Sekolah Angin

Bulan Juni adalah bulan hijrah buatku, juga bagi sejumlah teman-temaku yang lain dari Sekolah Guru Indonesia. Tiga juni 2012, aku sudah terbang ke Jakarta lagi. Kepulanganku di tahun itu diawali dengan dua ritual yang aku tunggu: disambut dan menunggu teman yang lain. Berbahagia dan merayakan pertemuan setelah setahun berpisah. Tak lama kemudian, kami mulai memutuskan langkah berikutnya, termasuk aku.

            Ada dua sekolah yang ingin kutuju sebagai kelas pembelajaranku berikutnya, dan Allah telah memilihkan satu untukku. Kusebut sekolahku selanjutnya sebagai Sekolah Angin. Tapi hei, ini bukan Negeri Angin seperti yang ada di Film Doraemon, ya! Kunamai Sekolah Angin karena pertama kali aku menapakkan kaki di sekolah itu, aku merasakan kecepatan gerak anak-anak laksana angin!

            “Kalau Bu Kinur ngajar di sini, kemampuan apa yang Ibu Kinur berikan untuk sekolah kami? Karena sekolah kami merupakan sekolah berkembang yang butuh saran agar bisa lebih lagi ke depannya,” Bu Yulia, salah satu pemilik yayasan bertanya padaku.

            “Saya belum bisa mengatakan apa yang bisa dilakukan sebelum melihat sekolah Bu. Kalau saya sudah melihat sekolah, sistem, dan cara belajarnya, saya baru bisa menjawab pertanyaan Ibu,” tuturku jujur, meski ragu jawabanku dalam wawancara akan memuaskan.

            Awal Bulan Juli, aku menerima kabar gembira. Aku diterima di Sekolah Angin bersama ketiga temanku. Kami bersemangat menuju Sekolah Angin. Kami berkemas dan memutuskan pindah segera di sekitar Sekolah Angin. Sekolah Angin berbeda dengan sekolah yang kami pernah datangi sebelumnya. Sekarang kami tidak lagi mengajar di sekolah dhuafa yang mayoritas muridnya merupakan kaum marjinal. Kami mengajar di tempat yang bagus dengan sistem pendidikan yang lebih baik.

Sekolah Angin terdiri dari bangunan terdiri dari dua lantai. Kelasnya besar, bagus, dan bersih. Halamannya pun luas, dan sekarang tak akan ada lagi masalah becek seperti di 2 sekolah sebelumnya saat hujan. Saat memasuki ruang kelas, kita harus melepas sepatu. Ada rak sepatu tempat menaruh sandal dan sepatu. Ada AC, white board, lemari, dan peralatan kelas yang memadai. Dari segi fisik, bangunan Sekolah Angin tak ada yang kurang. Kecuali aula yang belum ada, itu pun masih bisa menggunakan hall kecil tempat welcoming hours.

            Sekolah Angin merupakan SD Swasta yang berlandaskan nilai-nilai Islami. Pembelajaran dilaksanakan mulai hari Senin hingga Jumat, dari pagi hingga sore, tergantung tingkat Ada pelajaran tahfiz, Bahasa Arab, dan mendasarkan pada pembentukan karakter anak. Setiap pagi ada guru yang bergantian piket welcoming hours. Welcoming hours merupakan salah satu ritual menyambut siswa di pagi hari. Biasanya empat guru akan berdiri di hall sekolah menanti siswa datang, menyalami mereka, menanyakan kabar, dan berusaha memberi semangat di pagi hari pada setiap anak.

            Sebelum memulai kelas, ada kegiatan yang bernama morning session. Morning session berlangsung selama 25 menit, diisi dengan permainan, cerita, kuis, dan segala kegiatan yang memancing anak siap belajar. Saat waktu sholat dhuhur, kelas bawah (1-4) sholat berjamaah di kelas. Sedangkan kelas 5 dan 6 berjamaah bersama di selasar yang dijadikan tempat sholat. Selama anak-anak wudhu ada piket guru untuk mengawasi tata cara wudhu yang dilakukan oleh anak. Guru mengawasi mulai dari membaca doa, praktik wudhu hingga berdoa selesai wudhu kembali.

            Kegiatan pembelajaran di sekolah angin terbilang padat. Rapat pekanan guru, pentas seni tiap akhir tahun, outing ke luar sekolah dengan tema pembelajaran, perayaan hari besar nasional dan agama, menambah deret padat kegiatan di sekolah. Setiap ada perayaan hari besar atau kegiatan, sudah menjadi hal yang biasa bagi guru untuk lembur hingga malam.

            Fasilitas di Sekolah Angin memadai bagi kegiatan pembelajaran, ada perpus sederhana, dan sekolah menyediakan peralatan belajar bagi guru. Tak perlu bersusah payah lagi membeli peralatan belajar untuk membuat display, menghias kelas, dan media belajar. Apalagi ada fasilitas internet yang memudahkan guru mengetahui informasi terbaru. Dalam mengembangkan kemampuan guru, diadakan pelatihan setiap dua minggu sekali di hari sabtu oleh litbang.

            Melihat sistem yang sudah berjalan di Sekolah Angin, aku merasa mendapatkan banyak pengetahuan baru. Utamanya, pada penerapan karakter anak sehari-hari di sekolah. Selain itu, aku juga belajar berkomunikasi dengan orang tua murid, dan ternyata tak mudah. Seni menyampaikan kondisi anak pada orang tua, mendengar keluhan orang tua, dan berusaha mengakomodasi saran dari mereka.

Latar belakang orangtua dari murid juga merupakan kalangan terdidik dan deretan orang sukses. Awalnya aku merasa gugup, takut salah bicara, dan tak bisa menyampaikan pikiranku dengan baik. Namun, dengan dukungan dari kepala sekolah, dan guru-guru lainnya aku bisa melewati hal itu. Aku belajar banyak dari mereka semua terkait komunikasi dengan orang tua murid.

            Masalah yang ada di Sekolah Angin, tak lagi kendala dari bangunan fisik, kurangnya dana, atau profesionalitas guru. Melainkan, lebih banyak pada pengaruh pola asuh anak, kurangnya kasih sayang dari orang tua yang sibuk, tantangan untuk membuat anak-anak bersikap sederhana meski mampu, dan motivasi belajar mereka di sekolah.

            Atmosfir yang aku dan teman-temanku rasakan pun menjadi begitu berbeda. ketika salah seorang temanku mengeluhkan rasa tak nyamannya berada di sekolah yang baru, aku pun ikut tergelitik

            “Kinur, aku kok jadi nggak betah ya ngajar di sini? Sebelumnya, kan aku merasa senang ngajar di sekolah dhuafa, sekarang yang diajar anak orang kaya semua. Rasanya kok nggak sesuai ma tujuan semula jadi guru,” keluh Eko padaku di saat pulang sekolah.

            “Ko, sama saja pahalanya. Ngajar anak dhuafa atau anak orang kaya. Anak orang kaya berpotensi lebih besar menjadi pemimpin daripada anak dhuafa. Kalau mereka jadi pemimpin yang baik, kita juga dapat pahala karena melahirkan pemimpin yang baik,” cetusku berusaha membesarkan hatinya.

            “Apa yang kamu bilang sama seperti apa yang dibilang Pak Dewo,” Eko manggut-manggut mulai yakin.

            “Katanya kamu mau bikin sekolah. Kalau kamu nggak tahu sistem yang bagus, gimana bikin sekolah yang bagus, Ko? Sebelumnya kan kita sudah belajar di sekolah yang sistemnya kurang bagus. Sudah cukup pengalaman yang itu.”

            Aku dan ketiga temanku senantiasa saling menguatkan semangat dalam mengajar di lingkungan yang baru. Beberapa saat kemudian, ketika aku mulai kehilangan rasa sabarku, Eko kembali menyentilku dengan kalimat pendeknya.

            “Sedekahnya guru itu sabar, Nur!”

            Kisah berikutnya yang menemaniku selama dua tahun di Sekolah Angin, adalah pembelajaran sekaligus ujian terhadap komitmenku sebagai guru.

20140224_080230

Ndoro Kakung Home, 10 Oktober 2014

16:09

Note: inginku menyembuhkan luka pada setiap tatap mata yang kutemui. Bersemangatlah menjalani hari kalian dengan segenap cinta, Nak🙂.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s