            Aku dan Bu Kusuma terkekeh mendengar penjelasan Umi Khalid. Kami tidak menyangka kalau demam Korea juga menjangkiti Khalid yang sholeh itu hehe….

Fayshol, Echa, aku, dan Rayis :)

Ndoro Kakung Home, 3 September 2014

18:12

Note: Okelah Nak. Sholeh itu wajib hukumnya, pintar juga wajib hehe….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s