Papa Nomor Satu

Jika ada award di sekolah tentang siapa orang tua yang paling hebat, akan aku usulkan nama dari orang tua muridku, Papa Tian, panggilah beliau demikian. Mengenai kehebatannya mengasuh dua anak tak diragukan lagi, dialah PAPA NOMOR SATU! Papa Tian dianggap paling hebat bukan karena level ganteng yang menyamai artis, tapi karena kerennya pola pikir dan perhatiannya pada anak-anaknya. Itulah yang membuatnya keren dan jadi Papa Nomor Satu menurut penilaianku.

            “Saya enggak butuh penjelasan soal nilai anak saya, Bu Kinur. Saya yakin pasti bagus. Yang perlu saya dengar sekarang, kekurangan anak saya di mana?” tuturnya tegas membuatku kaget.

            “Oh gitu, kekurangannya nggak ada sih Pak menurut saya. Lha wong sama teman juga dia nggak ada masalah. Dia bisa main sama siapa saja. Nggak pilih-pilih teman. Cuma ya memang agak pendiam sih hehe….”

“Nah, itu Bu Kinur. Tian sama adiknya, Tino kok sama ya? Sama-sama diam. Sudah saya ikutkan les, lomba, masih kayak gitu. Nah, mudah-mudahan adiknya yang masih bayi kalau besar lebih aktif lagi. Padahal saya, Mamanya itu orang yang aktif, suka berorganisasi, suka pergi ke mana-mana, dan ikut banyak kegiatan. Kok anaknya kayak gitu. Heran saya Bu Kinur,” curhat Papa Tian saat penerimaan raport tengah semester.

“”Alhamdulillah saja dulu Papa Tian, karena nilainya bagus, perilakunya juga sopan, tidak ada masalah. Mengenai keaktifan Tian, nanti didorong ikut banyak lomba-lomba lagi Papa Tian. Supaya dia tambah berani tampil di depan orang banyak.”

            Ini baru orang tua langka. Kalau orang tua lain ingin melihat keunggulan anaknya, ingin mendengar anaknya dipuji, dan cerita hebat lainnya, lain dengan Papa Tian. Beliau sudah tahu kemampuan akademik anak perempuannya tidak memiliki masalah. Beliau malah mengkhawatirkan sikap Tian yang terlalu kalem dan pendiam. Papa Tian sudah berusaha mengikutkan Tian ke berbagai banyak lomba supaya lebih aktif, tapi tak mengubah banyak. Tian tetap Tian. Kalem dan pendiam adalah cirri khasnya yang tak bisa dilepaskan.

***

“Tian, kalau ada kuis kok lebih sering diam sih? Kan Tian pintar, tahu semua jawaban pertanyaan Bu Kinur. Ayo semangat jawab, biar kelompok Tian bisa menang kayak yang lain,” saranku padanya di suatu pagi sebelum bel masuk pelajaran.

“Enggak ah, Bu,” gelengnya lalu terdiam.

“Semangat dong Tian. Tian lebih banyak senyum, ngobrol ma teman, dan main sama yang lain ya? Masak mainnya di kelas terus, baca buku terus. Baca buku bagus sih. Tapi sekali-kali main di lapangan sama teman-teman ya,” tanganku menggenggam tangannya sambil memandang

Tian adalah anak perempuan yang kalem. Kalau sudah dewasa sungguh cocok jadi calon putrid Solo hehe…. Wajah khas Jawa, sopan, suaranya lembut, pintar, dan tentu disayang oleh teman-temannya. Berkat ketekunan dan sikap patuh pada semua nasihat guru, ia selalu jadi yang nomor satu meski ada anak yang jauh lebih pandai dari Tian.

            Sifat Papa Tian berbeda sekali dengan Tian yang pendiam. Papanya supel, pandai bicara, bercanda, pokoknya luwes dalam bergaul. Komunikasi yang terbina antara guru dan Papa Tian pun termasuk oke. Papa Tian cepat tanggap dalam merespon setiap informasi sekolah dan saran dari guru untuk Tian. Papa Tian juga tak pernah malu datang ke acara sekolah, meski seringkali sendiri daripada datang bersama istrinya.

            Meski sama-sama sibuk, sering dinas ke luar kota hingga luar negeri, namun Papa Tian lebih care pada anak-anaknya daripada mamanya dalam keterlibatanya di sekolah. Pernah sekali bertemu dengan Mama Tian. Namun, mamanya tak seperti mama lain yang menunjukan antusiasme terhadap perbincangan anak-anaknya. Ya, mungkin sifat kalem dan pendiam Tian menurun dari mamanya.

***

“Bu, kenapa ya si Tian itu pendiam banget?”

            “Ah, sekarang sudah mendingan daripada dulu kelas 1. Soalnya terlalu dilayani sih ya. Kan dia ada mbak, yang jagain, dan layani semua kemauannya. Dulu waktu kelas 1 pernah lho ke sekolah piama tidurnya masih dipakai di balik seragamnya. Jadi belum mandi, saking susah banguninnya. Sebelum bangun tidur juga suka dikasih susu dot meski dia belum bangun. Nggak  tahu sekarang masih kayak gitu apa nggak?” jelas Bu Kusuma padaku.

            “Hah masak sih, Bu?” tanyaku tak percaya.

            “Iya, dulu sampai kita datangin ke rumahnya loh. Kasih saran ke orang tuanya supaya Tian nggak terlalu dilayani gitu. Biar dia bisa gerak sendiri, nggak diladeni gitu. Kasihan mbaknya lho. Jam 12 malam aja tu, dia suka minta dibikinin mie. Kan kasihan mbaknya yang jaga dia. Kurang istirahatnya.”

            Informasi dari Bu Kusuma membuatku kaget. Memang sih, sebagian anak-anak punya mbak sendiri di rumah. Tak jarang jumlah mbak yang dimiliki satu keluarga mengikuti jumlah anak. Kalau anak empat, mbaknya juga empat. Ada sisi positif dan negatifnya. Di satu sisi, orang tua merasa terbantu dengan kehadiran mbak tersebut, tidak terlalu lelah mengurus anak seharian apalagi jika orang tua bekerja. Tapi, di sisi lain jika anak tidak diberi pemahaman tentang kemandirian dan batas meminta tolong, tingkah anak semakin menjadi. Terlalu bergantung pada mbak, dan kurang mandiri dalam berusaha.

***

“Tian, kamu masih suka minum susu pake dot nggak?” tanyaku padanya saat di kolam renang.

            “Masih Bu,” jawabnya tak enak.

            “Haaa… kok masih sih? Kamu kan udah kelas 4 SD. Masak masih minum pakai dot?”

            “Habis sama Mbak, udah dimasukin mulut sebelum saya bangun pagi,” jelasnya lagi.

            “Memang kamu bisa minum sambil tidur?”

            “Bisa Bu.”

            “Tian, jangan mau lagi. Bilang sama Mbak kamu minum susunya pas kamu sudah bangun aja. Soalnya bisa bikin kamu sakit,” tambah Bu Kusuma pada Tian.

            “Sakit apa, Bu?” aku tak paham dengan maksud sakit akibat minum susu sambil tidur.

            “Dulu kan, anakku yang pertama juga gitu, aku kasih dot pas dia masih tidur. Jadi pas bangun, susu sudah habis, dia tinggal mandi. Tapi habis itu dia sakit, paru-parunya kena flek gitu. Kata dokter bahaya kalau minum dot sambil tidur.”

            “Oh….” aku hanya bergumam saja.

            “Tian, ntar bilang ke Mbak ya, jangan mau dikasih susu dot pas tidur. Minum susu pas sudah bangun aja. Pakai gelas ya,” saran Bu Kusuma lagi pada Tian.

            Tian hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. Aih anak ini, aku benar-benar tak menyangka kalau orang tuanya masih memperlakukan dia laksana bayi saja. Esoknya aku menanyai lagi Tian tentang ritual minum susunya. Mbaknya mengerti, dan memberinya susu saat dia bangun saja.

***

Tian termasuk salah satu anak yang menari tarian persembahan dari Padang saat assembly kelas atas. Gerakannya pas, sesuai nada, dan terlihat anggun. Papanya dengan bangga berkali-kali tersenyum, maju ke depan, mencari posisi strategis untuk memotret anak kesayangannya. Sayangnya Tian kurang senyum. Berbeda dengan teman lainnya yang banyak menebar senyum sambil sesekali melirik orang tua mereka.

            “Gimana Papa Tian sudah lihat Tian menari, bagus kan?”

            “Iya Bu Kinur, dia sendiri yang paling bulet badannya, dia nari nggak ada senyum-senyumnya tuh. Lempeng nari aja. Tapi saya sudah senang lihat dia nari gitu, gerakannya bagus ya Bu Kinur?”

            “Iya Papa Tian, Tian bagus narinya. Gerakannya luwes dan pas,” jawabku sesaat setelah Tian selesai menari di kantin sekolah.

            Papa Tian menepuk-nepuk pundak anak perempuannya dengan penuh senyum. Terlihat pancaran bahagia dan bangga dari wajah Papa Tian. Sebaliknya, Mama Tian hanya diam saja. Aih…. Mamanya harus lebih ekspresif lagi nih. Biar Tian, Tino, dan adiknya lebih ceria hehe…. Masih ada waktu untuk memperbaiki segalanya. Masih ada harapan bagi Tian menjadi yang nomor satu selain bidang akademik, karena dia punya Papa nomor satu yang selalu melimpahinya dengan cinta dan perhatian.

Abiza, Nisa, dan Astrid

Abiza, Nisa, dan Astrid

Ndoro Kakung Home, 6 September 2014

13:30

Note: Tak cukup cinta dan perhatian bagi seorang anak untuk menjadikannya pribadi yang nomor satu. Setiap anak perlu bimbingan orang tua, belajar mandiri, sopan-santun, juga ketegasan agar mereka menjadi pribadi yang tangguh menghadapi kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s