Orang Tua yang Beruntung

Setiap kali mengambil raport, yang selalu datang adalah papanya. Aku tak pernah melihat mamanya datang selama setahun mengajar. Papanya terlihat masih muda dengan penampilannya yang keren. Anaknya pun demikian, modis, ganteng, dan keren sekali meski masih kecil. Panggil saja dia, Dion.

            Dion adalah anak yang penurut, suka menolong guru, rajin mengerjakan tugas, nilai akademiknya selalu stabil meski tak terlalu menonjol. Setiap ada kegiatan yang melibatkan orang tua, dia lebih sering datang sendirian di awal acaranya, dan Papanya menyusul saat acara berlangsung. Setiap pagi, Dion diantar oleh ayahnya meski pulangnya dijemput ojek. Setiap hari Dion selalu pulang terakhir dan memilih berlama-lama di sekolah hingga 2 jam setelah jam pulang.

            “Dion, kok kamu jam segini belum mau pulang sih, udah jam 4 lebih lho. Masak nggak capek main bola dari tadi?” tanyaku penasaran.

            “Di rumah enggak ada orang, Bu. Papa sama Mama kan pulangnya malam.”

            “Tapi kan ada adikmu, jagain adik ya, masak ditinggal sendiri,” saranku lagi.

            “Udah ada mbak di rumah yang jagain kok, Bu,” tuturnya lagi beralasan.

            “Meski begitu tetap kamu, Kakaknya wajib jagain adik. Kalau Om Roy datang langsung pulang ya,” pesanku lagi sebelum aku pulang.

            Sesaat kemudian Om Roy, ojek langganan anak-anak di sekolah datang, menghampiri Dion dan membujuknya pulang bersama seorang anak lainnya. Aku bergumam dalam hati, ini sebenarnya sekolah apa tempat penitipan anak ya? Soalnya banyak banget anak yang betah bermain sampai sore di sekolah daripada pulang ke rumah. Bahkan, ada beberapa orang tua yang membiarkan anaknya bermain di sekolah hingga sore sampai mereka bisa menjemput. Maklum saja, rata-rata kedua orang tua anak-anak di sekolah bekerja. Jika orang tua memiliki pengasuh di rumah, bisa dijemput seketika. Jika tak ada pengasuh di rumah, atau kedua orang tuanya sama-sama bekerja. Menunggulah anak-anak di sekolah sembari bermain dengan gembiranya.

***

             “Maaf Papa Dion, apakah sudah membaca communication book (combook) Dion? Saya sudah menulis sejak dua minggu yang lalu kalau kancing baju Dion lepas dan celananya robek. Tapi baju Dion belum diperbaiki. Apakah Papa dan Mama Dion sempat membaca combook?”

            “Iya maaf Bu Kinur. Saya sudah baca, tapi pas mau beli seragam ke TU katanya stok untuk ukuran Dion lagi habis,” Papanya menjawab sambil tersenyum malu.

“Oh begitu,” jawabku singkat.

“Kalau ada kancing baju yang lepas, celana yang robek, saya lebih tahu daripada Mamanya. Mamanya sebenarnya bisa pulang lebih cepat daripada saya, tapi ya entahlah. Dia selalu pulang malam, jadi nggak sempat merhatikan anak-anak. Dion juga lebih dekat sama saya dibandingkan Mamanya. Apalagi sekarang kantor saya pindah ke Jakarta Utara, jadi saya berangkat lebih pagi lagi. Nggak sempat mengantar Dion, dan pulang lebih malam dari sebelumnya selama dua bulan ke depan. Makanya pas dikasih tahu Dion ada UTS saya jadi deg-degan gimana nilainya. Soalnya saya nggak bisa nemenin dia belajar lagi. Pas saya pulang dia sudah tidur,” Ayah Dion malah curhat padaku.

            “Nilai-nilai Dion Alhamdulillah baik kok Papa Dion. Nggak ada yang kurang, cuma Dion masih pemalu. Kalau disuruh mengerjakan soal di depan kelas, dia masih malu-malu. Padahal saya lihat pekerjaan Dion sudah benar. Dia juga kurang termotivasi kalau ada kuis yang dibagi ke dalam kelompok-kelompok. Dion lebih pasif, padahal anak yang lain selalu semangat kalau disuruh lomba menjawab soal meski jawabannya kadang-kadang salah, yang penting angkat tangan duluan,” jelasku sambil setengah bercanda.

            “Iya nih Bu Kinur, dari kelas 1 Dion memang anaknya pemalu. Padahal badannya sudah gede nih hehe. Tolong nanti dimotivasi lagi ya Bu Kinur. Bu Kinur kan guru jadi lebih paham cara mengatasi masalah anak.”

            “Iya Pak. Nanti saya berusaha lagi. Kalau belajarnya Dion gimana Pak di rumah? Masih disuruh atau punya inisiatif belajar sendiri?”

            “Berhubung sekarang saya nggak bisa nemenin, saya tinggal tanya pas pagi aja Bu Kinur. Dion selalu bilang udah belajar. Jadi saya percaya aja sama dia. Mudah-mudahan sih, Dion nggak ada masalah belajar di sekolah. Nanti saya akan ke TU lagi, mudah-mudahan baju batiknya Dion ada,” lanjut Papa Dion mengakhiri pembicaraan kami.

            Minggu selanjutnya setelah penerimaan raport kulihat Dion sudah memakai seragam barunya. Nah kalau pakai seragam rapi dan baru gitu, muridku yang satu itu jadi bertambah gantengnya🙂.

***

            “Bu, pas penerimaan raport UTS kemarin, Papa Dion minta saya supaya latih Dion biar nggak pemalu lagi. Padahal saya ngajarnya sudah heboh alay gini, si Dion kok nggak ketularan saya ya, Bu hehehe…” curhatku pada Bu Kusuma, wali kelas sebelah.

            “Ya gimana lagi, lha wong Papanya juga pemalu. Masak nggak ingat kejadian lucu pas pertemuan orang tua di awal semester ma Papa Dion?”

            “Yang mana sih, Bu? Saya lupa nih.”

            “Itu lho, kan orang tua yang datang dikit. Terus ada 2 Papa, yang lain Mamanya dikit. Terus aku tawarin ke Papa Dion dulu buat jadi koordinator kelas, eh jawabnya Papa Dion malah, ‘Jangan saya Bu. Saya kan orangnya pemalu’ terus orang tua lain langsung pada ketawa. Nah gimana anaknya nggak pemalu kalau orang tuanya pemalu gitu?” jelas Bu Kusuma.

            “Tapi kasihan Dion ya, Bu. Orang tuanya sama-sama sibuk. Pulang malam terus, nggak sempat baca combook. Gimana tahu perkembangan anaknya di sekolah coba? Untungnya Dion anak yang baik ya. Dion juga kesayangan saya lho, Bu hehe….”

            “Iya. Benar banget, orang tuanya beruntung punya anak kayak Dion. Nggak diperhatikan, tapi anaknya sudah jadi. Sholeh dan baik gitu,” lanjut Bu Kusuma mengiyakan pendapatku.

            Ya, semoga saja kedua orang tuanya menyadari betapa beruntungnya mereka memiliki Dion. Supaya mereka bersyukur dan lebih menyayangi Dion dari sekarang, di luar keterbatasan waktu yang mereka miliki untuk merawat Dion dan adiknya.

 Me n my boys :)

Ndoro Kakung Home,

Jumat, 5 September 2014

09:29

Note: Di setiap rasa kehilangan dan kelemahan yang dimiliki oleh manusia, ada Allah yang melengkapi, menguatkan, dan menjaga tanpa pernah kita sadari. Moga Allah selalu melimpahkan perlindungan dan kasih sayang-Nya pada Dion dan anak-anak lain di seluruh dunia. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s