Rindu Sosok Ayah

“Miss, masak tadi si Nay cerita kalau Arya cerita tentang dia suka main princess gitu di rumah. Terus tadi mereka cerita seru bareng2 si Nay dan baca cerita princess cobaaaa!!!” Miss Nara bercerita padaku sepulang sekolah.

            Aku terdiam sesaat tak percaya pada apa yang kudengar barusan. Memang Arya suaranya agak gimana gitu kalau berbicara. Gerak tubuhnya juga sedikit… tapi aku tak pernah menyangka sejauh itu.

            “Terus tadi si Rahman masak bilang ke aku gini, ‘Miss, coba deh lihat si Arya nanti kalau digodain pasti lari sambil teriak,’ ih… aku tadi terus bicara sama si Rahman biar nggak godain Arya lagi. Si Arman emang pintar ya? Dia jadi pengamat yang jeli tapi jahilnya!”

            “Kasih tahu saja Mamanya, Miss,” saranku pada Miss Nara.

            “Mamanya udah tahulah anaknya kayak gimana. Mamanya dulu bilang, ‘si Arya emang letoy, Miss,’ gitu Mamanya bilang ke aku.”

            “Ya dikasih tahu lagi aja, kita kasih saran lagi sebelum terlambat, daripada makin parah.”

            “Ntar sekalian pas penerimaan raport bayangan aja deh aku bicara sama Mamanya,” putus Miss Nara sambil berjalan meninggalkan kelasku.

***

Arya itu anak pintar, semua guru mengakuinya. Dia cepat menyerap pelajaran, bahkan konsep berhitung dan bahasa Inggrisnya jauh lebih baik dari teman-temannya. Arya adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya perempuan sudah kelas lima, sama pintarnya dengan dirinya. Ayahnya memiliki pekerjaan yang baik, mapan, dan sering pergi ke luar kota hingga luar negeri karena pekerjaannya. Ibunya tidak bekerja, sepenuhnya mencurahkan waktu demi keluarga.

            “Arya, tadi yang antar kamu ke sekolah siapa? Papamu ya?” sapaku padanya saat welcoming hours pagi hari.

            “Iya Miss, itu Papaku. Baru pulang kemarin, tapi besok mau pergi lagi,” jawabnya sambil tersenyum.

            “Oke, semangat ya Arya!”

            “Iya Miss,” jawabnya singkat, melangkah pergi menuju kelas atas.

            Pagi itu pertama kalinya aku meihat Ayah Arya mengantarnya pergi sekolah bersama dengan kakak perempuannya.

            Kuperhatikan Arya saat bermain di dalam kelas. Hem… anak ini memang lebih merasa nyaman bermain dengan anak perempuan. Sebenarnya wajar, dan justru bagus kalau tidak ada indikasi lain yang membuat para gurunya khawatir. Tingkahnya tidak menunjukkan perubahan yang berarti, tetap sama. Saat ia berlari, gerakan tangannya melambai. Suaranya tetap terasa mendayu, tak seharusnya seperti itu. Matanya tetap saja berbinar ketika anak perempuan bercerita tentang kartun Barbie dan buku Princess.

            “Ibunya ngaku sih, dia posisinya lemah di rumah. Enggak bisa tegas mendidik anak. Mungkin karena lebih sering lihat sosok Ibunya dan main sama Kakak perempuannya, Arya jadi kayak gitu,” jelas Miss Nara padaku.

            “Tapi Miss, Naufal itu ayahnya malah 5 bulan sekali baru ketemu dia. Ayahnya kan kerja di pelayaran, lebih menyedihkan daripada Arya. Tapi Naufal sikapnya enggak kayak Arya. Ibunya Naufal malah kerja di kantor pula. Naufal tetap jadi anak laki-laki yang keren buatku. Dia baik, sopan, dan lucu. Coba gimana nih?” tanyaku pada Miss Nara.

            “Hmm… pola asuh di rumah nih, yang perlu diterapkan dengan baik.”

            “Sosok Ayah juga penting Miss. Biarpun waktu yang dimiliki sedikit, tapi kalau melakukan banyak hal berkualitas ma ayahnya, anak kan nggak bakal bingung. Dia enggak akan menduplikasi perilaku Ibunya dan menganggap hal itu wajar. Ada anak kelas 4 yang dulu aku ajar, dia mesti jarang ketemu ayahnya, tetap jadi anak laki-laki normal. Nggak melambai gitu, soalnya kalau ada kesempatan bareng ayahnya. Ayahnya selalu ajak dia main bareng, mancing, naik motor, dan lain-lain,” tambahku lagi.

            Percakapanku sore itu dengan Miss Nara masih menggantung. Saran dan upaya yang berusaha kami terapkan pada Arya tak akan memberi pengaruh banyak, jika di rumah tak diterapkan hal yang sama.

***

            “Arya, kamu dapat apa?” tanya Miss Nara pada Arya saat tukar kado perpisahan sebelum penerimaan raport kenaikan kelas.

            “Aku tadi tukar dapat kalung hello kitty, stiker princess, ma jilbab Miss,” jawab Arya pada Miss Nara dengan wajah gembira.

            Miss Nara melirik padaku sejenak dengan tatapan bermakna: lihat ekspresi bocah ini!

            “Tukar aja kadonya ma Miss Kinur ya, Arya. Miss Kinur dapat kotak pensil tuh, kamu kan nggak bisa pakai kalung Hello Kitty, stiker princess, ma jilbab,” bujuk Miss Nara.

            “Nggak mau,” jawabnya cuek tanpa menatap kami sedikitpun, sibuk dengan hadiah yang menawan hatinya.

            “Emang kado yang kamu dapat mau dikasih siapa Arya?” tanyaku sambil mencari celah membujuk.

            “Jilbab dikasih Mama, Kalung Hello Kitty ma stiker princess mau dikasih Kakak,” jawabnya dengan wajah merajuk.

            “Oke, benar lho Ar, kamu kasih Kalung Hello Kitty ma stiker princess ke Kakak ya,” tanya Miss Nara sekali lagi, mencari kepastian.

            “Iya Miss,” jawabnya lagi sambil memegang kalung Hello Kitty dengan mata berbinar.

            “Ar, ntar Miss Kinur tanya Kakak kamu lho, udah dikasih kalung ma stikernya apa belum,” ujarku lagi, berusaha menyakinkan kembali.

            “Iya Miss,” jawabnya sambil berlari menjauh.

            Aku memandang Miss Nara dan menghembuskan napas perlahan. Mencoba meredam rasa khawatir berlebihan. Mencoba percaya padanya, dan menyakinkan diri, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Mencoba memasrahkan semua usaha dan mengembalikan penjagaan Arya pada Allah. Mendoakannya. Kulirik sekilas Miss Nara yang masih menatap Arya khawatir.

Kudengar sebaris kalimat dan ekspresi mata lucunya saat berkata, “Gawat tu bocah.”

20140613_085331

Ndoro Kakung Home, 15 September 2014

22:55

Note: semoga masih ada waktu yang dimiliki setiap ayah di dunia untuk memeluk anak-anaknya, mengajaknya bicara, memberikan kasih sayang yang dirindukan oleh anak-anak yang belum mengenal rasa rindu itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s