Dilema Anak Pertama

“Miss, tadi si Nisa cerita kalau dia ditampar sama temannya di sekolah sama si Dina, Bella juga ikut menghinanya meski mengetahui kejadian tersebut. Saya lihat pipinya merah. Tolong segera ditindaklanjuti,” sebaris pesan muncul lagi dari Mama Nisa.

            Aku menghela nafas sejenak. Kemudian kutanya partner kerjaku, Syamsi, apakah dia mendengar kejadian buruk hari ini dari anak-anak. Setahuku di kelas tadi tidak ada laporan apa-apa. Jika ada anak yang mengejek, menemukan uang, ada yang menangis, ada belum sampai makan siang, dan peristiwa lainnya, anak-anak selalu melapor pada kami, wali kelasnya. Jadi ketika pulang sekolah mendapat pesan seperti itu, aku jelas kaget.

            Aku dan Syamsi sepakat untuk menanyai Nisa keesokan harinya. Karena meski hati kami diliputi rasa cemas dan rasa ingin tahu tentang kejadian yang sebenarnya, kami tak bisa berbuat banyak kecuali menunggu pagi tiba. Kami percaya, tidak mungkin mereka melakukan hal buruk tersebut.

            Syamsi pun menanyai kedua anak yang dikabarkan bertikai kemarin. Setelah menanyai beberapa teman lainnya, pun akar masalah menjadi jelas. Dan tentu saja tak seburuk yang kami duga. Tidak ada kejadian ala ‘sinetron’ tersebut di sekolah. Nisa ternyata belum dapat mendeskripsikan kejadian yang menimpanya, dan menyampaikannya pada uminya di rumah. Uminya hanya menangkap cerita sepotong dari anaknya dan berusaha mereka-reka apa yang terjadi. Ketika uminya mengatakan kosa kata tampar, Nisa pun mengangguk tanpa tahu pasti apa makna ditampar.

Ketika Syamsi menanyai Nisa apakah benar yang disampaikan cerita uminya, tentang kejadian yang disampaikan uminya pada kami. Nisa menggeleng dan mengatakan, itu cerita uminya, bukan ceritanya. Ketika Syamsi mengatakan seperti apa gerakan ditampar itu? Nisa pun mendapati kalau gerakan yang ia maksud adalah menoyor kepala. Bukan menampar pipi.  Jelaslah sudah yang terjadi. Ini hanya kesalahpahaman semata terkait bahasa. Kejadian yang sebenarnya tak seburuk yang kami kira sebelumnya.

            Seusai jam pulang sekolah, uminya menghampiri Syamsi dan mencoba mengonfirmasi apa yang terjadi. Uminya tampak mengangguk paham saat dijelaskan dan menerima bahwa kejadian yang menimpa anaknya bukanlah ditampar, melainkan ditoyor. Itu pun sudah diselesaikan di antara anak yang bertikai. Masing-masing anak sudah dipahamkan mengenai peristiwa yang terjadi kemarin, dan berjanji tidak mengulangi lagi meskipun dengan alasan bercanda.

            Kami kira badai kesalahpahaman sudah berlalu. Tapi ternyata tidak. Mungkin karena besarnya kasih sayang terhadap si anak, Umi Nisa langsung menceritakan peristiwa “ditampar” itu ke Mama Bella.  sepulang sekolah saat sama-sama menjemput pulang anak-anak. Mama Bella yang kaget langsung menelponku, tapi karena aku tak melihat panggilan telepon darinya, akhirnya dia mengirim pesan dan meminta penjelasan kami.

            “Saya sudah menanyai Bella, dan dia bilang tidak melakukan yang dituduhkan Umi Nisa, Miss. Dia menangis dan berulang kali mengatakan hal yang sama. Saya tahu betul anak saya, dia tidak pernah berbohong. Jadi ketika Umi Nisa mengatakannya pada saya, seakan-akan dia telah menuduh anak saya berbuat tidak baik pada temannya.”

            Aku berusaha meredam rasa khawatir Mama Bella tentang perilaku anaknya dikatakan salah. Karena toh anak-anak yang bertikai sehari sebelumnya sudah bermain kembali, tanpa mengingat bekas luka kemarin dan kembali tersenyum dengan manisnya. Masalah pun membesar karena sudah melibatkan orang tua lainnya, hingga kami harus memanggil kedua orang tua Nisa ke sekolah untuk klarifikasi.

            Setelah mendengar penjelasan dari kami, mengenai ciri perkembangan anak kelas 2 SD, kedua orang tua Nisa tampak mengangguk, setuju. Kedua sepakat mengikuti saran kami, jika ada masalah dengan anak pun akan berhubungan dengan kami, dan tak langsung menegur orang tua lainnya yang berakibat pada membesarnya masalah lainnya. Karena bagaimanapun, sekolah ada sebuah lembaga yang memiliki sistem dan kebijakan dalam penanganan setiap masalah.

            Kedua orang tua Nisa bercerita, sebagai anak pertama, Nisa sering mencari perhatian dari orang tuanya semenjak perhatian uminya tercurah pada kedua adiknya. Nisa merasa diabaikan dan merasa iri dengan perhatian yang diberikan uminya pada adik-adiknya. Akibat, seringkali terjadi pertengkaran di rumah antara Nisa dengan adik-adiknya. Meski uminya sudah berusaha memahamkan, adik-adiknya membutuhkan pertolongan  lebih banyak dari dirinya, tetap saja Nisa tak paham. Nisa tetap iri, pertengakaran tetap terjadi, dan uminya semakin pusing menangani anak-anaknya.

            Abinya pun turut berbagi pendapat, “Kalau anak sudah mulai melakukan manipulasi, bagaimana cara mengatasinya, Miss?”

            Oke, akhirnya ada pengakuan juga dari orang tua Nisa kalau Nisa melakukan manipulasi. Karena seringkali ia mengatakan hal-hal yang berlawanan dengan kejadian yang ada di sekolah. Namun, terkadang, ia salah mempersepsikan sebuah peristiwa dan menganggap buruk sebuah peristiwa bagi dirinya sendiri. Hal ini yang kerap disampaikan kepada orang tua Nisa.

            “Tumbuhkan kepercayaan diri anak. Hargai setiap hasil yang dicapai oleh anak, supaya anak merasa aman menyampaikan segala sesuatu pada orang tua, dan tidak perlu memanipulasi keadaan. Percaya pada anak boleh saja, tapi kita juga perlu melihat dari sudut pandang lainnya. Jadi kita bisa menilai lebih obyektif. Juga dengarkan saat ia bercerita supaya ia merasa didengarkan,” jawab Syamsi sesuai dengan saran dari kepala sekolah.

            Pertemuan kami dengan orang tua Nisa siang itu berjalan lancar. Ternyata saran yang kami sampaikan diterima oleh kedua orang tuanya. Umi Nisa minta maaf karena telah berkomunikasi dengan Mama Bella tanpa sepengetahuan guru, dan berjanji akan menyampaikan pendapatnya lewat guru di sekolah jika ada masalah lagi. Mengenai Nisa, kami harus sama-sama belajar lagi cara berkomunikasi dengannya, agar tidak terjadi lagi peristiwa yang sama untuk kedua kalinya.

            “Miss, Rara dan Mia tidak mau bermain sama aku. Mereka pilih-pilih teman,” adu Nisa beberapa hari kemudian.

            “Memangnya mereka bilang apa sama Nisa? Permainan itu bisa dimainkan buat berapa orang?”

            “Itu Miss mainnya cuma bisa buat dua orang katanya, jadi Nisa nggak boleh ikut main,” rajuknya lagi padaku dengan mata tertunduk.

            “Nisa sayang, ada permainan yang bisa dimainkan dua orang, ada yang bisa dimainkan oleh banyak orang. Kalau permainan itu hanya bisa dimainkan dua orang, berarti Nisa nggak bisa gabung lagi. Nisa cari teman lain supaya bisa main, permainan seperti mereka. Karena permainannya memang buat dua orang, dan Nisa nggak bisa ikut main. Bukan berarti mereka pilih kasih. Mengerti?”

            Nisa mengangguk pelan. Kutatap matanya, dan kupegang kedua pundaknya memastikan ia mendengarkan apa yang kuucapkan.

            “Kalau permainannya buat orang banyak kayak petak umpet, kucing-kucingan, dan lain-lain, terus Nisa nggak boleh ikut main. Itu baru mereka pilih-pilih teman, mengerti?”

            Nisa mengangguk lagi. Dari Nisa, dan uminya, kami belajar banyak hal, utamanya belajar sabar mendengarkan dan memerhatikan setiap hal kecil yang mungkin terlewat oleh kami. Saat mencoba menelaah peristiwa yang terjadi satu persatu di kelas kami. Aku pun teringat sebuah kalimat dari wali murid yang member saran dan dukungan pada kami.

“Maklum saja Miss, kan rata-rata anak yang ada di kelas 2 sekarang anak pertama. Jadi orang tua masih belum banyak pengalaman, sering khawatir gitu. Dulu saya juga gitu, tapi sekarang sudah lewat masanya. Saya sudah lebih tahu bagaimana menghadapi mereka. Kalau orang tua yang baru anak pertama, ada jadwal UTS aja, langsung bikin status di BBM deg-degan,” seloroh Mama Bima pada kami sewaktu pertemuan guru dengan koordinator kelas.

Ah ya, semoga saja orang tua mampu mengasuh anak pertama dengan sebaik-baiknya tanpa terlalu melindungi dengan kasih sayang, yang pada akhirnya menjerumuskan sang anak. Semoga.

Market Day

Market Day

9 September 2014

10:11

Note:🙂.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s