Jeng Dew

“Aku semalam mimpi Bapakku, Jeng. Rasanya aku kayak mau mati. Aku udah nggak tahan di sini,” pesanku pada Jeng Dewi lewat SMS.

                Belum genap seminggu aku pindah ke kos kedua di Surabaya, aku sudah terkena cacar. Meski sudah minum obat dari puskesmas, cacarku belum sembuh. Sudah hampir seminggu, badanku panas tinggi saat malam. Cacar menjalar ke seluruh tubuhku. Sejak terkena cacar, aku tak bisa menelan nasi, dan hanya makan pisang serta obat saja.

                “Aku jemput ya ke Surabaya,” balasnya.

                “Jangan, jauh Jogja-Surabaya, aku nggak mau ngrepotin kamu,” balasku kemudian meski sebenarnya berharap ia datang menjemputku.

                Sejak aku tinggal di Surabaya, aku sering sakit. Sering terkena demam, tapi sembuh dalam beberapa hari, dan begitu seterusnya. Puncaknya baru dua bulan di             Surabaya, aku terkena cacar. Meskipun aku sudah pernah terkena cacar sewaktu SMP, aku mengalaminya lagi. Sejak sakit, aku memberitahu Dewi, selain adikku. Dia terus menanyaiku setiap hari. Kadang aku balas, dan lebih banyak kudiamkan karena sakit yang kuderita. Semenjak terkena cacar, otomatis aku izin ngajar  dan diam di kos saja. Aku sakit dan merasa kesepian. Aku pergi ke puskesmas sendirian, dengan rasa malu dan takut karena wajahku penuh dengan cacar.

Aku baru pindah kos kedua kalinya, teman ngajiku rumahnya jauh, aku tak ingin merepotkan. Satu-satunya yang dekat denganku di Surabaya adalah Mas Yohanes, tapi dia sedang di Pare selama sebulan untuk les bahasa Inggris. Teman kosku hanya satu orang, seorang mbak yang pergi pagi dan pulang di atas jam 9 malam. Aku tak berani merepotkannya.

Adikku dan ibu ada di Jogja. Tak mungkin adikku menjemputku karena harus menjaga ibu. Saran adikku supaya naik travel, tak kuturuti karena aku takut sendirian bepergian dalam kondisi sakit. Aku mencoba bertahan sendiri di Surabaya hingga sembuh. Tapi, nyatanya aku tak kuat. Aku ketakutan hingga mimpi bertemu dengan Bapak. Rasanya waktu itu kematian sungguh dekat padaku. Aku menangis sendirian. Ketakutan.

“Nur, aku udah di depan kosmu,” Dewi menelponku.

Dewi datang dengan tas ranselnya. Tersenyum padaku, dan aku kembali terisak. Tak percaya ia sungguh datang menjemputku, bahagia, sekaligus berterima kasih padanya. Malamnya kami berkemas, dan segera berangkat ke Jogja pagi harinya. Dewi datang dari Jogja, padahal kami belum lama saling mengenal dan dekat sebagai sahabat. Saat ia menggandeng tanganku, membantuku berjalan tanpa takut tertular, aku tahu ia lebih dari seorang sahabat untukku. Tak perlu bilangan tahun untuk menjadikannya saudara perempuanku. Aku berbahagia, dan berterima kasih karena Allah telah mempertemukan kami.

***

“Wah capek banget aku, aku nggak bisa tidur semalaman di travel,” ucap seorang perempuan yang baru tiba di paviliun.

                Namanya Dewi, dia baru datang dari Jogja. Kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang tanpa tidur, dengan seenaknya dia langsung berbaring di tempat tidur. Memejamkan mata tanpa melihat waktu sebentar lagi ada pertemuan pertama mahasiswa SGEI di LPI.

                “Kamu harus segera mandi, sebentar lagi kita harus ke bawah masjid, perkenalan mahasiswa baru. Cepat ya,” saranku padanya.

                Perempuan itu mengangkat kepalanya dengan malas, melirik jam di handphone-nya tanpa berminat sedikit pun. Dia perempuan pertama yang kujumpai setelah semalamnya aku bertemu dengan dua laki-laki lainnya yang sudah tiba di paviliun SGEI, Eko dan Syafii. Baguslah sekarang aku punya teman perempuan. Jadi aku bisa sedikit lega.

                Setelah Dewi, satu per satu teman memenuhi paviliun SGEI. Aku pun mulai mengenalnya sedikit demi sedikit. Tampaknya kami berjodoh sejak pertama bertemu. Selain sama-sama kuliah di Jogja, aku dan dia magang menjadi guru di daerah yang sama. Satu rumah lagi, setelah satu paviliun dengannya selama di asrama. Sifat kami bertolak belakang, aku terlalu perasa dan mendramatisir segala sesuatu. Dewi lebih realistis, dan keras kepala. Tapi tetap saja, aku dan dia bersahabat. Saling menguatkan tak hanya lewat kata, namun juga lewat tindakan.

***

“Jeng Dew, jangan ngebut,” teriakku padanya saat kami naik motor menuju curug Cikaso di Sukabumi.

                Bukannya menjawab, dia malah tersenyum dan menaikkan kecepatan motor. Biarpun perempuan, Jeng Dew suka sekali ngebut. Dia paling anti kalau dinasihati sebagai perempuan itu harus berperilaku lemah-lembut. Nggak ada kata lemah lembut dalam kamus hidupnya. Dewi lebih merasa keren dan semakin tertantang jika menemui sebuah hambatan.

                “Jeng, hari ini genap 11 kali kita jatuh dari motor selama di Sukabumi,” aku bersungut-sungut sambil membersihkan tanah yang menempel di rokku.

                Dia hanya tertawa dan teman-teman seperjalanan kami pun begitu, tertawa bahagia. Ya, tak perlu ada yang dikhawatirkan lagi, toh kami hampir menyelesaikan perjalanan. Kami baru saja pergi ke Pantai Ombak 7, sebuah pantai yang begitu ingin kami datangi selama magang di Sukabumi. Kami baru bisa mewujudkan keinginan itu di bulan Agustus 2011, 3 bulan setelah kami berpisah. Kami menghabiskan hari terakhir puasa dan lebaran jauh dari keluarga. Kami nekat berlebaran jauh dari keluarga hanya untuk menuntaskan janji petualangan yang belum selesai.

                Medan yang kami tempuh untuk mencapai Ombak 7 harus menyeberangi dua hutan, dan sebuah sungai. Medannya pun terjal dengan jalan setapak yang jarang dilalui orang. Pengalaman ke Ombak 7 merupakan medan terberat yang pernah kami lalui. Hari itu, kami genap jatuh 4 kali, ditambah rekor jatuh dari motor 7 kali selama magang, genaplah angka 11 membuat kami tergelak bersama.

                Perjalanan di hari itu, seperti halnya persahabatan yang telah kami lalui. Diuji dengan jalan terjal, jatuh berkali-kali, melewati rasa marah dan pertengkaran berkali-kali, lalu menemukan jalan damai untuk seterusnya. Tak ada persahabatan yang kokoh tanpa ujian. Kami telah mendaki karang paling terjal yang pernah ada bersama. Sesekali kami jatuh dan terluka, tapi kami tak lupa untuk berdiri dan meneruskan perjalanan. Hingga akhirnya, kami mampu melihat keindahan di puncak karang setelah mendapat luka yang terdalam.

***

Sahabat adalah orang yang mendengarmu saat kau ingin bicara, membiarkanmu menangis, dan tahu saat harus menegurmu. Sahabat adalah seseorang yang tak perlu sering kau temui, atau hubungi seperti saat remaja. Namun, saat kau merindukannya, kau bisa menghubunginya tanpa merasa canggung, dan kembali bercerita padanya tanpa harus berbohong sedikit pun.

“Ayo teriak bareng kayak di Sukabumi,” usulku padanya saat aku dibonceng Dewi naik sepeda motor menuju Pantai Parangtritis di awal tahun 2012.

“Ayo wae,” sahutnya antusias.

Kami kembali berpetualang, menjelajahi pantai, tempat yang paling kami rindu saat merasa sendu. Berteriaklah kami dengan kencangnya sepanjang perjalanan dari rumahnya menuju Parangtritis. Menguarkan semua luka dan derita yang biasanya kami simpan rapat bersama-sama. Kami duduk mendekati ombak, membenamkan kaki kami di pasir tanpa merasa risih. Aku berkisah padanya, terisak lagi untuk ke sekian kali. Dia hanya diam mendengarkan, tanpa menyela. Dia tahu, aku hanya ingin bicara saja. Gerimis datang, dan aku masih saja bicara. Dewi tetap diam dan mendengarkan.

“Ayo berdiri,” Dewi sudah berdiri dan mengajakku pergi menepi dari badai yang mulai terlihat di ujung laut, “sudah cukup nangisnya Nur.”

Sejak itu aku tahu, gerimis datang tak hanya untuk menyembunyikan tangis bagi jiwa yang menderita. Gerimis datang untuk menghapus isak tangis yang tak perlu diteruskan lagi. Aku berdiri, mengikutinya dan kembali melanjutkan perjalanan. Mengucapkan selamat tinggal pada derita yang datang lewat tangis.

***

“Aku bakal nikah tahun ini,” pesannya pada suatu hari lewat SMS.

“Nikah ama siapa? Kamu serius atau bercanda?”

“Ya, lihat aja nanti, yang pasti aku bakal nikah tahun ini,” SMS itu tak kubalas lagi, kupikir Jeng Dew bercanda.

                Aku selalu penasaran bagaimana kisah Jeng Dew menjatuhkan pilihan hatinya. Karena ya, dia seorang yang berhati-hati dan tak mudah menjatuhkan pilihan, apalagi terkait pernikahan. Kontrak seumur hidup yang pertanggungjawabannya hingga ke akhirat. Dan setelah melihat kebahagiaannya melewati pernikahan, aku tahu Allah menyayanginya dan memberi penghiburan atas setiap ketabahannya menghadapi kehidupan.

“Dewi saya kunci dari luar, soalnya dia kalau sudah di dalam rumah, depan komputer, nggak mau diganggu,” jelas Suami Dewi yang baru pulang dari sholat Ashar di Masjid.

                “Ih… namanya Dewi sekarang jadi Dewi Sandra dong, habis disandra suaminya nih kalau pergi,” candaku pada Suami Dewi.

                Aku dan Viya mengunjungi Dewi pertama kalinya di rumah kontrakan mereka. Pasangan baru ini nampak serasi. Cocok buat Dewi, Dewi kalem, suaminya heboh. Suaminya selalu tersenyum sambil terus mengenggam jemari jeng Dewi. Berkali-kali memandangi Dewi dengan penuh cinta dan memperhatikan segala keperluan Dewi. Jika Dewi selalu cuek dengan keadaan dirinya, sekarang keluarganya tak perlu khawatir. Karena suaminya selalu memperhatikan keadaan Dewi dengan rasa sayangnya.

***

“Dari tadi sore aku kangen kamu, Jeng,” kataku padanya lewat WA.

                “Cieeeee,” dan sekarang ia gentian mengolok-olokku.

                “Kamu nggak balas-balas pesanku. Mungkin aku harus nikah dan punya anak dulu biar nggak kangen kamu🙂,” candaku padanya.

                “Hahaha, nek aku nggak balas, nggak sempat terus lupa,” balasnya lagi.

                Ah dasar pelupa nih Dewi. Selamat berbahagia Jeng Dewi, untuk putramu yang baru lahir, Ibrahim Ahmad Ahsan. Beruntunglah kamu terlahir dari rahim wanita paling tangguh yang pernah kutemui. Beruntunglah juga untukmu, suami Jeng Dew, karena telah berhasil menyandera hati Jeng Dewi. Semoga bahagia kalian abadi hingga ke Surga. Aamiin.

Dewi

Dewi

Himawari Home, 21 September 2014

7:51

Note: terima kasih telah menemani setiap tangis dan luka bersama. Berbahagialah hingga ke Surga-Nya, Jeng. Berbahagialah dengan keluarga peneguh imanmu:).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s